Kamis, 25 Oktober 2012

Kisah Dua Insan




Terlalu ada banyak hal yang membuat cinta sulit untuk disatukan. Ya, terlalu banyak hal yang tidak bisa kupahami, dari yang kecil sampai yang besar. Karena suatu perbedaan sederhana dan mencolok itulah, membuatku harus terpisah dengannya.
Selama ini kedua orangtuanya selalu memberikan respon-respon yang baik terhadapku. Tidak pernah ada masalah yang serius. Namun pagi itu.. kuterima telepon darinya..
“Hey, Sarah.”
“Hey.. Byan, tumben pagi-pagi telepon ? kangennya kecepetan.” Gurauku.
“Hmm.. Sarah, ada hal penting yang harus kita bicarakan segera.” Nadanya terdengar serius.
“Hal penting ? Apa itu ?”
“Nanti aku kasih tahu.. udah dulu yah..” KLIK!
Ini adalah pertama kalinya dia menelponku dengan waktu yang cukup singkat. Ini juga pertama kalinya dia tidak bicara dengan frontal. Mungkin memang sesuatu yang penting.
Aku sudah menunggu di sini sejak 10 menit yang lalu dan belum terlihat tanda-tanda kehadirannya. Aku masih menunggu..
Senyumku tiba-tiba mengembang saat bayangannya muncul. Namun, ia datang bukan dengan wajah cerah, tetapi lesu yang aku dapatkan. Kami berdua duduk dan saling menatap satu sama lain. Aku berniat membiarkan dia yang lebih dulu membuka percakapan. Kuperhatikan gerak-geriknya. Ia merogoh tasnya. Seperti mencoba mengambil beberapa barang. Aku terkejut dengan barang-barang itu. Ada gantungan kunci, topi, baju kaos, sepatu, dan jam tangan. Semua itu adalah hadiah yang pernah kuberikan untuknya. Gantungan kunci oleh-oleh dariku sewaktu aku dari Paris, topi incarannya yang sengaja kuhadiahkan agar ia senang, baju kaos yang aku desain sendiri, sepatu hadiah ulang tahunnya dariku di tahun yang lalu, dan jam tangan yang juga hadiah ulangtahun dariku untuknya di tahun ini. Semuanya masih bagus dan terawat.
“Aku merasa tak pantas mendapatkan semua ini.. dan juga mendapatkan cintamu. Aku merasa tidak pantas..” aku benar-benar terkejut mendengar pernyataan yang baru saja keluar dari mulutnya.
“Tapi..”
“Ssstt..” Dia menyimpan telunjuknya tepat di depan bibirku. “Aku tahu, kamu pasti mengerti. Kamu seorang perempuan hebat yang dapat menganalisis banyak hal dengan baik.” Katanya lagi. Aku menarik telunjuknya dari hadapanku.
“Biarkan aku bicara, sayang. Aku tak pernah meminta semua ini dikembalikan..” Mataku mulai berkaca-kaca. Ya, diam-diam aku mengerti maksud ucapannya. Dia benar, aku seorang perempuan yang dapat menganalisis banyak hal dengan baik. Tetapi, tolong jangan katakan maksud dari semua ini adalah...
“Sarah.. aku tidak mau mengatakan hal ini, karena aku tahu ini akan melukaimu..” Aku terdiam mendengar tuturannya.
“Aku siap mendengar hal itu. Cinta butuh yang namanya resiko dan pengorbanan, bukan ?” Kataku mencoba tersenyum di hadapannya.
Perlahan-lahan ia menjelaskan semuanya dengan sorot mata yang redup. Tak kudapatkan sinar di sana. Tampaknya ia juga menahan air matanya. Kami berdua sama-sama menahan duri-duri yang tajam yang datang menghujam ke hati kami.
“Jadi..?”
“Kau akan bertemu pria lain yang menyayangimu lebih dariku.” Isak tangis di sudut jiwaku masih tertahan. Aku tak boleh kelihatan lemah di hadapannya. Sekalipun ia mau mengucapkan salam perpisahan.
