Rabu, 14 November 2012

Secrets




Masing-masing orang punya rahasia. Banyak alasan mengapa setiap orang punya suatu hal yang mereka jadikan rahasia. Kadang kala, aku harus menyesalkan tentang adanya rahasia. Kadang kala, aku merasa bodoh karena kehadiran rahasia.  Kadang kala, aku merasakan pahit akibat datangnya rahasia. Kadang kala, aku harus menerima sesuatu dengan terlambat karena rahasia. Kadang kala, aku bingung harus menunggu atau terus melangkah karena ada rahasia. Bahkan, aku tak pernah tahu bahwa aku selalu tersenyum di atas penderitaan yang lain, itu juga karena ada rahasia.

“Dira, si Cindy cantik, yah. Sayangnya sikapnya begitu.” Kataku pada Indira. Entah dia mendengarkan aku atau tidak, karena yang kulihat ia begitu sibuk dengan gadgetnya.
“Kamu suka sama dia, Lang ?” Oh, ternyata ia mendengarku. Tetapi pandangannya masih saja ke arah gadgetnya.
“Hmm.. enggak. Aku lebih tertarik sama si Ririn.” Ucapku dengan begitu terbuka. Indira adalah temanku sejak kecil. Bisa dibayangkan betapa dekatnya kami. Aku selalu menceritakan banyak hal padanya. Tetapi, menurutku ia tidak begitu terbuka padaku, seterbuka aku padanya.
“Oh, Ririn ? Karena dia aktif ikut kegiatan ini itu yah ?” Kali ini ia bertanya sambil menatap lurus ke arahku.
“Banyak hal yang aku suka darinya.” Indira hanya mengangguk. Kemudian ia berkata, “ Banyak hal ? Aku tahu, dia aktif, cantik, ramah, pintar. Iya kan ?” Aku hanya terdiam.
***
“Gilang, kamu dimana ?” Tanya Indira di ujung telepon.
“Masih di jalan. Kamu mau dijemput dimana ?” Tanyaku.
“Depan kampus, Lang. DI bawah pohon besar.” Jawabnya lagi. Seperti biasa, jika aku punya waktu, aku akan menjemput Indira, dan mengantarnya pulang. Rintik air hujan mulai memenuhi kaca depan mobilku. Tiba-tiba, seorang perempuan menarik perhatianku. Aku memberhentikan mobil dan keluar menemui perempuan itu.
“Rin ? Mau pulang ?” Ya, aku melihat Ririn di pinggir jalan. Wajahnya terlihat panik karena melihat langit yang mendung.
“Iya, nih. Tapi gimana yah ? Mau hujan.” Wajahnya masih panik.
“Aku antar pulang, yuk.” Tawarku.
“Hmm gimana yah ? Yaudah, deh. Ayuk.”
***
“Nyariin siapa, Lang ?” Aku terkejut. Ririn sudah berdiri di sampingku.
“Eh, enggak kok. Kamu lihat Indira, nggak ?”
“Dira nggak masuk hari ini.”
“Hah ? Kenapa ?”
“Sakit.” Jawabnya singkat.
Astaga ! Apa mungkin karena kemarin aku lupa menjemputnya ? Lalu dia kehujanan dan..
Kutinggalkan Ririn dan bergegas ke parkiran mobil. Kutancap gas mobilku.
Rumah Indira terlihat sepi. Indira anak tunggal dan mempunyai orangtua yang sibuk luarbiasa. Bi Inah, pembantu rumah itu mempersilahkan aku masuk.
Di ruang tengah, kudapati Indira terduduk lemas dan pandangannya kosong.
“Dira..” Panggilku. Ia masih tak sadar. Tatapannya masih kosong. “Dir…” kupanggil ia sekali lagi. Dia menoleh. Dia tersenyum, senyum yang sangat lemah.
“Mas Gilang, kemarin mba Dira kehujanan. Sampai sakit kayak gini.” Ujar Bi Inah. Benar dugaanku.
“Dira, Aku mau..”
“Mau minta maaf, kan ? Nggak apa-apa kok, Gilang. Ririn semalam cerita. Katanya dia pulang sama kamu. Syukurlah kalau kamu nggak kenapa-kenapa. Aku takut, takut kamu kenapa-kenapa di jalan waktu mau jemput aku. Ternyata kamu baik-baik saja.” Jelasnya dengan senyum dipaksakan.
Aku tak mengerti ucapannya. Kurasa, dia tidak pernah marah padaku. Tidak pernah. Sekalipun aku mengecewakannya, atau bahkan sampai membuatnya jatuh sakit seperti ini, ia masih terlihat tidak marah.
***
Pagi ini aku sudah dikejutkan dengan penampilan Indira. Ia jauh cantik dari biasanya.
“Hey, Lang ! “ Sapanya dengan senyumannya yang manis. Yang selalu berhasil membuatku luluh.
“Ada setan apa pagi ini ? Bisa berubah gitu, Dir.” Dia hanya tertawa. Sangat manis. “Lagi suka sama cowok sampai ngubah penampilan begini ?” Tanyaku.
