Sabtu, 04 April 2015

Aku Padamu, Alyssa Soebandono! :)



Berawal dari sebuah sinetron berjudul “Bayangan Adinda”, hati gue jatuh di pemain utama perempuan bernama Alyssa Soebandono dalam sinteron tersebut. gue yang saat itu berumur 6 tahun, masih polos-polosnya dibuat jatuh hati sama Alyssa. Gue bukan seorang lesbi, yah. Gue jatuh hati sama aura yang terpancar dalam dirinya, wetzz. Artis ini orangnya sederhana, dan enggak ribet, itu yang gue liat. Ditambah dia cantik pula.

Amanda dan Adinda

Sinetron ini sedih banget. Sinetron ini menceritakan tentang dua orang anak yang kembar, namanya Adinda dan Amanda. Keluarga mereka keluarga yang sangat bahagia. Suatu pagi, ketika sang mama tengah di dapur, dan sang papa tengah baca koran sambil minum kopi, sementara itu Adinda dan Amanda tengah di luar bermain sepeda. Mereka berboncengan. Ceritanya kan harmonis banget gitu. Tiba-tiba lagi senang-senangnya gitu kan, eh ada mobil yang melaju kencang dan menabrak sepeda mereka. Otomatis mereka juga tertabrak, kan mereka yang bawa sepedanya. Hehe.

Innanillahi wainna illaihi rajiun. Keduanya bersimbah darah. Tetapi, yang tertolong cuma Amanda. Adinda meninggal dunia. Semenjak itu, Amanda kesepian. Jelas, hari-harinya dulu selalu sama-sama dengan  Adinda. Tetapi, di kemudian hari ternyata Arwah Adinda bergentayangan. Mungkin ia tidak tega melihat Amanda yang kesepian. Dengan ala-ala keanehan di dalam sinetron, Adinda hadir kembali sebagai arwah atau bayangan yang di sepanjang jalan cerita ia akan selalu membantu Amanda ketika menghadapi berbagai kesulitan. Gue ingat salah satu episodenya, ada temannya Amanda yang diculik. Saat itu Adinda membantu Amanda untuk meloloskan temannya. Ceritanya yang bisa lihat Adinda itu cuma Amanda. Pokoknya gitu deh, itulah sebabnya judul sinetronnya “Bayangan Adinda”.

Akhirnya, semenjak hari itu, setiap gue nemu muka dia di majalah atau di koran, langsung deh gue gunting tuh majalah atau koran, terus gue tempel wajah Alyssa cantik di koleksi kertas-kertas gue. itu gue lakukan bertahun-tahun. Awalnya gue enggak tahu nama aslinya, sampai pada akhirnya gue lihat dia. Lihat di majalah maksudnya. Di situ tertera nama aslinya. Gue senang banget bisa tahu. Gue selalu mengumpulkan foto-fotonya sampai suatu hari gue kenalan sama yang namanya google. Waktu itu gue kelas 5 Sekolah Dasar. Gue kaget. Sialan, ternyata di google ada banyak banget fotonya Alyssa. Yaiyalah. Jehhlass. Gue kesal banget, banget, banget. Gue yang selama ini susah payah ngumpulin fotonya dari majalahnya orang, dari korannya tetangga gue, sampai pernah gue minta izin ke bokapnya teman gue buat minta korannya. Huft. Akhirnya gue berhenti. Sakit, sis. Gue akhirnya berusaha kenal Alyssa lebih jauh. Meski cuma lewat google, makasih dah google.

