Kamis, 16 Mei 2019

Oleh Ustadz Nouman Ali: Gerbang Surga dan Neraka


Tentang Qur’an Surah Sad ayat 50, “Jannati adnimmufattahatallahumul  abwab..” dan Az-Zumar ayat 71, “Wasiiqolladzi nakafaruu..”

“Raungan yang terdengar dari neraka itu sangat keras. Orang dapat mendengarnya mekipun berada diluar. Jika seseorang didorong untuk masuk, maka semakin dekat dia dengan pintu neraka, maka raungannya akan semakin keras bukan? Sehingga semakin enggan ia bergerak maju, tapi di sana ada malaikat, maka mereka akan didorong-dorong dengan cepat, akan terus didorong sampai mereka tiba di negara Jahannam. Allah berkata bahwa orang-orang ini akan dibagi dalam beberapa kelompok, ‘zumara’ ialah dalam kelompok besar tapi dikelompokkan, ini orang yang suka berbuat keji, ini orang yang memakan riba, ini orang yang mendapat kekayaan dari  tambahan bunga, ini orang yang suka makan makanan haram, ini orang yang kehalalan bisnis dan karirnya dipertanyakan, ini orang yang kecanduan alkohol, ini yang kecanduan narkoba dan jenis candu lainnya, ini orang yang curang dan gemar berbohong, ini orang yang merusak reputasi orang lainnya dengan perkataan yang menyakitkan, ini orang yang tidak menghormati orangtuanya, ini orang yang memiliki masalah temperamen dan berbangga terhadap diri sendiri sehingga susah dinasehati. Mereka dikelompokkan berdasarkan dosa-dosanya. Setiap kelompok itupun didorong masuk ke neraka, sampai ketika mereka tiba di pintu neraka, barulah pintu neraka tersebut dibuka.”

Bukankah semua kelompok itu banyak terdengar dan terjadi dalam sehari-hari kita ini?  

Inti dari tadabur ayat ini adalah melihat dari asal kata seperti yang dijelaskan Ustadz Nouman, bahwa pintu neraka itu belum dibuka, baru akan dibuka ketika peghuni neraka telah sampai di sana, sedangkan pintu Surga telah dibuka dari sekarang seolah-olah Allah sudah tidak sabar menyambut kedatangan hamba-Nya yang beriman di Surga. Tetapi, neraka jahannam bukanlah tempat yang diinginkan Allah agar dimasuki manusia. Dia tidak ingin manusia masuk ke neraka.

Adapun makna Az-Zumar ayat 73 yang disampaikan oleh Ustadz Nouman, “Dan orang-orang yang takut kepada Allah, berhati-hati, mengganti gaya hidupnya, menjaga diri dari murka Allah, orang-orang inipun juga akan dipaksa masuk dengan cepat, ‘siiqa’ artinya dipaksa dengan cepat, mengapa mereka dipaksa masuk dengan cepat ke dalam Surga? Karena Allah tidak ingin mereka melihat keadaan menakutkan di hari pengadilan terlalu lama.”

“Saat sampai di Surga, kita mendapat apa? Kita langsung diberi salam oleh malaikat, langsung diberi pujian, bukan pujian terhadap penampilan atau wajah kita, tapi pujian terhadap diri kita, ‘How good people you are’, begitu kata para malaikat.” Lalu malaikat berkata, “Tinggallah kamu untuk selamanya.”

“Di akhir ayat ada kata ‘Alhamdulillah’, bahkan di Surga nanti kita akan mengucap alhamdulillah kepada Allah karena telah memenuhi janjinya.”

Alhamdulillah, ingatlah selalu setiap Alhamdulillah yang kita ucapkan karena perkataan ini pun akan sampai ke Surga, InsyaaAllah.


Yogyakarta, 10 Ramadan
#RamadanKareem

Sabtu, 27 April 2019

Berbicara pada Jiwa Sendiri


Rabu, 24 April 2019
Bulan April yang malang ditutup dengan serangkaian kekhawatiran. Sangat disayangkan beban pikiran ini hampir mencapai puncaknya manakala Ramadhan sebentar lagi tiba. Sungguh, sekiranya usia panjang hingga bertemu Ramadhan, ingin rasanya seluruh jiwa dibawa ke sana, melupakan sejenak kepenatan dunia, bersujud hingga tak masalah mau berapa lama. Sayangnya, sepertinya nanti tak berjalan semulus yang diinginkan. Target Ramadhan itu harus beradu dengan target duniawi. Semua harus diselesaikan dalam bulan Ramadhan nanti.