Sebelum kami berpisah ia memberiku sebuah amplop. Amplop berisi undangan lebih tepatnya. Tidak salah lagi, ini adalah amplop pernikahannya dengan wanita lain, pilihan kedua orangtuanya.
Apa ada yang bisa mengerti perasaanku saat ini ? Hancur, terluka, kecewa, marah, kesal, sakit, saat melihat namanya dengan nama wanita lain tertera jelas di undangan tersebut, “Byan dan Chintya”
Bayangan Byan menghilang, meninggalkan aku yang terduduk sendiri meratapi nasib yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan.
“Perbedaan ini.. terasa menyakitkan, Tuhan..” Bisikku denga sendu. Kuremas undangan tersebut dan melemparnya jauh-jauh.
Ada emosi yang meluap-luap. Ada air mata yang meleleh. Di sini, di hati, ada sayatan-sayatan yang perlahan mengiris-iris hati.
Aku bukan wanita bodoh yang mudah frustasi karena cinta. Tetapi, kali ini aku mengakui apa adanya. Terasa tak lengkap tanpa kehadirannya. Pagi itu kucoba menghubunginya.
“Hallo..” Sahut suara di sana.
“Hm..Hallo.. bisa bicara dengan Byan ?”
“Kamu Sarah kan ? Tolong jangan pernah hubungi Byan lagi. Kamu juga pasti sudah tahu kalau Byan sudah bertunangan! “ KLIK! Telepon terputus.
Ya, yang mengangkat tadi adalah ibunya Byan. Aku memang kehilangan arah, tetapi aku tahu diri. Byan telah bersama orang lain. Bukan bersamaku lagi. “Bahagialah kau.. dengannya..” Bisikku lirih.
Hari-hari berikutnya sudah kuduga akan terasa hampa seperti ini. Tanpa Byan. Byan tak pernah tahu di sudut ruang sana, ada seseorang yang tersiksa karena merindukannya. Orang itu adalah aku.
Satu-satunya cara yang bisa kulakukan untuk keluar dari keterpurukan ini adalah fokus dengan pekerjaanku. Aku seorang model berusia 24 tahun, yang mulai menggeluguti karir sebagai desainer busana. Aku bekerja tanpa henti. Menuangkan semua rasa frustasiku dalam desain-desain yang kurancang, serta menerima kontrak ini dan itu untuk tampil menjadi salah satu model dalam suatu fashion show.
Setahun telah berhasil aku lewati. Membiarkan sayatan-sayatan luka itu mengering. Membiarkan luka itu sembuh sendiri tanpa ada yang mengobati. Dan sampai detik ini aku masih fokus dengan pekerjaanku.
“Nona, saya sudah bicara dengan pak Dedi, dia akan membawa fotografernya untuk bekerja sama dengan kita.” Kata asistenku yang biasa memanggilku dengan sebutan nona.
“Job bersama ?” Tanyaku. Dia mengangguk.
“Karena fotografer kita ada job mendadak selama dua minggu di Hongkong jadi.. untuk sementara kita pakai fotografernya pak Dedi, namanya.. hmm Byan Angkasa.” Aku tercengang mendengar nama itu.
“Byan Angkasa ?” Tanyaku lagi memastikan bahwa aku tak salah dengar. Dia hanya mengangguk.
Jam menunjukkan pukul sepuluh siang. Hari ini kami akan melakukan pertemuan untuk membicaraka job. Pak Dedi muncul dengan seseorang mengekor di belakangnya.
“Selamat siang.” Ucap pak Dedi sambil menjabat tanganku.
“Selamat siang, pak Dedi.” Balasku dengan senyuman.
Kami berempat duduk. Aku, Adit asistenku, pak Dedi, dan.. Byan. Mata Byan belum saja melirik ke arahku. Ia terlihat gugup dan selalu membuang pandangannya.
“Sarah, kenalkan fotografer profesionalku, Byan Angkasa..” Aku dan Byan berjabat tangan. Sentuhan itu membuat aku kembali mengenang semuanya. Kali ini sorot mata Byan tak lepas ke arah mataku. Sorot mata yang tajam, namun penuh kerinduan.
