Jumat, 28 Juni 2013

Panggil Gue Bayu! ( Part III )



“Bayu..” panggil gadis itu, ia mendesah pelan. Nafasnya belum stabil. Bayu menoleh ke arah gadis itu. perasaan iba menghampirinya. “Ya?” jawabnya.
“Dengerin gue, lo harus pergi dari sini kalau lo enggak mau berurusan dengan abang gue. Dia pasti marah kalau tahu gue bawa temen ke rumah.”
“Rik, gue bakalan di sini. Bakalan ngejagain elo selama abang gue di penjara. Dia minta gue untuk ngejaga elo, jadi tolong jangan usir gue.”
“Lo enggak ngerti keadaannya, Bayu. Gue bisa sendiri, kok. Mending lo cari tempat lain aja, deh. Jangan di sini!”
“Lo tadi pingsan, kalau lo sendirian siapa yang tahu kalau lo kenapa-kenapa?!”
Rike berdiri dari ranjangnya. Ia mendekati Bayu, di dorongnya tubuh Bayu menuju pintu.
“Lo boleh balik lagi kapan aja, tapi untuk sekarang lo enggak boleh lagi tinggal di sini!” bentak Rike dengan mata berkaca-kaca.
“Tapi, Rik…” Rike menggelengkan kepalanya.
“Gue akan baik-baik aja.”
Rike mendorong tubuh Bayu hingga Bayu terjerembab keluar dari rumah itu. Rike dengan cepat menutup pintu rumahnya. Perlahan-lahan air mata membasahi pipinya yang lebam itu. Air matanya membuat goresan-goresan di pipinya menjadi pedih. Ia terduduk lemas di balik pintu rumahnya. Bayu masih berusaha menggedor-gedor rumah mungil itu sampai pada akhirnya dia menyerah.
“Oke, gue pergi, Rik! Gue bakalan datang lagi seperti perkataan lo bahwa gue boleh balik lagi ke sini kapan aja!”
Bayu mengatur nafasnya, dirasakannya dahinya berkeringat. Diseretnya kedua kakinya dari tempat itu. Kemana lagi ia harus pergi? Akankah rumahnya aman untuk dirinya? Apakah rumahnya sendiri masih berfungsi sebagai tempat yang nyaman bagi pemiliknya?
Bayu tak mungkin kembali ke tempat kost nya, polisi pasti sudah menandainya, dan Bayu tak ingin mendengar apa yang teman-temannya nanti katakan tentang dirinya.
Langkahnya berhenti di depan sebuah rumah mewah yang sudah lama tak ia kunjungi, rumah yang menorehkan banyak luka untuk Bayu. Ingatannya kembali ke masa lalu, dimana satu-persatu wanita jalang masuk ke dalam rumahnya secara bergantian tiap harinya. Ketika itu abangnya, selalu menghalangi para tamu jalang itu untuk masuk, namun tangan sang ayah memukulinya seraya melemparnya hingga seringkali kepala abangnya itu terbentur, lalu terlihatlah bercak-bercak darah di lantai rumah itu.
Bayu melangkah masuk, rumah itu tak terkunci. Rumah ini sedikit berantakan, namun barang-barang dan interior rumah masih sama seperti dulu.
“Mas Bayu?” Bayu terkejut mendengar seseorang memanggil namanya. Ia mengenali suara itu.
“Mbok?” ucapnya.
“Mbok kira mas nya iki di penjara, tenyata ra’dipenjara toh. Duh, gusti syukur Alhamdulillah. Eh, tapi mas nya emang ra’salah toh? Atau mas nya iki buronan?” tanya si mbok bertubi-tubi dengan logat jawanya yang melekat. Bayu menarik nafasnya. Ia tak menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan mbok. 
Bayu masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai dua, ia berpikir sejenak, sudah berapa lama ia tinggalkan kamar ini? Rupanya kamarnya tertata rapi, mungkin mbok yang merapikannya, sebab terakhir kali ia keluar dari rumahnya, kamarnya dalam keadaan yang berantakan.
