Kamis, 01 November 2018

Jangan Membenci Bara dan Prabu!


Entah kenapa akhir-akhir ini di sela-sela deadline yang menumpuk, kelas kuliah yang seolah tak habis-habis, berbagai seminar yang sungguh menarik untuk diikuti, terajut suatu tanda besar dalam benakku. Bangku kuliah, dosen, kosan, deadline, seminar, tugas, email, dan lain sebagainya seolah-olah tak pernah bosan untuk terus meyakinkanku bahwa aku sudah ada di tahap ini, di masa ini.

Keinsomniaan yang melandaku, kumanfaatkan untuk merenungi hari-hari yang kulewati dalam kehidupanku. Semua pikiran ini tidak boleh bila tidak membawa Tuhan. Tuhan haruslah selalu disangkutpautkan dalam kehidupan kita, dalam tata aturan dari hal kecil hingga hal besar, itu yang kudengar dari para ulama. Maka miris sekali mendengar ungkapan Nietsche yang mengatakan bahwa banyak orang beragama tetapi tidak menghadirkan agama dalam hidup mereka.

Setiap kali mengingat Tuhan, ada saja partikel-partikel dalam tubuh yang turut menguatkan jiwa dan tubuh. Aku percaya bahwa semua hal terjadi atas ijin-Nya, bahkan bila itu hanyalah sehelai daun yang terhempas dari pohonnya.

Ah, bila aku ada di dunia dongeng pasti sudah kukatakan bahwa akulah jiwa yang terjebak dalam tubuh orang dewasa! Dan otakkulah yang paling kukasihani dari semua ini! Ia yang terus menerus kupaksa untuk mendewasa. Aku kehilangan pikiranku sendiri.

Maka sekarang mari berhenti membicarakan diri sendiri. Dalam cerita ini, tersebutlah dua orang laki-laki yang keduanya sama-sama teman sekelasku, sama-sama membuat bosan karena setiap hari kami bertemu. Dua orang pria yang sungguh menyajikan kepribadian bertolakbelakang bila benar-benar memahaminya. Tetapi, ada hal yang sama dalam diri mereka, keduanya sama-sama betul mengenal agama, mengingat Tuhan, ibadahnya taat, omongannya tidak kasar, dan sama-sama rajin berangkat kuliah juga!

Yang pertama namanya Bara, entah kenapa tahu-tahu saja aku tahu banyak tentang dirinya, tentang hobi naik gunungnya, tentang ia paling tidak suka makan ikan tetapi anehnya senang sekali pergi memancing, tentang ia menyimpan banyak persediaan tempe dan tahu juga cabai di kulkas rumahnya yang katanya untuk persediaan selama satu tahun yang kupikir itu tidak benar, tentang dia yang sering sekali belanja lewat aplikasi online karena ada promo utamanya pada peralatan mendaki gunung yang merupakan hobinya itu, tentang dia yang baik sekali rela naik gojek ke kampus karena motornya ia pinjami ke saudaranya, tetapi yang paling aku tahu betul tentang hobinya adalah ia senang untuk menyenangkan orang lain, salah satunya akulah korban dari hobi anehnya itu. Ia senang sekali membawakan aku jasuke alias jagung-susu-keju karena ia tahu aku suka sekali jasuke, maka dia sendiri yang pergi ke pasar untuk membeli bahan dan meracik sedemikian rupa hingga jasuke tersebut berhasil dibuatnya sendiri lalu diantarnya malam-malam ke tempatku. Kadang-kadang juga ia pada siang terik datang tergopoh-gopoh membawa sekeranjang macam-macaman; buah, biskuit, obat, vitamin, juga termos, ketika tahu aku terkena demam. Kupikir dia pandai sekali mencipta kenangan. Bagaimana bisa seseorang melupakan kebaikan yang pernah orang lain ukir dalam hidupnya?

