22/01/15

Mungkin Rayuannya Kurang Mematikan




Mobil Rush putih itu berhenti dengan anggun, tahu diri bahwa yang dijemputnya adalah tuan putri. Bukan, bukan tuan putri yang berasal dari istana megah bercahaya tetapi tuan putri yang mengaku berasal dari rakyat jelata. Sulit, sulit untuk tak jatuh cinta pada gadis sesederhana itu.
Cukup tahu diri untuk menahan. Dirinya hanyalah seorang perokok yang memiliki masalah di sana-sini, seseorang yang mengalami banyak pertengkaran dengan kelompok-kelompok sosial yang bermacam-macam di jalanan, yang hobi nongkrong dan pulang larut malam, meskipun dari segi materi ia bermodal. Rumahnya banyak, ada dimana-mana, di garasi rumahnya mobil-mobil berjejer menganggur, tinggal pilih saja yang mana ia ingin gunakan. Bukan hanya karena berasal dari keluarga mampu, tetapi juga karena ia memiliki pekerjaan sebagai pegawai distro paruh waktu di usaha milik keluarga besarnya. Selain itu, karena ia satu-satunya anak laki-laki dalam keluarganya, maka sang ayah benar-benar menyayangi dan mengandalkannya.
Lagu-lagu Sheila on 7 mulai mengalun di dalam mobil ketika tuan putri melangkah masuk.
“Maaf yah, bikin repot.” Ucapan itu keluar dari mulut tuan putri.
“Enggak, kok. Malah aku senang.” Ucap si pria dengan jujur. Gadis itu hanya tersenyum, dan lagi-lagi pria itu jatuh hati untuk kesekian kali.
“Lagu-lagu Sheilanya enggak ada yang lama, ya?” tanya si gadis.
“Itu kan lagu-lagu yang lama.” Jawab si pria.
“Maksud aku yang lebih lama.”
“Enggak ada di sini, di mobil satunya.”
Perlahan-perlahan alunan-alunan lagu Sheila on 7 menuju puncaknya.
‘Tahukah lagu yang kau suka, tahukah bintang yang kau sapa, tahukah rumah yang kau tuju.. itu aku.’
‘Itu aku..’ batin si pria sambil melirik tuan putri di sampingnya. Ya, pria itu mengetuan putrikan gadis di sampingnya. Ia benar-benar menyukainya.

***

“Makasih yah untuk hari ini, makasih sudah mau menemani.”
“Iya, sama-sama.”
“Jadi, Chika naksir sama kamu, ya? rayuan kamu pasti mematikan banget, aku sih enggak mempan pake rayuan gituan, haha. Kasihan Chika, ya.” ujar gadis yang duduk di sampingnya sambil tertawa.
“Haha, iya, emang dasar kamu! Enggak mempan! Hahaha.”
“Dikode-kode aku juga enggak mempan. Aku orangnya enggak peka.” Mendengar hal itu, si pria kembali tertawa.
“Haha, jadi harus digimanain, dong?”
“Ya, kalau aku sih, harus dikasih tahu langsung. Ngomong gitu, jangan pakai kode-kode.”
Si pria hanya diam berusaha memahami.

***

Gadis itu merebahkan tubuhnya di ranjang berwarna pink miliknya. Tertera satu pesan diterima di layar ponselnya. Segera dibukanya pesan itu.
“Kamu memang gadis hebat, enggak meleleh karena gombalan, enggak mempan dengan rayuan. Apa dayaku yang tak punya cara untuk menyampaikan, hanya bisa mengagumi dari kejauhan. Bagai pungguk merindukan bulan, bagai budak yang mengharapkan tuan putri memberi balasan. Aku melihat di matamu penuh cinta, tetapi cinta itu untuknya kan? Selalu untuknya.”
Pesan itu datang tanpa nama pengirim. Si gadis mengerutkan keningnya, kemudian teringat percakapannya tadi siang dengan pria itu. Mungkinkah dia?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar