Minggu, 16 September 2018

Mengiba


Senja selalu mengiringi kepulanganku, membersihkan diri menyambut malam yang sunyi lagi, manakala aku kembali sendiri, usai melatih diri dari sandiwara-sandiwara yang katanya harus kuhayati. Senjapun mengiringi sapuan demi sapuan dari gadis berparas cantik yang tempat tinggalnya tepat di dekat tikungan jalan yang selalu kulewati. Senja mengiringinya meluangkan sedikit waktu untuk mencipta jalan yang bersih, tak peduli berapa banyak sepeda motor yang melintas, membawa material debu yang menggunung, suara sapuannya tak berhenti, seolah mengiba pada setiap dedaunan dan debu yang memohon dibersihkan.

Namun, ia sendiri pun seolah meminta iba padaku. Aku mengiba pada setiap inci pakaian yang begitu minim dikenakannya. Mungkin begitu hinanya manusia seperti diriku, sok suci lantas terburu berpendapat mencemoh. Aku mengiba pula pada setiap detik mata pengendara yang melintas lantas terpukau dengan tiap inci lekuk tubuhnya, mungkin begitu hinanya manusia seperti diriku hingga lupa berkaca dengan hari-hari yang mengiba juga terjadi pada diriku sendiri atas segala hal yang kusesali namun kuulang kembali, berkali-kali.

Oh, manusia. Manusia yang ada di dalam diriku, tolong berhentilah mengiba. Ah, tapi kata orang biar belum jadi orang alim asal sudah membenci dosa itu. Bencilah dosanya, bukan manusianya, kata orang lain juga jangan megurusi dosa yang ada pada diri orang lain, kalau begitu ini sudah menjadi kebiasaanku di sisa hidupku bahwa aku selalu membenci dosaku sendiri.

Ya, mungkin gadis itu sama sepertiku, telah membenci dosanya sendiri, namun terus saja mengulangi dosa yang sama, berkali-kali.

Apa Perlu Menghilang?


Saya tidak tahu harus mulai bercerita darimana. Kita sebagai manusia, terkadang sulit menghadapi gejolak-gejolak yang tiba-tiba bermunculan di sekitar kita, betapapun kita sudah melakukan banyak antisipasi untuk itu.

Saya tidak tahu harus memulai cerita darimana, tetapi sungguh rasanya ingin menghilang saja. Kepedulian yang berlebihan yang ditimpakan kadang memang sulit dipercaya bahwa rupanya itu bisa menjadi beban risih dan justru mengacaukan hidup orang lain.

Saya tidak tahu harus memulai cerita darimana, karena tahu-tahu saja sudah banyak yang terjadi. Lucunya saya sulit dikejutkan karena kalian sendiri yang membocorkan, lucunya saya ingin kalian bahagiakan tetapi saya terbebankan.

Saya tidak tahu harus memulai cerita darimana, saya heran bagaimana bisa seseorang begitu ikut campur dalam hidup seseorang, dalam hubungan seseorang dengan seseorang yang lain, betatapun “hanya” berniat untuk membahagiakan, kau tidak pernah tahu bagaimana terlukanya ia dengan caramu yang katanya ingin “membahagiakan.”

Ah, kalau begitu mari sekali-kali redupkan niat untuk membahagiakan, karena sesungguhnya kamu tidak pernah tahu apa yang benar-benar membuat hati seseorang itu bahagia. Kebahagiaan tak selalu tampak dari sinar di matanya, bibirnya yang tak berhenti bercerita, antusias telinganya mendengarkan, gerak-geriknya yang ceria, tidak selalu seperti itu. Ada manusia-manusia yang dengan cara yang paling sederhanalah justru ia terkejut, terpukau, terbawa suasana, dan kebahagiaan itu mengalir dengan sendirinya bahkan tanpa ia sadari.

Rabu, 12 September 2018

Masa Depannya Semua Orang


Para manusia berlomba-lomba mengejar masa depan mereka, masa depan yang belum pasti terjadi dan tiada satupun yang mengerti kelak akan menjadi apa dan seperti apa diri ini. Mereka melakukan investasi besar-besaran untuk dunia, berlomba-lomba menyaingi manusia lainnya, tidak pernah puas dengan segala hal yang telah diperoleh, dunia terus berhasil membuat mereka penasaran, bertahan hidup dan mengejar mimpi menjadi motivasi yang besar bagi mereka, namun tiadakah mereka sadar? Ada masa depan yang sudah jelas dan pasti akan terjadi, sering kali pula sudah dipertontonkan di depan mata mereka, namun terus saja mereka berpaling, padahal mereka tidak bisa mengelak bahkan jika masa depan itu sudah menghampiri mereka, masa depan yang namanya semua orang juga sudah mengetahui, masa depan yang mari kita sebut “kematian”.

“Dan kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia sebelum engkau (Muhammad), maka jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal? Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu hanya dikembalikan kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya : 34-35)

Kematian adalah suatu kebahagiaan bagi orang yang beriman karena orang yang beriman akan mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, sedangkan kematian adalah azab bagi orang yang tidak beriman.

“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS. Al-Kahfi: 110)

Orang beriman bukanlah semata-mata yang Islam KTP-nya, tetapi seperti yang didefinisikan dalam Al-Quran tentang pengertian orang beriman adalah sebagai berikut.

Istighfar


Bagaimana cara mengendalikan hati?
Bagaimana pula cara mengendalikan pikiran?
Ah, mungkin itu memang gunanya Al-Ma’tsurat.
Gunanya doa.
Gunanya dzikir.
Gunanya istighfar.

//Yogyakarta, 12 September 2018//

Minggu, 02 September 2018

#4 The Grave of Fireflies


At night you went to dorm of your friend. She cooks soup meat and invite for dinner with her. This sweet thing seems to be not much different from dinner with someone that you love. At dinner, you also share many stories. You talk about an episode in the movie Sherlock Holmes series. It is about a woman's ghostly riddles by using wedding gown.

Because you successfully to make her feel fear, so that night she sleep in your kost, before it you guys are watching a film that was washed away, The Grave of the Fireflies. This movie is sad but you failed to cry and you say on your friend, "why couldn't I cry watching this sad film?" five minutes pass, then your tears can't stop. Labile, but ultimately this film successfully to make you cry until “sesenggukan” ya know.