Jumat, 24 Mei 2013

Panggil Gue Bayu!



Pria berkepala lima itu merintih sambil memegangi perutnya. Jam menunjukkan pukul lima sore, Bayu masih berada di tempatnya, masih terbelalak kaget menatapi pria malang di depannya yang tengah meregang nyawa. Pria itu seperti ingin mengatakan sesuatu, mungkin tentang seseorang yang berada di balik semua ini, seseorang yang menginginkannya tak ada lagi di dunia ini. Bayu tak bisa berbuat apa-apa, bahkan lidahnyapun terlalu kaku untuk mengucapkan kata “Kenapa?”
Ya, Bayu ingin sekali mengatakan kenapa ayahnya bisa dibunuh? Pria malang di depannya tak lain adalah ayahnya sendiri. Ayah yang telah lama ditinggalkannya.
Perlahan dengan sedikit keberanian ia mendekat ke arah pria itu. Pria itu sudah tak bernafas lagi. Dilihatnya pisau penuh darah tersebut, aroma darah yang tak mengenakkan itu menyebar. Masih dengan wajah terkejut disentuhnya pisau itu, hatinya mulai dipenuhi tanda tanya, siapa orang yang menginginkan ayahnya mati?
“Bodoh!” teriakan seseorang membuat Bayu terkejut dan melepaskan pisau itu.
“Bang?” Bayu membuka mulutnya, menyadari kehadiran seseorang yang ternyata adalah abangnya.
“Bego lu, mau dipenjara lu, ya? Ngapain nyentuh pisaunya segala? Mau sok dramatis gitu?!”
“Bang, ngapain lo di sini? Bang, gue enggak ngerti siapa yang ngelakuin ini semua?”
“Tambah bego, penting banget untuk tahu siapa yang ngebunuh dia!”
“Bang, lu..”
Tiba-tiba sirine ambulance dan bunyi-bunyi mobil polisi terdengar sangat jelas.
“Mampus, kita dijebak, bego!”
“Apa? Dijebak?”
Dengan cepat Raka menarik kasar tangan Bayu, mereka berusaha kabur dari tempat itu. Polisi mendengar suara langkah kaki mereka dan berusaha mengejar mereka.
“Woy Bayu, loyo banget sih lo!” Bayu mengatur nafasnya. “Bayu, lo liat rumah susun di sana? Kita akan bermain kejar-kejaran dengan polisi di sana.”
“Bang, lo ngomong apa, sih? Bukan kita yang ngebunuh ayah, jadi ngapain kita lari?”
“Lo nggak ngerti, Bay. Kita dijebak, di je-bak.”
Sekali lagi, Raka menarik tangan Bayu. Suara letusan pistol polisi terdengar. Raka berlari dengan cepat, diikuti langkah Bayu.
“Aaaaaa!!” Raka menjerit kesakitan. Bayu yang melihatnya langsung panik.
“Bang, lo kenapa?”
“Kaki gua, bego! Bayu, lo lari, jangan tolongin gue, cari tahu siapa yang ngebunuh bokap kita!”
“Apa? Tadi lo bilang itu bukan hal yang penting?”
“Tadi gue panik karena ada polisi, dodol! Please Bayu, lo pergi ke arah rumah susun itu! lo enggak boleh sampai ketangkap!”
“Abang…”
“Udah deh, enggak usah sok dramatis kayak gitu!!!! Pergi enggak lo?!! Apa perlu gue lempar pakai sepatu mahal gue? Hah?”
“Bang, gue enggak akan ninggalin lo bang.”
“Alah lebay lu, pergi enggak lo!!!”
Raka melempar sepatunya ke arah Bayu, dengan berat hati Bayu berlari menjauh dari abangnya yang merintih kesakitan karena polisi menembak kaki kirinya.
“Cepat! Ada satu yang lolos, dia menuju ke arah rumah susun!”
Nafas Bayu tersengal-sengal. Sementara itu, Bayu telah berlari sangat jauh menuju ke arah rumah susun seperti yang diperintahkan oleh abangnya.
Bayu menaiki satu demi satu anak tangga, berharap akan ada seseorang yang menolongnya.
“Hallo? Ada orang? Tolong buka pintunya!! Tolong!!” entah mengapa Bayu memilih mengetok sebuah rumah susun yang berpintu putih. “Toloooong!”