Minggu, 21 Oktober 2018

Cinta; Motivator Lebih Hebat



“Kau tidak membunuh empat orang hanya karena kau benci.
Kebencian itu melemahkan.
Cinta adalah motivator yang jauh lebih hebat.”
 – Sherlock Holmes


Sabtu, 20 Oktober 2018

Kebetulan yang Cantik; Muhammad by Martin Lings dan Kisah Abu Ubaydah


Pada jam yang sama, saat saya sedang membaca buku Martin Lings tentang sejarah panjang kehidupan Nabi Muhammad, saya tidak sengaja melihat story seorang teman, isinya persis dengan bagian yang tengah saya baca. Hampir-hampir tiap kisah membuat saya terpukau, bukan hanya saja soal orang-orang yang berani berperang karena bercita-cita mati syahid tetapi juga dibuat terkagum-kagum pada sosok Muhammad, sosok yang tak pernah kita jumpa, tetapi selalu kita rindukan, kita sebut-sebut namanya, dan berharap pertemuan dengannya InsyaaAllah kelak di Surga. Aamiin

Di dalam buku itu, dikisahkan saat Nabi mengerahkan tiga ribu pasukan bersenjata dan mengangkat Zayd sebagai komandan mereka dengan instruksi: jika Zayd terbunuh, maka posisiya diganti Ja’far. ‘Abd Allah ibn Rawahah ditunjuk sebagai orang ketiga.

Abd’ Allah membonceng seorang anak yatim yang diasuhnya. Di perjalanan, anak itu mendengarnya melantunkan syair yang ia gubah sendiri yang mengungkapkan keinginan untuk tinggal di Syria setelah pasukan kembali. “Ketika mendengar syair tersebut aku menangis,” kata anak tersebut. Abd’ Allah lalu berkata, “Apa yang menyulitkanmu, anak yang malang, jika Tuhan menakdirkan aku mati syahid, maka aku meninggalkan dunia ini dengan segala kefanaan, penderitaan, dan kepedihannya, dan engkau pulang dengan selamat.” Sesudah itu, selama di perhentian di waktu malam, ia shalat dua rakaat, dilanjutkan doa permohonan yang panjang. “Kemudian, ia memanggilku dan berkata ‘aku di sini, melayanimu. Jika Tuhan berkenan, aku mendambakan kesyahidan.’ begitu katanya.”

Pada saat perang terjadi, ruang antara Mut’ah dan Madinah terpantau oleh Nabi. Beliau melihat Zayd dengan bendera putihnya memimpin pasukannya bertempur. Beliau menyaksikan Zayd terluka berkali-kali hingga akhirnya terkapar di tanah.  Ja’far mengambil bendera dan bertempur hingga menemui ajalnya pula akibat luka yang mencinderainya. Lantas ‘Abd Allah mengambil bendera dan bertempur dengan penuh semangat, melawan musuh yang dibalas dengan serangan hebat. Ia pun tewas dan pasukannya mundur dengan kocar-kacir. Sahabat lainnya, Tsabit ibn Arqam, mengambil bendera dan menyatukan pasukan kembali. Namun, ia kemudian memberikan bendera itu pada Khalid yang semula menolak kehormatan tersebut karena Tsabit lebih berhak. “Ambillah.” kata Tsabit. “Aku memang mengambilnya tetapi untuk diberikan kepadamu.” Maka, Khalid mengambil alih komando dan menyatukan kembalii barisan,

Kekalahan di Mut’ah memacu orang Arab Utara untuk memperkuat perlawanan mereka terhadap negara Islam baru itu. Nabi mengutus ‘Amr mengepalai tiga ratus orang. Musim dingin datang lebih awal tahun itu. Biasanya, begitu sampai di persinggahan terakhir mereka mengumpulkan kayu bakar. Namun, ‘Amr melarang menyalakan api, sehingga mereka mengeluh. Keluhan mereka berhenti saat ‘Amr berkata, “Kalian diperintahkan untuk mendengarkan aku dan menaaatiku, maka lakukanlah!”

Sebenarnya itu baru sebagian kecil ketegasan yang sangat berpengaruh terhadap orang-orang di sekitar mereka yang diceritakan dalam buku itu. Masih banyak di bagian bab-bab lainnya yang luarbiasa besar pengaruhnya, manakala seorang pemimpin sebuah kaum dengan begitu mudah mengislamkan kaumnya karena rasa percaya dan cinta yag besar suatu kaum terhadap pemimpin-pemimpin mereka.

Setelah diketahui bahwa jumlah pasukan musuh jauh lebih besar dari yang diperkirakan, dan sedikit harapan akan mendapat bantuan dari pihak setempat, ‘Amr mengutus seseorang kepada Nabi untuk meminta penambahan kekuatan. ‘Abu Ubaydah segera dikirim bersama dua ratus orang. Sebagai salah seorang sahabat terdekat Nabi dan orang yang selalu ikut dalam pertempuran, ia berharap menjadi pemimpin. Akan tetapi, ‘Amr bertahan karena pendatang baru itu baginya hanyalah pasukan bantuan dan dirinyalah yang memegang posisi komandan. Nabi telah menyuruh Abu Ubaydah agar menjalin kerjasama yang baik dan menghindari perpecahan di antara dua kekuatan itu. Maka ia berkata pada ‘Amr, “Jika engkau tidak menaatiku, demi Tuhan, aku akan menaatimu.” Ketika Nabi mendengar hal ini, beliau memuji Abu Ubaydah.