Jumat, 03 April 2015

Takdir Viona




Gelap. Iya, aku tahu. Aku memang tengah tidur. Apa aku tengah bermimpi? Mengapa di sini gelap sekali? Dan sempit. Apa aku tengah terikat? Atau apa ada sesuatu yang melilitku? Sesak. Dan tiba-tiba saja sesuatu yang sangat mengejutkan terjadi. Aku keluar dari tubuhku sendiri. Ada apa ini? Aku panik!!! Mengapa aku melayang-layang seperti ini? Inikah yang dinamakan roh? Roh yang berkaitan dengan kematian dan selalu dibicarakan oleh orang-orang?
Aku bergegas keluar dari kamarku. Menelusuri ruangan demi ruangan yang ada di dalam rumahku.
“Ma..mama..mama..” aku menggoyangkan-goyangkan tubuh mama yang tengah tertidur pulas. Tetapi tak bisa. Seketika aku ketakutan. Aku menoleh ke arah cermin di kamar mama, Ya Tuhan tak ada diriku di dalamnya! Aku menjerit-jerit dan menabrak-nabrakkan tubuhku ke dinding-dinding tetapi tak ada rasa sakit kurasakan begitupun dengan suara, tak ada suara gaduh yang timbul.
Siang itu gerimis. Mama tertidur pulas, papa belum pulang kerja, dan adikku tengah bermain di luar. Aku menangis di sudut kamar mama. Sendirian. Mama tak akan mungkin mendengar suara tangisku. Apa aku sudah….meninggal?
Aku terus memandangi mama, hingga ia terbangun. Ia memandang keluar jendela.
“Tumben, gerimis. Hmm, Viona udah bangun belum, ya?” mama memikirkanku. Kuikuti langkahnya menuju kamarku.
“Viona, Viona.”
“Iya, ma.” Sahutku dengan bodoh, mama tak akan mungkin mendengarnya.
Mama menjatuhkan tubuhnya di sebelah ragaku. Ia berbaring di sana, memandangiku sambil tersenyum. Jemarinya mulai menyentuh wajahku kemudian membelai rambutku. Ia belum menyadarinya.
“Ma…” panggilku gemetar.
Jemarinya berhenti, ia memandangi sekitar. Apa ia baru saja menyadari kehadiranku?
Kemudian ia memainkan kembali jemarinya di wajahku.
“Viona, alis kamu, mata kamu, mirip mama. Hidung dan bibir kamu mirip papa.” Mama masih tersenyum. Kemudian mengernyitkan dahinya. “Viona, kamu kok dingin?” ia kemudian menarik selimut untukku.
Ia melangkah keluar.
“Ma, jangan tinggalkan Viona, ma..”
Langkahnya terhenti.  Ia menoleh ke arah jasadku yang terbujur kaku di atas tempat tidur.
“Viona? Kamu sakit?” Tangannya menyentuh keningku. “Viona? Viona?!!! Kamu dengar mama, nak?!”
Ia panik dan memeriksa nadiku.
“Viona? Enggak, enggak mungkin. Vionaaaaaaaaaaa!!!!!!”
Mama memelukku erat, aku membisu di sudut kamarku.

***

Berita kematianku menyebar cepat. Malam itu gerimis sudah berhenti, namun aroma dan hawa dinginnya masih tinggal. Rumahku sesak dengan orang-orang yang melayatku. Mama belum juga berhenti histeris, beberapa ibu-ibu berusaha menenangkannya.
“Ma, maafin Viona.” Ujarku cemas.
Teman-temanku yang perempuan belum banyak yang hadir, mungkin karena sudah malam. Malam itu lebih banyak teman-temanku yang laki-laki yang datang melayat. Aku memperhatikan mereka satu-persatu.
Di terasku duduk teman-teman sekelasku yang laki-laki. Terlihat jelas bahwa mereka tengah membicarakanku.
“Dua hari yang lalu gue enggak sengaja numpahin air ke lukisannya, dan dia enggak marah. Sampai dia meninggal sekarang, gue masih enggak enak sama Viona.” Ujar Arfin, ketua kelasku.
“Iya, dia enggak pernah marah dan enggak pernah tersinggung meskipun gue kalau bercanda sering kelewatan batas.” Iwan menambahkan. Iwan termasuk orang yang konyolnya the best di kelasku. Dia hobi membuat orang tertawa.