Sabtu, 23 November 2013

3 Hati [Chapter 1]



Kedai Kopi, pukul 20.46
Pria itu meneguk cangkir kopinya lagi dan lagi sampai pada tegukan yang terakhir, habis. Entah karena ia memang benar-benar haus atau penat dengan sederetan perisitwa yang akhir-akhir ini tiada juga habis menghujam pikiran dan hatinya. Bayangan gadis itu masih berkelebat di sana, dalam pikirannya, setiap waktu, jam, menit, detik. Pikirannya amat berlebihan, cintanya pada gadis itu juga demikian.

Benaknya dipenuhi oleh masa lalunya, gadis itu. Masa lalu yang telah benar-benar berlalu bagi gadis yang pernah dilukainya itu. Tetapi, baginya gadis itu tak pernah mati dalam hatinya. Selalu hidup, gadis itu tiada tandingannya dengan gadis-gadis lain yang pernah ia temani bicara cinta.

Gadis masa lalunya berbeda, sayangnya gadis itu jauh telah pergi dengan yang lain. Tetapi, ada satu yang ia yakini dari balik sepasang mata gadis itu yang diam-diam ia tatap tiap kali mereka berpapasan; kenangan bahwa dulu ada ‘kita’ di antara mereka yang dengan jahatnya ia lepas, gadis itu tak akan pernah bisa melupakannya, gadis itu menelan pahitnya  ketika pria itu lebih memilih bersanding dengan yang lain. Dulu, dulu sekali, gadis itu amat lama terlarut dalam pahit yang pria itu tinggalkan.
“Aku mau kita seperti dulu.”
“Seperti apa?”
“Ada kita.”
“Dulu kan sudah.”
“Tapi aku masih ingin.”
“Dulu bukannya kamu yang mengakhiri?”

Pahit. Gadis itu membalikkan kenangan pada sederetan pesan singkat mereka beberapa hari yang lalu. Pria itu mengutuki dirinya sendiri, bodoh pernah melepasnya. Berkali-berkali dibenturkan kepalanya ke atas meja kedai kopi itu. Untung saja kopinya telah habis, jika tidak, mungkin kopinya sempat terguncang, tumpah.
“I love you, but you don’t love me
I hate you, but you more hate me
I miss you, but you miss him.”

Apartemen Lt. 10, pukul 21.36
Sepasang mata yang terus terjaga tetap mengawasi layar laptop. Bukan, bukan fokus mengerjakan tugas, bukan juga karena kantuk tak juga datang. Ada yang larut dalam pandangannya.
“Kenapa menelpon malam-malam?”
“Aku kangen.”
“Kangen sama aku?”
“Iya, sama kamu.”
“Mending kangennya kamu simpan saja untuk orang lain.”

Percakapan beberapa jam yang lalu itu masih terekam di ingatannya. Bagaimana mungkin ‘pria itu’ datang lagi setelah 3 tahun berlalu? Bagaimana mungkin ‘pria itu’ datang dan mengemis cintanya lagi untuk kesekian kalinya? Sedangkan tiap kali diberi kesempatan, tiap itu pula ada janji yang ia dustai.

Gadis itu memejamkan matanya sesaat, lelah. Hening. Tak ada derai air mata dari matanya. Ucapan demi ucapan pria itu memenuhi ruang pikirnya lagi. Benaknya silih berganti dipenuhi wajah pria masa lalunya itu dengan pria lain yang kini dicintainya, meski ia tahu prianya kini begitu tak peduli.
“Aku tulus.”
“Bukannnya semua pria akan berkata tulus ketika mereka sedang jatuh hati?”
“Jangan pandang aku sebagai masa lalumu. Aku tahu kau kecewa dengan hal-hal yang telah berlalu.”
“Tak bisakah jatuh hati pada yang lain? Jangan aku lagi.”
“Sekarang yang kuinginkan, kamu.”
“Oh, sekarang? Kalau nanti siapa lagi?”

Gadis itu tak mengerti mengapa ia menghujam pria yang pernah dicintainya itu dengan kalimat yang menyudutkan hati. Ia terus menerus melawan ingatannya, tak ingin mengingat kisah 3 tahun silam.

Ketika itu gerimis menghias bumi, gadis itu tersenyum getir. Cemas menanti kabar sosok yang dicintainya. Ia tahu, sekalipun sosok itu menghubunginya, mungkin hanya untuk mengakhiri kisah mereka. Tak apa, bagi gadis itu kebahagiaannya bukan yang utama. Pada akhirnya, ponselnya bergetar, lirih.
“Maudy, aku enggak bisa melanjutkan ini.”
“Kenapa?”
“Kamu tahu, kan? Sahabatku juga jatuh cinta padamu, aku dan dia saling berdiam diri tak saling menyapa lagi. Kami berjauhan, Karena jatuh cinta pada orang yang sama. Belum lagi, aku selalu adu mulut dengan pria-pria lain yang mengejar-ngejarmu. Aku lelah.”

