Minggu, 04 Agustus 2013

Sajak Indah Itu Untuk Gue?



Halloo Assalamualaikum ? ( Waalaikum salam..)

Di sini ada yang suka dengan bacaan sajak, enggak? Atau puisi? Atau kalimat-kalimat puitis yang enggak lebay.

Kadang kita merasa heran dan luarbiasa terhadap orang yang pandai merangkai suatu kalimat yang tersusun dengan indahnya dan mempunyai makna tertentu dalam setiap kalimat yang ditulisnya. Kadang gue juga heran, mereka mendapatkan inspirasi darimana saja. Pada umumnya, menurut gue apapun bisa menjadi sumber inspirasi kita, dan inspirasi itu enggak melulu mengarah ke dalam cinta. Dunia ini luas dan penuh objek di dalamnya. Kita bisa mencari inspirasi dari apapun yang kita lihat, kita dengar, kita rasakan, maupun orang lain yang merasakan, atau kita juga bisa berpura-pura menjadi mereka. Apapun itu, selama berkaitan dengan hal yang positif.

Nah, semalam seseorang yang sangat pandai membuat sajak, dia membuat sajak untuk gue. Gue benar-benar enggak nyangka dengan tulisannya pada tengah malam tadi.

Menurut gue sajak yang dia buat begitu indah, mengalir dengan apa adanya yang ingin dia tulis dan sampaikan, mengalir begitu saja dengan apa yang ia lihat dalam diri gue. “Selamat Pagi” adalah judul sajak buatannya untuk gue. Klik ini kalau penasaran ingin membacanya >>  http://goo.gl/DGCGnQ

Karena dia sudah mempersembahkan sebuah sajak untuk gue, maka dari itu gue juga balik mempersembahlan sebuah sajak untuk dia, meskipun memang gue akui sajak dia jauuuuuh lebih indah dari punya gue, ini nih sajak gue >>  http://goo.gl/RLgywt

Terimakasih buat yang udah ngeklik link-link di atas, hehehehe :)
See you yaaa…   

Hallo Hijabers!



Berhubung lagi bulan Ramadhan, bulan tercintah, gue pengen ngepost sesuatu yang berhubungan dengan Ramadhan, “Hijab” bagi perempuan. Sebenarnya pengen bikin post yang berlabel horror, supaya enggak dosa, kan yang diomongin setan bukan orang, HAHA. Tapi, berhubung bahan tulisannya masih gue kumpulkan jadi dipending dulu.

Gaya berhijab awal yang dikenakan perempuan awalnya seperti ini. Sangat biasa, sederhana, simple, but sampai sekarang masih banyak yang menyukai gaya sederhana ini. Enggak ribet.


 Gaya beginian juga biasa digunakan oleh anak-anak yang masih sekolah. Anak sekolah gaya hijabnya seharusnya tidak melebihi gaya berhijab ibu gurunya. Nanti kalau ada orang yang lewat terus ngomong, “neng mau ke sekolah apa mau ke kondangan?” itukan geli=))

Adapun di zaman sekarang gaya hijab yang kayak gini, ini enggak ribet cara memakainya, meskipun dari luar kelihatan ribet.


Nah, kalau yang berikutnya, yang seperti ini biasanya digunakan ketika menghadiri acara besar, dan hanya dalam satu waktu. Hijab yang seperti ini agak menyulitkan ketika si perempuan penggunanya ingin berwudhu terlebih di tempat-tempat umum. Cowok-cowok pernah mikir enggak, cewek yang pakai gaya hijab beginian ketika shalat dan harus berwudhu? Otomatis harus membuka hijabnya. Kalian mau cara praktis? Berwudhulah sebelum keluar rumah atau sebelum kalian pergi.




Selain itu jangan melupakan aksessories yang bisa dikenakan pada hijab kalian. Seperti topi, pita, atau bross.Seperti gaya hijab di bawah ini yang menggunakan aksessories di bagian kepala. Ini foto gue udah lama banget, waktu lagi over pedenya.


Terlihat lebih unik. Ini hanya akan digunakan oleh kalian-kalian yang percaya diri, HAHA. Harus percaya diri dong, karena ternyata rasa kurang percaya diri punya banyak kerugian. Jika ingin menggunakan bross, usahakan memadukan warna yang cocok.

Ada lagi gaya yang termasuk sangat mudah. Dengan mengambil sisi bagian depan ditarik ke samping lalu sedikit dengan sentuhan bross, maka kerudung telah selesai dipasang.


Oh iya, gaya hijabnya boleh ditiru, tapi jangan tiru posenya, karena pose kayak gitu sungguh ALAY dan NORAK. Gue bukan model, jadi enggak tahu mau pose kayak gimana..hehehehe. Semoga bermanfaat ya buat para Hijabers kece :3

Terakhir, gue pengen mengucapkan “SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1434 H, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN :)” Maaf ini kecepetan, takut umur enggak panjang, hehe.


Sabtu, 03 Agustus 2013

"Kemana Hijabmu?"



“Apa kabar?” tanya Kirana padaku. Siang itu kami memang berjanji untuk bertemu di salah satu rumah makan di daerah Jakarta Selatan. Setelah bertahun-tahun tak bertemu, akhirnya siang itu waktu mempertemukan kami. Kirana masih sangat cantik seperti dulu, namun ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Hijabnya!

Aku menatapnya dengan rasa sedikit kasihan. Sungguh, sesuatu sudah menerjang Kirana, sahabatku. Kami bersahabat sejak sekolah dasar, kami selalu mengisi buku diary bersama. Kirana selalu menceritakan apapun padaku, tentang mamanya yang selalu ke salon, papanya yang selalu pulang pergi dari luar negeri, dia yang mengikuti les lukis, adiknya yang baru masuk sekolah, dan masih banyak hal lainnya yang ia ceritakan tanpa ragu kepadaku.