Sebuah kalimat yang menyejukkan hati juga terselip dalam bab peperangan tersebut, Alquran, firman Allah, adalah kitab mulia dan kitab surga. Membaca ayat-ayat Alquran ditambah dengan sunah nabi, telah mengilhami kaum mukmin dengan pasti bahwa mereka akan mudah meraih kepuasan abadi dari setiap keinginan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Hasil kebahagiaan adalah suatu ukuran keimanan. Nabi bersabda, “Segala sesuatu, apa pun keadaannya, adalah baik bagi orang beriman.”

Kamis, 18 Oktober 2018

Yang Tak Perlu Diungkapkan


Waktu itu, waktu kami belum asing satu sama lain.

“Bagaimana hari ini? menyenangkan?”
“Iya, alhamdulillah.”
“Coba cerita hari ini ngapain saja?”
“Hari ini asdfghjklzxcvbnmqwertyuiop. Kalau kamu ngapain saja seharian?”
“Aku tadi seharian mnbvcxzasdfghjklpoiuytrewq.”
“Loh, kamu ndak shalat? (Dia hanya menyebutkan makan, tidur, dan sebagainya.)”
“Loh, untuk apa aku sebutkan? Shalat itu kewajiban. Tanpa harus aku sebutkan, shalat harus tetap dilakukan, bukan?”

Ah, seandainya pada masa kini orang-orang memiliki pemikiran yang sama tentang ini, tentang hal berharga yang dilakukan tanpa harus diungkapkan.


Akan Selalu Ada


Saya malu, bila harus tergesa-gesa apabila berangkat kuliah karena terlambat bangun, sementara di luar sana ada orang yang usahanya lebih besar daipada saya.

Saya malu, bila harus mengeluh betapa melelahkannya untuk berjalan keluar membeli suatu kebutuhan, sementara di luar sana ada orang yang usahanya lebih besar daripada saya.

Bahkan untuk melakukan apapun, usaha mereka akan selalu lebih besar dari usaha saya yang terbesar.

Mereka adalah seorang mahasiswa yang tunanetra, berjalan penuh semangat ditemani alat peraba di tangannya. Untuk seseorang yang berjalan tanpa mellihat apa yang ada di hadapannya, bagi saya adalah suatu keluarbiasaan meski sulit. Lantas mengapa ia masih bersusah-susah untuk datang kuliah? Kuliah yang kelasnya di antara gedung-gedung megah bertingkat, di antara teman-teman yang kemampuan menangkap pelajarannya mungkin mampu untuk jauh lebih baik, di antara orang-orang yang tak seperti dirinya. Lantas, mengapa ia masih mampu untuk terus berjalan? Sebab mungkin ia melihat dan meraba segala hal dengan hatinya, mungkin pula dosanya tak sebanyak kita yang semenit saja gadget tergenggam, entah sudah berapa banyak kemaksiatan yang kita lihat, meskipun Tuhan tahu bahwa kita tak sengaja. Ah, manusia, selalu saja ingin dimaklumi.

Mereka adalah seorang bapak yang digandeng erat oleh kedua putra dan putrinya, di sisi kanan dan kirinya. Pemandangan tentang keikhlasan anak-anak yang menggandeng tangan bapaknya saat mereka hendak membeli makan malam di luar, kebahagiaan sederhana yang disuguhkan waktu saat saya sedang menunggu pesanan pecel lele saya di suatu warung. Percayalah, bahwa di setiap tunggu, waktu selalu sediakan pelajaran  untuk kau sentuh, namun barangkali kau sibuk dengan diriimu, tidak coba melihat ada sesuatu apa di sekitarmu.

Lagi Mikir!


Pak Dosen: “Apa diamnya seorang ulama itu menandakan bahwa dia setuju?”

Kelas: *Hening*

Pak Dosen: “Coba kalau seorang gadis, apakah diamnya tanda setuju?”

Mahasiswi: "Lagi mikir itu, Pak!”

Pak Dosen: “Kalau gadis, dia diam berarti setuju, bukan mikir! Mikir kok setengah tahun!”

Kelas: *Sedetik hening* *Kemudian auto ngakak*