Sabtu, 29 September 2012

Sedikit Kenangan




Kita bertemu lagi. Kamu masih saja seperti dulu. Selalu memasang tampang cuek. Tidak banyak orang yang tahu, di balik tampang itu ada rasa peduli yang luar biasa.
Kamu masih seperti dulu, namun kamu yang kini lebih gagah dari sebelumnya. Aku tahu, dan semua anak-anak tahu, bahwa kamu seorang primadona. Siapa cewek yang tidak tertarik denganmu ?
Apa kamu tahu ? Dulu, setiap cewek yang menyukaimu pasti datang padaku, memberitahu perasaannya terhadapmu. Mereka berpikir aku dan kamu sangat dekat. Sehingga, mereka mengira mereka juga bisa lebih dekat denganmu. Kamu tahu tidak ? Mereka itu jumlahnya banyak, lebih dari satu.
Setiap ada yang datang padaku, aku hanya tertawa kecil saat ia bilang menyukaimu. Aku selalu heran, mengapa begitu banyak wanita yang menyukaimu ? Aku sendiri malas berakrab-akraban denganmu.
Tapi kini, aku menemukan jawabannya. Kau pantas untuk dikagumi. Masih ingatkah kamu tentang peristiwa sekitar 5 tahun yang lalu ? Peristiwa yang membuat kita pulang bersama, dan kali ini hanya kita berdua..
“Gimana, nih ? Pak Sigit nggak datang-datang buat jemput kita. “ katamu padaku. Aku mulai merasakan keakraban kita. Setiap hari kita bertemu, berpandangan, namun jarang saling menegur, begitu heningkah dunia ?
“Hmm gimana dong ?” Aku bingung. Bukan salting.
“Kita pulang aja yuk naik angkot.”
“Hah ?” Aku kaget. Ya, aku memang benar-benar kaget karena selama ini aku tidak pernah naik angkot.
“Emangnya kenapa ?” Kamu bertanya heran.
“Aku takut. Aku nggak pernah naik angkot sebelumnya.” Jawabku dengan sangat jujur.
“Tenang aja kali. Kan ada aku, slow ajaa..” Entah apa maksudnya kamu bilang begitu, mungkin di balik itu ada kalimat “kamu nggak usah cemas, ada aku kok yang bakal jagain kamu.”
“Oh, gitu. Emangnya kamu masih punya uang untuk ongkosnya ?”
“Hmm, nggak sih.” Katamu dengan cengiran.
“Terus gimana dong?” Aku pasrah.
“Ke dalam yuk..” Ajakmu.
“Ngapain ?”
“Pinjam duitnya guru.” Katamu dengan nada santai. Sangat santai. Aku mengikuti langkahmu. Saat itu sekolah mulai sepi. Guru-guru pun pasti sudah banyak yang pulang.
“Kita mau cari dimana ? sekolah udah sepi, tahu.”
“Udah, pokoknya kita cari aja.” Katamu dengan optimis.
Kita bekerja keras mencari guru, guru yang berbaik hati meminjamkan sedikit uangnya.
“Eh, itu ada bu Nur. Ke bu Nur aja yuk nyoba pinjam.” Aku menuruti perintahmu.
“Permisi, bu. Hmm, kita boleh pinjam uangnya nggak ? Buat pulang naik angkot.”
“Boleh kok. Berapa ?”
Setelah berhasil meminjam uang kita melangkah keluar meninggalkan halaman sekolah. Mungkin seragam merah putih kita sudah sama-sama bau keringat karena dipakai seharian.
Kamu berdiri di sebelahku, kamu yang memimpin jalan kita, kamu juga yang menjagaku saat menyebrang.
Kamu lebih dulu masuk ke dalam angkot, aku di belakang menjadi ekormu. Jujur, aku takut naik angkot. Angkot terlalu asing buatku. Tetapi, karena ada kamu, aku merasa begitu nyaman.
Kita duduk bersebelahan. Angkot kita melaju ke arah pusat kota Bogor. Kita melewati jalan yang tak biasa kita lewati saat berangkat ke sekolah.
“Kiri..” Katamu memberhentikan angkot. Kita turun tepat di sebuah bangunan besar. Tidak salah lagi ini adalah bangunan mall yang dulu begitu ramai, namun kini terasa sunyi sejak dilakukan penutupan.
Kamu kembali mempimpin jalan kita. Aku hanya seperti prajurit yang tunduk padamu. Aku tak banyak berkomentar karena aku tidak tahu apa-apa. Aku diam mamperhatikanmu. Matamu mencari angkot yang menjadi sasaran kita selanjutnya.
Tak lama, kamu menoleh padaku memberikan kode. Kita naik angkot lagi. Di sini ada hal yang tidak aku sukai. Angkot yang kamu pilih, mengetem dalam waktu yang lama untuk mecari penumpang.
