Minggu, 26 Maret 2017

[All About Life] : Gondrong



Jadi, beberapa minggu yang lalu saya satu kelas dengan kakak senior saya yang sudah semester atas-atas. Saya kenal dia karena kami sama-sama dari Sulawesi. Di kelas saya, hanya saya dan Dodi yang berasal dari Sulawesi. Kami berdua kenal dengan Kak Luthfi, kakak senior itu. Waktu di kelas, saya sempat tidak mengenalinya karena kak Luthfi yang saya kenal rambutnya gondrong. Hari itu, senior saya itu wajahnya bersih bersinar gitu, deh. Sudah cukur rupanya. Dan terlihat lebih muda.

“Nin, Luthfi, Nin. Na cukurki rambutnya.” ( Nin, Luthfi, Nin. Dia nyukur rambutnya. ) Kata Dodi menyebut kak Luthfi tanpa ‘kak’, tidak sopan. Sambil ketawa pula dia bicara. Mereka benar-benar akrab rupanya.
“Maaf kak, tadi tidak kukenaliki, kah kita cukur rambut ta’.” ( Maaf kak, tadi aku nggak ngenalin, soalnya kakak cukur rambut, sih. ) kata saya. “Kenapaki cukur?” ( kenapa kakak cukur?) tanya saya.
“Iya, kucukurki.” ( Iya, aku cukur, nih. ) kak Luthfi tidak memberitahu alasannya. Dodi masih tertawa.
“Kah, maui kodong makan es krim, tapi gondrongki. Jadi, bagaimana itu di’? terus, mauki juga pesan milkshake, lebih-lebih bemana, kah gondrongki.” ( Karena kasihan tahu, dia mau makan es krim, tapi dia gondrong. Jadi, gimana gitu, yah? Terus, dia mau juga pesan milkshake, apa lagi gimana gitu, soalnya dia gondrong. ) Dodi menjawab sambil ketawa lagi.
“Dodi, awas kau nah sampai kau cukur itu rambutmu, awasko!” ( Dodi, awas ya kamu sampai kamu cukur rambutmu, awas kamu! ) seru kak Luthfi ke Dodi, ia berkata begitu karena Dodi sendiri gondrong rambutnya, benar-benar gondrong. Karena gondrong itulah, Dodi kalau pakai shampoo pakainya shampoo Tresemme. Dia sendiri yang bilang. 

Kamis, 16 Maret 2017

[Catatan Untuk Diri Sendiri] : Menjawab Segala Kemungkinan



Kenapa kita senang menuliskan banyak hal?

Mungkin untuk menjawab resah di hati seseorang. Mungkin di suatu tempat, entah dimana, ada orang-orang yang hatinya tak mampu bertanya tentang diri kita, tentang apa yang sedang kita lakukan, atau hal-hal seperti apa yang kiranya sering hinggap di pikiran kita. Mungkin di suatu tempat entah dimana ada orang-orang yang merindukan kita tetapi tak sampai batinnya untuk menyampaikan. Mungkin di suatu tempat entah dimana ada orang-orang yang mencemaskan kita tetapi tak bisa pula mendekat karena prinsip-prinsip yang mereka yakini. Mungkin di suatu tempat entah dimana ada orang-orang yang doanya tak pernah putus untuk kita, dan suatu hari ketika kita menyadarinya, kita akan sangat berterimakasih untuk itu.

Tetapi, ada hal lain tentang mengapa kita menulis? Ingin menyentuh hati orang-orang, sesederhana itu mengapa kita menulis. Selain untuk menjawab keresahan di matanya, kerinduan di hatinya, dan cinta yang orang-orang miliki untuk kita. Maka, menulislah, sentuhlah hati dan jiwa mereka dengan cara yang berbeda.


[Catatan Untuk Diri Sendiri] : Ketika Jiwa Ditampar Jiwa



Saya menulis tulisan ini diiringi nafas yang memburu dan pikiran yang menembus masa yang jauh. Mendengar soal kabar seorang teman menikah, sepertinya hal itu makin menjadi buah bibir yang biasa saja didengar oleh kedua telinga saya. Tetapi, beberapa hari yang lalu, bukan teman biasa yang akan menikah. Teman ini adalah teman dekat saya, teman seperjuangan saya, teman yang dengannya dulu saya selalu berbagi cerita tentang hal gila atau apapunnya, meski setelah lulus sekolah kami masih sempat kontekan tetapi ia tak menceritakan detail tentang kehidupannya yang sekarang ini. Teman yang lain bercerita bahwa teman saya yang satu ini merubah penampilannya dengan hijab besar atau biasa yang disebut-sebut cadar, dan belum lama ini ia telah dilamar oleh teman sekolah dasarnya.

