Rabu, 31 Desember 2014

Hai, Perempuan!




Hai, perempuan.
Kau pikir mengapa mereka mengetahui banyak hal tentangmu bahkan kehidupan pribadimu?
Sebab, kau begitu popular diantara mereka.
Kau pikir mengapa mereka memandangimu sampai sebegitunya?
Sebab, kau begitu menarik, dan mereka takjub.
Kau pikir mengapa mereka begitu memperhatikanmu?
Sebab, mereka penasaran akan tentangmu.
Kau pikir mengapa mereka membicarakanmu?
Sebab, kisah hidupmu begitu menarik dibandingkan kisah hidup mereka.
Kau pikir mengapa mereka mencibirmu?
Sebab, mereka iri.
Kau pikir mengapa mereka membicarakanmu lalu mencibirmu dan mengatakan kau bermain dengan banyak pria, kau bukan perempuan yang baik?
Sebab, mereka sangat iri, kau mempunyai banyak sekali teman, kau mempunyai banyak sekali orang yang menyambutmu.

Maka, perempuan.
Terkadang kau perlu bersikap anggun menghadapi tatapan mereka.
Terkadang kau perlu bersikap dingin menghadapi prasangka mereka.
Terkadang kau perlu bersikap seolah-olah berterimakasih karena mereka begitu memperhatikan.
Terkadang kau perlu bersikap tenang ketika mereka membicarakanmu.
Terkadang kau perlu tersenyum karena kisahmu lebih menarik dibandingkan mereka yang kisahnya begitu membosankan dan tak ada sama sekali kesan “liar” di dalamnya.
Terkadang kau perlu cukup mengangguk saja ketika mereka mencibir, karena mereka tak punya banyak teman sepertimu, karena mereka tak selalu disambut oleh orang-orang yang mereka harap.

Selasa, 23 Desember 2014

Samudra di Tengah Dunia [Chapter 1]


Lelahmu jadi lelahku juga
Bahagiamu bahagiaku juga
Berbagi takdir kita selalu
Kecuali tiap kau jatuh hati

Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata
Setia hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri
 Meski seringkali kau malah asyik sendiri
 
Karena kau tak lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya

Hampamu tak kan hilang semalam
Oleh pacar impian
Tetapi kesempatan untukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Kupercaya diri
Cintaku yang sejati

Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya

Kau selalu meminta terus kutemani
Engkau selalu bercanda andai wajahku diganti
Relakan ku pergi
Karna tak sanggup sendiri

Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu Aku kan jadi juaranya
(Malaikat Juga Tahu – Dee Lestari )

Awalnya aku sempat terkejut ketika ia memintaku untuk menemaninya hari ini. Sudah lama sekali aku dan dia menjaga jarak, tetapi kami sama-sama tak tahu alasan mengapa kami membuat jarak. Orang-orang yang membuat kami menjadi seperti ini. Sudah lama aku tak melewati hari bersamanya. Ya, dulu kami sering pergi bersama, bukan karena terjadi sesuatu yang spesial di antara kami. Tetapi, karena ia menganggapku sebagai temannya. Sementara aku berbeda, aku memandangnya karena aku menyukainya. Dulu, ia memiliki seorang kekasih, dan aku bukanlah seorang perusak. Aku tak pernah mengatakan apapun, dan waktu terus berjalan menjadikan kami berdua sebagai teman. Hanya teman.

Tetapi, sekitar hampir setahun yang lalu, kekasihnya berpaling pada temannya sendiri. Aku tahu dia begitu terkejut, aku tak kalah terkejut. Awalnya aku cukup senang, memikirkan mungkin aku bisa mendapatkannya. Tetapi, begitu aku melihat hari-harinya yang berubah, aku mengerti bahwa ia begitu kehilangan. Aku tak tahu harus berbuat apa, karena jarak di antara kami sudah tercipta dengan jelas. Aneh rasanya bila menyapanya, tetapi aku tahu dari caranya melihatku, dia berkali-kali berusaha untuk menyapaku namun selalu diurungkannya niat itu.
“Mari kita buat jarak, mungkin dua minggu?” begitu katanya pada setahun yang lalu. Aku terkejut dengan perkataannya yang membuat keputusan seperti itu. Tetapi, aku mengerti mengapa ia melakukan ini.
“Baiklah, hanya dua minggu.” Kataku. Ia mengangguk lalu pergi. Namun, hingga kini aku merasa dua minggu itu tak kunjung berakhir. Tetapi, hari ini berbeda. Ia kembali.