Bayu merebahkan tubuhnya di ranjang lamanya. Diam-diam ia merindukan kamarnya sendiri. Ia melihat ke arah atas meja belajarnya. Sebuah foto yang memasang fotonya dan orang yang ia rindukan terpajang di sana. Citra.
Bayu berdiri mengambil foto itu dan menatapnya dalam-dalam, “Apa kabar Citra?” tanyanya pada diri sendiri.
Tiba-tiba suasana hening dalam rumah mewah ini pecah ketika terdengar suara bel yang dipencet dari luar rumah.
“Mbok, tolong pintunya mbok.” Kata Bayu dengan setengah berteriak. Namun, tak ada sahutan. Bel rumah itu terus-menerus berbunyi.
“Mbok kemana, sih? Itu tamu atau..jangan-jangan polisi?” Bayu menepuk jidatnya sendiri. Bayu dengan langkah penuh was-was menuju lantai bawah. Sesaat, ia sudah berdiri di dekat pintu. Ia mengintip tamu yang datang.
“Cewek? Siapa ya?” Perlahan-lahan dibukanya pintu rumahnya. Tak lama, ia sudah berhadapan dengan tamunya itu.
“Citra?” mata Bayu berbinar, dilihatnya perempuan yang selama ini dirindukannya kini berdiri tepat di hadapannya.
“Citra, subhanallah...kamu berhijab? Kenapa bisa berubah gini?” tanya Bayu dengan nada kalimat heran namun bahagia.
“Kamu enggak perlu tahu sebabnya.”
“Loh, kok gitu Cit?”
“Oh iya, katanya papa kamu meninggal ya? Aku turut berduka, ya.”
“Darimana kamu tahu papa meninggal?”
“Abang aku yang bilang, dia juga bilang papa kamu dibunuh sama kamu dan bang Raka. Tapi, aku enggak percaya. Buktinya sekarang kamu enggak ditahan, kamu juga bukan buronan, kan?”
Deg. Bayu terdiam. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Abang kamu..tahu banyak hal ya tentang peristiwa itu.”
Giliran Citra yang terdiam.
“Cit, kamu darimana aja? Aku selalu nyari kamu. Kamu enggak pernah ngasih kabar.”
“Sekarang, kamu enggak perlu lagi nyari aku. Sekarang, aku ada di depan kamu.”
Bayu henda menyentuh tangan Citra, namun Citra tidak berkenan.
“Maaf Bayu, aku ke sini mau ngasih ini.”
“Ini apaan? Siapa yang mau kawin?”
“Aku..”
“Aku enggak ngerti, kamu kan nikahnya nanti sama aku, ya kan?”
“Enggak Bayu. Minggu sepan aku bakal nikah sama orang lain. Aku harap kamu ngerti dan bisa nerima hal ini.”
“Cit..Citra? Ini apa-apaan??!”
“Maafin aku, Bayu.”
“Cit, aku minta kamu masuk dulu. Kita bicarain ini di dalam.” Bayu memohon.
Mata Citra menatap ke arah pintu rumah itu. Bulunya bergidik, seperti ada sesuatu yang dia ingat di balik pintu itu, seperti ada yang mengganggu pikirannya. Ia tak ingin mengingat hal apa itu.
“Aku enggak pengen bicara tentang apapun lagi sama kamu.” Ucapan Citra barusan menorehkan luka tersendiri di hati Bayu.
“Cittttt, INI  BUKAN SINETRON!!!!”
“SIAPA YANG BILANG INI SINETRON?!!!”
“Cittttt, GUE PUNYA SALAH APAAAA, SIH? “
“LO ENGGAK PUNYA SALAH, TAPI BOKAP LO!!”
Bayu terdiam sejenak. Bokapnya? Ada apa dengan bokapnya?
Bayu mendekat ke arah gadis cantik itu.
“Bokap gue? Ada apa dengan lo dan bokap gue, Cit?” Bayu menahan emosinya. Dirasakannya perasaan tidak enak.
Citra menatap dalam-dalam kedua mata Bayu. Ada ketakutan yang besar di sana. Ia tak tahu harus mulai menceritakannya darimana.
“Bokap lo….”
BERSAMBUNG

