Kamis, 15 Maret 2018

[Sebuah Cerpen] : Luka di Sini Milik Siapa



Hari itu tanggal 24 April, aku bergegas mempercepat langkahku. Hujan baru saja reda, namun jejaknya senantiasa tinggal. Membasahi bawah alas kaki para pejalan. Hujan, ia ingin tinggal di setiap langkah orang. Lekas kumasukkan kedua tanganku dalam saku jaketku, udaranya masih dingin meski matahari sore mulai berani muncul setelah hujan mulai mengalah untuk reda.

Dua minggu yang lalu sebelum hari ini tiba, aku membaca sebuah blog yang memuat sebuah review tentang sebuah buku biografi tokoh terkenal yang menjadi inspirasi banyak orang. Review tersebut ditulis oleh salah seorang blogger favoritku. Aku tiba-tiba saja tertarik dan terpikir untuk membacanya. tentu saja ingatanku tiba-tiba mengingat siapa di antara kenalan yang kumiliki mempunyai buku itu. Hanya satu orang. Aku menelan ludah, sepertinya kuputuskan saja untuk tak jadi membaca buku itu. Buku itu cukup mahal untukku beli sendiri, tetapi enggan juga untuk meminjam pada seseorang itu.

Hinggga pada akhirnya aku berusaha mengumpulkan niat untuk menghubunginya guna meminjam buku tersebut untuk melepas rasa penasaranku dan memuaskan hasrat membacaku. Seseorang itu adalah seseorang yang pernah kucintai. Lebih tepatnya kami pernah saling mencintai.

Sudah kutawarkan berkali-kali padanya lewat direct message biar aku saja yang datang ke tempat kerjanya untuk menjemput buku itu sebab memang aku yang butuh, tetapi berkali-kali pula ia bersikeras mengatakan biar saja ia yang mengantarkannya padaku. Kami berdebat tetapi aku memutuskan untuk segera datang ke tempatnya bekerja.

Selama ini, akupun baru tahu bahwa tempat kerja kami berdekatan bahkan tak masalah bila hanya dengan berjalan kaki ke sana. Maka dari itu kuputuskan untuk bejalan kaki saja menuju tempat kerjanya sekalian untuk menikmati suasana sore ini selepas hujan, kali-kali saja aku melihat pelangi atau tak apa bila hanya mentari yang masih betah menyinari bumi.

Aku berjalan terburu-buru tetapi berusaha melangkah dengan irama kaki yang santai. Aku memang ingin berjalan sambil menyapu sekitarku, menangkap berbagai inspirasi yang mungkin sudi untuk kutangkapi, melihat bocah-bocah yang dengan riang bermain di taman seolah mereka sudah lama menunggu hujan reda untuk bisa bermain di sini. Hal inilah juga yang membuatku memutuskan untuk berjalan kaki. Jalan menuju ke tempatnya bekerja, ada sebuah area taman yang luas, benar-benar luas. Sore hari kala itu banyak sekali orang di sana, menikmati sore hari bersama orang-orang yang mereka cintai.

Saat sibuk menikmati suasana sekitar, tiba-tiba duniaku berhenti. Mataku tentu saja hafal betul bagaimana sebuah objek yang begitu melekat di ingatan berjalan. Dengan kedua kakinya yang tangguh, gerakan tangannya, gaya berpakaiannya, caranya melirik, dan detail hal lainnya yang begitu melekat. Kau tahu saat itulah dunia berhenti, seperti saat-saat dulu, saat-saat langkahnya hanyalah untuk berjalan ke arahku, untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja.

Di masa silam, sebelum bertemu denganku, ia pernah bertemu beberapa perempuan. Ia menceritakan semuanya padaku dan lewat ceritanya aku tahu betapa perempuan-perempuan itu cantik dan hebat yang bila dibandingkan denganku, aku tak ada apa-apanya. Ya, pemikiran yang sangat pesimis. Namun, aku memang tidak sepercaya diri itu. Sampai suatu hari ia berbisik di telingaku, “kamu cantik pakai sweater warna pink.”

Sejak saat itu, setiap kali terdengar langkahnya, seolah duniaku berhenti. Berhenti untuk menyaksikan langkahnya saja, berhenti untuk tidak memedulikan yang lainnya selain pandangannya yang menuju ke arahku.

Bukan, aku bukan jatuh cinta setelah ia menggombaliku soal sweater pink yang tempo hari kupakai. Kau tahu kenapa? Dulu, dulu sekali, ia selalu berusaha menyejajarkan langkahnya denganku. Tidak, ia tidak berlari lalu sejajar, dari belakang ia tetap berjalan dengan santai dan tenang, ia tak ingin aku tahu langkahnya lantas menoleh, sebab ia berharap aku menyadari kehadirannya setelah lagkahnya sampai, setelah sejajar denganku, lalu aku baru akan menoleh dan kami saling melempar senyum.

Aku tak akan menceritakan semuanya, setidaknya bila aku tak mampu melupakannya, aku tak mau berusaha mengingatnya.

“Ini bukunya.” Ujarnya.

Kami datang tidak dengan sinar mata yang sama. Aku datang dengan menahan sendu dan jutaan cerita tentangnya di pikiranku, sementara matanya berbinar-binar dan sempat ia tertawa kecil karena mendapati pertemuan kami yang justru malah bertemu di taman ini.

“Aku sudah bilang biar aku saja yang mengantar bukunya.” Katanya dengan bibir tersenyum lebar. Kerongkonganku tercekat. Aku tak paham dengan binar di matanya.

Dengan tangan kaku, aku menerima buku itu dari tangannya.
“Oh, iya, selamat ulang tahun, ya!” serunya masih dengan senyum lebar.
Aku masih belum bisa bicara.

Tiba-tiba mataku menangkap seseorang yang ikut terpaku di belakangnya. Kupikir yang berhenti kala itu hanya duniaku saja, tetapi ada dunia milik perempuan lain yang ikut berhenti, perempuan yang memiliki cincin yang mirip dengan cincin yang melekat di salah satu jari milik pria di hadapanku, pria yang masih berdiri dengan senyum lebar, seolah tidak pernah ada luka di antara kami.

Aku cukup bisa menahan bening di sudut mataku agar tak terjatuh, tetapi perempuan yang berdiri di belakang pria yang tengah berhadapan denganku tak bisa menyembunyikan kekalutan hatinya.

Perempuan yang pernah membagi waktunya hanya untuk berjalan denganku, berbagi piring makanan denganku, berani menjilat es krimku, tanpa malu-malu meminjam kaos kakiku, yang tak segan-segan datang ke rumah membangunkanku saat aku terlambat bangun padahal hari itu acara penting menungguku. Seseorang yang tak bosan mendengar ceritaku, sok tahu dalam memberi nasihat kepadaku tetapi aku suka, seseorang yang menjitak kepalaku saat aku mencoba bercanda tetapi tak lucu, yang mau berlari menemaniku mengejar bus terakhir di sore hari, yang mengatakan rindu meski pagi tadi baru saja bertemu.

Lalu, di tempat ini, saat dunia aku dan perempuan itu berhenti bahkan aku tak mengerti siapa yang benar-benar terluka di sini? Siapa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar