Minggu, 22 Juni 2014

Kalian Ngangenin!


Kalian yang gue maksud bukan kalian! :p kalian ini adalah beberapa makanan dan minuman yang bakal gue bahas, makanan-makanan dan minuman-minuman ini adalah makanan yang ngangenin! Gue udah lama enggak makan makanan-makanan dan minuman-minuman ini :9 makanan-makanan dan minuman-minuman sederhana yang meninggalkan setiap kelezatan di lidah para pencicipnya, nyummyyyy! :3

Pertama, ada ini nih, rujak bebek. Bukan ‘bebek’ yang temannya si ayam, tapi coba baca bebek dari sudut huruf e yang berbeda. Istilah lainnya dibejek. Rujak bebek ini menggunakan daun pisang sebagai wadahnya. Aih, sedappp.

Rujak bebek

Berbagai macam buah dibejek  sampai hancur. Kalau mau pedas, cabenya dibanyakin. Kalau enggak mau pedas, yaudah enggak usah pakai cabe. Rasanya pedas-pedas gimana gitu…

Terus selanjutnya ada ini, nih. Masih mirip sama kayak yang tadi. Tapi, yang kali ini adalah es rujak serut. Bayangin buah-buah diserut-serut, kemudian dimasukkan dalam plastik dan disimpan di freezer sampai membeku, nikmat banget dimakan siang-siang tepat matahari lagi panas-panasnya, segerrrrr benget :9

 Es rujak serut


Yang berikutnya adalah favorit gue banget, tahu gejrot, bro! oh tidaaaaaak aku ngiler bangeeeet terhadap makhluk yang satu ini :9

Tahu gejrot

Rabu, 18 Juni 2014

Pertanyaan Masa Lalu


“Tetapi apakah kau benar-benar bisa berteman dengan orang yang bisa membangkitkan mimpi-mimpi burukmu? Dia mengingatkanku pada hal-hal yang tak pernah ingin kuingat lagi.” – Naomi Ishida dalam Spring In London by Ilana Tan

Yang Membuatmu Bahagia? Ada Banyak Hal


“Waktu itu aku memang sedih. Tetapi, aku bukan tipe wanita yang histeris. Ada banyak hal yang bisa membuatku bahagia. Banyak sekali.” – Han Soo Hee dalam Summer In Soul by Ilana Tana

Paling Penting; Dia Ada

“Dia tidak perlu melakukan apa-apa, yang paling penting adalah kenyataan bahwa dia ada dan saya bisa melihatnya. Saya hanya berharap dia bisa melihat saya.” – Nishimura Kazuto dalam Winter In Tokyo by Ilana Tan

El Dan Keberandalannya [The End]



Dia selalu sibuk dengan bisnisnya, akupun juga begitu dengan urusan di kantorku dan usaha butikku, tetapi ia selalu menyempatkan diri untuk bertemu denganku. Setiap weekend kami selalu keliling kota, kadang naik motor scoopy-nya, kadang juga dengan Honda jazz milikku.

Hingga suatu hari ia datang dengan membawa kejutan.
“Coba tebak, ini kotak apaan?” aku melihat kotak kecil yang dibawanya. Sudah jelas itu sebuah kotak cincin.
“Itu kotak cincin, emang kenapa? Mau dijual? Butuh duit?” candaku. Mimiknya yang tadi serius berubah menjadi jengkel.
Please, gue serius, Raisa.” Katanya. Deg, dia membuatku deg-degan, ngapain sih nyebut namaku segala?
“Gue juga serius, El, lu butuh duit atau gimana?”
“Gue mau ngelamar cewek.” Ujarnya sambil berbisik.
“Oh, cewek? Doyan juga lu sama cewek.”
“Kok lu gitu, sih?” dia bertambah jengkel.
“Oke oke, ceweknya itu siapa?”
“Nah, itu dia gue bingung siapa. Kalau lu mau enggak?”
“Hah??” dia pasti bercanda, itu pikirku. Dia masih menunggu reaksiku. “Mau enggak lu?”