Kemudian cek cek timeline, muncul foto sebuah geng yang hitz luar biasa di sekolah jaman SMA dulu. Tetapi, ada satu anggotanya yang berbeda. Ya, salah satu dari mereka kini menggunakan cadar. Sebagai seseorang yang menjadi saksi hidup seseorang lainnya di masa lalu, bukankah membuat merinding ketika melihatnya kini menjadi sosok yang berbeda?

Jikalau sebuah niat mampu dilihat oleh mata, dan kita ketahui bahwa lebih dulu kita yang berniat dibandingkan dia, akan tetapi yang benar-benar melakukan hal itu lebih dulu adalah dia, bukankah ini membuat kita merasa yang wah dia selangkah lebih dulu dibanding kita. Meski ini bukan soal menang dan kalah bahkan perbandingan. Meski sebuah hijab bukan lagi menjadi tolak ukur seseorang, karena di zaman sekarang ini hijab sudah menjadi bagian life style or fashion maybe, begitu kira-kira yang disampaikan oleh ustadzah saya tempo hari.

Saya cek cek social media, masyaAllah yang tadinya selalu mengupload foto selfie kini tak nampak lagi satupun wajahnya ia perlihatkan di sana. Hal ini membuat saya seperti dihantam sesuatu yang entah apa, mungkin dihantam keyakinan saya sendiri.

[Catatan Untuk Diri Sendiri] : Sama Denganmu



Ya, saya juga sama denganmu. Ketika melihat orang-orang di luar sana memamerkan seseorang yang dicintainya. Tetapi, tak pantas kamu berkata aku ini bisa apa?

Ya, saya juga sama denganmu. Ketika melihat orang-orang di luar sana menciptakan bahagia versi mereka sendiri, sementara kamu sibuk menciptakan bahagia versi kamu sendiri dengan memilih menjaga hatimu dari perasaan-perasaan yang tak bertanggungjawab.

Ya, saya juga sama denganmu. Tetap percaya pada suatu hari dimana kita akan seperti mereka juga dengan kebahagiaan yang berbeda, karena kita mencinta sebab sang Pencipta bukan mencipta bahagia itu sendiri lalu merusak rambu-rambu kehidupan yang ada. Kita tidak seperti itu.

Ya, saya juga sama denganmu. Tetap percaya bahwa suatu hari tidak akan lagi seorang diri belanja kebutuhan sehari-sehari di supermarket, tidak akan lagi seorang diri menikmati wifi di kafe-kafe guna blogging dan melakukan bisnis online, tidak akan lagi seorang diri menyantap gulali di pasar malam, tidak akan lagi seorang diri makan ayam bakar di gerobak Mas Yanto, tidak akan lagi seorang diri memilih buku-buku di rak-rak toko buku, tidak akan lagi seorang diri ke perpustakaan kota, tidak akan lagi seorang diri menikmati weekend di tenggara Tugu Yogya, tidak akan lagi seorang diri jogging di Stadion Maguwo ataupun makan lotek seorang diri di warung Colombo, tidak akan lagi seorang diri dalam berbagai perjalanan bahkan tidak akan lagi seorang diri bersujud di atas sajadah di dalam kamar.

Dan suatu hari airmata saya akan jatuh menyaksikan bahwa keyakinan yang kita punya adalah sama. Melihat arah yang sama, menggenggam tujuan yang sama. Bagaimana rasanya dicintai seseorang yang mencintaimu karena cintamu kepada Tuhanmu?

Kamis, 02 Maret 2017

[AllAbout Life] : Tukang Lalu Lintas



Beberapa hari yang lalu, saya kembali pulang melewati jalan tikus tetapi sudah seperti jalan kerbau. Di beberapa titik, macet sudah menetap. Meskipun namanya jalan tikus, tetapi polisi tetap bertugas di sana untuk memastikan lancarnya arus kendaraan. Tetapi, hari itu polisi digantikan oleh tukang lalu lintas, semacam tukang parkir yang lagi nganggur dan berbaik hati membantu para pengendara yang kadang membabi buta itu.

Kemudian saya berpikir, wah, ternyata selain penulis, ada pekerjaan sederhana lainnya yang memberi kesan berkuasa untuk mengatur dan memerintah.

Saya membayangkan penulis merupakan pekerjaan yang memiliki kuasa penuh atas tulisannya tetapi masih di dalam rambu-rambu. Penulis bisa memerintahkan apapun terhadap tokoh dalam ceritanya, membuat alur sesukanya, dan ia juga yang memberi takdir untuk akhir ceritanya.

Sama halnya dengan tukang lalu lintas itu, ia mengatur jalan dan memberi perintah pada kami layaknya ia adalah sebuah lampu merah dan kami semua menurut saja.

Kadang, tanpa sadar, ada kata terimakasih yang terucap di dalam hati untuk seorang tukang lalu lintas. Sebab, secara tidak langsung ia membuat saya tiba sebelum adzan Magrib berkumandang, sehingga saya bisa melaksanakan perintah Tuhan saya dengan tepat waktu. Hal sederhana, kadang lebih mampu membahagiakan.