“Yah, kamu sih milih angkotnya yang ini. Lama kan..” keluhku padamu.
“Nggak boleh gitu, Nina. Angkot ini udah duluan di depan kita. Jadi, kita nggak bisa pilih angkot yang di depannya lagi.” Ujarmu dengan sok tahu. Kamu tak ingin disalahkan.
“Oh, gitu yah.” Aku cemberut.
Mungkin sekitar setengah jam, angkot kita baru meluncur. Melewati daerah Cilebut, sepanjang perjalanan rel kereta api yang panjang menjadi pemandangan kita. Kamu menghadapkan wajah keluar jendela, membiarkan angin menyentuh wajahmu.
Stasiun Cilebut sudah kita lewati, dan sekarang kita turun tepat di belakang stasiun kedua, stasiun Bojonggede.
“Aku capek. Sekarang gimana ?” Tanyaku di pinggir jalan.
“Mau naik ojek ?”
“Kita nggak punya uang lagi. Aku cuma punya duaribu.”
“Hmm, ya udah, kita jalan kaki aja, yuk.” Aku mengangguk. Langkah kita bersamaan menuju ke atas jembatan, melewati sungai. Matahari sore yang terlihat dari atas jembatan, begitu indah.
“Eh, ada tukang es cingcau, beli yuk! “ Seruku.
Kamu mengikutiku. Sisa uang jajanku yang tinggal duaribu itu kubelikan es cingcau. Seribu untukku dan seribu untukmu.
Sepanjang perjalanan kita tertawa bersama sambil menikmati es cingcau. Belum setengah perjalanan aku sudah merasa lelah.
“Kita duduk dulu, yuk. Mumpung ada tempat duduk tuh.” Kataku. Aku tak peduli dengan jawabanmu, aku langsung duduk berisitirahat. Kamu ikut duduk di sebelahku menghabiskan es cingcau.
“Lanjut jalan, yuk.” Katamu. Aku tersenyum. Kita kembali melangkah bersama-sama, menuruni satu persatu anak tangga. Melewati sungai-sungai kecil, hutan-hutan kecil, sawah-sawah, lorong-lorong sempit, ini seperti petualangan dua bocah.
Beberapa kali kita juga bertemu dengan makam-makam, jalan raya besar, dan kembali melewati tangga demi tangga. Terakhir, kita kembali menyebrangi jembatan. Jembatannya cukup panjang, dan arusnya pun cukup deras.
Kita pun sampai di perumahan dan bertemu dengan guru les kita. Kita menyalaminya.
“Kita baru pulang, nih. Harus tetap datang les sore ini ? Telat dong.” Katamu pada beliau.
“Nggak apa-apa, datang aja. Pada mandi gih.”
Rumahku dengan rumahmu mempunyai posisi depan-belakang. Aku yang duluan tiba di rumah, dan tak lama sesudah itu kamu. Aku pernah membayangkan, bagaimana jadinya kalau tembok pembatas rumah kita dihancurkan dan tak ada lagi pembatas ? pasti kita bisa selalu bermain bersama. Aku tertawa kecil membayangkan itu semua.
Ini hanya sedikit cerita tentang kita, dimana tokohnya hanya aku dan kamu. Aku masih menyimpan seribu cerita lainnya yang mungkin tak semuanya bisa kau ingat.
Pernah juga suatu ketika, kamu berhutang padaku, hanya karena kamu ingin membeli mie sakura. Mungkin aku lupa menagih, namun suatu malam saat di tempat les, gerimis membasahi bumi Bogor, dan aku lapar, tiba-tiba teringat akan hutangmu, jadi aku langsung berkata, “Beliin cheetos buat aku! Kamu kan pernah ngutang..” Perintahku padamu. Di tengah gerimis kamu membawakanku cheetos itu. Rasanya sangat lucu jika dikenang.
Ada pula cerita saat kita berniat piknik ngerujak di Billabong. Billabong, perumahan dengan rumah-rumah yang megah namun tak berpenghuni, perumahan dengan bukit-bukit dan danau yang indah.
Waktu itu, tepatnya saat pulang sekolah, kamu, aku, dan teman-teman yang lain berencana membuat rujak di Billabong. Saat itu kita berdua adalah yang paling tua, aku berpikir kitalah yang harus membuat sambalnya, dan yang lainnya memotong buah-buahnya serta menyiapkan tempatnya.
Saat itu kita benar-benar bodoh. Aku dan kamu tidak tahu caranya membuat sambal rujak. Maka kita memasukkan semua bahan yang ada, mulai dari cabe, garam, gula merah, air, dan lainnya. Ini sangat konyol. Entah apa rasanya nanti. Tetapi, mungkin karena berkat kerjasama, sambal yang kita bikin sangat enak. Andai bisa kembali ke masa itu, bersenang-senang lagi di Billabong, tepat di atas bukit-bukit penuh ilalang ditemani segerombolan angin.
