Jumat, 21 Februari 2014

Jangan Tenggelamkan Surat Cintaku, Oh Kancut Keblenger #SuratCintaKK


Dear,
   My Beloved Kancut Keblenger

Cut, begitulah panggilan yang kuucap untuk sesekali memanggilmu. Mungkin bukan hanya sesekali tetapi berkali-kali.

Ketika dengan bangganya aku menceritakanmu pada teman-temanku yang berwajah lugu nan polos itu, bisa dibayangkan ketika aku menyebut namamu yang mereka bayangkan adalah penampakanmu yang sesungguhnya.

 Penampakanmu

Mereka hanya bisa melongo dengan mimik yang tak enak dipandang, ya semacam tablo gitu. Mereka kebingungan, Cut.

Mereka berkata, “itu nama apaan? Itu namanya siapa?” dan aku cuma bisa tersenyum menanggapi mereka.

Terlalu banyak hal tentangmu yang tak bisa kujelaskan satu-persatu pada mereka. Ah, kamu memang absurd, kayak mantan aku, Kemal Palevi. Hihi.

Cut, ketika aku menyimpan kagum padamu, kemudian diam-diam menaruh hati padamu, namun kuberpikir, aku bisa apa? Aku ini siapa? Aku cuma satu diantara tigaribu orang lebih yang mencintaimu, yang kagum padamu, yang menaruh perhatian padamu.

Boleh aku cerita sedikit? Malam itu, ketika aku tengah online, papi melintas di belakangku. Lalu, dengan tatapan menyelidik ia menyerangku dengan perkataannya.
“Kamu buka web apaan lagi? Pasti kancut-kancut itu, kan?”
“Iya nih, lagi buka blognya si kancut. Kok papi bisa tahu? Jangan-jangan selama ini diam-diam papi juga menyimpan rasa sama Kancut Keblenger?”
“Maksud kamu itu apa?! Kamu itu jatuh cinta sama orang yang salah! Eh, maksudnya sama benda yang salah!”

Kemudian, papi pergi. Kamu lihat kan, Cut? Betapa terbakar api cemburunya dia denganmu. #Halaaaah

Aku sempat berpikir, mungkin dia ingin join juga, tetapi apa daya gengsi karena umurnya sudah tua jadi dia memutuskan untuk menjadi secret admire saja.


Cut, surat cintaku ini mungkin tenggelam diantara banyaknya surat cinta lain yang dating padamu. Tetapi, rasaku untukmu tak akan tenggelam, akan selalu berlabuh, selamanya di hatimu, Cut, eaaaaaaaaakkk..

Oh iya Cut, bukan kecut loh ya, Happy Birthday to youuuuu yaaaa :) We will always love you :) {}

 Cieee makin tua nihhhh <3

Salam cinta dari penggemarmu,


Nina Mentari


Sabtu, 15 Februari 2014

3 Hati [Chapter 3]



Taman Kampus, Pukul 10.53
‘Maudy masih seperti dulu, sangat suka menggambar sketsa wajah, menulis sajak, dan membaca novel. Kali ini apa lagi yang ia sedang lakukan di taman?’

Lucky menerka-nerka apa yang tengah diperbuat gadis yang tengah sendirian duduk di kursi taman. Dengan sigap Lucky memainkan kameranya, ia kembali memotret gadis itu dari kejauhan. Satu, dua, tiga foto, sampai tak terasa sudah berpuluh-puluh foto yang ia hasilkan.

‘Sebelumnya, aku belum pernah melihatnya seperti ini, ternyata ketika ia tengah menggambar, menulis, atau membaca, banyak ekspresi wajah yang ditimbulkannya. Terkadang ia tersenyum, gelisah, kesal, cemberut ataupun tertawa. Dia benar-benar manis. Dia menemukan banyak rasa ketika melakukan itu semua..’

Tanpa sadar, seseorang memperhatikan gelagat Lucky sejak tadi. Risky memperhatikan Lucky, ketika pria itu tengah memperhatikan Maudy. Api cemburu sepertinya meledak diam-diam lagi. Sementara itu, Lucky tak berhenti tersenyum memandangi foto hasil jepretannya.

Risky berlalu dengan memendam beribu cemburu. Sedangkan Lucky, ia berlalu dengan perasaan bahagia karena telah berhasil menangkap banyak ekspresi gadis itu.

Maudy beranjak pergi dari taman dengan perasaan sedikit tenang setelah menggambar dan menulis sebuah sajak, sajaknya tentang apa lagi kalau bukan tentang sosok itu, Risky.

“Hai, Maudy?” Deg. Suara itu. Lucky. Maudy menoleh, semyuman tulus pria itu membuatnya tak bisa membendung sebuah senyuman juga. Maudy tersenyum, “Hai..” tiba-tiba saja pada saat bersamaan sosok itu melintas, menatap ke arah Maudy, Maudy membalas tatapan itu. Sosok itu memandanginya dengan pandangan kecewa dan dengan cepat berlalu.

Mungkin Risky begitu membenci Lucky atas semua ini. Bagaimana tidak, Risky dan Lucky, mereka bersahabat sejak dulu dan mereka melakukan satu kesalahan, mereka jatuh cinta pada orang yang sama tanpa mereka rencanakan. 

Kangen. Titik.





Kangen sate ayam bang Are.
Kangen kue pisang bu Docun.
Kangen pempek kapal selam pak Taufik.
Kangen pempek telur pak Salim.
Kangen nasi uduk bu Sumadi.
Kangen sambel kacang bu Intan.
Kangen lontong sayur bu Mul.
Kangen ikan tongkol dicabein bude Ibnu.
Kangen beli sayur di warung Mami.
Kangen beli kelapa di bang Udin.
Kangen jamu mba Ayu.
Kangen pizza mama Rike.
Kangen nasi goreng dan mie goreng Elok.
Kangen bakso wonogiri Elok.
Kangen mie ayam bu Joko.
Kangen gado-gado bude Ibnu.
Kangen piscok Bojong.
Kangen minum bajigur.
Kangen makan sekoteng.
Kangen main ke danau dekat puskesmas yang ada perahu bebeknya.
Kangen main ke danau bakos Cibinong.
Kangen iseng ngebolang di rumah kosong di Bilabong.
Kangen ngerujak di danau Bilabong.
Kangen duduk-duduk di bawah pohon-pohon cemara di bukit-bukit Bilabong.
Kangen ngebolang ke jalan-jalan setapak perkampungan, main ke air terjun kecil, menangkap kepiting, manjat pohon cersen, cersen untuk menu buka puasa.
Kangen duduk-duduk gelantungan di besi portal samai jatuh kepala duluan.
Kangen coret-coret dinding nulis nama sendiri.
Kangen nekat naik ke atap, lewat cerobong asap dan bersender di balik tangki air demi menikmati sunset.
Kangen nonton layar tancep ramai-ramai di lapangan sampai tengah malam.
Kangen main lompat karet.
Kangen main skuter. (tulisannya gimana sih-_-)
Kangen main skiping. (bener gak tulisannya?._.)
Kangen main bekel.
Kangen main monopoli, siapa yang kalah, dia yang membereskan.
Kangen main bola gebok, batasan larinya kalao bukan ujung portal sampai ujung portal, ya satu RT atau satu RW.
Kangen main petak umpet.
Kangen main taplak meja.
Kangen main Barbie.
Kangen keliling naik sepeda.
Kangen main donald bebek.
Kangen main sabun colek.
Kangen kalian.