Dia apa-apaan, mengatakannya semudah itu, seperti menawarkan es krim kepada seorang anak kecil berkuncir dua.
“Enggak mau gue, lu mau jadi imam gue? Shalat aja lu enggak becus.” Dia sedikit tercengang mendengar omonganku, mungkin aku terlalu frontal. Masih kuingat pada beberapa tahun yang lalu, ketika waktu Ashar tiba.
“Gue mau shalat Ashar nih, lu mau temenin enggak? Belum shalat juga kan lu?” tanyaku pada Keenan yang saat itu tengah bersama El. El melirikku, mungkin heran kenapa aku hanya mengajak Keenan saja. “Apa liat-liat? Mau ikutan shalat juga?” setahuku dia jarang shalat, makanya aku hanya mengajak Keenan saja. El tertawa. “Shalat? Haha, kapan lu pernah liat gue shalat?” El kurang ajar. “Tapi ayo deh, gue imamin lo!” ujarnya sambil tertawa. Aku menjutekinya. Kini, entah apa yang ada di pikirannya, apa maksudnya ia membawakanku kotak cincin itu.

Minggu, 15 Juni 2014

El Dan Keberandalannya [Chapter 2]



Dia sangat nakal, kan? Dan kenakalannya itu mempengaruhi 2 orang temanku yang culun. Aku mendapati mereka bertiga merokok di pinggir jalan.
“Heh, elu! Lu ajarin apa anaknya orang?!” bentakku dengan ganas. Seperti biasanya, ia hanya diam menatapku dengan alisnya yang tak biasa. Mulai saat itu, aku mulai menjaga jarak darinya. Cowok nakal ini bisa saja mempengaruhiku, atau aku sendiri yang terpengaruh olehnya. Beberapa kali aku menolak tebengannya.
“Nih, rokok nih.” Dia menyodorkanku dengan senyum lebar.
“Apaan sih? Gila lo!” seruku dengan ketus.
“Lo nginep di sini enggak, bro?” tanya Keenan.
“Gimana yah, bro? ini nih, ada bidadari mau diantar pulang dulu, kasian udah malam.” Jawabnya sambil melirikku.
“Idih, siapa yang mau diantar pulang sama elu?! Enggak usah, gue pulang sendiri aja. Gue mandiri kok.”
“Beneran bisa pulang sendiri?” tanyanya, seolah-olah aku tak akan baik-baik saja bila tak bersamanya. Aku hanya mengangguk yakin.
“Yaudah sana, pulang sendiri.” Katanya dengan nada cuek. Huh, kupikir tadi ia mengkhawatirkanku jika pulang sendiri, ternyata sama sekali tidak.
Suatu hari aku terkejut dengan kabar buruk tentangnya.
“El!” teriakku siang itu, ia tengah merokok di pinggir jalan.
“Lu bolos lagi?”
“Bolos?” ia tertawa keras. “Pura-pura enggak tahu lo.”
“Jadi? Berita itu emang benar?”
“Berita yang mana sih? Enggak usah sok simpati kayak gitu, gue tahu elu senang udah enggak satu sekolah lagi sama gue.”
“Maksud lu apa? Lu tuh kenapa? Kenapa sampai di keluarin dari sekolah? Lu gila, lu keterlaluan, kerja pr aja enggak becus lu, sekarang malah merokok di sini, sok dewasa banget tau enggak lu!”
“Diem aja deh kalau enggak tahu apa-apa.”
“Gue tahu hidup lu. Gue tahu latar belakang keluarga lu. Gue tahu lu pernah nangis gara-gara nyokap lu, ngaku lu!”
Dia terdiam sejenak.
“Lu tahu apa, Raisa? Hah?!!!”
Aku bergidik.
“Meskipun bokap lu kasar ke elu dan nyokap lu, meskipun dia ninggalin kalian berdua, lu seharusnya enggak boleh kayak gini. Tolol banget sih! Lu harusnya buktikan ke bokap lu, bahwa lu bisa jaga nyokap lu, bisa menjadi pria yang lebih baik dari dia!!!! Ngerti enggak sih, lu?! Dasar bocah!”
Dia diam, menatap jalanan.
“Yeee bocah ngatain bocah! Terserah lu aja.” Ucapnya pelan kemudian meninggalkanku.

El Dan Keberandalannya [Chapter 1]




Mobilku berhenti tepat di depan sebuah kafe. Sosok kecil dan imut yang dulu kukenal itu sudah duduk tenang menungguku di salah satu kursi kafe. Ia terlihat memperhatikanku dari kursinya. Mungkin ia sedikit terperangah, langganan ojeknya dulu kini telah menjadi seseorang yang berani membawa mobil sendiri.

