Sabtu, 23 Februari 2013

FRANS DAN SANG BALERINA

Di usia menjelang 18 tahun, Liana – murid La Grande Ballet School (LGBS) – masih bimbang apakah akan menjadi balerina profesional atau tidak. Selama ini semua yang dilakukannya hanya karena mengikuti Erika, sahabatnya sejak kecil. Masuk LGBS pun karena ikut-ikutan Erika.

Sebenarnya Liana ingin sekali menjadi belerina, tapi dia selalu dipermalukan oleh Miss Anna, pelatih baletnya. Di saat putus asa ingin meninggalkan dunia balet, secara tak sengaja Liana malah bertemu dengan penari balet pria bernama Frans.

Berteman dengan Frans membuat Liana kembali bersemangat untuk menjadi balerina, bahkan dalam diri Liana mulai tumbuh benih cinta kepada Frans. Namun, Liana menyadari ada sesuatu yang ganjil. Frans selalu muncul dan menghilang tiba-tiba.

Sebenarnya siapa Frans ? Kenapa teman-teman Liana tak ada yang mengenal Frans ?

Novel dengan ketebalan 311 halaman ini akan membawa pembacanya ke dalam dunia yang penuh dengan mistik. Dibalik kehadiran Frans ada suatu hal yang belum terungkap, begitu besarnya rasa penasaran Liana sehingga ia berusaha mencari tahu kebenarannya. Ia mencari tahu siapa sebenarnya pria bernama Frans itu.

Kanti W. Janis, penulis buku ini berusaha  membuat pembacanya menaruh rasa penasaran terhadap apa yang ia tulis. Alur ceritanya tak akan membuat kita bosan, sebab penulisnya membuat novel ini menjadi semenarik mungkin. Buku ini bertemakan mengungkap sebuah kebenaran, bagaimana pada akhirnya nanti Liana berhasil mengungkap siapa sesungguhnya Frans yang selama ini selalu hadir dan membangkitkan kembali semangatnya.

Novel ini akan mengajarkan kepada kita untuk tidak suka mengambil karya orang lain, tidak suka balas dendam, dan tidak boleh terlalu berambisius untuk suatu keinginan atau nafsu.

Bukan 'Karena' Tetapi 'Walaupun'


