Tampilkan postingan dengan label share. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label share. Tampilkan semua postingan

30/12/22

SAMAR

 "Iya, mba.. saya hanya menerima penghuni yang pasangan suami istri sah saja. Kalau pun nikah siri, silahkan perlihatkan bukti suratnya. Pernah ada yang mau ngontrak di sini, katanya tunangan. Saya bilang nggak bisa, harus pasangan yang sudah sah. Saya takut ikut menanggung dosanya kalo nerima penghuni kontrakan yang belum menjadi pasangan resmi.."

Entah, selalu kagum pada mereka yang melek dengan dosa-dosa yang terlihat samar, yang senantiasa berhati-hati dengan setiap langkah dalam hidupnya, yang takut pada Tuhannya. Semoga kita menjadi salah satunya.

 

Yk, 6 Juni '22 | 13.27 | Cerita bulan lalu

28/03/20

Pria Hebat


Di usia-usia sekarang ini, pembahasan tentang ketertarikan pada lawan jenis akan menjadi obrolan wajar yang serius meski seringkali ditanggapi dengan candaan.

Dari banyaknya pembicaraan, ah ternyata pria-pria hebat itu lebih tertarik pada wanita-wanita yang juga hebat; wanita yang cerdas; mampu mengambil keputusan dan risiko, anggun dalam berucap dan bersikap, wanita cerdas yang kebanyakan dari mereka adalah pembicara dan menginspirasi banyak orang, anggota penting di suatu kelompok, punya peran yang amat dibutuhkan oleh lingkungannya, dan jika berbicara tidak sembarangan. Pria hebat itu, katanya suka pada wanita yang tidak membicarakan hal yang tidak penting, wanita kuat yang pandai menyembunyikan kesedihannya, sebab wanita yang seperti itu akan berpikir bahwa di luar sana lebih banyak lagi orang yang kesedihannya lebih dalam, dukanya lebih sakit dari apa yang dia rasa, lagi pula wanita kuat selalu berpikir bahwa di luar sana banyak orang yang membutuhkan senyumnya, sekedar untuk menenangkan mereka mungkin. Tetapi, sebagian pria lainnya mengatakan bahwa mereka menyukai wanita yang minta dilindugi karena peran pria di sana begitu nyata dan pria selalu punya keinginan untuk melindungi, tetapi entah pria mana yang berbicara seperti itu, aku hanya pernah membacanya di beberapa tulisan. Pada kenyataannya pria hebat tentu tertarik pada wanita yang juga hebat. Makna hebat ini memang sangat luas, dan makna hebat pada paragraf ini hanyalah sedikit dari yang aku tangkap dan pahami dari banyaknya pembicaraan yang pernah hadir.

Ketika para pria hebat itu menunjuk perempuan yang mereka suka; benar saja bahwa perempuan yang ditunjuk itu hadir dengan segala kehebatan yang dia punya, pesonanya yang tak kunjung sirna, yang membuatnya terlihat wajar bila bersanding dengan pria tersebut.

27/03/20

Masyarakat Indonesia di Tengah Ancaman Covid-19


Minggu-Minggu Awal Wabah Datang

Halo, saya Nina, salah satu masyarakat Indonesia yang ingin berbagi cerita tentang wabah yang melanda hampir seluruh negeri bahkan dunia. Pada minggu-minggu awal wabah datang ke Indonesia, yang mana pasien pertama berlokasi di Depok, Jawa barat, maka kami yang berlokasi di Jawa Tengah tentu masih bersikap biasa saja. Makin lama, wabah ini semakin memakan banyak korban. Orang-orang dinyatakan positif covid-19. Pada awalnya, pemerintah masih mencari sumber jejak penyebaran virus ini sampai pada akhirnya tidak lagi dapat terkendali karena pasien-pasien selanjutnya rupanya tidak mempunyai interaksi dengan pasien-pasien sebelumnya.

