Jumat, 02 Juni 2017

[ All About Life ] : J E N U H



Jenuh, suatu perasaan yang sudah saya alami sejak lama. Jenuh dalam bermain sosial media terutamanya. Terlalu rentan megalami penyakit hati, itu salah satu ketakutan yang terpendam dalam batin saya. takut menimbulkan berbagai prasangka dari orang lain juga. Bukan, bukan takut dikomentari. Tetapi, takut membuat orang lain berdosa karena berprasangka yang tidak-tidak.


Saya berkali-kali berniat ingin menutup beberapa akun sosial media yang saya punya. Rasanya kehidupan lebih tenang bila tanpa itu. Jika dahulu, kita pernah baik-baik saja tanpa gadget mengapa pada saat ini begitu sulit tanpa gadget?


Saya bukan orang yang rajin bermain gadget. Saya sering ketinggalan berbagai informasi tentang perkuliahan, bahkan saya memberi password akun mahasiswa saya pada teman saya kalau-kalau ada hal dadakan dari perkuliahan yang memiliki batas waktu dan saya sedang tidak online.


Kebutuhan menjadi penyebab utama saya harus selalu online. Selain soal takut ketinggalan informasi kuliah, orangtua saya berada jauh di sana dan saya perlu tahu kabar mereka dan merekapun perlu tahu kabar saya sebagai anak mereka. Lalu ada hal pekerjaan pula yang sangat membutuhkan bantuan social media.


Mungkin kapan-kapan saya akan menghilang dari social media, khususnya Instagram yang semakin banyak dosa mata di dalamnya, terutama dalam menu explore. Instagram semakin membludak penggunanya dan semakin banyak pencitraan di dalamya, termasuk saya sendiri. Saya yakin, jika orangtua kita tahu apa yang kita lihat di social media tersebut mungkin mereka akan sedih dan kecewa, bahkan tak akan membolehkan kita menggunakan ponsel lagi. (Ini sebenarnya saya membayangkan jika saya menjadi orangtua, sih. Tidak bakal saya belikan ponsel! Tapi kalau ayahnya yang belikan, sama aja bohong -_-)


Tetapi, blog akan selalu menjadi tempat naungan untuk lahirnya tulisan-tulisan saya. sebab, saya tidak tahu siapa yang membaca blog saya, siapa yang selalu berkunjung dan tak pernah pergi #loh, siapa yang diam-diam senang dengan tulisan saya, siapa yang suka mengkritik tulisan saya di dalam hatinya, saya tidak akan tahu itu semua dan tidak perlu peduli juga. Tetapi, di Instagram banyak orang yang saya kenal dan orang yang mengenal saya. Banyak diantara mereka tidak menyukai saya, sebagian yang lainnya mungkin suka.  Terkadang, saya tidak bisa mengendalikan diri saya terkait apa yang saya ingin bagi, apa yang ada di dalam pikiran saya, apa yang orang-orang mesti pahami. Nyatanya, tidak semua orang menyukai, dan itulah social media, menimbulkan ilfeel ataupun justru cinta.


Saya pernah melihat dua video, video tersebut semakin mendorong saya untuk menghapuskan jejak di social media.


Video pertama bercerita tentang seorang pemuda yang tidak selalu memainkan ponselnya. Ia hanya memainkannya di saat-saat tertentu. Dengan kata lain, ia tidak gila bermain ponsel. Di sudut lain, ada seorang gadis cantik yang tengah berjalan kaki. Lalu, keduanya tak sengaja bersenggolan di pinggir jalan saat keduanya tengah berjalan kaki menuju ke tujuan masing-masing. Mereka sama-sama mengucapkan maaf dan saling melempar senyum. Mereka memutuskan untuk berkenalan, dari perkenalan tersebut berlanjut ke hubungan yang serius hingga mereka menikah, memiliki keluarga, menua bersama, dan tutup usia.


 Momen ini lalu diputar ulang ke masa-masa saat mereka berpapasan, seandainya kala itu si pemuda berjalan kaki sambil memainkan ponsel, mungkin matanya tak akan menemukan gadis cantik itu. Mungkin ia tidak akan memiliki keluarga yang sebahagia bila ia bertemu dengan gadis cantik di kala itu. Seandainya ia berjalan sambil memainkan ponselnya mungkin ia sudah kehilangan momen terbaik yang membuat hidupnya menjadi bahagia.


