Sabtu, 23 Desember 2017

"Saya Masih Ada"


Sumber gambar: Tumblr

“Setelah dipikir-pikir,
Untuk berbakti pada mereka
Bukan hanya karena mumpung mereka masih ada
Tapi mumpung saya masih ada
Di dunia ini.” - Nimen
 

Gloom and Gleam on December



Saya menghela nafas, tidak menyangka sudah pada tahap ini, sudah pada usia segini, sudah bukan lagi waktunya iri-irian dengan postingan moment-moment bahagia orang lain, sudah waktunya bahagia versi kita bisa kita kejar sendiri.

Saya melamun di depan toko merah, melamun yang tersamarkan dengan menatap sedih ke arah air hujan. Bukan sedih karena terjebak hujan di sana, karena memang menyengaja diri terjebak hujan di sana. Saya sedih dengan diri saya sendiri. Minggu lalu judul jurnal saya sudah diterima oleh pak dosen tercinta, lalu tadi siang beliau mengeluarkan sebuah statement yang membuat rasa percaya diri saya terhadap jurnal yang mau saya garap itu jatuh. Saya jadi ragu.

Mungkin banyak orang di luar sana, khususnya di luar jurusan sastra yang tidak tahu bahwa anak sastra itu meneliti suatu kata sampai dibedah, dipotong sekecil-kecilnya. Bukan sastra Indonesia, tapi sastra Inggris yang saya jalani.

Awalnya penelitian saya terhadap nama-nama tempat rekreasi, lalu karena sebuah pernyataan yang baru saja dikemukakan pak dosen itu saya menganggap judul saya salah. Sementara itu, keesokan harinya tiga tahap jurnal harus segera dikumpulkan. Tadi kepikiran sih, disarankan juga oleh teman saya untuk meneliti brand alat tulis kerja makanya saya ke toko Merah yang merupakan toko alat tulis kerja. Saya catat merek-merek alat tulis di sana. Sampai karena tidak enak karena tidak beli apaun, saya putuskan untuk beli origami, padahal di kamar masih banyak origami. Ah, dodol.  Dan kecewa karena cat air snowman yang begitu terkenal bisa-bisanya tidak ada di toko sebesar itu. Saya nekat langsung melakukan observasi padahal saya belum mengetahui apakah judul jurnal saya yang baru ini akan diterima atau tidak. Esoknya bapaknya ngomong, “kalian kok semester lima masih ada matkul critical listening?” habis bapaknya bilang gitu, kami semua syok. Jangan-jangan selama ini bapaknya mengira kami itu anak semester lima, makanya dikasih tugas semumet ini.

Sebelumnya mau mereview dulu apa yang sudah terjadi selama setahun ini. Drama tangis dan bahagia. Di tahun ini banyak terjadi kegalauan, dihadapkan dengan banyak tawaran pilihan yang baik dalam waktu yang bersamaan, dan oh – hai ini dia yang bisa bikin saya nangis selain karena kaget diklakson kencang banget.

Sempat ada perasaan pasrah saat terjadi pembobolan di tempat tinggal saya, dan saya masih punya hutang tulisan tentang tragedi yang satu itu. Tetapi, Allah Maha Baik dan membuat airmata saya menetes karena kebaikan-Nya itu.

Tahun ini juga banyak sekali pemborosan yang disebabkan sudah punya penghasilan sendiri. Oleh karena itu saya sedang bertekad menantang diri untuk menahan diri tidak membeli buku sepanjang 2018 (kecuali buku kuliah, of course) dan membaca semua buku yang sudah saya beli selama ini, tapi mampukah saya? Ya, itu adalah saya. Manusia dengan sejuta tekad, soal bagaimana nantinya itu urusan belakangan. Saya malu kalau ditanya berapa jumlah buku yang sudah saya baca sepanjang tahun 2017 ini? Hasilnya sangat jauh dari apa yang saya targetkan di awal tahun.