Minggu berikutnya, Yogyakarta mulai mengabarkan adanya salah satu warganya yang terkena covid-19 dan kami masih biasa saja. Hari-hari kemudian, satu-persatu sekolah mulai diliburkan, termasuk beberapa universitas. Salah satunya adalah universitas kami. Kami, sebagai mahasiswa perantauan yang sedang kebingungan dalam pergulatan skripsi lantas semakin kebingungan untuk membuat jadwal bimbingan. Para dosen tidak menerima bimbingan face to face padahal kami lebih nyaman untuk bertemu langsung karena akan lebih mudah memahami penjelasan dosen pembimbing yang bersangkutan. Mau dikata apa, surat edaran sudah dibagikan, kami berusaha mengiyakan.

Hari-hari saat itu masih tetap biasa saja, belanja ke warung sayur karena kami hendak memasak bersama. Kami hanya menghabiskan Rp. 20.000,- ribu untuk makan bertiga untuk dua kali makan, pagi dan sore; Sayur asem, tahu goreng, sambal terasi. How a cheap food costs! Wow, yeah, welcome to Jogja, nak! Selain itu, kami juga masih melakukan aktivitas seperti biasanya; menginap bersama, yang satu maskeran wajah, yang satu main handphone, yang satu nonton film, kami bercerita hingga larut malam, bahkan saya juga sempat masih datang ke kafe untuk pertemuan yang memang sudah saya agendakan dengan teman-teman SMA saya. Semua masih terasa biasa saja, meski imbauan love distancing, eh maaf, maksudnya social distancing atau jaga jarak sudah mulai diberlakukan.


Rumah kedua

Satu demi satu teman saya memutuskan untuk pulang ke rumah sebelum wabah kian menyebar dan lockdown yang sesungguhnya mulai diberlakukan. Untuk itu, saya juga segera berkemas bermaksud untuk pulang ke rumah kedua saya di Magelang. Saya bermaksud mengunci diri di daerah yang nyaman itu dengan ladang sawah sejauh mata memandang, juga awan-awan di langit yang berarakan, dan aroma semilir angin yang membuat diri tak berhenti menguap. Berdua dengan sepeda motor, saya melakukan perjalanan pulang yang saya pikir ini akan menjadi liburan yang amat panjang, tetapi semua itu hanya rencana manusia, Allah bisa merubahnya.

Ketenangan yang saya bayangkan ternyata berubah menjadi kebisingan karena rupanya pabrik yang berada di seberang rumah kedua saya itu sedang direnovasi dan dirobohkan, suara-suara yang dihasilkan dari alat-alat keras tersebut membuat saya terbangun dari tidur. Pagi itu, untuk kesekian kalinya ibu saya menghubungi saya dan lagi-lagi memberikan penawaran untuk pulang ke Bandung. Saya sudah sampaikan bahwa adanya imbauan sebaiknya tidak melakukan pulang kampung. Telepon berakhir dengan saya yang tidak berhasil dibujuk. Tidak berselang sampai lima menit, beliau menghubungi kembali. Kali ini yang terdengar adalah suara ayah saya. Wow. Tumben sekali.  Saya masih tidak berhasil dibujuk. Orangtua saya hanya memberikan penawaran yang menurut saya itu masih bisa ditolak, berbeda dengan perintah. Sambungan diputus, tetapi, di akhir pembicaraan saya mendengar helaan nafas yang panjang dan dalam dari ayah saya yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk mengiyakan dan pulang ke rumah di Bandung dengan naik kereta esok paginya. Saya berkemas kembali setelah semalam saya sudah menata barang-barang saya di lemari kamar, sedih rasanya harus packing kembali, alias saya malas. Saya tipe manusia yang kalau packing h-beberapa jam. Karena nanti sore saya hendak balik ke Jogja, maka sekarang saya harus packing.

Sore hari saya pamit, hujan sudah benar-benar reda, gerimis pun tak ada. Akan tetapi, baru tiga menit keluar ke jalan raya, hujan turun dengan deras dan mengagetkan pengguna jalan. Orang-orang berteduh. Saya memang membawa mantel tetapi saya juga membawa buku yang banyak. Jika tidak membawa buku, mungkin saya bisa menerobos hujan ini. Pada faktanya, saya berteduh samapi tujuh kali setiap hujan mulai deras. Setiap mereda, saya berjalan kembali. Begitu sampai di kamar kos, buku-buku saya basah, termasuk duit-duit yang terbuat dari kertas itu. Semalaman saya putar kipas agar buku-buku itu kering. Anak-anak yang malang.


