Sabtu, 14 Mei 2016

#2 A Story From Jogja: Vinsyandana



Restoran-restoran yang berdiri megah di sepanjang jalan dengan berbagai macam menu yang disediakan dan dengan berbagai macam harga pula, mulai dari harga rendahan hingga menjulang, sukses membuat perutku bunyi.

Aku mulai memasuki gang demi gang yang sepanjang jalannya adalah bangunan sekolah yang sudah tua dan membuatku membuatku bergidik dengan reaksi pepohonan rindangnya yang dimainkan oleh sang angin. Kueratkan tasku dan kurapatkan jaketku. Suara sepatuku memenuhi jalanan yang hanya diterangi beberapa lampu yang berjarak begitu jauh antara satu dengan yang lainnya, itupun cahayanya cukup remang-remang.

Mungkin beberapa orang menilai aku beraura kelaki-lakian alias tomboi, tetapi itu tak menghadangku untuk memiliki rasa takut apalagi dalam kondisi seperti sekarang ini. Aku mulai membiasakan diriku pulang semalam ini karena tuntutan tugas yang tak bisa aku selesaikan bila hanya dikerjakan di dalam kost saja.

Rasa lega meliputiku saat pintu gerbang rumah megah nan tua sudah di depan mata. Tentu saja bukan rumahku, aku hanya menyewa satu kamar kost di salah satu sisi rumah ini, rumah Ibu Nurmala. Beliau memang hidup sendiri, untung saja Pak Parminto dan istrinya, Bu Laksmi, bersedia tinggal di sini menemani beliau. Entahlah, mereka bersedia atau karena mereka tidak punya pilihan tempat tinggal lainnya. Selain itu, Pak Parminto dan Bu Laksmi memiliki empat orang anak, maka bertambahlah ramai rumah besar itu.

Aku menggertakan gigiku, suara gerbang yang berisik memecah malam. Mau bagaimana lagi, dari awal aku datang ke kost ini, pintu gerbangnya berisik apabila dibuka atau ditutup. Pelan-pelan aku membuka pintu samping, pintu yang menghubungkan halaman depan dengan ruang tamu untuk penghuni kost. Aku menghembuskan nafas lega saat mendapati Arum tengah nangkring di kursi sambil memainkan ponselnya. Anak itu tak bergeming dengan kedatanganku. Dasar Arum, mendadak jadi autis saat ponsel berada di tangannya. Sementara itu, terlihat mie instant yang berada dalam bentuk cup mengepulkan asapnya bertanda Arum baru saja menyeduhnya.

Aku menerjunkan tubuhku di kursi tepat di samping Arum. Kuraih mie instant itu dan siap kutelan, mendadak keautisan Arum hilang.
"Enak aja! Bikin sendiri, dong!" aku menatapnya kesal. Aku memang hanya bercanda, sih, tetapi perutku sejak tadi lapar, itu seriusan.
Arum dengan lahapnya menghabiskan mie instant itu. Aku hanya diam sambil melirik-liriknya. Merasa dilirik, Arum melirik balik. Setelah itu, ia bangkit meninggalkanku. Aku bertambah kesal, dasar pelit!
Tak sampai lima menit, Arum kembali lagi dengan sendok dan garpu di tangannya.
"Ayo kita makan berdua." kata Arum, mataku tiba-tiba saja berbinar. Cukup terharu, sih. Aku tahu, Arum memang anak yang baik, kok.
"Gue tahu, seorang Arum nggak mungkin membiarkan gue kelaperan." ujarku.
"Lebay." gerutu Arum. Kuraih sendok dan garpu itu dari tangan Arum.
"Gimana, Mbak? Udah kerasan kan tinggal di sini?" tanya Arum. Aku hanys bisa mengangguk-anggukkan kepala, sementara mulutku dipenuhi mie. Arum ini sudah seperti ibu kost kedua, selain karena dia penghuni paling lama di kost ini alias penghuni senior, ia juga cukup bawel tentang kebersihan di sekitar kost.

Tiba-tiba suasana yang tadinya hening, pecah oleh suara nyanyian dari ruangan lain di rumah ini. Suara laki-laki. Aku berhenti mengunyah. Kulirik Arum yang kelihatan biasa-biasa saja. Aku menyenggol lengannya. Arum menatapku.
"Kenapa?" tanyanya dengan raut wajah biasa saja.
"Yang nyanyi tadi siapa, sih?" ujarku setengah bergidik.
"Emang kenapa? Takut, ya? HEHEHE." wajah Arum mendadak menjadi menyebalkan, dia pikir aku ketakutan, ditambah pula volume ketawanya diperbesar.
"Enggak, penasaran aja." kilahku.
"Pak Parmintolah, siapa lagi." jawab Arum dengan yakin.