Pergantian tahun ini masih membaca
buku yang sama, Zam-zam judulnya, ditulis oleh kak Choqi Isyroqi. Buku ini
merupakan kumpulan cerita tentang makna kehidupan. Sebenarnya pembahasannya ringan
saja mengenai fenomena sehari-hari, tetapi isinya daging semua. Bagi saya
pribadi, begitu banyak hal dalam pandangan saya yang berubah usai membaca
tulisan-tulisan kak Choqi dalam buku ini. Karena ini buku indie, saya tidak
tahu apakah buku ini masih bisa didapatkan atau tidak, tetapi setidaknya di
sini saya ingin membagikan beberapa poin dalam buku ini yang berhasil mengubah
cara pandang saya. Dengan penjelasan yang sederhana, justru Kak Choqi membuat
pembaca mudah memahami apa yang perlu diubah dalam pikiran kita mengenai
hal-hal besar dalam hidup kita.
Sebelumnya, saya mau bilang bahwa kamu
beruntung menemukan tulisan saya kali ini. Tinggallah sejenak, bacalah tulisan
ini sampai akhir karena setelah ini akan saya ceritakan harta karun dalam buku
Zam-zam tersebut. Kamu tidak buru-buru, kan?
Pernikahan adalah perlombaan?
Apakah benar bahwa pernikahan adalah
perlombaan? Hal ini seolah didukung fakta bahwa orang-orang senang sekali
bertanya tentang rencana hidup orang lain. “Kapan nikah?” mungkin lebih
tepatnya bukan rencana, tetapi takdir. Kalau sudah begitu, bukankah cuma tuhan
yang tahu, ya?
Akhirnya hal ini membuat yang ditanya
geram. Sehingga jika ditanya, “kapan nikah?” ia akan menjawab, “besok. Kalau nggak hujan.” Hal ini akan membuat yang
bertanya langsung terdiam.
Pernikahan memang momen membahagiakan,
mungkin orang-orang di sekitar kita tidak sabar melihat kita bahagia. Lha,
dipikirnya sebelum menikah ini, kita menderita?! Nggak juga, kan.
Sebelum menikah, bebannya memang
ditanggung sendiri, kalau sudah menikah bebannya ditanggung berdua. Ya, berdua,
sih, tapi bebannya juga lebih banyak dari sebelumnya. Jadi, kalau ada orang
yang menikah tapi yang terbebani cuma salah satunya aja, mending evaluasi ulang
deh pernikahannya. Lha, saya siapa sih bisa-bisanya ngasih saran gitu, nikah
aja belum.
Jadi gini, sebenarnya pernikahan itu
memang benar adalah sebuah perlombaan, tetapi bukan perlombaan siapa yang lebih
cepat menikah. Pernikahan adalah perlombaan, yakni perlombaan tentang
pernikahan siapa yang paling bermanfaat.
Ketika dua orang yang senang menebar
manfaat dipersatukan dalam sebuah ikatan pernikahan, kebayang gimana terang
benderangnya, kan?
Berjalan tanpa tujuan?
Banyak di antara kita memilih untuk
mengikuti jalan hidup yang mengalir saja. Betul, jalannya memang ada, tetapi
hendak kemana kita saat melewati jalan tersebut? Bukan tidak mungkin bahwa kita
akan tersesat ketika membiarkan diri terus berjalan tanpa memiliki tujuan.
“Sama dengan kebanyakan orang, banyak
dari mereka yang memilih jalan, namun tidak menentukan tujuannya terlebih
dahulu. Hanya karena jalanan itu nampak terbuka, mereka langsung saja mengikuti
pilihan tersebut. Padahal bisa jadi, jalan itu tidak membawa mereka pada tujuan
mereka. Mungkin memutar atau bahkan berlawanan arah.” – Zam-zam, hal. 16
Benar nggak, sih? Kalau tidak punya tujuan, rasanya seolah perjalanan
kita sia-sia dan tidak akan pernah ada rasa puas usai mengejar sesuatu, kecuali
kita tahu tujuan dari perjalanan kita apa.
Misal, kamu mencintai seseorang. Dengan
kata lain, dia adalah tujuanmu. Seseorang yang ingin kamu rebut hatinya. Kamu akan
fokus pada bagaimana perjalanan yang harus kamu tempuh dalam menujunya, kamu
memegang peta itu, peta tentang dirinya. Kamu tahu bagaimana jalan menujunya
karena kamu tahu dia seperti apa. Bukankah begitu?
Jadi, jika inign berjalan lebih cepat,
tentukan tujuan dulu. Dengan begitu, kita tak akan tergoda atas jalan yang
orang lain pilih. Selain itu, kita juga perlu mengetahui kemampuan kita,
sehingga kita dapat menentukan, perlu seberapa cepat kita menuju tujuan kita. Tidak
harus selalu sama dengan langkah orang lain.
Kalau kita tahu tujuan, maka setiap
jalan adalah proses. Setiap jalan adalah penting. Misal, tujuan kita ingin beli
rumah. Maka masa-masa menabung dan berjuang dalam hidup sederhana, irit,
terbatas, menjadi masa yang mahal karena merupakan perjalanan dari proses
mencapai tujuan yang mahal.
Misal, mendaftarkan diri ke suatu
lowongan kerja. Ada proses menunggu yang mahal. Menunggu merupakan bagian dari
perjuangan sampai akhirnya tiba di pintu kemenangan. Agar menunggu tidak
sekedar menunggu, siapkan plan A, B, C, dan D. Bukankah begitu banyak orang
atau motivator yang bercerita pengalaman masa lalu mereka saat belum menjadi
apa-apa? Bukankah mereka sedang membanggakan proses dari keberhasilan yang
mereka kini dapatkan? Ya, karena bagi mereka proses tersebut amat berharga. Lihat,
betapa berbincar-binarnya mereka menceritakan masa lalu yang tidak disangka
akan mengantarkan mereka pada masa keemasan sekarang ini. Berbeda ketika
rasanya mendengarkan seseorang menceritakan apa yang ia dapatkan tanpa melalui
proses.
Kita selalu punya pilihan?
“Boleh nggak, kita nggak salat?”
“Nggak
bolehlah, masa nggak salat?”
“Yakin nggak boleh?”
“Yakin.”
“Padahal boleh loh kita nggak salat.”
Bingung, kan? Jadi, boleh-boleh saja
kalau tidak mau salat. Yang tidak boleh adalah menentukan sebuah pilihan,
tetapi tidak menjalankan konsekuensi dari pilihan tersebut!
“Setiap pilihan itu memiliki
konsekuensinya masing-masing. Hal itulah yang selalu kita lupakan. Kita merasa,
selama pilihan itu membuat nyaman, maka kita memilih pilihan tersebut. Tak peduli,
konsekuensi apa yang kita hadapi.” – Zam-zam, hal. 51
Kita benar-benar bisa memilih untuk
menjadi apapun dalam menjalani hidup. Jadi, apakah kita siap juga menghadapi
konsekuensi dari pilihan kita? Mungkin konsekuensi tersebut tidak terasa sekarang,
tapi di masa mendatang.
Tidak mengerjakan Sunnah tidak apa-apa?
Ada yang salah dengan mindset kita
selama ini soal “sunnah”. Sedihnya, sejak kecil kita sudah diajarkan bahwa
sunnah adalah sesuatu yang jika dikerjakan mendapat pahala, jika ditinggalkan
tidak apa-apa.
Nyatanya, apanya coba yang tidak
apa-apa?!!! Coba kita baca beberapa hadis di bawah ini,
“Barangsiapa yang selalu mengerjakan
shalat Dhuha niscaya akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di
lautan.” (HR. Turmudzi)
“Barangsiapa yang menunaikan shalat
Dhuha ia tergolong sebagai orang yang bertaubat kepada Allah. “Tidaklah
seseorang selalu mengerjakan shalat Dhuha kecuali ia telah tergolong sebagai
orang yang bertaubat.” (HR. Hakim).
“Barang siapa yang tidak meninggalkan
dua belas rakaat pada shalat sunnah rawatib, maka Allah akan bangunkan baginya
rumah di surge.” (HR. At-Tarmidzi no. 414 dan An-Nasa’i no. 1794)
“Barangsiapa yang menjaga sholat empat
rakaat sebelum dhuhur dan empat rakaat sesudahnya, Allah haramkan baginya api
neraka.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)
Dan masih banyak hadis lainnya
mengenai sunnah.
Jadi, ubahlah mindset kita yang
awalnya, “tidak apa-apa jika tidak dikerjakan” menjadi “rugi jika tidak
dikerjakan.”
Rugi, kan?
Bagaimana? Apakah setelah membaca poin-poin di atas, sudut pandangmu kian meluas? Apakah ada mindset dalam dirimu yang ingin kamu ubah?