Kala itu, gerimis tak ingin kalah dengan hujan di hatinya. Deras di luar, bersamaan dengan derasnya hujan yang turun pada kedua pipinya. Pedih. Pria itu selalu menyalahkannya. Tak apa, tak apa.

Tetapi, setahun setelah itu ada seseorang yang hadir. Pria itu tergantikan. Ada yang lebih indah datang dan membahagiakan. Tetapi, yang lebih indah terkadang tak sesempurna yang dipikirkan. Sosoknya kini berubah, lebih tak peduli lagi. Tetapi ia tidak peduli, ia masih mencintai prianya kini, entah masih menjadi prianya atau tidak. Sekali lagi, ia tak peduli.

Lapangan Basket, pukul 22.05
Kedua tangannya menyentuh dahi, mengelap keringat yang bercucuran sehabis latihan basket tadi. Masing-masing yang berada di sana sibuk merapikan bawaan mereka, ada yang belum berhenti meneguk air di botolnya sejak tadi, ada yang mencari tissunya yang terselip entah dimana, ada yang bersiap melangkah pulang. Tetapi, pria itu belum juga beranjak, masih terpaku di tempatnya, lelah.

Tangannya kembali menyentuh dahinya, keringatnya masih berada di sana. Tiba-tiba senyum kecil tersinggung di bibirnya. Ia teringat pada gadis yang amat mencintainya. Tiap mereka bertemu, hidung gadis itu sedikit basah, ada keringat yang tertinggal di sana.
“Maaf, aku lupa beli tissu tadi.”
“Untuk apa?”
“Untuk hidung kamu.”
“Hidung aku kenapa?”
“Keringatan.”

Lalu setelah percakapan itu keduanya langsung tertawa. Wajah gadis ituu memerah, malu-malu diperhatikan oleh pria yang dicintainya.

Tetapi, itu sudah lama sekali. Diam-diam rindu mengerubunginya. Gadis itu telah mengakhiri hubungan keduanya, tetapi ia tahu gadis itu masih amat mencintainya. Gadis itu selalu menyapa dan menyupportnya meski hanya lewat pesan singkat. Pria itu tersenyum, gadis itu tak akan bisa menyembunyikan perasaannya. Cinta, mungkin masih ada.

Senyumannya lenyap begitu teringat kabar yang ia dengar beberapa hari ini, kabar yang mengundang cemburunya. Amarahnya bergejolak, meski tak pernah ia tunjukan, hanya dalam hati. cemburunya menyeruak. Ah, ia masih mencintai gadis itu juga, sayangnya tak tahu bagaimana cara menunjukkan perasaannya.

Ia tahu gadis itu selalu sabar menantinya, tak letih menunggu kabarnya, tetap di sana untuk mencintainya. Tetapi, bagaimana bila yang lebih indah datang kepada gadis itu? bagaimana bila ia tergantikan?

Hati kecilnya menjerit. Takut kehilangan. Tetapi, tak tahu caranya menahan. Sikap tak pedulinya telah mendarah daging, gadis itu pergi karena kesalahannya. Tiba-tiba ponselnya bergetar,
“Hai, sudah pulang latihan? Hati-hati pulangnya, ya.”

Batinnya lega. Gadis itu benar-benar masih mencintainya. Tidak, ia tidak boleh banyak berharap. Banyak yang lebih indah tengah mengejar gadis itu.

Ia bangkit dari kursinya, meraih ranselnya. Bersiap untuk pulang. Ia akan pulang dengan hati-hati, seperti pesan gadis itu. Tak apa, untuk sekarang ia belum tergantikan.

Bersambung…

Makassar, 23 November 2013
Memories of 2013

Minggu, 10 November 2013

Manfaatkan Barang Bekas, Yuk!



Selamat hari pahlawan yaaa teman-teman :D Semoga kita bisa menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri maupun orang lain! Yeaaah! :D

Karena hari ini adalah hari pahlawan, gue pengen ngeposting sesuatu yang mungkin bermanfaat :D  apa hubungannya yaaa-___-

Oke, lo punya kamar tidur? Pasti punya dong, ya? Lo punya barang-barang bekas yang mungkin mau lo buang padahal masih bagus tapi elo enggak tau tuh barang mau diapain, adaaa?

Berikut ini gue punya beberapa resensi buat lo pada, inspirasi resensi ini gue ambil sendiri dari beberapa barang yang ada di kamar gue.


Pertama, lo punya toples semacam gambar yang di atas? Nah, isi kuenya udah habis? Nyokap lo berencana buang itu? Lo bisa gunakan tuh toples untuk tempat menyimpan barang. Kayak toples di atas meja belajar gue, isinya adalah gunting, pelobang kertas, dobeltip, selotip, gulungan pita. Itu semua bisa elo simpan di dalam toples itu supaya enggak berantakan.