Rabu, 19 Oktober 2016

Jakarta Mengembalikanmu




Asap mengepul di langit kota Jakarta. Burung-burung kelayapan di langit berusaha mencari sisi langit yang aman. Aroma udara sudah tak jelas lagi. Sementara, orang-orang berlarian mencari perlindungan. Orang-orang lainnya mempertahankn diri di tengah-tengah konfik dengan berbagai senjata ala kadarnya.
Saat ini konflik antar golongan masih terus terjadi di beberapa daerah, termasuk di kota ini. Masyarakat sukses membakar ban dan beberapa kendaraan yang mengakibatkan asap membumbung tinggi di langit kota. Jeritan-jeritan para wanita terutama ibu-ibu yang menggendong bayinya tak terhindarkan. Masyarakat itu juga berusaha menahan kamera para wartawan yang melintas. Memaksa para wartawan itu untuk menyerahkan kamera mereka.
Untung saja hari ini aku memakai sepatu sportku, bukan sepatu kantorku uang cukup berhak tinggi. Koflik akhir-akhir ini makin marak terjadi membuatku merasa hari ini akan ada peristiwa tragis lainnya, maka sejak semalam kusiapkan sepatu sportku dan berniat hari ini akan terjun ke lapangan bila sewaktu-waktu benar terjadi konflik. Keadaan yang mencekam beberapa daerah di Indonesia ini mengigatkanku tentang peristiwa yang tak bisa dilupakan dalam sejarah panjang bangsa kita, peristiwa berdarah Trisakti pada tahun 1998.

Beberapa bapak-bapak mendekat ke arahku, kemudian memperingatkan untuk segera menyingkir dari sana. Saat itu aku memang belum mengeluarkan kameraku. Aku hanya mengangguk-angguk dan terus melangkah menuju pusat konflik dengan hati-hati. Dari jauh kusaksikan mobil-mobil yang melintas dicegat, sopir dan penumpangnya dipaksa untuk turun. Kemudian massa membakar mobil tak bersalah tersebut. Sisa mobil lainnya disandera, kemudian dinaiki atasnya, dan orang-orang itu meneriaki yel-yel golongan mereka dengan merasa perkasanya. Entahlah, saat ini aparat keamanan negara kuatnya seimbang dengan masyarakat pemberontak ini. Suara-suara aparat dan masyarakat beradu di langit yang buram sebab asap tak kunjung mereda.
Aku menengok isi ranselku, begitu kameraku sudah di tangan, segera kunyalakan dan kuabadikan momen-momen kerusuhan itu. Aku belum puas menjepret sana-sini, tetapi aku harus terus melangkah. Kunyalakan menu rekam, dan kurekam segala yang terjadi sambil terus melangkah di antara orang-orang yang berlarian.
Seorang ibu dari lantai dua rumahnya meneriakiku, aku hanya membalasnya dengan tersenyum sambil menngerakkan ameraku ke arahnya. Ini sudah menjadi makananku sehari-hari, aku akan menyesal bila tak mengabadikan peristiwa ini. Bukan, bukan untuk menaikkan pamorku di kantor atau untuk dipuji atasan kantorku, tetapi semua yang kuabadikan ini akan menjadi sejarah suatu saat nanti. Sejarah yang bisa dipelajari, apa penyebab dan bagaimana solusinya agar konflik seperti ini tak terjadi lagi di masa depan. Atau jikalau terjadi kembali, pemerintah sudah antisipasi, setidaknya seperti itu yang terpikir di benakku. Belajar dari masa lalu.

Aku masih dengan kameraku sibuk merekam. Begitu kulihat aparat mulai terjun mengendalikan situasi, kuhentikan rekamanku, dan siap membidik peristiwa demi peristiwa.
Seorang pria dengan merasa gagahnya berdiri di atas mobil sanderaannya, berteriak-teriak tak jelas sambil memamerkan sedereret gigi-giginya yang kuning. Tak jelas apa yang dikatakannya tetapi ia terlihat begitu bersemangat sekali.
Sementara seorang anak perempuan menangis di pojok jalan. Menatap linglung ke kanan dan ke kiri, mencari-cari ibunya.
Kuhentikan aktivitasku dan mendekatinya. Kutarik tangannya dan membawa ia menuju sebuah took kelontong yang tengah ditutup oleh pemiliknya. Mungkin ia takut dijarah. Di dalam toko yang tertutup itu terlihat beberapa ibu mencari perlindungan, kuserahkan anak erempuan itu pada mereka dan aku kembali ke jalananan.
Aku melihat sekeliling, hampir tidak ada lagi perempuan sama sekali.
“Aaarghhh..” aku berteriak spontan saat seseorang menjabak rambutku, membuat ikat rambutku terjatuh dan kini rambutku berantakan. Aku menoleh ke belakang, melihat siapa yang berani menjambakku, yang terlihat malah segerombolan pemuda degan tatapan liar dan senjata seperti parang dan bongkahan kayu di masing-masing tangan mereka. Kumainkan kameraku kembali.
Klik. Segerombolan pemuda dengan tatapan tajam dan berbagai jenis senjata di tangannya.
Klik. Klik. Klik.

Rabu, 12 Oktober 2016

Amalan Tinggi; Memaafkan

 
“Orang yang menghina saya adalah orang yang mau mengorbankan dirinya agar saya dapat melakukan amalan tinggi di sisi Allah yaitu memaafkan.” – Ust. Syatori