Kamis, 11 Mei 2017

[All About Life] : Menunggu Adalah (Juga) Berjuang



Bulan lalu, saya mengikuti acara launching buku “Menata Kala”, yang dimana di acara itu hadir juga Mas Gun dan Mbak Apik untuk meramaikan acara. Mereka membedah buku karya mereka yang berjudul “Menentukan Arah”. Pada sesi Mas Gun dan Mbak Apik, acara ini justru seperti sekolah pra-nikah, sebab acaranya memang membedah buku tentang pernikahan. Saya sempat menuliskan beberapa point yang mengena di batin saya.

“Mendapatkan anaknya lebih gampang daripada mendapatkan keluarganya.”

Perkataan yang disampaikan Mas Gun ini, menurut saya adalah benar. Mungkin mudah saja kamu mendapatkan dia, tetapi ada rintangan ketika ingin mendapatkan keluarganya. Pernikahan merupakan peristiwa yang melibatkan dua keluarga besar. Kamu bukan lagi hanya memikirkan cara mendapatkan dia, tetapi juga berpikir bagaimana cara mengambil hati orangtuanya, saudara-saudaranya, bahkan kakek dan neneknya.

Dalam pernikahan Mas Gun dan Mbak Apik, ada yang berbeda dengan pernikahan kebanyakan. Mereka menginginkan agar undangan pernikahan mereka adalah barang bermanfaat yang tak dibuang begitu saja, jadilah bentuknya adalah sebuah buku berjudul “Menentukan Arah”. Lalu, Mas Gun membuat himbauan barangsiapa yang ingin ikut merayakan pernikahan mereka, bisa mengirim paket ke rumah berupa buku-buku baru ataupun bekas untuk disumbangkan nantinya. Kata Mas Gun, bayangkan saja jika tiap undangan memberi kado sprei, ada berapa banyak sprei yang nanti diterima? Maka dari itu, beliau membuat himbauan unik seperti itu. Saya cukup takjub dengan idenya itu. Dan hasilnya di luar dugaan Mas Gun, bahkan di kesekian hari setelah pernikahannya, paket-paket buku itu terus berdatangan bahkan beberapa dikirim tanpa nama pengirim. Buku-bukunya pun bagus-bagus sampai kata Mas Gun ia ingin memilikinya, tetapi sebagai amanah ia harus menyumbangkan buku-buku itu seperti yang ia katakan dalam himbauannya.

[All About Life] : Memang Istimewa



“Nina, saya jatuh cinta sama Yogyakarta!”
“Kenapa?” saya ingin tahu alasannya, tentu saja.

“Semalam, saya datang ke angkringan yang berada di depan hotel yang saya inapi. Saya melihat pemandangan yang sangat jarang saya temui. Dalam satu bangku di pinggir gerobak angkringan tersebut, duduk berjejer beberapa orang, dari mulai tukang parkir, mahasiswa, sampai pegawai bank mereka semua duduk bersama dalam satu bangku panjang.” Ia menceritakan dengan takjub. “Kota ini berbeda dengan kota-kota lainnya yang rasa gengsinya begitu tinggi.” Saya menyimak ucapannya, ia masih akan meneruskan.

“Lalu, saya menguping pembicaraan dua orang yang saya ketahui ternyata mereka adalah mahasiwa. Di tempat seperti itupun, di pinggir jalan, mereka membahas  geotermal, bayangkan saja. Di kota lain mungkin bukan itu pembahasannya, tetapi seperti ini misalnya, “Sekarang siapa gebetan lu?” yah hal-hal seperti itu yang saya sering dengar pembicaraan anak mudanya di kota saya. Itu mengapa di sini, kehidupan mahasiswa benar-benar hidup.”

“Iya, itu mengapa saya memilih kota Yogyakarta. Karena semua komunitas ada di sini, tinggal pilih ingin join yang mana. Event-event besarpun selalu ingin mampir di kota Yogya, festival yang beraneka ragam selalu ada tiap bulan, dan yang paling menyenangkan adalah Yogyakarta membuat saya bertemu dengan orang-orang hebat, orang-orang yang menginspirasi, orang-orang yang membuat saya merasa disenangi dan dipercayai, orang-orang yang memiliki tujuan yang sama dengan kita. Yogyakarta memang istimewa.” Saya membalas ucapannya.

Dan kami berdua tersenyum memandang satu sama lain, saling setuju dengan pendapat kami.

Kamis, 27 April 2017

[Catatan Untuk Diri Sendiri]: Sepele Atau Tidak, Luka Tetaplah Luka!



Sudah tiga kali saya terbentur. Rasanya seperti kembali ke masa kecil. Waktu kecil, luka lecet di tubuh banyak sekali, akibat dari kesandung batulah, kesandung polisi tidurlah, main karet, main skipping, atau bahkan jatuh dari sepeda.

Tiga kali benturan itu akibat terpeleset. Kelihatannya terpeleset itu kecelakaan yang sepele sekali. Apa lagi kepelesetnya di kamar sendiri. Tetapi, akibat dari terpeleset itu sampai membekas di beberapa bagian di kaki dan lutut. Perih, iya.

Mungkin sama halnya dengan ketika kita berbicara hal-hal sepele tentang orang lain. Kita menganggapnya biasa saja atau hanya bercanda, tetapi mungkin saja hati orang tersebut terluka? Bahkan mungkin sampai hari ini ia masih mengingat perkataan yang kita anggap sepele itu.

Saya termasuk yang sulit sekali mengendalikan mulut saya. Bukan, bukan cerewet. Mungkin terlalu ceplas-ceplos gitu, ya. Makanya saya tidak terlalu suka berteman dengan orang yang serius dan selera humornya rendah. Saya takut perkataan saya melukai dia. Yuk, berusaha lebih baik lagi dalam berkata-kata! Agar tidak membuat luka yang kita tidak ketahui di hati seseorang. Tolong, maafkan saya juga bila ucapan saya sering melukai. Terkadang luka itu bisa membuatmu menjadi lebih baik, meski sempat perih.

[All About Life]: Dua Pilihan



Saya ingin bercerita tentang curhatan hati seorang teman. Ia bimbang sebab digandrungi oleh dua pilihan. Maka ia putuskan untuk bertanya pada temannya yang sudah menikah.

Pria pertama yang menyukai dia, adalah pria yang seperti kriteria yang diinginkannya. Sayangnya pria itu belum berhasil membuatnya jatuh hati. Artinya, kriteria pilihan itu akan terpatahkan karena jatuh hati datangnya tiba-tiba tanpa berkenalan dengan kriteria terlebih dahulu.

Pria kedua yang menyukai dia, adalah pria yang membuatnya tertarik. Sayangnya ia merasa bahwa masa depan bersama pria itu sepertinya suram, kemungkinan besar pula pria seperti itu tidak akan diterima oleh keluarganya, dan yang lebih penting lagi ia merasa pria itu bukan seseorang yang bisa ia jadikan teman untuk membuat rumah di Surga.

“Jadi, menurut kamu, yang mana yang terbaik untuk dipilih?” tanyanya pada temannya yang sudah menikah.
“Menurutku, pilih saja pria yang pertama. Selain karena kamu meyakini bahwa banyak pertimbangan yang membuat pria kedua tidak bisa bersama kamu, rasa cinta pada pria pertama mudah saja dibangun. Perasaan itu mudah, kamu belum terbiasa saja dengan kehadirannya.”

Menurut kalian, bagaimana?