Rabu, 24 Mei 2017

[Catatan Untuk Diri Sendiri] : Menjaga Apa yang Dijaga



Orang-orang punya bagian dalam hidupnya yang ia rahasiakan. Orang hanya bisa menilai kamu dari luar kamu, dari apa yang kamu tampilkan. Mungkin kamu yang jalan-jalan terus, kamu yang foya-foya terus. Mereka tidak bahwa mungkin saja kamu menabung dan sudah merencanakan itu semua, mereka tidak tahu kesibukan kamu, kepenatan kamu, mereka tidak merasakan perasaan tertekan seperti yang kamu alami. Mereka tidak tahu kehidupan yang kamu jalani. Mereka bahkan mungkin tidak tahu perencanaan kamu pada lima tahun yang lalu.

Bahkan mereka sok tahu menebak-nebak orang yang berada di dalam hatimu. Orang yang mungkin namanya kau sebut dalam doamu. Orang-orang menyuruhmu berhenti bertingkah, siapa yang bertingkah? Siapa yang membawa-bawa nama perasaan? Apa orang-orang itu berpikir dalam hidupmu kau sempat melakukan hal remeh-temeh seperti itu?

Mereka tidak tahu bagaimana seseorang memendam amarahnya karena mereka telah mencampuri urusannya. Mengoyak-oyak pribadinya, mengganggu privasinya. Mereka mencoba menggali-gali rahasia kamu di depan matamu. Tetapi, mereka tidak lekas paham juga bahwa matamu tengah menentang mereka.

Beberapa orang mengatakan bahwa jangan salahkan seseorang yang jatuh cinta, jatuh cinta membuatnya wajar menggali-gali semua hal tentangmu.

Lalu, bagaimana bila orang yang kau cintai itu benci untuk kau cari tahu tentangnya? Jangan salahkan ia bila kau berakhir dengan dibenci olehnya. Kau tak pernah tahu bagaimana ia saat tengah murka. Benci bisa berubah menjadi cinta? Tolong jangan membercandaiku dengan kalimat seperti itu.

[All About Life] : Shalat Jum'at



Rasanya adem tiap kali melintas di jalan di waktu-waktu shalat Ju’mat. Melihat seorang pria dengan wajah yang terbasuh air wudhu, pakaian yang rapi, dengan tatapan teduh berjalan menuju Masjid untuk melaksanakan shalat Jum’at.

Hari itu membuat saya teringat pada salah satu teman masa kecil saya. Sekitar 6 tahun yang lalu kami sempat kontak-kontakan. Kami cukup dekat dan kami juga sudah saling tahu tabiat dan latar belakang masing-masing. Waktu itu kami bercerita macam-macam. Saya bertanya tentang kabarnya dan bagaimana ia sekarang menjalani hidupnya. Waktu itu kami masih menjadi bocah SMP. Dia bilang pada saya bahwa dia bertambah nakal. Saya bertanya mengapa ia tambah nakal, katanya ia sering main motor, balapan, sempat beberapa kali kecelakaan. Dia dengan santainya menceritakan itu pada saya. Menurut saya itu memang kelakuan yang nakal, karena saat itu kami masih berusia sekitar 14 tahun. Cukup sedih sih mendengar dia yang seperti itu. Lalu dia menambahkan, “Lebih parah, Jum’at kemaren gua juga nggak ikut shalat Jum’at.” Begitu katanya.

Hari ini saya merenung.

Berarti di usia kami pada saat itu, ia sudah memahami bahwa shalat Jum’at adalah wajib bagi laki-laki, ia berkata seperti itu seolah ia menyesali perbuatannya bahkan ia mencap bahwa lalai karena  tidak melaksanankan shalat jumat termasuk dalam kenakalan yang dilakukan olehnya. Berbeda halnya dengan laki-laki muslim yang pada saat di jam-jam shalat Jum’at ia malah bersantai, tidak bersegera menjawab panggilan Allah, bahkan meremehkan kewajiban shalat.

Meski, saya tidak tahu alasan dia tidak pergi untuk shalat Jum’at itu karena apa, tetapi saya percaya bahwa dia menyesali perbuatannya.

Ah, sudah lama sekali kami tidak kontakan. Tapi, saya tahu dia sekarang kuliah dimana, dan mungkin dia tahu juga saya kuliah dimana. Saya percaya, suatu saat nanti kami bertemu kembali. Semoga benar-benar bisa menjadi teman lagi, sama seperti saat-saat zaman sekolah dasar dulu, kami jajan bareng, taruhan, pinjem gopek, main di padang ilalang, iseng pencet bel rumah orang, ngasal bikin sambal rujak buat adek-adek kelas, minta ongkos pulang sama guru, atau bahkan jalan kaki bareng karena tidak punya uang.

Kamis, 11 Mei 2017

[All About Life] : Menunggu Adalah (Juga) Berjuang



Bulan lalu, saya mengikuti acara launching buku “Menata Kala”, yang dimana di acara itu hadir juga Mas Gun dan Mbak Apik untuk meramaikan acara. Mereka membedah buku karya mereka yang berjudul “Menentukan Arah”. Pada sesi Mas Gun dan Mbak Apik, acara ini justru seperti sekolah pra-nikah, sebab acaranya memang membedah buku tentang pernikahan. Saya sempat menuliskan beberapa point yang mengena di batin saya.

“Mendapatkan anaknya lebih gampang daripada mendapatkan keluarganya.”

Perkataan yang disampaikan Mas Gun ini, menurut saya adalah benar. Mungkin mudah saja kamu mendapatkan dia, tetapi ada rintangan ketika ingin mendapatkan keluarganya. Pernikahan merupakan peristiwa yang melibatkan dua keluarga besar. Kamu bukan lagi hanya memikirkan cara mendapatkan dia, tetapi juga berpikir bagaimana cara mengambil hati orangtuanya, saudara-saudaranya, bahkan kakek dan neneknya.

Dalam pernikahan Mas Gun dan Mbak Apik, ada yang berbeda dengan pernikahan kebanyakan. Mereka menginginkan agar undangan pernikahan mereka adalah barang bermanfaat yang tak dibuang begitu saja, jadilah bentuknya adalah sebuah buku berjudul “Menentukan Arah”. Lalu, Mas Gun membuat himbauan barangsiapa yang ingin ikut merayakan pernikahan mereka, bisa mengirim paket ke rumah berupa buku-buku baru ataupun bekas untuk disumbangkan nantinya. Kata Mas Gun, bayangkan saja jika tiap undangan memberi kado sprei, ada berapa banyak sprei yang nanti diterima? Maka dari itu, beliau membuat himbauan unik seperti itu. Saya cukup takjub dengan idenya itu. Dan hasilnya di luar dugaan Mas Gun, bahkan di kesekian hari setelah pernikahannya, paket-paket buku itu terus berdatangan bahkan beberapa dikirim tanpa nama pengirim. Buku-bukunya pun bagus-bagus sampai kata Mas Gun ia ingin memilikinya, tetapi sebagai amanah ia harus menyumbangkan buku-buku itu seperti yang ia katakan dalam himbauannya.

[All About Life] : Memang Istimewa



“Nina, saya jatuh cinta sama Yogyakarta!”
“Kenapa?” saya ingin tahu alasannya, tentu saja.

“Semalam, saya datang ke angkringan yang berada di depan hotel yang saya inapi. Saya melihat pemandangan yang sangat jarang saya temui. Dalam satu bangku di pinggir gerobak angkringan tersebut, duduk berjejer beberapa orang, dari mulai tukang parkir, mahasiswa, sampai pegawai bank mereka semua duduk bersama dalam satu bangku panjang.” Ia menceritakan dengan takjub. “Kota ini berbeda dengan kota-kota lainnya yang rasa gengsinya begitu tinggi.” Saya menyimak ucapannya, ia masih akan meneruskan.

“Lalu, saya menguping pembicaraan dua orang yang saya ketahui ternyata mereka adalah mahasiwa. Di tempat seperti itupun, di pinggir jalan, mereka membahas  geotermal, bayangkan saja. Di kota lain mungkin bukan itu pembahasannya, tetapi seperti ini misalnya, “Sekarang siapa gebetan lu?” yah hal-hal seperti itu yang saya sering dengar pembicaraan anak mudanya di kota saya. Itu mengapa di sini, kehidupan mahasiswa benar-benar hidup.”

“Iya, itu mengapa saya memilih kota Yogyakarta. Karena semua komunitas ada di sini, tinggal pilih ingin join yang mana. Event-event besarpun selalu ingin mampir di kota Yogya, festival yang beraneka ragam selalu ada tiap bulan, dan yang paling menyenangkan adalah Yogyakarta membuat saya bertemu dengan orang-orang hebat, orang-orang yang menginspirasi, orang-orang yang membuat saya merasa disenangi dan dipercayai, orang-orang yang memiliki tujuan yang sama dengan kita. Yogyakarta memang istimewa.” Saya membalas ucapannya.

Dan kami berdua tersenyum memandang satu sama lain, saling setuju dengan pendapat kami.