“Sarah..” Kataku memperkenalkan diri.
“Byan..” Ucapnya sangat pelan.
Tiba-tiba ponsel pak Dedi berdering. Suasana hening, yang terdengar hanya suara pak Dedi yang sedang berbicara melalui telepon.
“Maaf, saya tiba-tiba dihubungi. Ada urusan mendadak yang perlu segera saya selesaikan. Jadi.. untuk hari ini kalian bertiga saling sharing saja dulu..”
Pak Dedi meninggalkan kami. Aku sendiri bingung mau membicarakan apa, dan mulai dari mana.
“Nona, aku tinggal dulu yah, kebelet nih..”
“Heh ?” Sepeninggal Adit, kini hanya ada aku dan Byan. Bertatapan satu sama lain, tanpa tahu, ada rasa apa yang menghampiri kami saat ini.
“Selamat yah, kamu sudah menjadi desainer busana yang hebat.” Byan tersenyum padaku. Aku merindukan senyum itu.
“Makasih. Aku juga nggak nyangka, kamu bisa jadi fotografer profesional.” Dia masih tersenyum memandangku.
“Jadi.. bagaimana kehidupanmu ?” Aku sedikit kaget mendengar pertanyaannya.
“Hmm seperti ini.. semua baik-baik saja.” Jawabku penuh kebohongan. Aku menunduk. Menghindari tatapan matanya.
“Kau tidak ingin bertanya balik padaku ? Bertanya tentang kabarku.” Dia mengernyitkan dahinya.
“Oh.. hmm bagaimana dengan keadaanmu ? Kau dengan hidupmu ?”
“Hampa.” Singkat jawabannya.
“Kamu terlalu jujur.”
“Iya. Kau tak ingin tahu hampa kenapa ?”
“Hampa kenapa memangnya ?”
“Karena aku hidup bersama dengan orang yang tidak kucintai.”
Aku terdiam mendengar jawabannya. Suasana hening itu pecah oleh dering ponsel Byan.
“Hallo.. Ya, hmm aku segera ke sana.”
Byan menutup teleponnya. Dia memandangku.
“Sarah.. aku minta maaf. Aku harus menjemput Chintya sekarang. Maafkan aku. Aku harap nanti kita bisa bertemu lagi.”
Aku mengangguk, melihat langkahnya keluar meninggalkan aku. Dan hari itu adalah.. hari terakhir aku melihatnya.
Byan meninggal saat hendak menjemput Chintya, gadis yang tidak dicintainya sama sekali. Kecelakaan itu merenggut nyawanya. Namun kuyakini, dalam jiwanya masih ada cinta untukku.
Cinta kami terhalang karena sebuah perbedaan sederhana namun begitu mencolok. Perbedaan agama. Byan tidak bisa membahagiakanku tanpa membahagiakan kedua orangtuanya. Ya, dia sudah memilih jalannya, memilih Chintya untuk mendampinginya sampai akhir hidupnya. Kita mungkin bisa memiliki seseorang tetapi tidak akan pernah bisa memiliki jalan hidupnya sepenuhnya.
Aku berharap bisa bertemu lagi dengan Byan, sama seperti harapan Byan yang terakhir kalinya saa bertemu denganku.
“Byan.. sampai kapanpun aku akan tetap menyimpan sejuta cinta untukmu..”
‘I have loved you for a thousand years..’ tulisku di atas selembar kertas. Tiba-tiba nafasku sesak, penyakitku kambuh, penyakit asma ini benar-benar menyiksa dan membunuhku perlahan. Dan semuanya gelap, nafasku tertahan, aku terjatuh dari kursi di kamarku.
Aku melihat diriku terbujur kaku. Papa menahan tangisannya, mama meraung-raung histeris, semua orang berduka atas kematianku.
Hari itu, seminggu setelah kepergian Byan, aku menyusulnya. Tuhan mendengar harapanku dan byan.
Entah kini arwahku di alam mana, namun aku melihat jelas sosok Byan di sana. Ia menatapku dengan senyuman, menghampiriku, lalu menarik tanganku. Kami melangkah bergandengan tangan berdua meninggalkan dunia.