Orang-Orang Indonesia Dalam Mata Perjalanan

Tiba di stasiun, para penumpang yang hendak masuk diperiksa suhu tubuhnya terlebih dahulu. Di stasiun juga sudah mulai diberlakukan social distancing dengan cara menandai silang pada kursi-kursi tertentu dengan tujuan untuk mengatur jarak duduk. Hingga saat saya menuliskan tulisan ini sudah ada 450 pasien positif covid-19, 20 pasien yang sembuh, dan 38 pasien meninggal dunia. Meski tulisan ini akan saya posting entah saat angka kasus dan kematian sudah berubah banyak atau tidak.

Dalam tulisani ini, saya ingin menceritakan hal-hal apa saja yang saya lihat selama di perjalanan. Bukan, bukan mengenai indahnya pemandangan, hijaunya sawah sejauh mata memandang, atau teriknya mentari. Ini tentang hal-hal yang dilakukan masyarakat kita, masyarakat Indonesia, sepanjang jalan Yogyakarta menuju Bandung. Sebelumnya, saya mau cerita dulu bahwa keadaan kereta lengang, sangat lengang untuk ukuran gerbong ekonomi, tidak banyak penumpang bahkan di gerbong kereta belakang saya, penumpangnya dapat dihitung jari. Saking lengangnya, rasa dingin AC sampai menusuk-nusuk. Lalu, apa saja yang saya lihat sepanjang perjalanan ini?

13/11/19

Pay Attention to Our Attitude!


Saya menulis ini tanpa ada maksud sedikitpun untuk membuka aib orang lain, karena di sini saya tidak menyebutkan secara jelas siapa orangnya atau merujuk pada siapa.  Saya berharap tulisan saya ini bisa dibaca oleh banyak anak laki-laki dan bisa membuat mereka sadar dan mengubah kebiasaan mereka. Saya sangat khawatir dan ketakutan dengan fakta yang seringkali saya temukan. Ini sejenis mengerikan mengetahui orang-orang tersebut hidup di sekitar saya.

Jadi ceritanya begini, mereka membuat suatu akun di sosmed. Dimulai dari satu orang, yang dimana satu orang ini adalah seseorang yang saya sering berdiskusi dengannya tentang banyak hal yang rumit tetapi ternyata dia memiliki pemikiran seperti itu. Dia membuat suatu akun dimana akun tersebut dijadikan olehnya sebagai media untuk berbagi gambar *maaf* alat kelamin, yang anehnya adalah jenis kelamin yang dia miliki sendiri. I mean, what are you doing, boy? Untuk apa, hey? Ngapain dia bikin gituan, bukannya dia juga punya sendiri? Ini sangat meresahkan saya karena dia teman saya sendiri. Saya takut jika menduga bahwa dia punya sejenis gangguan atau kelainan yang tidak terbaca oleh orang lain.

Jangan tanya mengapa saya bisa mengetahui fakta ini sekalipun dia membuatnya bukan dengan namanya. Karena ada petunjuk di sosmed dimana kita bisa menemukan akun-akun sosmed orang-orang yang nomornya kita simpan di hp kita. Jadi sangat jelas itu akunnya dia berdasarkan nomor ponsel yang digunakan bahkan tidak bisa disangkal lagi karena dia bahkan menyimpan nomor ponselnya di bio akun tersebut untuk memudahkan orang yang mau berbagi gambar yang tidak pantas tersebut.

Satu lagi teman saya, ia membuat akun dengan nama yang sama dengan sosmednya yang lain. Dia baru saja membuat akun tersebut. Informasi akun terbaru tersebut, dinotifikasi oleh sosmed menuju akun milik saya karena saya menyimpan nomor teman saya tersebut. Tahu apa yang dia follow? Followingnya baru enam akun dan kesemuanya itu berbau “hs”. Semuanya! Apa pacarnya tidak ilfil jika mengetahui hal ini? Ya ampun! Astaghfirullahaladzim! Tiba-tiba seluruh kewibawaan yang ia selalu tunjukkan di hadapan kita semua hancur berkeping-keping. I’m so sorry, boy.

