Kamis, 31 Agustus 2017

"Tolong Maafkan Kami.."



Hari ini,
Ketika diberi nafas untuk bisa menikmati kampung halaman,
Mendengar suara takbir yang menggema,
Bersiap-siap menunggu bagian daging yang sebentar lagi tiba,
Dengan berseri-seri memikirkan kiranya akan dimasak apa,
Sembari menunggu, televisi menyala,
Puluhan film dalam laptop bisa dinikmati kapanpun,
Pun novel, terserah kapan saja ingin dibuka lembar demi lembarnya,
Memilah – milih playlist hendak memutar lagu apa,
Sesekali tersenyum dan tertawa, bercanda dengan para saudara,
Rasanya tak ada apa-apa,
Tak ada yang genting yang terjadi.


Sementara itu,
Di waktu yang sama,
Namun di belahan bumi lain,
Ketentraman yang dirasakan di sini hanyalah imajinasi di sana,
Rumah – rumah dibakar tanpa belas kasihan,
Wanita diperkosa, pria dan anak-anak dibantai tanpa perasaan,
Kelaparan, kepanikan, memikirkan bagaimana cara mempertahankan,
Katanya tak ada harapan,
Satu – satunya jalan,
Hanyalah menuju ke perbatasan,
Pun itu bila diterima warga negara lainnya.


Muslim Rohingya,
Tolong maafkan kami,
Yang masih sibuk dengan diri sendiri,
Lebih lama di depan televisi,
Ketimbang menengadahkan tangan mendoakan.


Tolong Maafkan kami,
Hanya mampu menyaksikan kepedihan ini diantara gadget-gadget kami,
Namun larut juga dalam iklan-iklan yang tak kalah menghebohkan,
Atau hal-hal viral yang sebenarnya tak perlu diviralkan.

[ Catatan Untuk Diri Sendiri ] : Suatu Ketika



Ketika malas membersihkan tempat tidur,
Teringat mereka yang tidur beralaskan batu.


Ketika malas mencuci baju,
Teringat mereka yang bajunya itu-itu saja.


Ketika malas membersihkan rumah,
Teringat mereka yang atap rumahpun setengahnya langit.


Ketika malas makan,
Teringat mereka yang tak punya serecehpun untuk beli sebungkus nasi.


Ketika malas mandi,
Teringat mereka yang untuk cuci muka saja airnya tak layak.


Ketika malas jalan sama teman,
Teringat mereka yang kesepian.


Ketika malas mengunjungi kampung halaman,
Teringat mereka yang sudah ditinggal tiada oleh orang-orang tercintanya.


Dan pekan ini,
Ketika satelit bermasalah, menyebabkan ratusan ATM offline,
Berdampak pada keuanganku juga, sebab orangtuaku tinggal di sebuah kota kecil, di Sulawesi Tengah, di sana ATM nya hampir semua bermasalah.
Aku menghela nafas panjang, dan kusadari bahwa aku masih bisa bernafas.
Ah, artinya tak ada kesempatan untuk mengeluh.


Mari berlatih cara mempertahankan hidup.
Lari ke rumah nenek kakek mungkin salah satunya.
Lagi-lagi bersyukur, mereka masih ada.
Akhirnya senyum di bibir merekah.
Nikmat Tuhan yang mana lagi yang hendak kau dustakan?


Selamat berqurban. Jangan lupa berbagi dan bersyukur!

Rabu, 30 Agustus 2017

Masih Edisi Liburan [yang kurang berfaedah]



Sebenarnya saya sudah tumbang dari hari selasa pekan lalu. Tapi, Kamisnya akhirnya keluar juga dari sarang karena kebelet beli buku. Kembali mendekam di sarang dan baru keluar lagi Minggu sore untuk COD antar pesanan jilbab dan sekalian pergi ke pasar.

Sisa-sisa hari libur ini jadi kurang berfaedah karena sakit. Ngomong-ngomong, liburan saya panjang sekali, dari lebaran sampai ketemu lebaran lagi. WQWQ. Jadi, hari-hari terakhir liburan saya bakal pulang kampung lagi dan membuat ketidakfaedahan ini segera berakhir!