Tahun 2018 saya berusaha untuk tidak boros dan rajin menabung, masalahnya saya tidak tahu mau menabung untuk apa, jadi kurang motivasinya untuk menabung itu. “Lah kan orang menabung memang bukan untuk apa-apa, tapi disimpan kalau tiba-tiba ada keperluan mendadak, emang gitu gunanya tabungan.” Ceramah Mas Gun kepada saya. Ya ampun, benar juga, ya. Habis itu Mas Gun geleng-geleng kapala.

Menyemogakan

Sumber gambar: Tumblr


Kau adalah –
Apa yang dibanggakan di atas angan
Apa yang ditumbuhkan dalam bait doa
Apa yang ditunggu oleh semesta

Semoga saya adalah juga –
Apa yang dibanggakan di atas angan
Apa yang ditumbuhkan dalam bait doa
Apa yang ditunggu oleh semesta

Namun takdir –
Masih dalam genggaman Tuhan
Belum Ia serahkan

Selasa, 12 Desember 2017

Cantik Itu (Pernah Punya) Luka



“Menjadi cantik seperti dia itu enak, ya. Bisa menjadi apa saja dan diterima dimana saja.”

Saya hanya tersenyum mendengar seseorang mengomentari salah satu teman saya yang cantik. Dia memang mendapatkan anugerah kecantikan yang luarbiasa, saya mengakui itu. Orangnya baik dan menyenangkan, tetapi orang-orang di luar sana tidak banyak yang tahu apa yang dihadapi oleh teman saya yang cantik itu. Orang-orang tidak tahu tentang masalah yang ia punya, masalah yang ia hadapi, orang-orang tidak tahu bahwa dari kedua matanya yang bening itu, ia pernah berderaikan airmata di hadapan saya. Kisah hidupnya yang memilukan tetapi akhirnya ia syukuri dan membuatnya tumbuh menjadi gadis cantik yang menyenangkan.

Saya suka sedih melihat orang-orang yang iri dengan kecantikannya. Sedih melihat fakta yang samar bahwa orang-orang itu kurang menyukuri apa yang diperoleh dalam hidup mereka. Mereka tidak tahu apa-apa, mereka tidak tahu bahwa mereka memiliki suatu ruang yang tidak didapatkan oleh gadis cantik itu.

Jika saya membayangkan menjadi gadis cantik itu, saya tidak tahu akan bagaimana perasaan saya, mampukah saya menghadapi hal serupa? Mampukah saya tetap mengembangkan senyuman di setiap waktu? Mungkin Allah ciptakan kecantikan untuknya agar ia tak kesepian (sebab kecantikan memang menjadi salah satu faktor yang membuatmu memiliki banyak teman), kesepian yang hanya dia yang mengerti. Saya sebagai temannya hanya selalu berusaha memahami kesepian yang dialaminya.

Saya sebagai kawannya, saya lebih tahu dari orang-orang di luar sana yang menatap iri dengan prasangka-prasangka buruk lainnya terhadapnya. Namun, saya lihat dengan ikhlas ia tetap mengembangkan senyumannya.

Tanyakan Hatimu, Perasaanmu Itu Harga Mati Kah?



Pernahkah membayangkan bahwa dia yang menolakmu boleh jadi juga pernah dalam posisimu, posisi dimana hatinya dipatahkan, harapannya dipupuskan?

Lalu, mengapa ia kini menolakmu meski ia sadar bahwa penolakan itu pahit? Semua orang juga tahu bahwa penolakan adalah fakta yang menyakitkan.

Tidakkah kamu berpikir betapa ia juga berjuang untuk menyembuhkan lukanya sendiri, memilih menutup diri? Kini ia berjuang untuk hatinya sendiri, mempertahakan agar tak dijangkau siapapun. Kini ia menarik diri dari keramaian, dimana dalam keramaian tidak sengaja menyakiti adalah hal yang biasa terjadi.