Kini, dia nampak tak imut seperti dulu, tetapi dia memancarkan pesonanya yang lain. Ketampanannya tak berubah. Raut alisnya yang tak biasa, hidung mancungnya, dan bibirnya yang sedikit menghitam, sebab ia seorang perokok. Tubuhnya tegap tak terlalu berisi, namun lekuknya benar-benar seperti memamerkan otot-ototnya, meski sekarang ia tengah menggunakan jas rapi. Tinggiku dengannya hampir sama, hanya saja dirinya lebih tinggi beberapa centimeter.

Awalnya tak pernah di benakku muncul kata “imut” untuk dirinya. Tetapi, suatu kali ketika kami tengah berboncengan, iya, dulu dia sempat menjadi tukang ojekku, aku berteriak, “Lu kurus banget!” teriakku.

“Hah? Gue bukan kurus! Gue imut!” protesnya.
“Gue enggak suka cowok kurus! Enggak enak dipeluk!” gurauku.
“Alah, sekarang cewek enggak ngeliat muka sama body, asal dompet tebel, cewek pasti mau.” Ujarnya dengan pede.
“Tapi, gue bukan cewek kayak gitu!”
“Ih yaudah sih, yang penting dompet gue tebel. Ingat ya, gue imut bukan kurus!”
“Iya iya, avatar lu nipu banget! Ototnya gede banget! Itu kan efek kameranya aja, aslinya kerempeng lu!”
“Namanya juga fotografer, bermain dengan efek.”

Ya, meski kami kala itu baru duduk di kelas 2 SMA, ia berpenghasilan sendiri sebagai seorang fotografer, makanya ia selalu percaya diri mengatakan bahwa dompetnya tebal.

Dia masih memperhatikanku sampai kami berhadapan. Dia tersenyum tipis.
“Hai mba, lu udah banyak berubah. Makin kece , apa lagi sekarang udah jadi hijabers gitu.”
“Hai bang, lu juga, alisnya makin badai aja. Berandalan kok pakai jas?” ledekku.
“Emang enggak boleh? Gue kan pebisnis profesional, cuy.” Pamernya.

Ya, dulu ia adalah seseorang yang kukenal seperti berandalan, amat nakal. Selama aku berteman dengannya, aku hanya mendapat kesan polos dari sikapnya. Tetapi, suatu hari aku menemukan akun instagramnya. Dari sanalah aku mendapatkan kesan nakal. Berbagai macam fotonya dari mulai yang ditindik memakai anting-anting di telinganya layaknya preman, lalu menggunakan tato meskipun bukan yang permanen, hingga posenya yang terbanyak adalah ketika ia tengah merokok. Tak tanggung-tanggung fotonya bersama mantan kekasihnya juga ada di sana. Mereka berpose berpelukan, berciuman, dan saat itulah aku merasakan jijik dan ilfeel yang amat sangat, meski harus kuakui gadis yang bersamanya itu amat sangat cantik.
“Gila lu, anaknya orang udah lu apain?!”
“Biasa aja keles, pasti lu belum pernah begitu, kan? Makanya lu norak..”
“Lu kali yang kagetan sama yang namanya gaul! Salah gaul lu!”
“LU YANG NORAK!” 

Selasa, 03 Juni 2014

Wisata Kuburan di Tana Toraja



It's my journey


Hallooo? Mungkin ada yang mau tahu tentang situs-situs penguburan di Tana Toraja, atau ada yang sedang mencari resensi? Kali ini gue mau ngeposting situs-situs penguburan di tana toraja yang gue sempat kunjungi. Pertama, situs penguburan Lemo.

 Welcome to lemo

 Tebing lemo

At Tebing lemo

Perkuburan Lemo oleh masyarakat Tana Toraja dianggap memiliki fungsi sebagai rumah para arwah. Mayat-mayat disimpan di tengah bebatuan yang curam. Selain itu, ada puluhan makam unik yang berjejer di dinidng batu dilengkap dengan patung berupa manusia lengkap dengan diberi pakaiannya layaknya manusia yang masih hidup. Kompleks pemakaman ini merupakan perpaduan antara kematian, seni, dan ritual.

Lokasi Baby Grave