Jadi, seorang teman laki-laki saya pernah bilang, “kamu itu cewe, ada masanya kamu berdiam diri di tempat tidur dan sakit perut.”

Mungkin kodratnya perempuan memang begitu. Sebenarnya saya sudah lama tidak seperti itu alias tetap penuh energi di hari-hari yang you know lah what I mean, tapi minggu ini saya merasakan yang dia katakan. Seharian cuma bisa di tempat tidur, gerak dikit nggak enak, bangun dari tempat tidur malah sakit kepala. Jam makan terlewati. Lampu sampai malam nggak dinyala-nyalain. Iyalah, bangun aja susah. Gimana ya, dilema gitu. Saya malas tidur, tapi mau ngapa-ngapain juga nggak bisa, sampai akhirnya ketiduran, kebangun, terus ketiduran lagi.

Banyak orang yang berlalu lalang di dalam hidup kita. Tetapi, tidak semuanya bisa peduli seperti yang kita harapkan. Orang-orang mungkin tahu saya paling tidak suka ditanya-tanya. Jadi, tidak ada yang bertanya juga saya kenapa di hari itu. sampai seseorang yang saya harapkan akhirnya pulang. Saya tinggal di asrama, dan tiap orang memiliki rasa peka dan peduli yang berbeda-beda.

Orang ini baru saja pulang bekerja, kelelahan sudah pasti saya tahu. Saya menebak begitu dia masuk ke kamar saya, pastilah dia bertanya, satu, “kamu kenapa?” kedua, “sudah makan belum?”

Senin, 28 Agustus 2017

Dilema Nadhira



Apa kabar, nak? Sedang sibuk apa sekarang?
Besok kalo ada waktu main ke rumah ibu, ya. Ibu kangen.

Aku menghela nafas.

Menunduk.

Mengamati kedua kakiku yang terus melangkah.

Ingin mengeluh, tapi kemudian malu. Malu pada mereka yang hidup dalam kesusahan.

Masalah perasaan, hal yang dinamis.

Ah, selalu begitu kata hati. Menghibur diri sendiri.

Akhirnya kuputuskan mengangkat wajahku. Terik mentari menyilaukan. Kupasang kacamataku, membentengi diri. Manusia pandai membuat benteng bahkan meski di dalam diri telah hancur berkeping-keping. Kupercepat langkahku.

***

Ibu memelukku. Erat sekali. Berharap ia tak mendengar degup jantungku yang tak beraturan. Ah, kapan terakhir kali aku menginjakkan kaki di rumah ini?

Ia melepas pelukannya, meraih tanganku. Ia menggandengku masuk ke dalam rumahnya. Tak kusangka di sana bukan hanya ada kami.

“Kenalkan, kenalkan. Ini Nadhira, calon menantuku.” Aku hanya diam mendengar pengumumannya yang seolah diutarakan kepada seluruh penjuru dunia. Ada perasaan tersipu dan kegalauan yang menerjangku bersamaan.

“Oh, ini ya, yang katanya disebut-sebut sebagai menantunya Ibu Melly.” Ujar ibu-ibu yang menggunakan dress berwarna hijau menyala. Aku hanya merespon dengan menggelengkan kepala sambil tersenyum. Berharap mereka mengerti penolakan halusku.

“Memang cantik, ya.” Tambah ibu-ibu yang menggunakan kacamata sambil tangannya meraih toples berisi kue coklat. Sementara itu, ibu-ibu yang lainnya hanya tersenyum dengan memperhatikanku dari ujung kaki hingga kepala.

Aku tak tahu bahwa hari itu ada pertemuan arisan di rumahnya. Ibu mengajakku duduk dan bergabung dengan teman-teman arisannya. Tatapanku menyapu sekeliling.

Aku hanya duduk di sana dengan pikiran yang terbang ke masa lalu tiap melihat foto-foto di dinding rumah itu.

“Gila ya, mendaki itu nggak segampang yang aku pikir!” Ujar dia sambil memainkan tali sepatunya. Saat itu kami tengah duduk di teras rumahnya.
“Lagian bintang lapangan ngapain sok-sok ke gunung segala, sih.” Balasku sambil cengingiran.
“Iya yah, ngapain juga yah.” Dia balas kebingungan. “Nggak akan mau lagi deh, itu pertama dan terakhir kali.” Katanya.
“Awas, ya!” Aku mendorong bahunya. Tak siap kudorong, ia jatuh ke samping. Dan kami berdua tertawa. “Cemen ah, lo!” teriakku sambil masih tertawa.