“Enggak, kok.” Lagi-lagi dia tidak mau terbuka padaku. Terus terang saja, bagaimanapun penampilannya, ia tetap cantik.
“Kemarin aku lihat nama kamu di daftar acara talkshow besok, terus juga di daftar anak baru komunitas..hmm..” Aku lupa nama komunitasnya.
Dia memandangku.
“Oh, itu. Iya, aku join. Hehe.” Dia tertawa renyah.
“Tumbenan. Biasanya malas ikut begituan, ada apaan sih ?” Aku benar-benar heran dibuatnya.
“Sumpah, deh. Nggak ada apa-apa.” Ia selalu berhasil membuatku penasaran.
“Bilang aja kalau lagi jatuh cinta.” Ucapku ceplas-ceplos. Dia memukul bahuku.
“Enggak, kok. Mana sempat mikir begituan.” Bohong aja si Dira, batinku.
“Eh, temenin aku, dong. Mau beli kado buat si Ririn, nih. Besok dia ultah.”
“Hmm.. Iya, deh.”
***
“Bagus yang mana ? Boneka beruang yang ini atau yang itu ?” Aku meminta pendapat Indira.
“Yang ini aja.” Singkat jawabnya.
“Oke.” Aku segera menuju kasir. “Dir, loh kok ngelamun ? Sini, cepetan! “ Seruku.
Seminggu sudah aku lewati tanpa Dira. Dia begitu sibuk dengan semua kegiatannya. Sampai tak sempat untuk sesekali menghubungiku. Aku juga baru dapat kabar, bahwa Dira terpilih menjadi wakil ketua dalam komunitasnya. Ini sangat berbeda dari Dira yang kukenal dulu. Dira yang dulu itu malas mengikuti berbagai kegiatan, malas bergaya, dan malas bergaul. Nyatanya kini ? Ia sibuk dengan kegiatannya yang segunung, ia juga mulai bergaya, dan mulai mempunyai banyak teman.
Aku selalu memendam rasa ini. Rasaku pada Dira. Dira tak pernah memberi sinyal apapun. Bahkan selalu mengalihkan pembicaraan kalau ditanya tentang orang yang dia suka. Aku juga tak mau memaksa. Dia tidak pernah secara frontal memuji lawan jenisnya, tidak seperti aku.
Besoknya keadaan kembali seperti semula. Dira sudah kembali.
“Dir, besok mau ikut ke pantai nggak ?”
“Mau, mau.” Jawabnya penuh semangat.
“Besok aku sama Ririn mau ke pantai.”
“Sama Ririn ? Hmm oh, aku baru ingat besok aku mau kondangan, tante aku ada yang nikah. Aku nggak bisa ikut kamu ke pantai. Maaf.”
“Hah ? Kondangan ? Sejak kapan kamu suka pergi kondangan ? Setahuku kamu enggak suka ikut begituan. Emangnya tante kamu yang mana yang belum nikah ?” Dira terlihat kikuk.
“Ada. Kamu nggak kenal. Aku emang suka pergi kondangan, kok.” Aku tahu, Dira sedang berbohong.
“Ya udahlah, aku nggak maksa kamu buat ikut, kok.”
***
Sore itu sepulang dari pantai, hujan turun dengan derasnya. Ririn tertidur di sampingku. Jalanan yang tergenang menimbulkan macet yang parah. Pikiranku melayang pada Indira. Masih kondangankah dia ? Atau sudah pulang ? Dia pulang sama siapa kira-kira ? kehujanan tidak ? Tanda tanya tentang Dira memenuhi ruang di otakku.
Sekarang sudah pukul sepuluh malam. Aku baru saja selesai mengantar Ririn pulang. Hujan mulai mereda. Namun gerimisnya tetap tinggal. Kurebahkan tubuhku di atas ranjang. Rasanya malam ini sulit untuk kupejamkan mata. Perasaanku mendadak jadi tidak enak. Kucoba hubungi Indira, namun sudah berkali-kali kucoba nomornya tetap tidak aktif. Begitu lelahnya aku, sampai tak sadar aku sudah memasuki alam mimpi.
Aku terbangun di pagi buta. Kudapati tiga panggilan tidak terjawab dari Indira, dan satu message darinya yang hanya berisi, “Gilang..
Perasaanku semakin tak karuan. Sekarang masih pagi buta. Tetapi, aku tak peduli. Aku ingin menemui Indira. Sangat ingin menemuinya. Sangat rindu padanya.
Begitu langkah kakiku memasuki halaman rumah Indira, kudengar jeritan keras dari dalam rumah.
“Bi, buka pintunya ! Ada apa Bi ?!! “ Pintu rumah terbuka. Kudapati wajah bibi basah, karena airmata. Mataku mengarah ke ruang tengah, Indira ada di sana. Tetapi.. matanya terpejam, tubuhnya kaku di atas lantai, darah tercecer di sekitarnya. Aku terlonjak kaget, dan kupeluk tubuh Indira. Kudekap dia dengan erat. Kusentuh pipinya. Kuperiksa denyut nadinya.
“ Diraaaaaaa!!!!” Aku berteriak histeris. Bi Inah masih menangis di sampingku.