Tidak tahu harus mulai darimana dulu. Ingin rehat sejenak, memberi jeda seperti hubungan manusia yang jedanya tercipta sendiri. Sayangnya, aku harus mencipta jeda itu, tak bisa hadir dengan sendirinya. Aku ingin pergi keluar, berjalan-jalan, bercakap-cakap dengan orang-orang yang mau mendengarkanku, mau pergi denganku. Sayangnya, orang-orang juga berjuang dengan hidupnya masing-masing, bergelut dengan masalahnya masing-masing. Orang-orang berpura-pura mendengarkan orang lainnya akan tetapi pikiran mereka berbicara pada diri mereka sendiri. Kegelisahan menjadi hasil dari semua itu, semakna dengan kekhawatiran, kebimbangan. Dan pada hari itulah senyumku sulit kukembangkan. Aku memilih berdiam diri, terpaku di depan layar laptopku, ditemani buku-buku yang bertumpuk dan penuh debu. Jangankan membacanya, aku bahkan tak sempat menyentuh mereka. Insomnia yang datang pada saat seharusnya aku sudah lelap karena kutahu esok bebanku akan terus bertambah membuat kekhawatiran ini semakin panjang saja.

Aku pergi keluar, tanpa tersenyum. Aku membuka social media, kutemukan berita tewasnya seorang gadis belia akibat kecelakaan, sementara keluarganya belum mengetahui keadaannya. Tertulis di sana bahwa ia lahir pada tahun 1999. Aku menghitung, aku merinding. Allah hanya berikan untuknya 20 tahun saja hidup. Aku menampar diriku sendiri, aku masih bernafas, pastilah Allah punya tujuan untukku yang Ia hadirkan di dunia lebih lama dari gadis tersebut. Aku terus menerus scrolling, kembali menemukan thread kisah sadis pada tahun 1988. Seorang gadis Jepang yang cantik diculik, diperkosa ratusan kali, dibunuh perlahan-lahan, lalu mayatnya disembunyikan dalam beton selama bertahun-tahun. Kejadian itu terjadi pasca tiga hari usai perayaan ulangtahunnya yang ke-17 tahun. Kembali aku menampar diriku sendiri.

Aku masih scrolling dan ketemukan pesan dari seorang dokter dalam acara seminarnya, “Untuk mencapai kesuksesan, kalian akan menghadapi banyak kegagalan demi kegagalan, kekececewaan demi kekecewaan, kekhawatiran demi kekhawatiran, bertubi-tubi, dan untuk menghadapi itu semua, kalian perlu mental toughnees, butuh ketangguhan mental.”

Aku menghela nafas, berbaringan, menatap langit sore, menunggu air galonku datang. Lalu, sebuah email masuk,

“Nina, jangan lupa tersenyum hari ini, katakanlah pada dirimu bahwa kamu luar biasa.”

Aku tersentak.
Apa-apaan ini.

Dan kusadari, semua yang kudapati hari ini adalah cara Allah memberi pesan kepadaku untuk tetap semangat dalam hidup, bersyukur, lakukan yang terbaik yang aku bisa lakukan.

Karena Allah tahu, aku bukanlah perempuan yang akan menerima ucapan-ucapan penyemangat dari orang yang mungkin kusukai, atau dari teman-temanku yang masalahnya bisa jadi lebih berat dariku, apa lagi dari orang-orang yang jaraknya denganku tak mampu lagi kuhitung. Di saat orang-orang menyambut gembira kedatangan Game of Throne dan Endgame, aku tidak peduli. Kedua hal itu tidak mampu menuntaskan kekhawatiranku.