Tak berapa lama, seseorang membukakannya. Rupanya seorang gadis, gadis itu pucat dan terdapat beberapa goresan serta bekas lebam di wajahnya, tepatnya bagian atas alis, pinggir bibir, dan pipi kirinya. Keduanya sama-sama terkejut. Gadis itu terkejut mendapati Bayu yang tampak kelelahan, Bayu sendiri juga terkejut melihat penampilan gadis itu.
Tanpa banyak bicara Bayu mendorong gadis itu masuk ke dalam rumahnya, ia tak peduli apa yang akan dikatakan oleh gadis itu. Bayu langsung merebahkan dirinya di sofa rumah gadis itu. Gadis itu hanya melongo melihat tingkahnya.
“Kenapa bengong? Tutup pintunya!” perintah Bayu. Ia memejamkan matanya, berharap ini semua hanya mimpi buruk, mimpi buruk yang akan segera berakhir.
Gadis itu duduk di sampingnya, ia masih diam. Tak lama kemudian ia bersuara.
“Butuh air minum?”
“Iya!”
Gadis itu menuju sebuah dapur kecil dan kembali dengan segelas air putih di tangannya. Dengan cepat, Bayu meraih gelas itu dan meneguknya sampai habis.
“Apa liat-liat?!” gertak Bayu. Mata gadis itu tak lepas darinya.
“Lo pikir lo siapa bisa masuk ke sini seenaknya?” gadis itu mulai berbicara. Awalnya, Bayu mengira gadis di hadapannya adalah gadis yang lugu, ternyata tidak seperti perkiraannya.
“Ma..maaf.”
Tok tok tok!!!
“Ini polisi, buka pintunya!”
Gadis itu berdiri dari kursinya dan hendak membuka pintu, namun Bayu langsung meraih tangan gadis itu.
“Tolong, jangan buka pintunya.” Ucapnya pelan.
“Apa? Lu buronan? Berani bayar berapa kalau gue bisa menyembunyikan lo?”
“Apa? Berapapun yang lo minta, tolong sembunyikan gue.” Air muka Bayu memelas.
Gadis itu menarik tangan Bayu, menuju dapur kecilnya.
“Lo ngumpet di situ.” Tunjuknya.
“Di lemari sekecil itu? enggak akan muat woy!”
“Lemarinya kosong, jadi pasti muat. Enggak usah ngebacot, deh.”
Dengan gusar, Bayu masuk ke dalam lemari kecil itu. Gadis itu berjalan ke arah pintu yang sejak tadi digedor-gedor oleh polisi.
“Sabar, pak polisi!” ujar gadis itu dengan nada gusar. Pintu rumah itu terbuka, para polisi itu mengerutkan keningnya.
“Bersama siapa anda di dalam, nona?”
“Saya sendirian.”
“Jangan berbohong. Yang lain, cepat periksa isi rumah ini. Kemungkinan besar buronan kita masih berada di sekitar sini.”
Dengan cuek, gadis itu membiarkan para polisi itu memeriksa rumahnya. Namun, sudah 5 menit mereka tak menemukan apapun.
“Saya bilang juga apa, saya sendirian!” bentak gadis itu. kepala kepolisian itu menengok ke arah gelas air minum di atas meja ruang tamu.
“Sepertinya anda baru saja kedatangan tamu, nona.” Ucap polisi itu.
“Sejak tadi saya sendirian, saya menonton TV di sofa sambil minum air putih.” Tanggapnya dengan cuek.
“Baiklah, semuanya segera keluar. Kita akan memeriksa di tempat lain!”
Para anggota polisi itu meninggalkan rumah susun yang dihuni oleh gadis itu. Bayu segera keluar dari tempat persembunyiannya.
“Terimakasih, ya.”
Gadis itu hanya diam sambil memperbaiki bajunya. Ia seperti sangat tak berselera berbicara dengan orang semacam Bayu.
“Jadi, kenapa bisa ada bekas lebam nyangkut di wajah lo itu? Apa lo habis berantem sama preman pasar?” tanya Bayu sambil tertawa. Gadis itu masih diam, sorot matanya tajam.
“Gue Bayu, nama lo siapa?”
BERSAMBUNG


Selasa, 14 Mei 2013

Di Antara Mimpi dan Kenyataan

Hamparan sawah hijau menjadi pemandangan di hadapanku saat ini. Sejak tadi tak henti-hentinya gadis kecil berkuncir dua di sampingku berceloteh. Tiap hari sepulang sekolah kami selalu datang ke tempat ini, kami membantu orangtua kami masing-masing bekerja di ladang sawah milik pak Haji Imron. Di tempat ini, gadis itu selalu bercerita tentang mimpi-mimpinya, tentang segala yang diimpikannya. Tiap ia bercerita, aku tak berani memotong ceritanya. Aku hanya diam mendengarkan sambil memandangi kerbau-kerbau di sawah.

“Deni, kau mendengarkanku, tidak?” aku menoleh. Mata gadis itu sudah memelototiku.
“Aku mendengarkanmu.” Jawabku.
“Bagus. Apa kau bermimpi hal yang sama denganku?”

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Namun, dalam hati kecilku kukubur itu semua. Mana mungkin orang miskin seperti aku dan dia bisa pergi ke kota-kota indah di dunia ini.

Kami beranjak remaja bersama dalam satu waktu. Aku selalu satu sekolah dan satu kelas dengannya. Ia selalu mendapat peringkat pertama, selama itu pula aku yang menduduki peringkat kedua. Kami selalu berlomba-lomba dalam prestasi, namun tetap saja aku tak pernah bisa menggantikan peringkatnya.

Kini, gadis kecil berkuncir dua itu telah menjadi gadis dewasa. Aku juga bukan bocah ingusan lagi seperti dulu. Semakin berjalannya waktu, semakin jarang pula kami menghabiskan waktu bersama-sama di sawah seperti dulu.

Hingga pada suatu hari, hari dimana kami telah lulus sekolah menengah atas, gadis itu semakin sibuk dan aku sudah jarang bertemu dengannya. Beberapa bulan setelah itu, aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Belakangan aku baru tahu bahwa gadis itu mendapatkan beasiswa ke Roma, Italia.

“Deni, kamu enggak mau nyusul Rika ke Italia?”
“Maksudnya, mak?”
“Kali aja kamu beruntung bisa dapat beasiswa juga ke sana seperti Rika.”
“Enggak, mak. Deni di sini aja, temani abah dan emak mengurus sawah.”
“Emak pengen tahun depan kamu coba ikut tesnya.”
Aku hanya diam sambil memandangi langit biru.

Tahun berikutnya aku benar-benar mengikuti tes itu atas saran emak. Sehari sebelum pengumuman, suatu kabar mengejutkanku yang tengah berada di sawah.

“Deni, Deni..”
“Kenapa, Bimo?”
“Cepat pulang, Den.”

Bimo menyuruhku segera pulang. Begitu sampai di rumah, kulihat jasad emak terbujur kaku dikelilingi tetangga-tetanggaku. Beberapa di antara mereka membacakan yasin dan yang lainnya menangisi kepergian emak. Tubuhku melemas. Emak telah pergi jauh.

Esoknya keadaan berubah sejak kepergian emak yang sangat tiba-tiba itu. Abah tidak pergi ke sawah, sepanjang waktu ia menyendiri di kamarnya.

“Deni..Deni..” tiba-tiba suara Bimo mengejutkanku yang sedang melamun di teras rumah. “Lihat ini, Den. Lihat apa yang kubawa. Surat, Deni. Surat!!” aku belum mengerti. “Coba buka amplop ini!” serunya.

Dengan heran aku membukanya. Sedetik, dua detik, tiga detik, mataku menelusuri isi surat tersebut.

“Bimo, ini…” Bimo mengangguk. Spontan kamu berpelukan. Setelah itu, aku berlari-lari menuju sawah, berteriak gembira sepuasnya di sana. Tiba-tiba aku teringat wajah emak. Aku menghentikan kegembiraanku.

“Bimo, surat ini datang terlambat. Emak tak akan tahu kalau aku lulus tes beasiswa.”
“Sudahlah, Deni. Kalau dia masih hidup, dia pasti sangat bangga padamu.”
Aku menatap hampa surat itu.

***

Hari ini tepat 23 Mei 2012, setahun kepergian emak. Aku selalu mengingat emak dan abah meski kini aku berada di negeri orang. Gadis di sampingku tersenyum menatapku.

“Apa yang kau pikirkan?” tanyanya.
“Tidak ada. Aku hanya tak menyangka bisa berada di sini bersamamu.”
“Aku bilang juga apa. Apapun yang kau impikan bisa terwujud.”
“Tentunya dengan doa dan usaha.”

Aku berjalan beriringan dengan Rika, gadis yang selalu berpikir positif terhadap mimpinya. Kau tak bisa begitu saja berhenti dan menyerah, kau tak akan pernah tahu bahwa di antara mimpi akan ada kenyataan.