***
Ada yang kurang saat dia tak di sini. Seperti ada hampa yang menghampiri. Seperti hanya ditemani sepi. Ada rindu yang menusuk. Membuat kesakitan tersendiri di dalam diri.
Hari ini tepat sebulan sesudah pemakaman Indira. Sahabat terbaik sepanjang masa. Cinta pertamaku, Indira Permata. Lagi-lagi karena rahasia. Terlalu banyak rahasia yang dia simpan. Terlalu banyak hal yang enggan dia bagi bersamaku. Aku selalu berandai-andai, andai rahasia tidak pernah dihadirkan antara aku dengan Indira. Entah harus menyalahkan siapa ?
Indira, dia membuatku terkejut dengan apa yang dia tulis di dalam blognya. Selama ini aku memang tak pernah mencoba melihat apa isi dari blognya. Betapa bodohnya aku. Seandainya aku lebih pintar melihat. Ah, selalu saja menyakitkan jika kita berandai-andai.

Ini adalah isi dari blognya…

31 Desember 2010
Di ranjang rumah sakit, pukul 21.36

Ini adalah hari terakhir di tahun ini. Banyak hal yang aku lewati bersamanya, Gilang. Entah mengapa aku selalu merasakan kenyamanan yang luarbiasa bila di dekatnya. Sayangnya, malam ini aku tak bisa merayakan tahun baru bersamanya. Aku berbohong pada Gilang. Aku bilang bahwa aku akan merayakan tahun baru di luar kota bersama mama dan papa. Pada kenyataannya sudah dua hari aku dirawat di rumah sakit karena penyakitku kambuh. Aku berbohong karena aku tahu, jika Gilang mengetahui aku di rumah sakit ia pasti membatalkan rencananya merayakan tahun baru di pantai demi menemaniku di sini. Harapanku tak banyak, semoga aku masih bisa melihat Gilang di hari esok, bahkan selamanya.

‘Bodoh ! seharusnya kau memberitahuku ! mengapa kau biarkan aku merayakan tahun baru dengan gembira, sementara itu aku sama sekali tidak tahu bahwa kau sedang sakit ! benar-benar gadis yang bodoh !’
  12 Februari 2011
Di jendela kamar dengan menggigil, pukul 10.01

Aku tak menyalahkan Gilang dengan keadaanku sekarang. Aku sakit. Sepulang dari kampus tadi aku kehujanan. Aku khawatir, kupikir Gilang kenapa-kenapa di jalan saat hendak menjemputku, tetapi setelah kudengar cerita dari Ririn bahwa ia tadi diantar Gilang pulang, berarti Gilang baik-baik saja. Yah, mungkin Gilang lupa atau aku sadar, Gilang lebih memilih mengantar Ririn pulang karena aku juga tahu, dia begitu tertarik dengan gadis bernama Ririn itu.

‘Aku tak bermaksud lupa, entah bagaimana bisa, begitu melihat wajah Ririn yang panik, aku jadi ingin mengantarnya pulang. Aku minta maaf, aku tahu ucapanku ini benar-benar terlambat..’

20 Februari 2011
Di Salon Rosse, pukul 19.00

 Malam ini aku berencana mengubah penampilanku agar terlihat lebih mencolok. Agar Gilang lebih memperhatikan aku, agar dia tidak memuji perempuan lain lagi di hadapanku. Aku selalu risih, bila ia memuji seseorang di depanku. Mungkin bisa dibilang sedikit cemburu. Malam ini, aku mengubah penampilanku, mulai dari tataan rambutku sampai wajahku. Aku ingin terlihat tak biasa di hadapan Gilang. Aku ingin Gilang memujiku !
Esoknya Gilang memang terkejut melihatku, tetapi ia tak frontal memujiku. Ia malah mengiraku sedang jatuh cinta pada seseorang dan sedang berusaha memikat orang itu. Hatiku tak pernah berubah, selalu tertuju padanya, tanpa sepengetahuannya. Lagi pula untuk apa juga Gilang tahu ? Toh, dokter memvonis umurku. Cukup dengan kehadirannya dia di sampingku, membuatku merasa sangat bahagia dan beruntung. Aku juga mengikuti berbagai macam kegiatan, agar terlihat pintar dan aktif di mata Gilang. Aku tahu Gilang menyukai gadis yang cantik, pintar, aktif, dan lain-lainlah. Tetapi, aku juga tahu bahwa dokter selalu mengingatiku agar tidak kecapaian. Aku tidak boleh punya banyak kegiatan. Tetapi aku membandel, membandel untuk hal yang seperti ini saja.