Seperti biasa, aku akan menghibur diriku sendiri. Aku akan mencintai lebih banyak lagi pada tidur. Aku akan pergi menghabiskan uangku untuk membeli sebuah koper baru. Tidak banyak orang yang tahu, ada hal yang begitu berbeda dari hidupku dengan kebanyakan orang. Aku sudah sering bermain dengan koper berukuran besar bahkan super besar. Mari membeli koper baru yang kecil saja nanti jika uangku cukup, aku akan melakukan perjalanan baru. Aku berharap perjalanan ini menyenangkan. Bagaimana rasanya menghabiskan banyak waktu di sebuah tempat yang telah sepuluh tahun kau tinggalkan? Memandangi orang-orang di sana, bernostalgia dengan pikiran sendiri karena sungguh yakin mereka akan menatapmu dengan asing, tapi dirimu selalu mengenang mereka. Tunggulah saja, aku akan mengulang seluruh perkenalan sampai kau seluruhnya mengenalku, utuh.


Kamis, 25 April 2019
Berangkat pagi-pagi sekali.

Pengisi acara berkata, “Saya senang sekali untuk mengisi acara ini, untuk bertemu dengan teman-teman sekalian. Mengapa saya senang bertemu teman-teman di sini? Karena saya yakin teman-teman yang datang di sini pastilah orang-orang yang hebat, orang-orang yang ingin lulus, orang-orang yang sudah lepas dari jerat nilai D, orang-orang yang berhasil mengatasi kemalasannya.”

Aku tertegun.

Jadi, bahkan saat aku sudah frustasi dalam menghadapi rasa malasku,
Sesungguhnya sejauh ini aku telah berhasil mengatasinya?

Kadang, diri memang tak tahu diri, bahwa di luar sana lebih banyak manusia yang terperangkap dan sulit keluar dari kemalasan yang diciptakannya sendiri.

Maka dari itu, jangan terus menerus menyalahkan dirimu. Berhenti mengata-ngatai dirimu. Terkadang pemenang tidak tahu jika dirinya sudah menang.

Jumat, 12 April 2019

Nikmati Belajar dengan Fasilitas Hotspot Cepat di Perpustakaan Kota Yogyakarta!


Yogyakarta adalah sebuah kota manis dengan berbagai kenangannya dan juga kota untuk pulang dengan segala rasa rindu yang dibuatnya. Namun, di sisi lain Yogyakarta juga mendapatkan julukan “Kota Pelajar” karena di berbagai sudutnya ada-ada saja ditemukan mereka yang tengah belajar. Tidak heran bila di antara bangku-bangku di sepanjang jalan Malioboro banyak terdengar percakapan mengenai mata kuliah atau riset, begitu juga di dekat tugu Yogyakarta pada malam-malam tertentu digelar perpustakaan jalanan untuk membaca buku gratis di sana, atau ada yang jauh-jauh datang ke Yogyakarta hanya untuk membeli buku tertentu atau mengikuti workshop tertentu.


Perpustakaan Jalanan di dekat Tugu Yogyakarta
Sumber gambar: Google

Sebagai seorang mahasiswa, tugas kuliah sudah menjadi makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Dibanding mengeluh, seharusnya mahasiswa di era sekarang perlu banyak bersyukur dengan banyaknya kemudahan bantuan dalam mengerjakan tugas yang disediakan oleh fasilitas umum. Salah satu fasilitas tersebut adalah hotspot dengan jaringan internet yang cepat yang biasanya disediakan di kampus-kampus untuk para mahasiswanya. Setiap harinya mahasiswa diberi jatah untuk mengakses hotspot kampusnya. Dengan fasilitas tersebut, sebagai mahasiswa yang cerdas tentu saja selain menggunakannya untuk mencari hiburan lewat sosial media, tetapi juga menggunakannya untuk keperluan mengerjakan tugas. Dalam mengerjakan tugas, mahasiswa dituntut untuk membutuhkan referensi bacaan, namun tak perlu berkeluh kesah panjang karena dengan adanya gadget dan jaringan internet maka referensi bacaan begitu mudah untuk ditemukan.

