Sabtu, 31 Desember 2016

Terkadang [2]


“Kadang, ada banyak hal yang denganku tak sejalan, tetapi pada akhirnya aku pilih untuk bertahan karena orang-orang di sekelilingku saja bahagia dengan apa yang aku jalankan. Mengapa aku tidak?” - Nina Mentari

Sumber gambar: tumblr.com

Terkadang [1]


“Kadang, berselancar di dunia maya itu mengasyikkan. Mengamati pemikiran orang-orang. Yang nampaknya dewasa ternyata pikirannya dangkal. Yang nampaknya diam, ternyata benar berwibawa.” – Nina Mentari

Sumber gambar: tumblr.com


Kamis, 29 Desember 2016

Lee Dalam Catatan Harian Suzy





I might never be the hands you put your heart in
Or the arms that hold you any time you want them
But that don’t mean that we can’t live here in the moment
 ‘Cause I can be the one you love from time to time

And if you like midnight driving with the windows down
And if you like going places we can’t even pronounce
If you like to do whatever you've been dreaming about
Then baby, you're perfect
Baby, you're perfect
So let's start right now
[ One Direction - Perfect ]
 
Aku seorang penulis. Ya, penulis dalam diary-ku sendiri. Begitu yang Lee katakan padaku. Aku selalu ingin menjadi penulis. Kata dia, meski aku hanya menulis diary, aku sudah menajdi seorang penulis. Penulis yang menuliskan tentang dia dalam diary-nya. Lihat, betapa percaya dirinya dia. Tetapi, aku suka.

Aku senang mengingat-ingat kembali saat-saat bersamanya. Lee, dia tak suka ketinggian, tetapi hari itu di depanku dia mengiyakan pintaku untuk naik kora-kora di suatu pasar malam bersamaku. Aku menyesal tak merekam ekspresinya kala itu. Dalam hati, pasti ia jengkel setengah mati padaku. Di atas kora-kora yang melambung tinggi itu, aku cekikikan melihat kelakuannya. Wajahnya sudah tak karuan. Keringat dingin memenuhi dahinya. Tetapi, ia tetap bertahan mengiyakan pintaku naik kora-kora untuk kedua kalinya.

Lee adalah tipe orang yang sulit menghapal arah jalan. Berbeda denganku. Katanya dia mau terus bersamaku agar ia selalu berada di dalan yang benar. Kata dia aku adalah petanya. Peta petunjuk jalannya. Menurutku itu perkatan yang cukup romantis.

Aku pernah bercerita padanya. Aku iri pada teman-temanku, mereka bisa merasakan jatuh cinta, mereka bisa bercerita tentang orang-orang yang mereka suka. Tetapi, aku kacau dengan diriku. Aku sangat mudah jatuh kagum tetapi sulit untuk benar-benar mencintai. Kata dia saat itu, mengapa tak kucintai dia saja? Katanya aku boleh mencintainya agar aku punya bahan cerita di depan teman-temanku.

Aku bertanya padanya, lalu bagaimana dengan gadismu? Yang kau puja sebelum pertemuan kita kala itu? Kala dia memakai kaos bertuliskan sebuah nama teater. Katanya teater itu teater favoritnya, padahal itu juga teater favoritku. Akhirnya, teater-teater itu menciptakan pertemuan-pertemuan kami untuk yang kedua kalinya, ketiga kalinya, dan seterusnya.

Aku pernah berdiskusi dengan Lee. Aku tanya mengapa banyak lelaki yang tak juga menyerah dengan sikapku? Padahal aku sudah bersikap setengah mati tak memedulikan mereka agar mereka menyerah saja padaku, tetapi mereka tak kunjung menyerah. Aku bertanya pada Lee, apakah Tuhan memang menciptakan sosok lelaki seperti itu? Lee hanya tersenyum, manis sekali kala itu.

Aku bertanya lagi, tetapi mengapa setelah mereka mendapatkan yang  mereka iginkan seringkali mereka pergi dan menyia-nyiakan yang selama ini mereka perjuangkan? Aku mengambil contoh kecil dari kisah kedua orangtuaku. Jika saja kalian tahu, bahwa di kota-kota besar hal seperti itu seringkali terjadi. Saat aku duduk di bangku sekolah dulu, bisa dikatakan setengah dari jumlah siswa di kelas adalah anak-anak berlatar belakang broken home. Maka itulah aku bertanya pada Lee, mengapa pria-pria itu meninggalkan wanita mereka?

