Mobil
Rush putih itu berhenti dengan
anggun, tahu diri bahwa yang dijemputnya adalah tuan putri. Bukan, bukan tuan putri
yang berasal dari istana megah bercahaya tetapi tuan putri yang mengaku berasal
dari rakyat jelata. Sulit, sulit untuk tak jatuh cinta pada gadis sesederhana
itu.
Cukup
tahu diri untuk menahan. Dirinya hanyalah seorang perokok yang memiliki masalah
di sana-sini, seseorang yang mengalami banyak pertengkaran dengan
kelompok-kelompok sosial yang bermacam-macam di jalanan, yang hobi nongkrong
dan pulang larut malam, meskipun dari segi materi ia bermodal. Rumahnya banyak,
ada dimana-mana, di garasi rumahnya mobil-mobil berjejer menganggur, tinggal
pilih saja yang mana ia ingin gunakan. Bukan hanya karena berasal dari keluarga
mampu, tetapi juga karena ia memiliki pekerjaan sebagai pegawai distro paruh
waktu di usaha milik keluarga besarnya. Selain itu, karena ia satu-satunya anak
laki-laki dalam keluarganya, maka sang ayah benar-benar menyayangi dan
mengandalkannya.
Lagu-lagu
Sheila on 7 mulai mengalun di dalam
mobil ketika tuan putri melangkah masuk.
“Maaf
yah, bikin repot.” Ucapan itu keluar dari mulut tuan putri.
“Enggak,
kok. Malah aku senang.” Ucap si pria dengan jujur. Gadis itu hanya tersenyum,
dan lagi-lagi pria itu jatuh hati untuk kesekian kali.
“Lagu-lagu
Sheilanya enggak ada yang lama, ya?” tanya si gadis.
“Itu
kan lagu-lagu yang lama.” Jawab si pria.
“Maksud
aku yang lebih lama.”
“Enggak
ada di sini, di mobil satunya.”
Perlahan-perlahan
alunan-alunan lagu Sheila on 7 menuju
puncaknya.
‘Tahukah lagu yang kau suka, tahukah bintang
yang kau sapa, tahukah rumah yang kau tuju.. itu aku.’
‘Itu aku..’ batin si pria sambil melirik
tuan putri di sampingnya. Ya, pria itu mengetuan putrikan gadis di sampingnya.
Ia benar-benar menyukainya.
***