Terkadang saat mengerjakan tugas, ada-ada saja rasa bosan dengan suasana di kampus yang seperti itu-itu saja. Namun, Yogyakarta tak pernah kehabisan cara membuat orang-orang ketagihan belajar. Selain banyaknya perguruan tinggi yang berdiri dan berbagai komunitas yang bertumbuh di kota ini, fasilitas umum dengan hotspot yang memadai juga banyak tersedia dan mengimbangi kota yang menjadi favorit untuk mencari ilmu ini.

Bagi mereka yang bosan dengan suasana di kampus dan berharap ada tempat nyaman lainnya untuk mengerjakan tugas, mereka bisa mencari kenyamanan tersebut di perpustakaan yang disediakan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta di daerah Kota Baru. Meski bangunannya tidak terlalu besar, tetapi persediaan bangku dan meja di sana cukup memadai. Menariknya lagi, perpustakaan ini menyediakan fasilitas hotspot secara gratis dengan jaringan internetnya yang begitu cepat. Selain tempatnya nyaman, full AC, tidak bising, perpustakaan ini juga memiliki koleksi buku yang cukup lengkap. Mulai dari koran, majalah, buku-buku fiksi seperti novel dan kumpulan cerpen, hingga buku-buku untuk referensi tugas kuliah para mahasiswa dan pelajar. Bagi mereka yang ingin mengerjakan tugas sambil berdiskusi, perpustakaan ini menyediakan ruang khusus untuk berdiskusi secara privasi. Selain itu, jaringan internet hotspot perpustakaan ini juga bisa dinikmati di luar ruangan, yakni di area outdoor yang dimana di sana sudah ditata meja dan kursi dalam gazebo untuk kenyamanan para pengunjungnya. Pengunjung tidak perlu khawatir dengan ketiadaan stop kontak atau rol kabel karena perpustakaan sudah menyediakannya dengan jumlah yang cukup.

 
 Suasana di Perpustakaan Kota  Yogyakarta
Sumber gambar: Google

Perpustakaan selalu memiliki pemandangan menarik tersendiri, dimana di sana semua orang sedang berjuang dengan tugas mereka masing-masing. Berada di suatu tempat yang sama dengan pikiran masing-masing namun sama-sama menikmati fasilitas yang memudahkan perjuangan mereka. Tak ada tugas yang tak bisa diselesaikan, yang dibutuhkan adalah mulai mengerjakannya.

Alunan instrumental terdengar di penjuru ruangan perpustakaan, beradu dengan suara ketikan keyboard laptop atau gesekan pena di atas lembaran kertas. Begitu juga dengan berjalannya jaringan internet melalui hotspot yang tersebar ke seluruh penjuru ruangan atau di taman-taman perpustakaan tersebut.

Sudah seharusnya kualitas jaringan internet di ruang publik diperbaiki dan diperbanyak untuk memudahkan masyarakat dalam mengakses informasi, termasuk para pelajar yang tengah bersemangat mencari ilmu untuk bekal masa depan. Jika bingung memilih tempat untuk belajar dan mengerjakan tugas, Perpustakaan Kota Yogyakarta bisa menjadi solusinya! Silahkan berkunjung, nikmatilah buku-buku dan jaringan hotspotnya yang cepat!

Senin, 01 April 2019

Review Buku: Seni Bersikap Bodo Amat Karya Mark Manson #2


 Sumber gambar: http://news.unair.ac.id

Mulai masuk pada bab Berhati-hatilah Dengan Apa yang Anda Percayai, buku ini semakin menarik. Dengan maraknya berbagai fenomena yang disuguhkan melalui media informasi dimana siapapun dapat mengakses dan membaca berita tersebut, sayangnya sebagai masyarakat awam kita seringkali dibingungkan oleh kebenaran berita-berita tersebut.

“Pada 1988, ketika menjalani terapi, seorang jurnalis dan pengarang berhaluan feminis Meredith Maran mendapati sebuah pengalaman yang mengagetkan: ayahnya pernah melakukan kekerasan seksusal terhadapnya ketika ia masih kecil. Ini sangat mengempas, suatu ingatan yang berusaha ia lupakan sejak beranjak dewasa. Namun, di usia 37 tahun, dia memutuskan untuk menghadapi ayahnya, dan juga mengatakan kepada keluarganya apa yang telah terjadi.