Ketika kami melanjutkan sekolah menengah atas, kami berpisah. Bukan hanya sekolah, tetapi kota. Kami sempat putus kontak, namun sosial media mempertemukan kami sehingga aku bisa bertemu dengannya sekarang ini.

Kuperhatikan wajahnya. Matanya sungguh indah. ‘Ah, dia sungguh cantik. Tapi sayang, mengapa mesti ia pamerkan rambut panjangnya yang indah menjuntai itu?’ ujarku dalam hati.
“Hmm, ada apa Farah?” tanyanya merasa aneh dengan tatapanku.
“Enggak apa-apa, elo berubah, yah.”
“Berubah gimana, sih? Perasaan biasa aja, deh.”
“Hijab. Hijab elo kemana, Kir?” tanyaku.

Kirana tersenyum masam sambil setengah menunduk. Ia tak menjawab. Diaduknya sedotan dalam gelas juicenya.

“Kir, gue tahu kok. Gue tahu apa yang udah terjadi sama elo selama beberapa tahun ini. Meskipun elo enggak cerita, gue tahu.”
“Apaan, sih? Mulai sok tahu lagi, deh.”
“Gue tahu apa yang terjadi dalam keluarga elo! Gue tahu!”
“Farah, please deh enggak usah sok tahu!!”
“Emangnya lo pikir gue enggak ngeliat tweet-tweetlu apa?”
“Emangnya kenapa dengan tweet gue?”
“Foto lo sama nyokap lo pakai kebaya batik di pernikahannya tiga bulan yang lalu.”

Kirana kembali terdiam, dia tak juga menunjukkan responnya.

“Gue enggak maksa elo buat cerita ke gue. Tapi, gue enggak pengen sahabat gue berubah!” mimik wajah Kirana berubah, matanya seperti tak bisa membendung lagi kesedihannya.

“Lo pernah janji sama gue, katanya elo bakal ngajak nyokap lo untuk pakai kerudung! Lo pernah ngomong gitu ke gue! Tapi, kenapa sekarang elo malah buka kerudung ngikutin nyokap lo?! Kenapa??” aku tak bisa menahan emosiku.
“Lo enggak ngerti, Farah!”
“Gue ngerti, gue sahabat lu!”
Sungguh, saat itu Kirana benar-benar menangis.

“Jadi, lo ngerti gue? Lo ngerti apaan tentang gue? Lo cuma tahu orangtua gue cerai aja, lo udah emosian kayak gini!”
“Kirana, liat ke gue, Kir!!”

Kirana masih menunduk, membiarkan sebagian rambutnya menutupi wajahnya. Tak lama, ia menatap tajam ke arahku.

“Gue..sebenarnya enggak pengen kayak gini. Ah, gue benar-benar kehilangan sahabat kayak elo. Sahabat gue di sini, ya sama kayak gue. Enggak pakai hijab, suka hura-hura, nonton ke bioskop, setiap hari hang out, hidup gue hancur banget, kan? Enggak manfaat banget, kan??”

Aku hanya diam mendengarnya bercerita tentang kisahnya belakangan ini. Lalu ia melanjutkan,

“Lo emang paling kepo sama hidup gue sampai segala ngestalk gue, baca-baca tweet gue.” Katanya dnegan tersenyum. “Lo benar, bokap nyokap gue yang selama ini gue banggain di depan elo semua, mereka sakarang udah pisah. Nyokap gue udah nikah lagi, hidup gue dan adik-adik gue enggak ke urus dengan baik. Mama gue sibuk sama suami barunya. Papa gue enggak tahu sekarang tinggal dimana, gue sama adik-adik gue cuma diurus sama pembantu. Sedih banget ya hidup gue.”

Dia menghapus perlahan air mata yang menggenangi pipinya.

“Terlebih lagi, gue enggak biasa hidup tanpa duit. Gue masih sering foya-foya, padahal bokap udah enggak ngirim duit lagi ke gue. Dia udah lupa sama gue. Gue cuma bisa mengandalkan mama.”
“Lo harus lebih mengerti lagi dengan hidup lo yang sekarang ini. Lo enggak boleh sedih, elo kan punya banyak sahabat. Punya cowok juga mungkin?”
“Cowok? Ah, enggak guna. Dia morotin gue mulu. Dia enggak ngerti sama hidup gue yang sekarang.”
“Jadi, mau pegatin dia?”
“Udah gue pegatin.” Ujarnya sambil tersenyum. Diam-diam aku merasa lega. “Thanks ya, Farah.”
“Sama-sama, Kirana. Mulai sekarang elo bisa lagi cerita apapun ke gue. Gue bakal tetap satu kota sama elo.”
“Iya, ajarin gue berhijab lagi, ya. Support gue, ya. Maaf, gue berubah kayak gini. Gue juga enggak ngerti, yang jelas mama enggak marah waktu gue lepas hijab. Gue baru sadar sekarang, kenapa mama enggak marah, karena dia enggak tahu betapa istimewanya hijab itu bagi perempuan.”
“Hijab itu penting, untuk melindungi diri. Sebab, seseorang yang memakai hijab pasti akan tersadar sendiri apabila ada sikapnya yang jelek. Hijab seharusnya mencerminkan hati pemiliknya juga.”

Kirana memandangku dengan tatapan berbinar. Aku harap ia akan berubah menjadi Kirana yang dulu. Sebuah masalah yang menimpa kita memang terkadang membuat perubahan dalam diri kita. Namun, ketika perubahan itu ke arah yang negatif segeralah beristigfar. Masalah ada agar kau bisa menjadi pribadi yang tegar. Hidup tak selamanya seindah jalan pikiranmu.