Video kedua bercerita tentang pencitraan yang dilakukan orang-orang di Instagram. Saya lupa isi detail video tersebut, beberapa hal yang saya masih ingat adalah di dalam video tersebut diperlihatkan bagaimana seorang pria tengah menonton artis wanita yang diidolakannya, begitu istrinya masuk, ia mengganti channel, sang istri megambil ponselnya dan berfoto dengan pose sambil mencium suaminya, lalu diunggahnya foto tersebut ke Instagram dengan kata lain untuk memperlihatkan kemesraan mereka. Pada kenyataannya mereka tidak seromantis itu, karena setelah itu si suami menyuruh istrinya keluar kamar karena mengganggunya yang tengah asyik nonton. Ada pula sekelompok anak muda yang tengah hendak makan di restoran. Tetapi, semuanya sibuk memainkan ponsel mereka. Benar-benar sibuk. Lalu, datang seorang pelayan, pelayan tersebut diminta megambil foto mereka berempat untuk nantinya mereka share dengan caption quality time padahal setelah gambar diambil, mereka kembali sibuk dengan gadget mereka lagi. Sama sekali tak ada satupun dari mereka yang bertukar cerita. Selain itu, ada pula seorang pria yang tengah ingin self-mirror atau mengambil foto dengan bercermin, tetapi karena ia merasa kemejanya kurang oke maka ia mengganti kemejanya berkali-kali mungkin juga berjam-jam hanya untuk mendapatkan hasil foto yang terbaik. Ada pula seorang wanita yang ingin memamerkan deretan giginya, sebelum berfoto ia sempatkan dulu untuk sikat gigi.


Di dalam video terlihat juga seorang pria yang ingin mendapatkan komentar “hot”. Malam itu ia tengah ada di rumahnya, duduk di sofa, lalu tiba-tiba berganti busana, merias wajahnya, memakai bulu mata palsu, dan memasang wig di kepalanya. Ia berdandan ala wanita, tetapi wanita dengan ekspresi hot. Lalu ia selfie dan dibagikannya ke instagram. Mendapat banyak like dan komentar membuatnya terpingkal-pingkal sendiri di sofa, lalu ia membuka riasan dan wignya. Hal yang terakhir yang saya ingat, ada seorang pegawai wanita yang memiliki meja kerja yang berantakan, tetapi karena ia ingin memoto mejanya, maka disusunnya dengan sangat rapi.


Saya banyak belajar dari video yang pelajarannya cukup tersirat ini. Sayangnya, pengendalian diri kita terhadap social media rasanya masih sangat kurang. Khususnya seperti saya yang menurut saya pribadi ini sudah menjadi candu, dengan tekad suatu saat bisa berhenti dari ketergantungan ini. Tetapi, untuk menulis di blog tidak bisa saya tinggalkan. Ini menjadi salah satu sarana untuk menyalurkan hati dan pikiran saya.


Saya pernah membaca postingan seseorang bahwa skill dasar wanita adalah menulis, karena emosi yang dipendam dan tidak disalurkan akan rentan membuat kita menjadi kasar dan emosional. Jadi, selamat menulis! Selamat menyalurkan isi hati dan pikiran! :)

2 komentar:

  1. well, i feel the same way. kehidupan online mau gimanapun semuanya fana. it's fake, sometimes. dan, ya. kita ga bisa menghindar dari itu karena orang2 ga berkeinginan sama kaya lo. kalo gua boleh pilih, jujur gw lebih milih pake hape biasa yang bisa nelepon sama sms. i tried it sooo many times, kayak nyobain copot kartu internet dari hape dan ga berkutat dengan internet dan sosial media. and yeah. susah. atau udah berkali kali temporary deleted my instagram account, tapi akhirnya gw aktifin lagi karena yaaa entah mengapa. kaya suatu ketergantungan gitu.

    dan lo tau, gw delete tumblr gua hari ini:') because, damn! it's all just about my fuckin bad feeling. such a negativity thoughts. and yeah. i deleted it. muak gua liatnya:')

    dan yeah, kehidupan online seems kinda like interesting to me before, tapi sekarang gatau kenapa udah muak, gasuka. tapi ya tadi udah ketergantungan:') so yeah just let's see what will happen next:)

    nice post, btw.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga punya hp senter2 gitu wkwk, tapi malah jadi sama sekali gak terpakai. aku make itu untuk menjaga nomorku agar tetap aktif untuk nomor WA dan privasi berbagai akun, problemnya adalah karena nomor internet harus gonta ganti karena smartphoneku hanya bisa diisi satu sim. hp senter2nya malah jarang dipakai, kasihan.*malah curhat*

      sulit sekali melepaskan diri dari social media, karena di sisi lain di sosmed juga banyak hal-hal positif yang dishare oleh orang-orang baik. hampir setiap pelajaran yang didapakan karena dari hasil membaca pesan status atau caption orang lain. kembali ke diri kitanya, mau mengonsumsi hal baik atau buruk dari social media. :) intinya, kita sendiripun berbagilah tentang hal-hal yang baik saja, hehe.

      Hapus