Jumat, 09 Oktober 2015

#Cerita dan Prosaku: Jika Nanti





Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk merawat kenangan. Katanya, salah satunya dengan cara menuliskannya.

Tetapi, aku memiliki satu alasan mengapa aku perlu menuliskannya. Bukan untuk merawat kenangan seperti kebanyakan orang.

Tetapi, ini tentang suatu hari nanti. Jika tiba-tiba aku lupa ingatan, aku tetap bisa mengingatmu, sebab aku selalu menuliskan tentangmu dalam tulisanku. Tentang awal perjumpaan kita, lalu bagaimana kita bisa saling kenal satu sama lain, kemudian menjadi teman, saling bercerita dan saling mendengarkan, hingga tiba-tiba saling jatuh cinta, dan kau maju untuk meminangku tanpa banyak ucap dan janji. Kau tahu, aku suka caramu.

Ya, hari itu adalah hari dimana tubuh kita berdua sudah renta dan mungkin sudah tak mampu menopang satu sama lain, bahkan mungkin aku sudah tak bisa menulis tentang kita lagi seperti saat ini. Tetapi, percayalah, kita masih bisa saling bercerita meski gigi-gigi kita telah ompong, meski kita sudah kesulitan untuk menguyah. Kita masih bisa saling mendengarkan meski pendengaran kita sudah terbatas. Kita bahkan mungkin masih bisa untuk saling memandang meski daya penglihatan kita sudah tak sempurna.

Ya, alasanku itu. Jika aku lupa ingatan. Meski aku tahu, kau tak akan mungkin mampu untuk aku lupakan. (Magelang, September 2015)



Sumber gambar: Tumblr.com

Kamis, 08 Oktober 2015

#Cerita dan Prosaku: Anak Perempuan Biasa




“Jadi, siapa calonmu, nak?”
“Dia anak perempuan biasa.”
“Lantas mengapa memilihnya?”

Ibu mengernyitkan dahinya seraya menghentikan gerakan tangannya yang tengah mengulek nsegala macam bumbu dapur. Ibu menatapku penuh selidik.

“Justru itu aku heran, mengapa dia yang sangat biasa mampu menarik perhatianku. Bukankah itu salah satu sisi yang mengagumkan, bu?”

Lalu ibu tersenyum.

“Benar anakku. Tak selalu yang luarbiasa itu mampu menarik perhatian.”

Ah, ibu. Ia selalu saja bisa menanggapi pernyataanku.

“Dia seperti apa, nak?” ibu melanjutkan perkataannya dengan pertanyaan.
“Sangat biasa. Dia berkerudung, tak memakai penebal alis, tanpa pemerah bibir, wewangian dan semacamnya yang biasanya digunakan oleh kaum hawa yang katanya sih untuk memperoleh penampilan yang cantik. Tapi anehnya, perempuan yang kusukai justru terlihat cantik meski tak memakai segala macam yang tadi baru saja kukatakan.”
“Kan ibu sudah bilang, tak selalu yang cantik itu karena wajahnya dirias.”
Aku hanya mengangguk disertai cengiran kecil.
“Ia hanya sedikit menggunakan sentuhan bedak.” Tambahku.

Lagi-lagi ibu tersenyum.

“Persis ibu.” Gumamnya pelan.
(Magelang, September 2015)