‘Lagi-lagi kau bodoh ! Kau tak perlu melakukan itu semua, Dira ! Kau pikir dengan begitu aku akan menyukaimu ? Meski kau tidak berbuat semua itu, aku sudah mencintaimu, dari dulu !’

22 Februari 2011
Di dalam Rush-nya Gilang, pukul 16.05

Aku baru saja pulang dari menemani Gilang membeli sebuah hadiah untuk Ririn. Sebuah boneka beruang yang lucu. Sebenarnya aku juga ingin memilikinya. Sayangnya boneka tersebut akan Gilang berikan pada Ririn. Sayang sekali. Aku berharap suatu saat Gilang juga akan memberiku boneka seperti itu, yang bisa kupeluk saat aku menggigil, yang bisa menemaniku saat Gilang tak bisa menemaniku.

Aku bisa memberikan beribu boneka beruang jika kau mengatakannya padaku bahwa kau ingin juga ! ketololan apa lagi yang kau perbuat, Dira ?!’
 1 Maret 2011
Di taman kampus, pukul 09.30

Yeaay!
Aku sudah kembali ke kampus lagi. Sudah bisa bertemu Gilang lagi. Kau tahu ? Aku tak bisa berhenti memikirkannya saat aku berada di luar kota mengikuti serangkaian kegiatan komunitasku. Aku begitu lelah. Lelah yang amat sangat. Hari ini kupaksakan datang ke kampus untuk melihat senyum Gilang, senyumnya seperti membuat tenagaku kembali utuh. Saat aku bertemu dengannya, dia mengajakku ke pantai. Tetapi, ketika aku tahu Ririn juga akan pergi bersama, aku kembali berbohong. Gilang pasti tahu kalau aku berbohong saat itu. Aku tidak suka pergi kondangan. Tetapi, aku benar-benar bingung harus beralasan macam apa.
Kupikir, jika aku ikut bersama mereka, aku akan mengganggu acara mereka berdua. Jadi aku berbohong untuk menolak ajakannya. Entah sudah berapa banyak dosaku pada Gilang karena aku sering membohonginya.

‘Harusnya kau mengerti, mengapa aku mengajakmu ? Karena aku tak ingin hanya pergi berdua ke pantai bersama Ririn. Ririn yang mengajakku. Padahal saat itu, aku benar-benar berharap kau akan ikut bersamaku..’
2 Maret 2011
Di kamarku, pukul 10.00

Entah sudah berapa banyak tissu dan kapas yang kupakai untuk memberhentikan darah yang tak henti-hentinya keluar dari rongga hidungku. Bahkan sprei tepat tidurku kotor karena darah-darah yang menetes itu. Kepalaku juga pening. Tetapi, aku juga tidak tahu mengapa aku masih sanggup menulis tentang hal ini ? sedikit lucu memang. Sepertinya aku harus segera beristirahat agar besok perasaanku jauh lebih baik dan berharap besok aku masih bisa mendengar suara Gilang dan bisa melihat senyumnya.
‘Aku juga berharap masih bisa mendengar suaramu dan melihat senyummu, tetapi kenyataannya sangat jauh berbeda..’
3 Maret 2011
Masih di kamarku, pukul 00.50 dini hari

Kepalaku masih pening. Aku hanya ingin menulis sedikit saja. Aku berharap Gilang membaca ini. Tubuhku seperti ditusuk-tusuk. Aku sangat kesakitan. Aku mencoba menghubungi Gilang. Mungkin Gilang sudah tertidur. Tetapi, aku terus mencoba menghubunginya. Aku sangat kesakitan. Aku butuh Gilang ! Nafasku juga benar-benar seperti tinggal setengah. Bi Inah juga tidak mendengar jeritan kesakitanku yang amat pelan. Darah terus menetes dari hidungku. Aku kesakitan. Aku berharap besok masih bisa menulis lagi. Sekarang, aku akan berusaha sendiri mengambil obat di lantai bawah. Aku akan berusaha untuk tetap hidup.

‘Aku benar-benar bodoh, aku tidak bisa datang tepat waktu, seharusnya aku sudah berada di sana, seharusnya aku bisa membawakan Dira obat, maafkan aku, Dir…’

Berbagai penyesalan harus kurasakan sampai saat ini. Hanya karena sebuah rahasia.

15/11/2012  13.21
Diary kecil