Bulan Februari adalah bulan yang dihiasi musim penghujan. Tanpa berpikir panjang, hujan turun dengan derasnya begitu saja. Hujan tak peduli siapa yang akan basah karenanya.
Di bawah langit yang sudah dihiasi rintik air hujan aku memandangi gadis itu lagi. Bukan hanya lagi, akan tetapi selalu. Gadis yang kuat, aku selalu berpikir seperti itu. Tak pernah kulihat gadis itu menangis di depan teman-temannya, sekalipun ia mendapat pengabaian terang-terangan dari orang yang ia sayangi. Aku berusaha lebih banyak belajar dari arti senyuman yang selalu terlukis dalam raut bibir dan wajahnya.
Siang ini langit kembali memulai kebiasaannya seperti hari kemarin. Lagi-lagi hujan. Derasnya hujan dan angin kencang yang menyerbu membuatku lupa pada gadis itu. Semua orang berlari mencari tempat berteduh, tempat untuk melindungi diri mereka dari dinginnya angin kencang dan hujan deras.
Aku mendapati seorang gadis tengah menunduk dalam dingin dan gemuruh suara air hujan. Bangku panjang itu hanya diisi oleh gadis itu, tidak ada salahnya jika aku menempati ruang di sampingnya, bukan ?
Begitu tubuhku merapat pada bangku itu, gadis itu sadar akan kehadiranku dan terkejut. Aku juga terkejut melihatnya, gadis itu dia. Gadis yang selalu aku banggakan, meski hanya dalam hati saja.
“Sendirian, Nin?” tanyaku sok basa-basi di sampingnya.
“Seperti yang kamu lihat.” Jawabnya tanpa berusaha melihat wajahku, matanya asyik menatap tetesan-tetesan air hujan yang meluncur dengan cepat dari langit.
“Sekarang hujan, apa tidak ada yang membawakanmu payung?” tanyaku lagi.
“Lagi-lagi seperti yang kau lihat. Tak ada yang membawakanku payung. Lagi pula, aku sudah terbiasa menunggu hujan berhenti.” Jujurnya.
“Dan sendirian.” Tambahku.
“Kau benar.” Dia membenarkan perkataanku. “Tapi sekarang tidak, karena sekarang aku berdua denganmu.” Ucapnya lagi sambil menunjukkan raut wajah tersenyum. Lagi-lagi aku tak bisa mengartikan arti dari senyumnya, apa dia bahagia karena menunggu hujan bersamaku ? Entahlah, aku tak pandai membaca pikirannya.
“Mengapa kau masih mempertahankan seseorang yang selalu mengabaikanmu?” aku tak bisa menahan mulutku, sungguh aku tak ingin bertanya hal itu padanya. Namun, sedari tadi aku berusaha mencari jawabannya sendiri di pikiranku, tetapi aku tak berhasil menemukannya.
“Aku tidak tahu.” Perasaanku sedikit kecewa begitu mendengar jawabannya yang hanya terdiri dari tiga kata itu, aku-tidak-tahu, begitu katanya.
“Bahkan kau sendiri tak bisa menemukan alasannya. Di dunia ini tidak ada hal yang tidak beralasan.”
“Tetapi tidak mutlak dalam mencintai seseorang kau membutuhkan sebuah alasan, bukan?” dia mencoba membuat salah pernyataanku. “Aku bertahan mencintainya bukan karena, tetapi walaupun.” Tambahnya lagi, aku semakin tertegun.
“Maksudmu?” Dengan bodohnya aku menjawab seperti itu.
“Entahlah.” Lagi-lagi aku mendapati jawaban singkat darinya.
Gadis itu tak kunjung peka, bahwa di sampingnya kini telah duduk seseorang yang lebih mampu membahagiakannya tanpa harus membuatnya terluka dan merasakan yang namanya pengabaian.
Hari ini, di bawah derasnya air hujan, gadis itu mengajariku bahwa bertahan dalam mencintai seseorang bukan ‘karena’ tetapi ‘walaupun’. Bukan karena dia sempurna di mataku lantas aku mencintainya tetapi walaupun ia milik orang lain, aku tetap bertahan untuk mencintainya. Meski perih. Sama seperti dirinya yang memilih bertahan dalam mencintai seseorang yang selalu mengabaikannya.