Meskipun begitu ia berhasil mencapai puncak dan mengambil gambar di sana.

“Ayo, Nadhira, diminum tehnya. Kalau mau yag dingin di kulkas ada es batu, sudah tahu tempatnya, bukan? Ambil sendiri saja ya kalau mau.” Ujar Ibu membuyarkan lamunanku.

“Iya, Bu.” Jawabku pelan.

Tetapi, dasar masa lalu, ia masih menarik-narik pikiranku. Aku tak bisa beranjak.

Sabtu, 26 Agustus 2017

Akhir Pekan Saya; Flu, Buku, dan Film!



Malamnya makan batagor.
Besok siangnya minum es campur.
Malamnya Mbak Mita nawarin Es cincau. ( Favoritku!)
Besok siangnya Mbak Nati ke kamar bawa sirup jeruk, setoples Cheetos, dan setepak makaroni goreng.
Malamnya Mbak Nur nawarin es burjo, lumayan tidak tergoda (karena sedang asyik makan nasi pakai ceker ayam dan kerupuk).
Tiba-tiba di meja ada oleh-oleh slondok dari Bu Ana, dan Mbak Fitri pulang-pulang bawa sekantong penuh es krim buat dibagi-bagi.


Di sisi lain itu adalah rejeki, tetapi di sisi lain itu adalah ujian.
Misalnya, kita diberi kekayaan. Sangat jelas itu rejeki, tetapi di sisi lain tak bisa dipungkiri juga bahwa itu adalah ujian, apakah seseorang akan tetap rendah hati atau justru sombong ketika diberi kekayaan?
Lagipula memberi rejeki bagi Allah adalah hal kecil, apa lagi mencabutnya.

And then.
Horeeee, welcome flu!
Mungkin Allah menyuruh saya untuk istirahat dulu. Sebelum nanti benar-benar masuk kuliah, dan waktu istirahat saya akan banyak tersita.

Libur kuliah saya tinggal seminggu lagi dan mungkin flu ini bakal mengisi sisa liburan saya. Senangnya, kemarin sudah beli beberapa buku untuk menghabiskan sisa liburan dan sudah copy sebelas film serta satu drama. Baca buku dan nonton film sembari cari uang. Itulah enaknya bisnis online.

Gara-gara Lee min Ho ikut wamil dan Kim Woo Bin tengah menjalani pengobatan terhadap penyakitnya, maka mendadak saya berpaling ke Park Seo-Joon. Tanpa sadar drama-drama milik saya sekarang didominasi oleh Park Seo-Joon.

Minggu, 20 Agustus 2017

[All About Life] : Kenyataan di Negeri Ini



Dicekik. Dibunuh. Setelah meninggal, jasadnya dibakar bersama dengan kandungannya. Oleh siapa? pelakunya kekasihnya sendiri. Setelah dibedah perutnya, bayinya terlihat sempurna organnya, kemungkinan kandungannya sudah besar. Korban dibunuh karena meminta pertanggungjawaban atas kehamilanya pada sang kekasih.

Ini adalah berita yang saya baca hari ini di sosial media. Ya Allah, sungguh benar bahwa siksa-Mu di dunia sangat pedih, apa lagi siksa di akhirat kelak nanti bagi orang-orang yang tak taat pada aturan-Mu.

Cinta seperti apa yang mereka miliki? Mengapa bisa seorang kekasih membunuh kekasihnya sendiri?
Betapa menyedihkannya bila jatuh hati karena nafsu.

 Lantas, kalau kamu tanya cinta seperti apa yang saya miliki?
Kelak,
Ketika saya mencintai kamu, saya bisa bercerita apapun kepadamu.
Saya bisa tertawa selepas-lepasnya di depan kamu.
Saya bisa menangis tersedu-sedunya di pundak kamu.
Tanpa merasa takut, cemas, bahkan berdosa.
Karena kamu meletakkan perasaan kamu dengan cara dan jalan yang diridhai-Nya. Insyaa Allah.

