Senin, 29 Juni 2015

Halalkan Aku Atau Tinggalkan Aku!


Lampu-lampu jalanan memamerkan terang cahayanya. Bukan hanya memperindah, tetapi juga menerangi gelapnya malam di kota kami. Kemacetan kecil di jalan-jalan di kota kami memang tak bisa dihindari. Aku sebagai penumpang cukup menikmati macetnya, tetapi tidak dengan Bimo, temanku yang berada di kursi kemudi.
“Gini aja terus sampai mampus.” Keluhnya pada macet. Aku cuma ketawa garing.
“Santai ajalah.” Tanggapku. Muka Bimo bertambah ketus.
“Kira-kira banyak yang beda enggak ya nanti?” tiba-tiba Bimo mengalihkan pembicaraan. Ya, malam ini kami akan menghadiri acara reuni angkatan SMA. Bimo sepertinya sudah tak sabar ingin bertemu dan menyapa teman-teman lama kami.
“Mungkin ada yang sudah menikah dan punya anak, bahkan mungkin anaknya udah punya anak.” Kataku. Bimo lalu tertawa renyah.
“Apa kita setua itu, bro?” tanya Bimo sambil menaikkan salah satu alisnya.

Kemacetan itu akhirnya berakhir juga. Kalian mungkin membayangkan acara reuni kami diadakan di suatu gedung atau bahkan hotel. Tetapi, kami tak pernah kerepotan jika ingin membuat suatu reuni. Anggita, salah satu orang tajir dan murah hati di angkatan kami dengan sukarela menjadikan rumahnya sebagai tempat reuni kami. Rumah Anggita bisa menampung lebih dari satu angkatan, dengan gaya rumah mewah masa kini, dilengkapi dengan taman belakang yang luas, kolam berenang berada di sisi sebelah kanannya dan di seberangnya terdapat ruang pertemuan terbuka yang bisa menampung kami semua. Di angkatan kami, anak-anak yang tajir kebanyakan merupakan anak-anak pejabat, tetapi tak sama dengan Anggita. Anggita merupakan seorang anak pengusaha, ibunya merupakan dosen di universitas ternama. Mudah ditebak, ia melewati masa kuliahnya dengan mudah. Itu yang selalu aku pikirkan. Terakhir kami mendapat kabar bahwa ia baru saja menyelesaikan S2 nya di London. Anggita selalu saja terlihat sempurna di mata kami semua. Bukan karena ketajiran dan kemurahan hatinya, tetapi ia juga dikenal pandai dan berwajah cantik. Kalau boleh disamakan, ia sedikit mirip dengan Dian Sastro. Wajahnya sangat Indonesia.

Ketika mungkin semua pria melihat ke arahnya, aku melihat ke arah yang lain. Sama seperti sekarang, ketika kami tiba di rumah bak istana milik Anggita, sang empunya rumah langsung menyambut kami diikuti teman-teman yang lain. Ah, wajahnya, masih saja seperti Dian Sastro.
“Wah, sepertinya gue dan Vino sudah ketinggalan banyak cerita.” Ujar Bimo sambil menyalami mereka satu-persatu. Anggita hanya menanggapi dengan senyuman. Aku mengikuti Bimo menyalami mereka.
Sambil menunggu kedatangan yang lain, kami saling bernostalgia. Ah, dia belum datang, atau tak datang?
“Hei, Vino! Ngelamun, ya? Dia mana, Vin? Datang, kan?” Anggita menyodorkanku tiga pertanyaan sekaligus.
Dia yang dimaksud oleh Anggita adalah teman kami yang bernama Tasya. Sejak aku dan Tasya dilahirkan, kami sudah bertetangga. Ia teman masa kecilku hingga sekarang, sejak TK hingga SMA kami selalu saja satu sekolah. Bukan disengaja, hanya saja pilihan kami selalu sama.
Hal itu menjadi sesuatu yang selalu didebatkan oleh Tasya. Ia berpikir akulah yang selalu mengikutinya. Dalam hati aku selalu membenarkan hal itu, hanya saja aku mengikutinya sejak kami lulus SD. Tetapi, konyolnya dia berpikir aku mengikutinya sejak duduk di bangku TK. Padahal TK dan SD bukan aku yang memilih, tetapi orangtuaku.

Rabu, 10 Juni 2015

Di Balik Uban Seorang Ayah


Di balik uban seorang ayah,
Tersimpan arti.
Artinya ayah lu udah tua,
Dan lu udah gede.

Ayah gue ubanan.
Cuma karena sesuatu bernama uban itu gue sadar.
Ayah gue udah tua, sekitar kepala lima.
Gue, tiba-tiba saja sudah berumur 18 tahunL
Tetapi, enggak ada yang tiba-tiba.

18 tahun itu menempuh proses yang sangat panjang,
Tetapi, gue ya masih gitu-gitu aja.
Masih suka menghambur-hamburkan duit, waktu, dan hal-hal lainnya yang semestinya bisa gue jaga dan semestinya bisa gue gunakan pada tempatnya.

Semoga umur gue panjang,
Dan bisa berusaha memperbaiki diri.
Kalian juga, ya.
Jangan gitu-gitu mulu aja.
Berubah.
Menjadi yang lebih baik.

Ini postingan gue agak sotoy, sih.
Tapi, gue serius ngajak kalian untuk sadar mulai dari sekarang, untuk apa kalian hidup?


Tulisan di kala fajar dari seorang gadis remaja yang memilih Yogyakarta sebagai tempat baru untuk dirinya memperbaiki diri.