Aku untuk kamu
Kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin ?
Iman kita yang berbeda
Tuhan memang satu
Kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi
Meski cinta tak kan bisa pergi
Bukankah cinta anugrah ?
Berikan aku kesempatan tuk menjaganya sepenuh jiwa..
25/10/2012  20.20 WITA
Untuk mereka yang terpisah karena perbedaan sederhana..

Sabtu, 06 Oktober 2012

Serpihan Cinta




“Bella, buruan dong..”
“Sabar..” Sahutku dari dalam mobil. Vino, kekasihku sudah menungguku di luar mobil. Kalian mungkin tidak tahu betapa baiknya Vino. Hari ini ia akan menemaniku untuk berziarah ke makam Rio, mantanku.
Rio meninggal dua tahun yang lalu. Sebelum ia meninggal, ia mengalami sebuah kecelakaan. Bukan kecelakaan itu yang merenggut nyawanya, tetapi tentang penyakitnya yang ia berhasil sembunyikan dariku.
Pasca kecelakaan Rio, aku sempat mengunjunginya. Tetapi Rio malah mentah-mentah menolak kedatanganku. Ia berubah menjadi temperamental.
“Ngapain kamu ke sini ?” Ujar Rio saat aku menemuinya. Ia berbicara dengan nada kasar tak seperti biasanya.
“Kamu kenapa ? Aku khawatir sama kamu..” Kataku mencoba menahan air mata karena bentakannya.
“Aku enggak butuh rasa khawatir dari kamu! Jangan kasihani aku! “ Aku tak mengerti ucapan Rio. Sungguh.
“Kenapa Rio ?” Tanyaku dengan lirih. Aku masih menahan air mataku.
“Karena.. aku udah enggak bisa lagi ngebahagiain kamu. Sudahlah, kamu lebih baik pergi saja! “ Kali ini ia berbicara dengan nada sangat lemah. Aku memperhatikannya. Astaga, kedua kaki Rio diamputasi. Sekarang ia menggunakan kursi roda. Kepalanya juga masih diperban. Kali ini aku tak bisa menahan air mataku, satu persatu butir bening meluncur deras melewati pipiku.
“Berhentilah menatapku seperti itu! Jangan menangis untukku! “ Kata-kata Rio semakin menjadi-jadi.
“Pergilah! Pergi! Jangan temui aku lagi!” Gertakan Rio semakin membuatku perih.
“Rio, tolong jangan larang aku seperti itu!”
“Kenapa ? Apa kamu masih membutuhkan orang cacat seperti aku ? Enggak, kan ?!!”
Aku terdiam mendengar ucapannya.
“Pergilah!” usir Rio, lagi.
Sesaat aku terdiam sambil menatap wajah orang yang kusayang itu. Lalu melangkah keluar meninggalkan rumah Rio dengan isak tangis yang tertahan. Saat aku menutup pintu gerbang rumahnya, mamanya memanggilku.
“Bella.. ?” Aku menoleh. “Tolong maafkan sikap Rio tadi, yah.” Aku hanya bisa mengangguk.
“Kamu harus bisa mencari yang lain, yang lebih baik dari Rio.” Katanya lagi. Aku terkejut, mataku membulat, dadaku sesak. Kupandangi wajah wanita di depanku.
“Maksudnya ? Tante ingin aku meninggalkan Rio ? Itu enggak mungkin, tante..” Kataku dengan suara tertahan. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia lalu menggelengkan kepalanya, kemudian meninggalkanku. Aku masih ingat, bagaimana perkataannya itu begitu menggores hatiku.
***

Setelah hari itu, sekitar satu minggu aku tidak menemuinya lagi. Aku tidak tahu kabarnya lagi. Tetapi itu bukan berarti aku berhenti memikirkannya.
Hari ke delapan, aku mulai ditusuk oleh rindu. Kuputuskan untuk menemuinya lagi. Entah perlakuan apa yang akan Rio beri padaku, aku siap menerimanya. Dengan sebuket bunga dalam genggamanku, aku bersiap menemuinya.
Tiba-tiba ponselku berbunyi,
“Hallo.. ? Iya, benar. APAAA ?!” Buket bunga yang kubawa terlepas dari genggamanku begitu saja. Setelah aku mendengar kabar itu seperti ada badai yang baru saja menerpaku. Aku terduduk lemas di pinggir jalan.
Aku tak peduli berapa banyak kendaraan yang lewat, air mataku jatuh begitu saja. Jatuh tanpa henti.
Seperti dugaanku, rumah Rio ramai dikunjungi oleh orang-orang yang menyayangi Rio. Mataku bertemu dengan mata mama Rio. Begitu ia melihatku, ia langsung menghampiriku seraya memelukku. Semakin erat kurasakan dekapannya, semakin tak kuasa aku menahan air mata.
Pandanganku mengarah pada jasad Rio. Dia terbujur kaku di sudut sana. Matanya terpejam, mungkin untuk selamanya. Untuk selamanya. Aku pasti akan merindukannya, nanti. Sangat.
Sepeninggal Rio, aku berusaha menjalani hidupku sendiri tanpa Rio. Tak ada lagi ucapan selamat pagi darinya, tak ada lagi yang mengomel ketika aku tak mau makan, tak ada lagi yang menyuruhku tidur ketika malam sudah terlalu larut. Tak ada lagi bayang-bayang indahnya, tak ada lagi bunga-bunga di hari-hari spesial. Tak akan ada lagi Rio di sampingku.
‘Sejahat itu kah kamu, Rio ? Meninggalkan aku seperti ini ? Lupakah kamu pada janjimu ? Akan selalu bersamaku sampai kapanpun..’
***