Dan ada satu lagi kisah. Waktu itu kita taruhan tentang mata pelajaran nanti malam di tempat les. Seingatku, kamu bilang kalau nanti malam adalah pelajaran bahasa Indonesia. Tetapi, aku protes dan mengatakan bahwa nanti malam adalah pelajaran IPA. Karena pertengkaran itu, kamu taruhan denganku, taruhan dengan seribu rupiah. Haha, hanya dengan seribu rupiah. Ternyata aku yang menang, tetapi aku tidak mengungkit-ungkit lagi soal taruhan itu. Tiba-tiba kamu datang kepadaku, dan memberiku seribu rupiah. Aku tertawa melihat tingkahmu. Kamu pikir aku serius mau taruhan denganmu ? enggak, yah. Aku cuma bercanda. Aku baru sadar, saat itu kita benar-benar masih sangat polos.

30/09/2012  10.18
Untuk yang di sana..

Sederetan Waktu




“Winda, buruan dong! Kebelet nih!” seruku pada Winda.
“Iya, tunggu..” Winda berlari ke arahku.
“Dasar lelet!” Winda memonyongkan bibirnya saat mendengar gerutuanku.
Seperti yang sudah kuduga , jam segini toilet ramai. Jam segini adalah puncaknya cewek kebelet, itu menurutku. Sial, antriannya cukup panjang. Semua jenis cewek ada di sini. Mulai dari yang berbehel, berkacamata, tomboi, sampai yang belahan roknya ‘nggak nahan’ ada semua di sini. Aku dan Winda hanya diam mengantri sambil memperhatikan cewek-cewek itu.
“Eh, nama twitternya si Dimas itu @DimasRH kan ?” Kata si cewek berbehel pink. Tetapi aku tidak terlalu mendengar ucapannya.
“Iya, itu nama twitternya.” Sahut si cewek berkacamata.
“Eh, katanya si Dimas itu suka sama anak kelas X.2.” Ucap si behel pink lagi. Hah ? Dimas ? aku jadi mulai berfikir. Ku senggol lengan Winda.
“Win, tadi lu dengar si behel pink bilang apa ? Dia ngomongin Dimas, kan Win ?” Tanyaku dengan yakin.
“Iya, kali. Nggak tau deh.”
“Ih, Win, dengerin deh.” Kataku membujuk.
“Emangnya kenapa sih Laras kalau mereka ngomongin Dimas ? “ Kata Winda dengan suara yang cukup keras.
“Ssstt.. lu rebut amat, sih.. Ntar mereka bisa dengar, tau! “ Winda menatapku dengan jengkel.
“Permisi, kalian teman sekelasnya Dimas, yah ?” Aku kaget mendengar suara Winda. Winda berbicara pada kedua orang tersebut.
“Iya, Dimas Ray Hardiansyah.”
“Ooh.. begitu.”
“Emangnya kenapa ? Lo tahu nggak yang namanya Laras anak X.2 ?” Aku terkejut begitu sadar bahwa si behel pink menyebut nama dan kelasku.
“Oh, Laras ? dia ada di kelas.” Sahutku tiba-tiba. Si behel pink itu menatapku.
Kini Winda yang menatapku lagi dengan heran. Semoga Winda mengerti mengapa aku tiba-tiba mengatakan begitu pada si behel pink.
Antrianku sudah mendekati pintu, tiba-tiba saat aku akan bergantian dengan seseorang yang baru saja keluar dari toilet tersebut, seorang cewek tomboi menyerobot masuk terlebih dahulu. Aku mengenalinya, dia Miranda teman SMPku dulu.
“Woy, Miranda, keluar lo! Apa-apaan nyerobot duluan kayak begitu!” Bentakku. Ia membuka pintu, kucengkram bajunya dan berusaha menariknya keluar. “Kurang ajar lo, Miran! Gue kebelet tahu! “ Miranda mengalah saat mendengar bentakanku.
Rasa lega menghampiriku.
“Laras! Cepetan dong!!“ Tiba-tiba terdengar suara Miranda. ‘Dasar nggak sabaran!’ Kataku dalam hati.
Baru saja aku ingin membuka pintu, terdengar suara si behel pink.
“Laras ? Laras siapa yang di dalam toilet, Miran ?”
“Laras anak X.2 yang mantannya Reza dan Dimas.”
‘Sialan. Ngapain sih si Miranda buka kartu gue di depan teman-temannya ? ember banget!’
Aku pun segera membuka pintu toilet dengan perasaan tidak enak. Sudah kuduga, semua mata memandangku, terutama si behel pink, tatapannya sangat jutek.