Sabtu, 22 Juni 2013

Si Guling Yang Hobi Loncat



Post kali ini adalah post dengan label terbaru “HOROR”. Apa yang kalian pikirkan tentang kata tersebut? Gue terkadang suka dengan hal-hal berbau horor, tapi film action masih number one buat gue daripada film horor. Kadang, film horor sama sekali enggak ada kualitasnya, apa tujuan film horor hanya untuk membuat para penontonnya merasakan efek bergidik? Film bertema apapun, sebenarnya bisa ada “pelajaran” tersendirinya yang bisa diambil oleh penonton. Seperti film horor luar negeri yang bertemakan “zombie”, biasanya ada satu anggota keluarga yang terpisah dengan anggota keluarganya yang lain yang disebabkan tragedi zombie, ia berusaha mencari keluarganya di tengah banyaknya mayat-mayat hidup dimana-mana. Kalau menurut gue, kerja kerasnya untuk menemukan keluarganya itu perlu dicontoh. Bahkan, sikapnya yang optimis juga perlu ditiru di tengah kesempatan hidup yang sangat tipis, bahkan beberapa orang mengatakan ia tak akan menemukan keluarganya, mungkin juga keluarganya sudah mati. Tapi, namanya juga film, endingnya mereka semua berkumpul lagi dalam satu keluarga hehehehe.

Udah siap baca cerita horor gue? Ini pengalaman pribadi gue. Gue punya cerita. Ini cerita waktu gue masih SD. Waktu itu gue sama teman-teman SD gue menginap di Puncak, Bogor. Tepatnya di vila “Kartika”, kalau enggak salah. Yang paling gue ingat itu gue satu kamar sama Amanda. Kamar gue di lantai dua vila. Horornya di samping kamar gue itu ada kamar yang gede banget tapi terkunci dan enggak boleh dipake, itu kira-kira kenapa, yah ? Parahnya lagi jendela di kamar gue itu cacat, enggak ada kacanya, cuma teralis besi aja. Jadi, gue sama teman-teman punya inisiatif untuk gantungin baju di situ supaya tertutup. Kamar mandi di kamar gue juga horor, pintunya enggak bisa diam, suka terbuka dan tertutup sendiri.

Ceritanya itu kita mau nginap satu malam. Malam itu, gue dan teman-teman menyaksikan pemandangan kota Bogor dari lantai dua vila. Ternyata suasananya indah banget, lo bisa bayangin lo lagi berada di tempat yang tinggi banget, dan hanya terlihat lampu-lampu berwarna-warni sejauh mata memandang. Efeknya , kita berinisiatif untuk memotret keindahan ini. Saat melihat hasil fotonya ternyata horor lagi. Di foto itu sama sekali enggak nampak cahaya lampu manapun, kecuali seberkas kilat cahaya yang berwarna putih yang membentuk itu loh, gue enggan nyebut namanya. Pokoknya yang itu loh, yang “mirip sama guling dan hobi loncat-loncat.”

Sejenak kita agak shock. Tetapi, semua orang juga tahu, di daerah-daerah seperti puncak, jarang ada vila tanpa ‘penghuni’. Malam itu acara berlanjut, dan kita lupa soal yang tadi.

Besok paginya kita shalat subuh berjama’ah. Karena kurang kerjaan, ada ibu guru yang motret kita. Dan lo tahu enggak, ada apa di dalam foto itu?

Pertama, kita heran. Heran karena jam sepagi buta itu, siapa yang buka pintu? karena di foto itu pintu keluar terbuka lebar. Balkon di depan pintu itu punya dua tiang penyangga bangunan vila. Di dekat salah satu tiang itu ada bayangan. Tepatnya mirip itu loh, lagi-lagi mirip “guling yang suka loncat-loncat.” Sumpah deh, mirip banget. Guru-guru emang enggak ada yang percaya, tetapi gue dan teman-teman sebagai seorang anak yang suka penasaran dengan hal-hal mistis kayak gitu percaya banget.



Pagi ini kita main hipnotis. Seorang penghipnotis professional sudah didatangkan dari luar. Dia berhasil menghipnotis teman gue yang namanya Iqbal menjadi lupa ingatan, Iqbal lupa sama namanya sendiri.