Dua minggu sudah berlalu dari hari yang tak pernah kulupa itu. Hari yang mengguncang hidupku. Aku teringat, beberapa novelku tertinggal di kamar Rio. Kuberanikan hari ini untuk pergi ke rumah duka itu.
“Sendirian aja mba ? Pacarnya kemana ?” Penjaga kasir di toko bunga itu menegurku.
“Eh, iya. Lagi sendirian aja.” Jawabku. Sebenarnya aku benar-benar terhenyak dengan pertanyaannya. Ya, dia menanyakan tentang Rio. Aku dan Rio suka berbelanja bunga di toko ini. Kami selalu berdua datang kemari. Tetapi, hari ini aku sendirian, tanpa Rio.
Dengan sebuket bunga, aku keluar dari toko bunga tersebut. Menurutku, toko bunga ini bukan toko biasa. Toko ini berdiri terpisah dengan bangunan lain. Ada taman-taman yang mengitari toko ini. Aku biasanya mampir untuk duduk di salah satu bangku taman, tentunya bersama Rio. Langkahku melewati salah satu bangku kenangan itu. Tiba-tiba teringat semua percakapan yang dulu pernah ada saat bersama Rio.
“Kamu tahu tidak ? Suatu saat nanti di tahun yang akan datang, aku akan membeli sebuket bunga dan cincin, kemudian datang melamarmu..” Begitu ucap Rio padaku, dulu. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman.
‘Rio, terimakasih untuk empat tahunnya.. terimakasih untuk senyumannya.. terimakasih untuk lagu-lagu yang kau nyanyikan untukku.. terimakasih atas cintanya..’
Aku tak pernah merasa selemah ini. Kutarik nafas dalam-dalam, aku tak boleh seperti ini.
“Permisi tante, maaf mengganggu.”
“Bella, masuk sayang.”
Wanita itu mempersilahkan aku masuk. Sepertinya senyumnya telah kembali setelah hari yang merenggut kebahagiaan itu.
“Kamu enggak kuliah ?” tanyanya. Aku hanya menggangguk.
“Aku ke sini mau mengambil beberapa barangku yang sempat tertinggal di kamar Rio.” Kataku sambil menunduk. Aku berusaha dengan hati-hati menyebut nama ‘Rio’.
“Hmm, kalau gitu langsung ke kamarnya aja, enggak dikunci kok.” Setelah berbicara padaku, ia berdiri dari sofa dan berjalan ke dapur. Aku tahu, ia berusaha menutupi kesedihannya. Kurasakan ada emosi yang tertahan di raut wajahnya.
Perlahan-lahan kubuka pintu kamarnya. Aku tahu yang akan terjadi pasti seperti ini. Seharusnya aku tidak mencoba masuk ke kamarnya kalau aku tak ingin ada butir air mata yang jatuh lagi.
Kamarnya tak ada perubahan. Bedanya, sekarang tak berpenghuni. Figura-figura fotoku bersamanya tetap tertata rapi di tempatnya. Aku lemas setengah mati. Mataku tak mampu membendung butir-butir bening yang semakin memberontak karena ada sesak yang begitu dalam di dada.
Mataku tak sengaja memandang ke arah atas lemari. Di sana ada bunga mawar yang layu. Tak terawat. Aku langsung mengambil bunga layu itu dan melemparnya jauh ke luar jendela. Kuganti bunga itu dengan buket bunga yang kubawa.
Tiba-tiba ada suara seseorang yang bernyanyi. Persis suara Rio. Aku tahu aku sedang berkhayal. Tetapi sungguh itu suara Rio! Suaranya berasal dari belakangku. Begitu aku membalikkan badan, aku terlonjak kaget. Kudapati Rio tengah bernyanyi dengan gitarnya di atas ranjang.
“Rio..” ucapku pelan. Kudekati dia perlahan. Semakin aku mendekat, semakin bayang indahnya menghilang.
“Rio.. Rio.. Jangan menghilang!” Seketika itu ia lenyap bersama dengan angin yang berhembus kencang di luar jendela.
“RIO!!” Aku berteriak histeris. Aku tidak ingin Rio pergi.
Mama Rio yang mendengar teriakanku segera menghampiriku.
“Ada apa Bella ? kamu kenapa ?” Ia tampak panik. Kemudian ia memelukku. Aku terguncang di bahunya.
“Maafin tante sebelumnya. Tante enggak pernah cerita kalau Rio punya masalah dengan paru-parunya. Rio meninggal karena penyakitnya.”
Aku masih dalam dekapannya.
“Carilah orang lain yang lebih bisa membuatmu bahagia..”
Kata-katanya membuatku makin terisak. Dekapannya makin erat.

‘Bila yang tertulis untukku
Adalah yang terbaik untukmu
Kan kujadikan kau kenangan
Yang terindah dalam hidupku
Namun tak kan mudah bagiku
Meninggalkan jejak hidupku
Yang telah terukir abadi
Sebagai kenangan yang terindah’

02/10/2012  11.10
Kelas bahasa jerman