Jumat, 21 Maret 2014

"Anda Tidak Bahagia?"



“Anda tidak bahagia? Mungkin anda terlalu memfokuskan diri pada sesuatu yang tidak anda miliki.” – Kata seorang penyiar radio

Sabtu, 08 Maret 2014

It's a Journey!



Apa pernah kalian membayangkan bahwa suatu hari nanti kalian tinggal di sebuah kota yang kalian sendiri sebelumnya sama sekali enggak kenal dengan kota itu? bahkan kalian sampai enggak terpikir kalau kalian akan tinggal bertahun-tahun di kota itu? lalu di kota itu ada seseorang yang membuat kalian jatuh hati? lalu kalian tiba-tiba kenal dengan banyak orang di kota itu, kenal dengan tempat-tempat nongkrong di kota itu, kenal dengan jalan atau rute di kota itu? 

Lagi di pantai, nih. Foto 2 tahun yang lalu.

Seperti yang gue alami, enggak terasa sudah 5 tahun gue meninggalkan kota Bogor, dan menjalani hidup gue di kota Makassar. Gila! Bogor dimana Makassar dimana? Gue enggak pernah kebayang bakal hidup dan tinggal di kota seasyik ini, seindah ini! Yah, bukan maksudnya mau membandingkan Bogor. Bogor dan Makassar sama, sama-sama bikin gue jatuh hati dengan suasananya yang memiliki ciri khas masing-masing. Kalau dulu, waktu gue tinggal di Bogor, hampir tiap weekend ke Puncak. Waktu gue tinggal di Bogor, jarang banget ke pantai, hampir enggak pernah. Tapi, sejak gue tinggal di Makassar, gue bisa tiap hari ke pantai! Serius! Jalan kaki juga bisa. Di Makassar juga ada semacam puncak kayak di Bogor, tapi cukup jauh.

Kemarin sore, gue les seperti biasa, rabu-sabtu. Naik angkot tentunya. Jarak tempat les dengan rumah jauh banget. Siapa coba yang mau antar kalau jauh? Emak babe gue enggak mau repot-repot. Kalau gue ngomong, “Bisa anterin les, enggak?” mereka kemudian mengeluarkan uang dari saku, “Nih, udah sana naik angkot aja.” Begitulah, pffft.

Tapi, karena gue les itu lah, akhirnya gue ngerti dengan rute-rute kota, dan tempat-tempat ternama di kota Makassar. Kan, tempat les gue jauh banget, jadi banyak melewati jalan-jalan penting kota.

First, gue lewat rute jalan Veteran, OMG ini jalan panjaaaaaaaang banget. Saking panjangnya gue enggak tahu ujungnya dimanaaaa T_T nantilah kalau gue punya motor sendiri, bakal gue jelajahi! Di veteran gue lihat anak-anak yang masih SMP kayaknya baru kelas satu, mereka gotik! Bukan ‘goyang itik’ yaa, tapi ‘gonceng tikga’, maksain. Mereka dalam satu motor bertiga, badannya gede-gede lagi, dan enggak pakai helm. Melanggar banget. Waktu, gue di Bogor, kalau baru jalan keluar perumahan atau ke stasiun atau ke daerah pemda Bogor, enggak pakai helm enggak apa-apa, polisinya jarang ada, kalaupun ada juga enggak peka :/ eh, semenjak gue di Makassar, baru aja keluar gang rumah, udah ada polisi =)) enggak pakai helm itu melanggar banget. Di Veteran, gue juga liat anak main skuter (bener enggak tulisannya? Kalau salah, maafin) ini anak berani banget, emang sih di sini susah cari tanah lapang. Kasihan anak-anak, bahkan gue liat dua orang yang main bulutangkis di pinggir jalan Veteran, itu apa banget. Bikin macet. Veteran adalah jalan penting, dan jalan yang panjang, saking panjangnya Veteran tiap larut malam selalu menjadi jalan untuk balapan liar yang dilakukan para anggota geng motor yang sok. Ngeri, deh.

Kedua, gue lewat jalan… hmm enggak tahu jalan apa._. yang jelas lewat sebuah masjid yang punya halaman luassssss banget, jadi tiap sore di situ tuh ada yang main bola, dan sebagainya. Ketiga, gue lewat jalan Urip Sumoharjo, ini juga panjang banget dan suka macet, tapi yang ini gue tahu ujungnya! Ujung satu sama ujung yang lain gue tahu. Di Urip ini gue melewati fly over, dan tiap malam minggu selalu ada penampakan-penampakan yang tak menyenangkan di atas fly over ini. Apa lagi kalau mendekati jam 12 malam -_- serius. Soalnya gue pernah jam 12 malam lewat di situ, dan ramai banget.

Ketiga, gue lewat Universitas Muslim Indonesia, dan sedikit lagi sampai di tempat les gue. Tepatnya tepat di dekat tugu Adipura yang tiap hari full kendaraan.

Jadi, perjalanan gue kira-kira membutuhkan waktu hampir satu jam jika naik kendaraan umum, kayak angkot tadi. Kalau naik kendaraan pribadi yah mungkin bisa lebih cepat dan hemat.

Tapi, gue lebih suka keluar daripada di rumah terus. Kadang, gue punya alasan lain kenapa pergi les, alasan itu adalah supaya gue bisa menikmati suasana kota ini, mungkin suatu saat gue bakal pindah dan enggak akan kembali ke sini. Gue keluar untuk melihat aktifitas-aktifitas orang lain, terkadang ada yang bikin iri dan ada juga yang bikin gue iba. Semuanya berimbang. Ketika gue di dalam angkutan umum, gue bisa liat bermacam-macam orang.

Jadi, inti tulisan gue adalah jangan mengeluh dimanapun kalian berada saat ini, kecuali kalian lagi tersesat. Tersesatpun bisa kita nikmati, sih. Berusaha untuk enjoy dengan semua kegiatan yang kita jalani, yang masih sekolah nikmati sekolahnya, kerjakan pr-nya, ikhlas ketika dimarahi sama gurunya, jangan buru-buru pengen kuliah, santai aja. Udah, segini dulu aja ya postingan gue, semoga bermanfaat #yaelah. Daaaaaaaaaah.

Sabtu, 01 Maret 2014

"Mengapa memilih menjadi fotografer?"



“Mengapa kau mau menjadi seorang fotografer?”
“Sebab, profesi fotografer adalah profesi yang mendapatkan senyum paling banyak dibandingkan dengan profesi lainnya. Dan sekarang aku mendapatkan satu senyum lagi, senyummu saat mengarah pada kameraku.”