Jumat, 22 Februari 2013

Gelang Kenangan




Sore itu, aku pulang paling lama di kelas. Selain karena piket, aku juga membersihkan loker dan laci mejaku terlebih dahulu sebelum aku pulang. Kelasku berada di lantai tiga paling ujung.
Begitu aku selesai membersihkan, aku segera keluar dari kelas. Aku mendapati dua orang cleaning service sedang membersihkan lantai tiga. Dengan biasa, aku melewati mereka dan menuju ke arah tangga. Di tengah tangga, salah satu dari cleaning service itu memanggilku. Cleaning service yang sudah tua itu menghampiriku.
“Dek, kenapa temannya ditinggalkan?”
“Hah ? Teman yang mana, pak?” aku heran, karena setahuku di lantai tiga tadi hanya ada aku dan kedua cleaning service itu.
“Itu yang nangis di tangga.”
“Apa?” langkahku mundur. “Maaf, pak. Itu mungkin bukan teman saya.”
Aku tak melihat ada seorangpun di atas tangga. Aku mempercepat langkahku. Tiba di lantai dua langkahku terhenti ketika kudengar seseorang memanggilku.
“Yuni..” Deg! Entah siapa yang memanggilku. Bulu kudukku berdiri. Sepanjang lantai dua ini sangat sepi, angin sore yang menyerbu serasa mencekam bangunan sekolah yang sudah kosong. Dengan hati-hati aku menolehkan kepalaku.
“Lola ? Sedang apa di sini?” aku sedikit terperangah melihat Lola ada di lantai dua.
“Kenapa pucat wajahmu?” tanyanya.
“Ah, tidak ada apa-apa.”
“Kau terkejut melihatku?”
“I..Iya.” begitu mendengar jawabanku, ia tertawa kecil. “Sedang apa kau di sini, Lola?” tanyaku.
“Kau sendiri sedang apa?” dia bertanya balik.
“Aku mau pulang.” Jawabku.
“Oh, mau turun ? kalau begitu turun sama-sama saja.” Aku dan Lola menuruni tangga bersamaan. Bersama-sama melewati satu persatu anak tangga di bangunan yang sudah kosong melompong.
“Yun, aku ke toilet dulu, ya. Kamu duluan aja pulang.” Lola berlari meninggalkanku, dan gelang di tangannya terjatuh tanpa ia sadari.
“Lolaaa..” aku mencoba memanggilnya sambil memungut gelang yang jatuh itu. Seketika Lola sudah lenyap dari pandanganku. ‘Apa sebaiknya aku mencarinya saja di toilet, ya?’ pikirku.
Sudah lima menit aku menunggunya di toilet. Lagi-lagi buku kudukku merinding. Tak terdengar suara apapun dari dalam kamar mandi. Hening.
Apa Lola sudah keluar dari tadi ? Tidak mungkin secepat itu. Atau dia kenapa-kenapa di dalam kamar mandi ?
“La ? Lolaaa?” tidak terdengar sahutan dari dalam. Tiba-tiba seorang cleaning service menghampiriku.
“Cari siapa, dek?” tanyanya.
“Mencari teman.”
“Di kamar mandi?” tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk.
“Dari tadi tidak ada yang ke kamar mandi, dek.” Katanya memberitahuku. Lagi-lagi bulu kudukku merinding.
Aku melangkah dengan cepat meninggalkan area sekolah. Langkahku terhenti saat mataku menemukan sosok Lola sedang tertawa bersama teman-temannya di sebuah restoran di samping sekolah. Aku melangkah masuk ke dalam restoran itu.
“Lola..” panggilku. Ia berhenti tertawa dan menoleh.
“Ada apa?”
“Ini gelang milikmu.” Kataku seraya menyerahkannya. “Tadi kau berlari meninggalkanku dan gelangmu terjatuh.”
“Kapan ? Aku tidak bersamamu. Sejak bel pulang aku bersama mereka ke sini untuk makan.” Kata Lola sambil melihat ke arah teman-temannya.
“Oh, entahlah. Tapi ini milikmu, bukan?” Lola memperhatikan gelang itu. Matanya berkaca-kaca.
“Iya, ini milikku. Sebenarnya gelang ini hilang sejak sekitar sebulan yang lalu.”
“Apa?” aku terkejut.
“Gelang ini hilang. Aku sudah mencarinya kemana-mana.” Ujarnya lagi.
Lalu Lola menceritakan masa lalunya. Ia menceritakan bahwa gelang itu pemberian dari seseorang bernama Deni. Mereka menjalin cinta. dan Deni pernah memberi gelang itu kepada Lola. Namun siapa yang bisa menduga, dua hari setelah pemberian gelang itu, Deni mengalami kecelakaan motor. Motornya ditabrak dari belakang, dan masuk ke dalam jurang yang cukup dalam. Duapuluh jam kemudian mayat Deni baru berhasil ditemukan diantara semak belukar di tepi sungai.
Sebulan yang lalu Lola menyesal telah menghilangkan gelang itu. Sekarang, lewat aku, Deni mengembalikan gelang itu, berharap Lola akan menjaganya dengan lebih baik.
Aku pulang dengan perasaan lega, tak pernah kupikirkan hal seperti ini bisa terjadi. Matahari sore mengantarku pulang ke rumah. Jalanan mulai terlihat sepi. Gonggongan anjing terdengar di sana-sini. Tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat di sampingku. Si pengendara itu lalu membuka kaca helmnya.
“Terimakasih banyak.” Ucapnya sambil tersenyum. Aku benar-benar terkejut, belum sempat aku menanyakan apa maksud dari ucapannya, dia sudah pergi bersama motornya. Aku kembali terkejut, dari arah belakang, baju pria tersebut bersimbah darah dengan kaki yang hampir putus!
Kemudian semuanya gelap, dan aku tak ingat apa-apa lagi.
Esok paginya suhu tubuhku sangat tinggi. Aku jatuh sakit setelah kejadian kemarin, kejadian gelang kenangan.

Senin, 18 Februari 2013

Pria di Ujung Lorong

Gerimis turun tanpa kuduga, aku mempercepat langkah kakiku menuju ke arah rumahnya yang berada di ujung lorong. Rumah pria yang berbeda satu tahun lebih muda dariku. Pria yang kukenal baik hati.