***

Minggu, 18 Desember 2016

Melalui Cara Tuhan [Chapter 4]




“Sudah sadar?”
Aku membuka mata, apa yang terjadi denganku? Aku dimana?
Aku terlonjak, gadis itu berada di hadapanku. Aku mencubit pipiku, tetapi aku kesakitan. Apakah ini nyata? Aku masih belum tahu apa yang baru saja terjadi.
Kuperhatikan sekitarku. Aku berada di sebuah kamar yang kuperkirakan dari bangunannya ini adalah sebuah rumah tua.
“Mungkin Mas kebingungan, ya? Tadi saat Mas mau menyeberang, sebuah motor menyerempet. Kepala Mas sempat terbentur aspal saat jatuh. Tetapi, Mas masih ingat nama sendiri, kan?”
Aku diam seribu bahasa. Hatiku bergetar. Gadis di hadapanku ini, apa ia tak mengenaliku?
Ia ikut terdiam menunggu responku.
“Mas?” tegurnya. Aku tersadar dari lamunanku.
“Ya. Namaku Faras. ” Balasku.
Dia terdiam sejenak. Kupikir ia sedang mencoba mengingatku, tetapi ternyata tidak.
“Oh, Faras. Nama kita mirip, ya. Aku Fasya.”
Aku hendak menyalaminya, kupikir ia mengajakku berkenalan. Tetapi, ia menarik diri. Tak ingin menjabat tanganku. Ia sedikit salah tingkah, tetapi kemudian suasana kembali terkendali saat seorang kakek tua datang. Itu pasti kakeknya.
“Anak muda sudah sadar rupanya.” Kakek yang sudah terlihat rapuh itu masih mampu untuk tersenyum padaku. Aku balas tersenyum sambil menyalaminya.
“Iya, saya sudah sadar. Terimakasih sudah menolong saya.”
Kakek itu tertawa kecil.
“Bukankah sudah seharusnya?” Ia masih tertawa.
Keadaanku segera pulih, hari itu aku mengobrol banyak dengan kakek gadis itu, gadis yang selama ini kucari. Ia masih belum juga menyadari siapa aku.

Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Suara jatuhnya hujan di luar membuat alasan si kakek menyuruhku bermalam di rumahnya semakin kuat, dan aku tak bisa menolaknya.
“Jadi, kamu mencari seseorang di sini? Kupikir sedang berlibur.”
Aku hanya mengangguk-angguk. Sejak tadi aku tak melihat Fasya, entah dimana dia. Setelah ba’da Maghrib tadi ia mengantarkan minuman untuk kami, ia tak terlihat lagi.
“Fasya sudah tidur ya, Kek?”
“Hmm, belum. Dia kalau tidur biasanya kalau sudah larut.”
Aku memikirkan kesibukan apa kiranya yang dikerjakannya hingga larut. Bodohnya aku, tak tahu apa-apa tentang gadis yang kusukai.
“Dia punya pekerjaan?” tanyaku hati-hati.
“Iya, kamu bisa melihat pekerjaannya.”
Aku tak mengerti. Tetapi, si kakek seperti memberiku sebuah kesempatan untuk mengenal cucunya. Ia menunjuk ke belakang rumah.
“Di belakang rumah?”
Kakek hanya mengangguk. Aku sempat berpikir, mungkin gadis itu tengah mencuci baju atau memasak sesuatu, atau apa?

Minggu, 11 Desember 2016

Pembongkaran Ide Cerita Seorang Nina



Iya deh iya. Judul postingan kali ini agak lebay. Tapi, kali ini aku mau sharing tentang gimana ide-ide cerita itu bemunculan di pikiranku. Aku mau membongkar ide-ide cerita dari beberapa cerpen atau cerbung yang aku buat.
Mengenai postingan cerita seri Yogyakarta yang berhasil aku post di blogku, sebenarnya ceritanya itu punya sekitar 10 seri. Aku hanya baru memosting beberapa kalau kalian cek pada label cerbung. Jadi, konsep kesepuluh cerita itu sudah ada semua. Sayangnya, aku pernah kepenuhan memori dan menitipkan filenya di laptop temanku. Tapi, aku lupa aku simpan di folder mana dan dengan nama apa. Itu kesalahan fatal yang aku sesali sampai sekarang. Aku masih berusaha mencari, sih. Untungnya, aku selalu menuliskan pokok konsepnya di buku tulis, pokok konsepnya masih ada, cuma konsep matangnya ya di folder yang terselip itu.

Then, aku bakal kasih tahu isi otakku. Eh, maksudnya tips-tips menulis untuk kalian yang mau belajar dan pengen membuat cerita. Semua berawal dari membiasakan menulis diary sejak kecil. Sayangnya, beberapa diary menuliskan hal-hal yang aku sesali. Nggak tanggung-tanggung buku diaryku aku bakar, abunya aku rendam di air cucian kaos kaki. Mungkin di sisi lain aku senang merawat kenangan, tetapi di sisi lain aku membenci kenangan. Sebab, aku ingin seseorang yang hadir di masa yang akan datang tahu bahwa aku sepenuhnya mencintainya dan telah menghapus segala hal di masa laluku, sehingga ia tak perlu mengkhawatirkan hal-hal kecil itu.