Mungkin bukan hanya saya saja yang merasa tak habis pikir dengan berita tersebut. Saya jadi teringat kata-kata seorang Ustadz yang ada di salah satu video yang akun @fuadbakh upload di Instagram. Kata-katanya begitu mengena, ringan tapi sangat dahsyat tamparannya.

Ustadz tersebut berbicara tentang pelaku pembacokan terhadap H selaku telematika ITB yang memberikan pernyataan bahwa chat HR itu palsu. Ya Allah, sungguh kami berlindung dari akhir zaman yang penuh dengan fitnah ini, dimana para ulama begitu mudahnya difitnah.

[All About Life]: Sebuah Arti Merdeka



Seminggu sekali, ritual wajib sore hari adalah belanja ke pasar untuk makan malam. Saya menikmati saat-saat seperti ini. Menggas motor saya, menuju tugu garuda lantas belok kiri melewati satu lampu merah, belok kanan, bertemu perempatan, ambil kiri, parkir motor, kunci stang, simpan helm. Dengan percaya diri memilah-milih sayuran. Hari itu mau masak yang gampang saja, sayur sup. Mengandung air, bumbu, bawang goreng, kol, wortel, dan kentang. Seharian tadi rapat, jadi saya goreng naget saja buat lauknya, bentar lagi magrib nanti takut tidak keburu. Oh iya, cabe rawit dan cabe merah juga sudah lama turun harganya. Ah, senangnya. Hanya Rp 4.000,- per ons nya. Lalu untuk menu besok pagi saya beli lele, Rp 16.000,- sudah bisa dapat 6 ekor. Pengennya beli ikan Nila, ternyata satu ekornya Rp 8000,-. Jadi, ke pasar tuh juga beban pikiran. Pokoknya sebisa mungkin belanjaan itu tidak melebihi uang jatah belanja. Gimanapun caranya pikiran diputar. Menunya di bolak-balik.

Dalam perjalanan pulang di pikiran saya mendadak terbersit, oh mungkin merdeka ya seperti ini ketika seorang anak perempuan dipercaya untuk pergi ke pasar membeli sayuran seorang diri dengan sepeda motornya bahkan setelah ia berkali – kali jatuh dari sepeda motornya. Bukan hanya itu saja, dalam perjalanannnya menuju pasar, mata saya juga dimerdekakan dengan perjalanan yang dipenuhi sawah-sawah dan para penjual tanaman yang tanaman-tanamannya sungguh menyenangkan mata.

Ketika saya tinggal di Sulawesi dulu, seorang teman saya pernah berbagi cerita, zaman dulu di kampungnya di suatu daerah di Sulawesi, katanya seorang perempuan tidak bisa sembarangan keluar dari rumahnya, hampir semua pekerjaan di luar rumah dikerjakan oleh laki-laki, bahkan yang belanja ke pasar adalah bapaknya, karena ke pasar berarti sudah keluar dari rumah.

Tetapi, terkadang kemerdekaan itu sering kita salahgunakan. Jikalau di masa lalu seorang perempuan tidak bisa sembarangan keluar rumah artinya ia dijaga betul harga diri dan kehormatannya, dirasa betul betapa berharga dirinya. Kebanyakan dari banyaknya kasus kekerasan yang dialami perempuan adalah kita ia keluar dari rumahnya. Hal ini yang terkadang menyebabkan pertengkaran di dalam hati saya bahwa waktu-waktu di malam hari adalah waktu paling rawan akan bahaya terutamanya untuk perempuan, tetapi di sisi lain jalan-jalan di malam hari juga enak, gimana yah menjelaskannya. Gitu deh.

Kamis, 17 Agustus 2017

[Catatan Untuk Diri Sendiri] : Mengutuki Diri



Panik.
Mengutuki diri sendiri.
Benci.
Dan membenci kenyataan bahwa tiap panik masih bergantung pada orangtua.
Tiap panik langsung menelpon orangtua. Apa-apa orangtua.

Dasar bocah.

Tidak sadar diri sudah kepala dua.

Sering kecewa sama diri sendiri.

