04/01/21

Review: Buku Zam-zam dan Harta Karun di Dalamnya!

 


Pergantian tahun ini masih membaca buku yang sama, Zam-zam judulnya, ditulis oleh kak Choqi Isyroqi. Buku ini merupakan kumpulan cerita tentang makna kehidupan. Sebenarnya pembahasannya ringan saja mengenai fenomena sehari-hari, tetapi isinya daging semua. Bagi saya pribadi, begitu banyak hal dalam pandangan saya yang berubah usai membaca tulisan-tulisan kak Choqi dalam buku ini. Karena ini buku indie, saya tidak tahu apakah buku ini masih bisa didapatkan atau tidak, tetapi setidaknya di sini saya ingin membagikan beberapa poin dalam buku ini yang berhasil mengubah cara pandang saya. Dengan penjelasan yang sederhana, justru Kak Choqi membuat pembaca mudah memahami apa yang perlu diubah dalam pikiran kita mengenai hal-hal besar dalam hidup kita.

Sebelumnya, saya mau bilang bahwa kamu beruntung menemukan tulisan saya kali ini. Tinggallah sejenak, bacalah tulisan ini sampai akhir karena setelah ini akan saya ceritakan harta karun dalam buku Zam-zam tersebut. Kamu tidak buru-buru, kan?

 

Pernikahan adalah perlombaan?

Apakah benar bahwa pernikahan adalah perlombaan? Hal ini seolah didukung fakta bahwa orang-orang senang sekali bertanya tentang rencana hidup orang lain. “Kapan nikah?” mungkin lebih tepatnya bukan rencana, tetapi takdir. Kalau sudah begitu, bukankah cuma tuhan yang tahu, ya?

Akhirnya hal ini membuat yang ditanya geram. Sehingga jika ditanya, “kapan nikah?” ia akan menjawab, “besok. Kalau nggak hujan.” Hal ini akan membuat yang bertanya langsung terdiam.

Pernikahan memang momen membahagiakan, mungkin orang-orang di sekitar kita tidak sabar melihat kita bahagia. Lha, dipikirnya sebelum menikah ini, kita menderita?! Nggak juga, kan.

Sebelum menikah, bebannya memang ditanggung sendiri, kalau sudah menikah bebannya ditanggung berdua. Ya, berdua, sih, tapi bebannya juga lebih banyak dari sebelumnya. Jadi, kalau ada orang yang menikah tapi yang terbebani cuma salah satunya aja, mending evaluasi ulang deh pernikahannya. Lha, saya siapa sih bisa-bisanya ngasih saran gitu, nikah aja belum.

Jadi gini, sebenarnya pernikahan itu memang benar adalah sebuah perlombaan, tetapi bukan perlombaan siapa yang lebih cepat menikah. Pernikahan adalah perlombaan, yakni perlombaan tentang pernikahan siapa yang paling bermanfaat.

Ketika dua orang yang senang menebar manfaat dipersatukan dalam sebuah ikatan pernikahan, kebayang gimana terang benderangnya, kan?

 

Berjalan tanpa tujuan?

Banyak di antara kita memilih untuk mengikuti jalan hidup yang mengalir saja. Betul, jalannya memang ada, tetapi hendak kemana kita saat melewati jalan tersebut? Bukan tidak mungkin bahwa kita akan tersesat ketika membiarkan diri terus berjalan tanpa memiliki tujuan.

“Sama dengan kebanyakan orang, banyak dari mereka yang memilih jalan, namun tidak menentukan tujuannya terlebih dahulu. Hanya karena jalanan itu nampak terbuka, mereka langsung saja mengikuti pilihan tersebut. Padahal bisa jadi, jalan itu tidak membawa mereka pada tujuan mereka. Mungkin memutar atau bahkan berlawanan arah.” – Zam-zam, hal. 16

Benar nggak, sih? Kalau tidak punya tujuan, rasanya seolah perjalanan kita sia-sia dan tidak akan pernah ada rasa puas usai mengejar sesuatu, kecuali kita tahu tujuan dari perjalanan kita apa.

Misal, kamu mencintai seseorang. Dengan kata lain, dia adalah tujuanmu. Seseorang yang ingin kamu rebut hatinya. Kamu akan fokus pada bagaimana perjalanan yang harus kamu tempuh dalam menujunya, kamu memegang peta itu, peta tentang dirinya. Kamu tahu bagaimana jalan menujunya karena kamu tahu dia seperti apa. Bukankah begitu?