Siang menjelang sore, ini saat yang ditunggu-tunggu. Kita pergi ke curug, kalau enggak salah namanya Curug Cilember. Kita ke sana jalan kaki dari vila. Harus elo tahu, jalan menuju puncak benar-benar enggak biasa, bukan cuma nanjak. Ini nanjak tapi datar, pasti pada enggak ngerti. Gini loh, ini tanjakan tapi lurus ke atas atau datar gitulah. Satu langkah aja rasanya berat banget.

Waktu udah sampai di sana, gue mempuaskan diri dengan main air, foto bareng, dan enggak lupa beli cendramata. Gue beli gelang warna ungu yang unyu.  

Pengalamannya agak garing, ya? Enggak ada efek horornya sama sekali, ya? HAHA EMANG.

Ini adalah salah satu pengalaman gue waktu ke puncak, Bogor. Gue masih punya pengalaman lainnya, tunggu postingan gue selanjutnya, yah! Maaf kalau kurang horor ya, huaahahaahahahaha *ketawa genderuwo*.

WE ARE X.1



Hallooooow:3 gue udah bagi raport dong :p *ga penting banget* dan tinggal menunggu hari aja gue naik ke kelas 2 SMA, tua banget ya ternyata._. gue bakalan pisah sama temen-temen gue di X-1 , karena gue bakal pilih jurusan IPS bersama 2 orang temen gue yang sama gilanya dengan gue, yang lainnya? Lari semua ke jurusan IPA..

Gue ngerasa udah 4 tahun sama anak-anak X-1, kenapa? Karena sebagian dari mereka adalah temen sekelas gue sejak kelas 1 smp, boseeeen banget karena yang diliat di kelas muka-mukanya itu-itu aja-___- apa lagi kalau reunian SMP? -__- yang datang juga biasanya temen-temen sekelas gue di SMA. Tapi, nanti di kelas 2 SMA ini, gue bakalan sekelas sama orang-orang baru, wajah-wajah baru :)))

Oh ya, UKK kemaren gimana? Seru? HAHA, seru apanya, cemas sih iya -_-

Waktu UKK kemaren gue duduk di bangku paling belakang. Gue emang agak telat datang di hari pertama dan tempat duduknya kita sendiri yang pilih. Waktu gue datang, pilihannya cuma dua, bangku paling depan atau paling belakang. Ya jelas aja gue buru-buru ngibrit ke belakang.

Yang duduk di depan gue adalah mantan, sebut aja Edward. Di serong kanan atau sebelah barat laut gue ada tukang PHP, sebut aja Jacob. Di sebelah kanan gue ada sahabat gue, sebut aja Justin.

Banyak hal yang terjadi selama ujian berlangsung. Di antara ketiga orang itu yang paling merepotkan selama ujian bagi gue adalah si Justin.

Gimana enggak ngerepotin, simak ajaaa kisah berikut ini ketika ketiga orang itu selalu minjem rautan gue selama ujian berlangsung, lo tau ga rautan yang besar itu? yang bentuknya lucu-lucu? Rautan gue yang kayak gitu, yang biasa di pakai sama anak-anak :3 ini dia ceritanya..

Saat Edward pinjem rautan gue, Y adalah dia dan X adalah gue..
Y : “…..”
X : “…..”
Y : “…..”
X : “…..”
Sama sekali tak terjadi percakapan apapun di antara kita, tiap kali dia pinjem atau ngembalikan rautan, dia melakukannya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tapi gue enggak tahu dia pantas disebut cool atau enggak? -_-

Saat Jacob pinjem rautan gue..
Y : “Pinjem rautan dong.”
X : “Sini, gue serutin..” *gue emang baik*
Y : “Gak usah, gue bisa serut sendiri.” *jual mahal*
X : “Yaudah, nih..”