“Oh, pantasan.. ckck.” Aku tak mengerti ucapannya. Kutatap Miranda dengan kesal, kemudian segera menarik tangan Winda menjauh dari toilet.
***
“Yuk, Win..” ajakku pada Winda saat pulang sekolah. Hari ini adalah jadwal klub fotografi. Dari dulu aku sangat tertarik dengan dunia fotografi.
Beberapa minggu yang lalu, aku baru saja tahu bahwa jadwal latihan basket Dimas sama jamnya dengan jadwal klub fotografiku. Ini merupakan suatu kesempatan, dimana aku bisa memperhatikan Dimas. Memperhatikan saat ia duduk menunggu teman tim basket lainnya datang, memperhatikan saat ia mendrible bola basket, sampai memperhatikan saat ia tertawa , ia menertawai tingkahnya sendiri, ia menertawai dirinya yang bodoh saat hendak memasukkan bola, sampai bola basket tersebut memantul kembali dan tidak berhasil mencetak skor. Sudah jarang aku melihatnya tertawa di hadapanku, hanya di saat-saat seperti ini saja aku bisa memperhatikannya.
Dimas masih seperti dulu, dia tertawa dengan memamerkan gigi-giginya yang kurang rapi, meski begitu ia tetap terlihat manis.
Sayangnya aku tak bisa melihatnya latihan sampai malam, karena aku harus tiba di rumah sebelum malam menjelang.
‘Dimas, aku pulang dulu yah. Teruslah bermain basket, jika dengan itu bisa membuatmu senang.’
***
“Winda ? Elo dimana ? gue udah di dekat pintu masuk, nih.” Kataku pada Winda melalui ponsel.
“Oke, dalam 5 menit gue sampai di sana.” Sahut suara di ujung telepon. Hari ini Winda berjanji akan menemaniku untuk membeli sebuah novel yang sudah kuincar sejak seminggu yang lalu.
“Sorry, telat..” aku menoleh, rupanya Winda sudah berada di sampingku. Kami melangkah masuk, tiba-tiba langkahku terhenti. Dari arah berlawanan aku melihat seorang pria. Aku mengenali sosok pria itu. Dengan kemeja coklat, ia sangat tampan.
“Dimas..” Ucapku pelan seraya menatap kedua bola mata yang dulu sering kutatap itu.
“Laras..” Kini gantian dia yang mengucapkan namaku. Kami sama-sama terkejut dan terdiam. Aku sangat merindukan suara itu. Sangat.
“Aku duluan, yah.” Ujarku tak tahu harus bagaimana. Aku melangkah pergi meninggalkannya. Dari jauh aku masih melihat sosoknya. Dia masih terpaku di tempat. ‘Apa yang kamu pikirkan sekarang, Dimas ?’
“Ngapain Dimas ada di sini ?” Tanya Winda.
“Hmm, nggak tahu deh. Cuci mata kali..” jawabku seadanya.
Tak peduli dengan pertanyaan Winda, aku terus menelusuri satu persatu rak buku di toko tersebut untuk mencari novel incaranku.
Mataku tertuju pada sebuah novel berjudul ‘comeback’. Novel itu menyimpan banyak kenangan antara aku dengan Dimas. Dimas pernah memberiku novel tersebut saat kami menyambung rajutan cinta kami yang sempat terputus. Dimas juga pernah memberiku liontin berbentuk hati.
“Ini untukmu..” kata Dimas saat itu.
“Untuk aku ?”
“Iya, ini pemberian mama aku. Mama ngasih ini ke aku, karena dia sayang sama aku. Sekarang, aku mau ngasih ini ke kamu, karena..aku sayang kamu..” aku tersenyum mengenang itu semua.
Pernah suatu malam, saat kami hendak pulang bersama, dia bertanya padaku,
“Pulang sekarang ?” aku mengangguk.
“Tapi kayaknya mau hujan deh.”
“Kok kamu bisa tahu ?” tanyaku heran.
“Iya. Soalnya nggak ada satupun bintang yang terlihat di langit.” Aku memandang langit mencari bintang, benar saja apa yang dikatakan Dimas, tak ada satupun bintang yang terlihat. Namun aku tetap memaksa untuk pulang.
Di tengah perjalanan pulang, hujan mulai turun membasahi tubuhku dan tubuh Dimas. Dimas menepi, memarkir motornya. Kami menghentikan perjalanan pulang kami. Di bawah derai air hujan, kami bercakap-cakap cukup lama. Aku sangat merindukan masa-masa itu.
‘Dimas, lihat aku. Aku masih seperti dulu, aku masih menjadi salah satu fansmu, aku masih Laras yang dulu, Laras yang selalu ingin menjadi alasan mengapa kamu tersenyum.’
‘Dimas, aku masih menjadi fansmu. Apa kamu juga masih menjadi fansku ?’

26/09/2012  13.40
Kelas Bahasa Indonesia