Suatu pepatah mengatakan bahwa kamu boleh patah hati tetapi jangan menutup hati. Tahukah kamu bahwa boleh jadi ia menutup hati sebab sedang ingin membenahi hatinya, ia ingin merapikannya untuk tamu yang baru. Ia sedang lebih mempersiapkan hatinya. Bagi beberapa orang, menerima orang baru dalam hidup mereka bukanlah hal mudah, apa lagi menerima dalam hati mereka.

Sebagai manusia, wajar bila kita berlomba-lomba memberikan kesan terbaik demi mendapatkan tempat di hati orang lain. Sebagai manusia, bagaimanalah cara kita agar kita selalu punya tempat di hati setiap orang yang kita temui.

Tempat seperti apakah itu? Tempat dimana kamu menyimpan kenyamanan, ketertarikan untuk berbicara dengannya, keinginan untuk bertemu kembali, bahkan mempercayakan sesuatu antara satu sama lain. Bagi yang perasaannya tertolak, tengoklah ke sisi yang lain. Apakah perasaanmu itu sungguh harga mati untuk sekarang ini? Bukankah banyak hal lain yang lebih penting?

Bangunlah suatu percakapan, belanjakanlah waktu dengan hal-hal berguna yang menyenangkan, pergilah ke jalanan, intiplah langit, goreskan hal-hal baik di bumi. Kamu masih punya banyak kesempatan untuk mengurusi hal-hal baik, selain mengurusi perasaanmu sendiri yang tiada ujungnya, yang hanya melelahkanmu.

Rabu, 29 November 2017

Oleh Karena Itu Saya Menulis #2



Sebuah kisah ini datang dari seorang dosen saya. Sebut saja namanya Ibu Indah. Beliau berkawan dengan Ibu Trisna dan Ibu Jihan.

Mereka diberi kepercayaan mengandung buah hati di waktu yang bersamaan. Ibu Indah adalah yang memiliki usia kehamilan paling muda dibandingkan dua dosen lainnya, Ibu Trisna dan Ibu Jihan. Ibu Trisna, selain menjadi teman sesama dosen meski di fakultas yang berbeda, beliau juga merupakan tetangga Ibu Indah yang mana rumahnya selalu Ibu Indah lewati ketika beliau mau pergi.

Sementara itu, Ibu Jihan adalah dosen di fakultas yang sama, menjadi teman ngidam berbarengan, teman makan siang bersama, dan tempat berbagi hal lainnya. Ibu Jihan merupakan dosen senior dengan pendidikan yang lebih tinggi dibanding dosen lainnya, selain itu beliau hamil anak ke-empat, tiga anak pertamanya adalah berjenis kelami laki-laki, beliau berharap anak ke-empatnya ini adalah perempuan. Berbeda dengan Ibu Indah yang bertahun-tahun menikah, mengalami tiga kali keguguran, dan kini menjadi awal hamil kembali yang nantinya sang bayi akan menjadi anak pertamanya.

Manusia hanya bisa menjalani apa yang Allah telah tetapkan dalam garis kehidupan. Ketiga dosen tersebut tentunya berharap dapat menyelamatkan bayi serta diri mereka sendiri, namun dua di antara ketiga dosen tersebut menghembuskan nafas terakhirnya.

Ibu Jihan meninggal dunia, namun bayinya selamat. Bayinya perempuan, seperti yang diimpikannya. Sementara itu, bayi Ibu Trisna tidak terselamatkan, lalu selang dua minggu kemudian beliau meninggal dunia menyusul bayinya.

Apa teman-teman bisa membayangkan perasaan Ibu Indah? Saat-saat menjelang kelahiran anak pertamanya diterpa dua kabar duka sekaligus. Beliau panik, cukup depresi menerima kenyatan kedua temannya telah meninggal dunia. “Oleh karena itu, saya memutuskan untuk menulis untuk membuat diri saya menjadi relax.” Ujarnya kala itu.