Begitu aku sampai di depan rumahnya, gerimis di langit berubah menjadi butiran-butiran yang meluncur dengan deras dan cepat, hujan. Aku mengetuk berulang kali pintu rumahnya. Suara ketukanku di pintu rumahnya tenggelam karena riuhnya suara air hujan. Namun tak berapa lama aku lega, dia sudah membukakan pintunya.
“Oh, ada mbak Sandra..” belum sempat aku membalas ucapannya, dia menatap langit di luar, “Hujannya deras..” dan ia kembali masuk ke dalam rumahnya, membiarkan aku keheranan di depan pintu rumahnya. Tak lama ia kembali dengan sebuah payung di tangannya.
“Pake payung ini, mbak. Nanti kembalikan, ya.” Mungkin dia berpikir aku ke sini untuk meminjam payungnya, padahal bukan itu.
“Eh, anu Roni, mbak mau minta daun kunyitnya, bisa ? Tanamannya di sebelah mana ?” tanyaku dengan suara agak dikeraskan sebab langit masih bergemuruh bersama hujan.
“Oh, itu mbak. Yang di depan itu tanaman kunyit semuanya. Tunggu, aku ambilkan.” Katanya sambil membuka payungnya dan menerobos hujan. Ia memetik beberapa daun kunyit untukku.
“Ini.” Serahnya.
“Lagi ya, yang kecil di sana.” Pintaku, dan dia mengambilkannya lagi.
“Ini, mbak.” Serahnya lagi dengan senyuman di bibirnya. Aku suka melihat wajahnya, wajah yang ramah dan penuh senyuman.
“Ya sudah, mbak pulang dulu, ya. Makasih banyak.”
“Sama-sama.” Aku mencoba menerobos hujan dengan payung pinjamannya. Tetapi pria itu memanggilku.
“Ada apa ?” tanyaku.
“Hati-hati, ya.” Katanya. Ah, pria yang perhatian. Rasanya sudah lama tak ada yang memperhatikanku seperti ini.
“Oke. Jangan sok perhatian seperti itu.” Kataku dengan tawa, diikuti tawanya juga.
Aku dengannya tak terlalu akrab, kami hanya berteman, dan hanya sesekali bertemu meskipun rumah kami tak berjauhan. Mengapa ia begitu perhatian ? Ya, dia memang sosok yang perhatian. Mirip dengan ibunya. Gadis yang mendapatkannya sangat beruntung.
Pernah suatu ketika aku ketakutan, aku tak tahu bagaimana caraku pulang, sementara malam semakin larut. Lampu-lampu jalanan padam dan anjing liar berkeliaran. Lalu tiba-tiba pria itu muncul dan menemaniku sampai di rumah. Mengapa kau begitu luarbiasa ? hadir tanpa diminta.
Suatu malam ketika semua orang beramai-ramai makan, aku tak ingat malam itu kami makan apa, yang jelas di dalam menu itu ada udang. Aku sangat suka udang, tetapi aku kehabisan udang. Pria itu melihatku, dan berkata, “Mbak suka udang ? ambil aja udangku, enggak apa-apa kok.” Begitu katanya. Aku terkejut dan tanpa menjawab, ia langsung memindahkan udang di piringnya ke piringku.
Yang paling tak pernah bisa kulupa adalah ketika aku, Rania, Sonya, Joshua, dan Roni pergi ke sebuah restoran. Kami membuat party kecil-kecilan karena Rania ultah. Di restoran itu kami semua sama-sama memesan nasi goreng seafood, dan beraneka macam jus. Aku, Rania, dan Sonya benar-benar kekenyangan, sementara makanan kami belum habis. Piring Joshua dan Roni sudah bersih sejak tadi. Mereka berdua melirikku.
“Mbak, itu enggak dihabisin nasinya ?” Tanya Joshua. Aku mengangguk.
“Kalau gitu, sini mbak, aku habisin aja.” Kata si Roni.
“Aku duluan tadi yang ngomong.” Ujar Joshua.
“Ya udah, barengan aja.” Sahut Roni.
Aku kira mereka bercanda, tidak mungkin mereka mau makan sisa makanannya orang lain. Tetapi, keduanya langsung meraih sendok dan garpu maing-masing, dan mereka melahap habis sisa nasi di piringku. Dua bocah yang konyol.
Terimakasih Tuhan, aku benar-benar bahagia bisa bertemu dan berteman dengan pria sebaik dirinya. Kelak aku butuh pria seperti itu untuk mendampingi hidupku.