Senin, 31 Juli 2017

#3 A Story From Jogja: Perempuan di Tenggara Tugu Yogyakarta



Iyus

Siapapun mungkin akan mengira bahwa kami anak-anak muda yang duduk-duduk di utara tugu Yogyakarta bukanlah asli warga Yogyakarta. Ya, kami sering menghabiskan malam di luar kamar kost kami yang mungkin pengap dan membosankan. Kami menghabiskan banyak waktu kami di luar tembok-tembok kost, menikmati suasana Yogyakarta dalam segala kondisi menurutku adalah pilihan terbaik.

Malam ini aku menjadwalkan diri untuk mampir ke suatu perpustakaan jalanan yang rutin diadakan oleh sebuah komunitas buku yang dilakukan oleh mahasiswa dari beragam universitas yang ada di Yogyakarta. Buku memang menjadi alasan kehadiranku, tetapi perempuan itu menjadi alasan lebih utama mengapa aku memilih malam ini untuk bertandang ke sini.

Dia, perempuan yang selalu mampu untuk kuajak berdiskusi tentang apapun, tentang alam, dunia, buku, pendidikan, politik, pariwisata, apapun itu. Perempuan yang tentu sulit kutemukan di lingkungan lain.

Aku melirik jam tanganku, ia belum juga tiba. Mungkin masih dalam perjalanan. Aku menyibukkan diri dengan melihat-lihat buku yang ditawarkan di perputakaan jalanan itu. Diam-diam kuperhatikan orang-orang di sana. Beberapa dari mereka membuka diskusi, beberapa lainnya tak tertarik dan memilih untuk mengobrol sendiri.

Sesaat lampu-lampu yang terpancar dari kendaraan yang lewat menyilaukan pandangan. Dari balik cahaya-cahaya itu aku menemukannya. Ia datang dengan senyuman di wajahnya. Ah, selalu begitu. Setiap kali kulihat kedatangannya. Tetapi, matanya tak menyorotiku. Ia menegur seseorang, seseorang yang lain, seorang pria berkulit terang dengan kacamata di wajahnya. Sesaat aku menyadari mungkin ia tak melihatku karena aku memakai jaket dan topi yang cukup menenggelamkan diriku.

Sebenarnya jarak dudukku dengannya cukup dekat tetapi ia terlihat tenggelam dalam obrolan bersama pria berkacamata itu. Mereka sepertinya sudah akrab sejak lama. Sesekali tawa menyelingi obrolan keduanya. Aku masih saja tenggelam ditikam pekatnya malam dan kebisingan jalan raya.

Segerombolan pengamen tambah meriuhkan suasana, aku masih berpura-pura sibuk dengan buku yang kubaca, sedang mungkin yang lain menolehkan pandangan pada gerombolan pengamen yang cukup menyita suasana. Oh, rupanya perempuan itu menoleh juga tepat saat kulayangkan pandanganku ke arahnya. Terimakasih dalam hati kuhaturkan pada gerombolan pengamen tadi, kedatangan mereka membuat perempuan itu menoleh ke sini.

“Hai! Apa kabar?” matanya berbinar. Pada akhirnya perempuan itu menemukanku, seorang mahasiswa yang senang mendaki gunung namun seringkali tersesat di hutan buku kemudian mengikhlaskan diri untuk terus tersesat demi selalu bertemu dengan perempuan yang memilih tenggelam diantara beribu buku.

Rabu, 12 Juli 2017

[Catatan Untuk Diri Sendiri] : Mereka yang Memiliki Banyak Pilihan




Banyak orang mengatakan enak sekali seseorang yang memiliki banyak pilihan. Dibalik itu, mereka tak tahu betapa seseoramg yang memiliki banyak pilihan seringkali sibuk membanding-bandingkan pilihan yang satu dengan yang lainnya. Tak jarang pula ia tersesat sendiri dalam pilihannya.

Terkadang, hanya memiliki satu pilihan adalah yang terbaik, sebab berarti bisa jadi satu-satunya pilihan itu adalah yang terbaik yang sudah Allah takdirkan.