Rabu, 22 Januari 2014

Member Paling Teristimewa Di Vedit

Member Paling Teristimewa Di Vedit, hmm dari judulnya udah jelas kalau gue bakal cerita tentang seseorang yang terisitimewa di tempat les gue, VEDIT. Jadi, VEDIT adalah tempat les gue, di sini kita diajarkan fotografi, desain grafis, bisnis online, sosial media, dan lain sebagainya.

 

Ngomong-ngomong soal Member Paling Teristimewa Di Vedit, gue juga bingung mau menceritakan tentang siapa, tapi ada satu orang yang gue nilai lebih, dia manis dan smart. Sebut aja namanya Wahyuni Islami Alam, dia biasa dipanggil Ayunda. Hihi. Ini nih orangnya, cekidottt...

 

 

Member Paling Teristimewa Di Vedit itu yang berada di tengah, si Ayunda. Hihi. Kenapa gue bilang dia itu smart? Secara ya, tiap kali kita belajar di VEDIT, si Ayunda ini cepat banget mengerti, padahal kita semua yang belajar di VEDIT sama-sama nagh gaul dan enggak gaptek. Tapi, si Ayunda ini emang smart, dia bisa dengan cepat menguasai apa yang diajarkan. Udah gitu, nanti malam nih, kalau dia sorenya sudah belajar desain grafis, dia bakal upload fotonya yang dari hasil desainnya lewat corel draw. Kalau gue, paling foto selfie, foto diri sendiri. Hehe, postingannya sampai sini aja dulu, ya. Thankyou ya udah mau baca :)

Sabtu, 11 Januari 2014

3 Hati [Chapter 2]

Studio Foto, Pukul 17.15
Lucky mulai membereskan studio fotonya. Studio itu bukan miliknya seorang diri, tetapi ia membangunkannya bersama dengan 3 orang temannya yang lain. Ia menghela nafas sejenak. Lagi-lagi teringat pada gadis itu. Gadis itu selalu berhasil menyelinap ke dalam pikirannya, lalu merusak semua konsentrasi yang dimilikinya.

Sudah seminggu Maudy tak membalas pesan singkatnya. Begitu gelisahnya Lucky sampai-sampai ia berniat untuk menemui gadis itu. Lucky tak pernah putus asa, ia tetap mengirimkan pesan singkat-pesan singkat yang manis dan hangat kepada gadis itu. Berkali-kali pula ia menelepon gadis itu, tetapi berkali-kali pula nomornya tak aktif. Lucky gelisah bukan main, ada apa dengan gadis itu? Terakhir mereka membuka conservation, mereka baik-baik saja.

Sampai suatu ketika Lucky mengetahui penyebabnya. Ponsel milik gadis itu hilang. Tentu saja hal itu membuat gadis itu tak mengetahui keberadaan pesan-pesan singkat yang selalu Lucky kirim untuknya.

Meskipun begitu, Lucky tak pernah berhenti mengirimi Maudy pesan singkat, meski ia tahu ia tak akan mungkin mendapatkan balasan. Maudy tak membalas cintanya, dan kini Maudy tak akan pernah lagi membalas pesan singkatnya. Pagi, siang, malam, ia rutin mengirimi gadis itu pesan.

“Selamat pagi, Maudy..”
“Jangan lupa sarapan ya..”
“Selamat siang, Maudy..”
“Semoga hari ini menyenangkan ya..”
“Selamat malam, Maudy..”
“Tidur yang nyenyak ya, sampai ketemu besok..”
“Maudy, sebenarnya..”
“Maudy, ini pulsa terakhir, jadi maaf kalau besok aku enggak bisa ngirim SMS..”

Lucky seperti tak waras. Bukan hanya sekedar mengatakan itu semua, Lucky juga mencurahkan segala perasaannya lewat pesan singkat itu dengan amat berani, karena ia tahu Maudy tak akan pernah menemukan pesan-pesannya apa  lagi membacanya. Tak akan pernah. Lucky mengatakan bagaimana menyesalnya ia dulu pernah meninggalkan Maudy, ia tak mengerti bagaimana bisa dulu ia lebih memilih yang lain, sementara dulu Maudy begitu mencintai dan mempercayainya. Bagaimana mungkin ia menukar itu semua dengan memilih gadis yang lain. Ia tahu, penyesalannya amat terlambat. Semuanya sudah lama sekali. Perasaan Maudy untuknya mungkin benar-benar sudah terkubur.