Mungkin terlalu memuja bahwa segala hal perlu sempurna.

Ada yang salah sedikit atau merasa direndahkan sedikit,
langsung benci sama diri sendiri.

Kecewa sama diri sendiri.
Kenapa selalu bikin kesalahan- kesalahan kecil?

Justru karena kecil itulah kenapa sampai bisa-bisanya bikin kesalahan.

Benci karena bikin mereka khawatir.
Benci karena bikin mereka susah.
Benci karena sedikit-sedikit mengeluh.

[All About Life]: Antara Saya dan Pak Polisi



Terpikir oleh saya bahwa semakin kita dewasa semakin banyak tempat-tempat yang sebelumnya kita tak pernah datangi tiba-tiba menjadi kita datangi.

Dan di tempat-tempat baru itu biasanya terjadi obrolan singkat saat kita tengah menunggu hal yang kita sedang urus tersebut.

Seperti pagi itu, di kantor polisi yang terletak di seberang Hartono Mall Yogyakarta.
Ada hal-hal yang akrab saya jumpai saat melakukan obrolan singkat.

Pertama, orang-orang baru yang saya temui mengatakan bahwa nama saya sulit. Mungkin, benar. Buktinya hampir setiap mendapatkan sertifikat nama saya mengalami typo. Ijazah sudah pasti benar karena yang menuliskan ijazah memang harus teliti dan hati-hati. Begitu pula KTP. Tapi, coba deh, kalau sertifikat, biasanya tidak diperhatikan benar-benar.

Pernah ada suatu masa dimana saya terharu oleh sebab nama saya dalam sertifikat olimpiade nasional ditulis tanpa ada typo. Padahal hampir di semua sertifikat lomba yang saya ikuti mengalami typo pada nama saya. Sesusah itukah nama saya? Mending kalau typonya kurang satu huruf, tapi coba bayangkan ada satu huruf di nama saya yang terubah dalam sertifikatnya. Dibacanya sudah berubah, artinya apa lagi.

Paling menyakitkan adalah ketika seseorang suka sama saya, lalu dia menulis surat atau apalah semacamnya, tapi nama saya ditulis dengan salah. Duh, perasaan kamu dipertanyakan. Saya jadi berpikir, bagaimana ya nanti suatu hari kalau saya akad nikah, harus latihan berapa kali si mempelai laki-laki untuk secara benar menyebutkan nama saya?

Hal kedua, saat ditanya aslinya mana?
“Aslinya mana?”
“Nenek saya di Magelang.”
“Yang saya tanya aslinya kamu, bukan nenek kamu.”
“Saya lahir di Jakarta, Pak.”
“Dimananya?”
“Di Jakarta Selatan.”
“Iya, dimananya?”
“Di daerah Kebon Nanas kayaknya.”
“Itu Jakarta timur.”
“Oh, maaf Pak, saya cuma numpang lahir, tidak tahu seluk beluk Jakarta.”

[Catatan Untuk Diri Sendiri] : Kesekian Kalinya Tentang Dosa



Sedih kalau ingat betapa banyaknya dosa kita.
Tapi, Allah selalu saja memberi kita kesempatan buat memperbaiki kesalahan kita.

Buktinya apa? Hidup. Kita masih diberi umur buat hidup dan membenarkan semuanya. Kalau sudah mati bisa apa? Jasad kita saja dibungkus kain kafan. Sejatinya, kehidupan diciptakan untuk menghargai kematian.

Tetapi, kalau ingat dosa, bukankah semua orang di dunia ini juga sudah pasti punya dosa? Semua manusia tak luput dari dosa? Bukankah seringkali kita berpikir bahwa di luar sana mungkin lebih banyak yang dosanya lebih parah dari kita?

Tetapi, seharusnya bukan berpikir ke arah yang itu. Tidakkah kita iri kepada orang yang tak pernah berbuat dosa? Meskipun orang yang seperti itu mustahil adanya. Tetapi kembali lagi, seandainya ada orang yang sempurna imannya dan tak pernah berbuat dosa, tidakkah kita merasa iri padanya?

Menemukan catatan untuk diri sendiri
Di antara tumpukan kertas
Saat sedang membereskan kamar