Jadi, jika inign berjalan lebih cepat, tentukan tujuan dulu. Dengan begitu, kita tak akan tergoda atas jalan yang orang lain pilih. Selain itu, kita juga perlu mengetahui kemampuan kita, sehingga kita dapat menentukan, perlu seberapa cepat kita menuju tujuan kita. Tidak harus selalu sama dengan langkah orang lain.

Kalau kita tahu tujuan, maka setiap jalan adalah proses. Setiap jalan adalah penting. Misal, tujuan kita ingin beli rumah. Maka masa-masa menabung dan berjuang dalam hidup sederhana, irit, terbatas, menjadi masa yang mahal karena merupakan perjalanan dari proses mencapai tujuan yang mahal.

Misal, mendaftarkan diri ke suatu lowongan kerja. Ada proses menunggu yang mahal. Menunggu merupakan bagian dari perjuangan sampai akhirnya tiba di pintu kemenangan. Agar menunggu tidak sekedar menunggu, siapkan plan A, B, C, dan D. Bukankah begitu banyak orang atau motivator yang bercerita pengalaman masa lalu mereka saat belum menjadi apa-apa? Bukankah mereka sedang membanggakan proses dari keberhasilan yang mereka kini dapatkan? Ya, karena bagi mereka proses tersebut amat berharga. Lihat, betapa berbincar-binarnya mereka menceritakan masa lalu yang tidak disangka akan mengantarkan mereka pada masa keemasan sekarang ini. Berbeda ketika rasanya mendengarkan seseorang menceritakan apa yang ia dapatkan tanpa melalui proses.

 

Kita selalu punya pilihan?

“Boleh nggak, kita nggak salat?”

Nggak bolehlah, masa nggak salat?”

“Yakin nggak boleh?”

“Yakin.”

“Padahal boleh loh kita nggak salat.”

Bingung, kan? Jadi, boleh-boleh saja kalau tidak mau salat. Yang tidak boleh adalah menentukan sebuah pilihan, tetapi tidak menjalankan konsekuensi dari pilihan tersebut!

“Setiap pilihan itu memiliki konsekuensinya masing-masing. Hal itulah yang selalu kita lupakan. Kita merasa, selama pilihan itu membuat nyaman, maka kita memilih pilihan tersebut. Tak peduli, konsekuensi apa yang kita hadapi.” – Zam-zam, hal. 51

Kita benar-benar bisa memilih untuk menjadi apapun dalam menjalani hidup. Jadi, apakah kita siap juga menghadapi konsekuensi dari pilihan kita? Mungkin konsekuensi tersebut tidak terasa sekarang, tapi di masa mendatang.

 

Tidak mengerjakan Sunnah tidak apa-apa?

Ada yang salah dengan mindset kita selama ini soal “sunnah”. Sedihnya, sejak kecil kita sudah diajarkan bahwa sunnah adalah sesuatu yang jika dikerjakan mendapat pahala, jika ditinggalkan tidak apa-apa.

Nyatanya, apanya coba yang tidak apa-apa?!!! Coba kita baca beberapa hadis di bawah ini,

“Barangsiapa yang selalu mengerjakan shalat Dhuha niscaya akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Turmudzi)

“Barangsiapa yang menunaikan shalat Dhuha ia tergolong sebagai orang yang bertaubat kepada Allah. “Tidaklah seseorang selalu mengerjakan shalat Dhuha kecuali ia telah tergolong sebagai orang yang bertaubat.” (HR. Hakim).

“Barang siapa yang tidak meninggalkan dua belas rakaat pada shalat sunnah rawatib, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surge.” (HR. At-Tarmidzi no. 414 dan An-Nasa’i no. 1794)

“Barangsiapa yang menjaga sholat empat rakaat sebelum dhuhur dan empat rakaat sesudahnya, Allah haramkan baginya api neraka.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)

Dan masih banyak hadis lainnya mengenai sunnah.

Jadi, ubahlah mindset kita yang awalnya, “tidak apa-apa jika tidak dikerjakan” menjadi “rugi jika tidak dikerjakan.”

Rugi, kan?

Bagaimana? Apakah setelah membaca poin-poin di atas, sudut pandangmu kian meluas? Apakah ada mindset dalam dirimu yang ingin kamu ubah?