Saat Justin pinjem rautan gue, sebenarnya dia bukan mau pinjem tapi mau..
Y : “Nih Nina..”
X : “Apaan?”
Y : “Serutin!”
X : “Nih serut sendiri! Gitu aja gak bisa!” *capek gue, tiap hari gue yang nyerutin*
Y : “Gak ngerti caranya make!”
X : “NORAK!”
Y : “Cepetan!”
X : “NORAK!”
Y : “Cepetan!”
X : “NORAK!”
*gitu aja terus sampai kiamat*

Mereka bertiga jelas sangat mempunyai kepribadian yang berbeda, kentara banget -___-

Berikut ini ada cuplikan percakapan kita di hari ujian terakhir, tepatnya ulangan bahasa Arab.
Justin : *memasang tampang serius, seolah-olah ia tahu jawabannya*
Edward : “Justin, woy Justin!”
Justin : *masih bertahan dengan tampang serius*
Edward : “Sotoy!”
Justin : “Ih, gue belajar kali! Enggak kayak elo!”
Edward : “Sotoy!”
Justin : “Sialan lo!”
Beberapa saat kemudian..
Justin : “Eh, Nina nomor 10 lu apa tuh?”
Gue : “C. Dapur.”
Justin : “Loh, kok dapur?”
Gue : “Ya emang, kan di soal ada kata ‘ummuhu’ artinya ibunya. Ya kali aja arti kalimatnya ‘ibunya lagi masak di dapur’ berarti jawabannya dapur.”
Justin : “Ya, emang masak di dapur.”
Gue : “Iya, emang dapur.”
Justin : “Ya emang dapur.”
Gue : “Ih, yaudah emang dapur.”
Justin : “Ih, yaudah sih!”
Gue : *ambil golok*

Bener-bener minta maaf sama si Justin ini, terlalu banyak konflik di antara kita yang selalu terjadi. Ya, mungkin itu adalah hari terakhir gue ujian duduk di samping dia, duduk satu kelas sama dia, sama mereka semua. Setelah ini? Kita enggak satu kelas lagi, enggak akan lagi ada konflik-konflik kecil yang bisa gue tulis yang bisa gue jadikan bahan tulisan yang bisa gue jadikan inspirasi kecil-kecilan. Justin juga kurang ajar, dia bangke banget=)) ada satu folder di flashdisk gue yang isinya foto-foto kelas yang pengen gue upload sekalian di sini, fd gue terakhir kali ada di tangan Justin. Katanya dia mau copy folder itu, waktu gue bawa pulang foldernya malah kosong. Anjrittt, si Justin pasti nge-cut!!!!!! Jadi, post-an ini agak terlambat dari waktu yang gue udah rencanakan._.

Sebelum kita foto, ada aja sedikit masalah. Temen gue, sebut aja Acong namanya dia enggak tahu kenapa tiba-tiba memutuskan untuk pulang.
X : “Cong, lo mau kemana?”
Y : “Gue diusir.”
X : “Sama siapa?”
Y : “Sama mereka.”
X : “Ah, lo mah terlalu kebawa suasana. Mereka bercanda kaleee. Serius mau pulang?”
Y : “Enggak sih, gue mau pergi dulu ke suatu tempat enggak jauh dari sini, nanti balik lagi. Tapi kalau mereka pada nyariin, bilang aja gue udah pulang.”
X : “Kenapa?”
Y : “Gue pengen tahu seberapa pentingnya gue bagi kelas X-1.”
X : “Lo tahu? Lo alay-__-“

Meskipun Acong agak alay, tapi ia satu-satunya temen cowok gue di kelas yang gue anggap baik banget. Gue suka minta tolong ke dia untuk ngeprint tugas sekolah gue kalau gue enggak sempet, pernah juga waktu jaringan internet di rumah gue enggak bagus dan tugas sekolah harus di kirim via email malam ini juga, gue memutuskan minta tolong ke dia. Dia jarang banget nolak untuk diminta bantuannya. Enak bangetlah kalau semua temen gue kayak dia:3

Gue enggak pernah lupa sama biodata di profil twitter kelas gue @SESATM2M ( SEpuluh-SATu ) kayak gini, “WK : Bu Mahirah ~ KK : Oppoki Khairi ~ Siswa(i) : 34 orang ~ Anti Rolling ~ Kelasnya lantai tiga dan paling ujung sodara , bagus untuk kesehatan :)”

Berikut ini adalah foto-foto yang memuat tampang-tampang alay bin kamseupay bin kucel bin apa lagi terserah anda sajaaaa menilainya, yang jelas gue sayang mereka((({}))) *cium satu-satu*








Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati

Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka saat kita tertawa

Teringat di saat kita tertawa bersama
Ceritakan semua tentang kita..

Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka saat kita tertawa