Kabar ini membuat seluruh keluarganya ketakutan. Ayahnya langsung menyangkal. Beberapa anggota keluarga memihak Meredith. Yang lain memihak ayahnya. Pohon keluarganya terbelah menjadi dua. Dan luka yang mengempas hubungan Meredith dengan ayahnya telah berlangsung lama sebelum pengakuan tersebut, kini telah menyebar seperti jamur yag menyerang cabang-cabang pohon itu. Kabar itu telah menyayat hati semua orang.

Lalu pada 1996, Meredith menyadari sesuatu yang tidak kalah mengagetkan: ayahnya tidak pernah melecehkannya secara seksual! Dia, dengan bantuan seorang terapis, sebenarnya menciptakan sendiri memori tersebut. Dipenuhi dengan rasa bersalah, dia menghabiskan sisa waktu selagi ayahnya hidup untuk mencoba berdamai dengannya dan anggota keluarga lain lewat permintaan maaf dan penjelasan yang disampaikan berulang-ulang. Namun, itu semua terlambat. Ayahnya meninggal dunia dan keluarganya tidak akan pernah menjadi sama lagi.”

Kisah ini sangat menyedihkan bagi saya. Hal ini kemudian mengait pada persoalan kepercayaan saya terhadap berita pelecehan seksual yang sering mencuat beberapa bulan terakhir ini. Pada awalnya, semua artikel menyoal perempuan yang dilecehkan oleh atasannya, temannya, kekasihnya dan lain sebagainya sampai pada suatu kali menemukan sebuah akun anonim yang menceritakan kisah pilunya. Ia mengaku sabagai seorang pria yang keperjakaannya hilang direnggut sekelompok wanita yang lebih tua darinya, ia ingin menegaskan bahwa pelecehan seksual bukan hanya bisa terjadi pada perempuan, tetapi laki-laki juga bisa terkena pelecehan seksual. Sayangnya, menurutnya, bila hal itu dilaporkannya, hal ini hanya akan menjadi bahan cemoohan.

Kembali ke soal wanita yang merasa dilecehkan lalu melaporkan kasus mereka, semisal si pria tidak bersalah, bagaimana perasaan istri dan anak-anaknya di rumah saat melihat isu dan fitnah menghampiri suami dan bapak mereka? Toh jika terbukti akan menjadi luka tersendiri dalam perasaan keluarga tersebut, bagaimana kasus tersebut mampu merusak psikologis keluarga tersebut. Perempuan dilibatkan dalam “peran” dalam cara-cara untuk menjatuhkan seseorang dari jabatannya merupakan “lagu lama” yang dimana keberadaannya dalam kasus dikaitkan sebagai teman perempuan, simpanan, selingkuhan dan menjadi bahan untuk membangun fitnah di sana-sini. Media dan publik mungkin bisa menilai semaunya, tetapi orang-orang terdekat tersangka tidak akan percaya hal itu. Di mata keluarga dan kerabat, bapak dan suami mereka adalah korban dari keserakahan pihak lain, dari hukum yang berjalan tak memihak mereka, dari orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk membalas dendam atau memberi peringatan pada yang ingin bertindak adil dan ingin membuktikan kebenaran. Jangan dikira mereka yang dijebloskan ke penjara adalah orang yang bersalah, bahkan mereka juga sudah mengetahui siapa dalang-dalang yang membuat mereka jatuh ke penjara pada jauh-jauh hari sebelum mereka dijebloskan. Untuk kasus yang satu ini pernah saya tulis tetapi batal saya publikasikan karena satu dan lain hal, sebab menulis rupanya butuh keberanian yang tidak setengah-setengah.

Kisah Meredith sebelumnya, membuat saya menutup mata untuk percaya begitu saja pada pemberitaan. Bukannya saya tidak membela kaum saya sendiri, tetapi selalu saja ada perasaan muak tersendiri yang saya rasakan, terlebih lagi saya sebagai masyarakat awam yang tidak pandai menilai apakah suatu berita benar atau tidak inilah yang membuat saya akhirnya memilih berada di jalur netral setelah lelah membaca berita dan mendengar seluruh klarifikasi atas berita yang telah saya percayai sebelumnya.