Oke, mulai dari first point. Untuk mengembangkan sebuah cerita, kamu hanya perlu menemukan satu kejadian. Cukup satu kejadian. Seperti dalam film Negeri Van Orange, hehe. Kamu hanya perlu mengembangkan satu kejadian. Contoh cerita dalam point ini ada pada cerbungku yang masih hangat, “Melalui Cara Tuhan”. Sumpah, judulnya kurang kreatif banget. Sudah mentok. Satu kejadian yang aku kembangkan menjadi 3 cerita bersambung itu adalah terinspirasi ketika aku berjalan-jalan layaknya wisatawan di sepanjang jalan Malioboro. Beberapa wisatawan yang lain yang tengah naik becak sembari merekam suasana. Dengan sengaja aku melambaikan tangan ke arah kamera mereka. Hanya itu. Itu satu kejadiannya. Kemudian, untuk latar belakang tokohnya yang merupakan anak teknik mesin perkapalan, aku terinspirasi dari salah seorang temanku. Aku mengoreksi informasi darinya, dan lagi-lagi aku dapat pengetahuan. Yeah, menulis membuat ilmu pengetahuanmu bertambah, it’s of course.

Indonesia Sedang Sakit?

Dari waktu ke waktu, makin beranekaragam berita di televisi. Menurutku, akhir-akhir ini bukan hanya ada satu dua berita yang hangat diperbincangkan, melainkan banyak sekali.

Makin hari, masalah manusia yang menuju dewasa seperti saya ini mulai digerogoti berbagai persoalan. Persoalannya sih yang itu-itu saja. Masalah hati. Bosan iya. 

 Muka galau anak SMA

Mari kita jadikan persoalan dalam hidup kita sebagai bumbu-bumbu penyedap dalam hidup kita. Kembali ke topik, awalnya berita-berita biasa-biasa saja. Saya tetap fokus pada kasus sidang Jessica, itu untuk beberapa bulan yang lalu. Entah, saya sampai mengikuti sidang demi sidangnya meski hanya lewat layar TV bahkan sampai buka youtube. Ketika buka line news juga yang paling menarik perhatian saya ya tetap berita sidang Jessica. Sampai-sampai saya menelusuri lebih dalam kasus itu bahkan latar belakang keluarga korban melalui hastag di explore instagram.

Namun, sekarang-sekarang ini berita yang hadir dan menarik minat saya cukup banyak. Bencana kembali menerjang negeri kita. Negeri kita ini butuh doa dari kita. Negeri kita ini butuh untuk didoakan. Bencana gempa bumi yang terjadi di  Aceh pada awal Desember tahun ini kembali menyisakan luka, bukan untuk warga Aceh sendiri, tetapi untuk Indonesia.

Selain bencana gempa bumi menjadi topik yang banyak diperbincangkan, topik-topik berita lainnya tak kalah menarik. Kalian mungkin mengerti topik yang mana yang saya maksud. Intinya, saya cuma mau bilang kalimat mainstream yang satu ini, “Mulutmu Harimaumu.” Suatu perkataan bisa membawa seseorang sampai ke bangku persidangan, di sisi lain apa kabar penegak hukum di Indonesia yang notabene sebenarnya dari kita sudah mengetahui seperti apa.

Drama-drama Korea seperti Pinocchio, I Hear Your Voice, dan Uncontrallably Fond mengajarkan saya tentang banyak hal. Saya yang sejak dulu berkeinginan menjadi seorang penyiar di televisi atau freelance mulai mengkhawatirkan peran dalam impian saya ini. Sosial media punya “power” yang sangat kuat. Sosial media punya potensi menyebarluaskan, memutarbalikkan, membenarkan, menyalahkan banyak hal. Gejolak ini membuat saya merasa ngeri. Bila impian saya kelak tercapai, akan menjadi model yang seperti apa saya? Kembali ke visi misi hidup, betapa pentingnya visi misi hidup yang kita pegang. Sebab, itu akan menjadi pegangan tiap kali kita mengambil keputusan. Hal ini pula yang membuat betapa pentingnya bagi seorang muslim dan muslimah untuk berpegang pada Al-Qur’an dan Hadits. Kembali pada drama Pinocchio bahwa berita yang diputarbalikkan atau katakan saja fitnah dapat membunuh seseorang. Difitnah membuatmu merasa ingin membunuh atau dibunuh saking putus asanya. Dari sini kita akan memahami konsep “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan”, dan itu fakta.

 Korban fitnah media dalam drama Pinocchio

Berbeda dengan I Hear Your Voice, drama yang satu ini menggambarkan bagaimana kehidupan dalam lembaga hukum, bagaimana pula peran orang-orang di dalamnya. Salah satunya, bagaimana beratnya menjadi seorang pengacara dan jaksa.

Yang Aku Takutkan




“Aku bisa menunggu, baik itu seratus atau seribu kali, tetapi hal yang paling aku takutkan adalah kalau aku tidak bisa menunggunya lagi. Aku takut suatu hari jika aku terbangun, ia sudah tidak ada lagi di dunia ini.” – Eul dalam Uncontrollably Fond