Kalau kalian berkomentar bahwa ini wajar, tidak munafik, manusia normal, punya nafsu, saya bukan berpikir ke situ, ya. Saya survey tidak hanya dari satu sisi, ya. Suatu kali, saya pernah punya teman laki-laki dari aplikasi bermain game. Saya sering main game di situ dan ada fasilitas untuk ngobrol dan chatnya juga yang seringnya saya nonaktifkan karena tujuan saya jelas hanya untuk bermain game. Jelas saja pertemanan di dunia maya sangat berbahaya, saya menemukan banyak pria hidung belang, modus, alay, sange, dan sebagainya. Tetapi suatu kali saya bertemu dengan laki-laki normal dan sopan. Kami berteman sampai ke jenis sosmed lainnya. Kemudian, saya cek followingnya, awalnya saya pikir laki-laki seperti dia mesti aneh-aneh, tetapi ternyata hal yang saya takutkan itu tidak ada sama sekali dalam sosmednya. Justru dia mengikuti akun-akun yang sangat bermanfaat, seperti akun inspirasi, motivasi sampai akun beasiswa ke luar negeri. Padahal yang saya tahu tentangnya, dia lebih muda dari saya, tetapi dia sudah bekerja. Dia orang Jawa yang bekerja di Kalimatan. Ia bekerja sebagai karyawan sebuah toko. Hanya itu saja.

Kembali ke pembahasan awal, tidak tahu ya kenapa resah dan risih sekali! Rasanya alat kelamin sekarang menjadi barang murah bahkan tidak berharga. Saya mau menangis sendiri melihat hal ini. Aduh, manusia, dimana letak harga dirimu? Dimana letak ketakutan diri atas mata yang melihat sesuatu yang tidak pantas? Aduh, hati, mengapa sebebas ini? Aduh, pikiran mengapa semudah ini?

Kalau banyak orang yang suka dengan konten seperti itu lalu bahkan memfasilitasi dan membaginya, saya tidak bisa membayangkan bagaimana masa depan anak-anak bangsa nanti? Hal seperti itu dianggap wajar dan biasa, dipertontonkan dan dilihat. Bagaimana pikiran anak-anak kita tidak mudah dinodai? Kita tidak bisa selamanya menjaga anak-anak kita, tidak bisa mengawasi mereka 24 jam nonstop, tetapi setidaknya kita bisa mengurangi hal-hal tersebut dalam hidup kita. Berpikir sejak dalam diri sendiri bahwa ini salah, ini tidak boleh, ini tidak pantas, ini perlu dijauhkan, ini tidak layak dikonsumsi, ini mencemari. Segera ingkari, segera jauhi, segera hapus, segera istighfar!

Renungan Menjelang Akhir Zaman


Hari ini saya sendirian di sebuah kamar hotel. Ayah saya sedang pergi ke suatu acara bersama rekan-rekannya, ibu saya sedang menjadi wisatawan dan jalan-jalan dengan teman-temannya yang kebetulan disopiri oleh kakak saya, sementara itu adik saya sedang mengadakan meet up dan reuni kecil-kecilan dengan teman-teman lamanya di kota ini. Saya memilih sendirian di kamar hotel, ingin banyak merenung. Terlalu banyak waktu yang sia-sia di tahun ini, banyak momen yang sebenarnya berharga, tetapi tidak berhasil dibuat bermakna. Tahun ini banyak ekspetasi yang terlalu tinggi sehingga tak sampai dan menyebabkan kecewa hati. Tahun ini banyak perubahan dalam hidup; rumah baru, tempat baru, orang baru, keluarga baru, teman-teman baru, perjalanan pulang yang baru, kehilangan yang baru, namun dengan rasa duka yang tetap sama sampai sekarang. Kita tidak pernah baik-baik saja ketika kehilangan orang yang kita cinta.

Akan tetapi, sebenarnya saya yakin tahun depan akan lebih banyak lagi perubahan yang terjadi. Akan lebih banyak lagi gejolak perasaan yang beraneka ragam akan timbul. Saya harus mulai bergerak dari sekarang. Karena saya tahu saya adalah pribadi yang mudah panik, maka saya harus membuat persiapan untuk segala kemungkinan yang akan terjadi dalam hidup saya.

Duh, sial! Saya ketiduran, dua jam lebih! Benar kata ayah saya, hotel itu tempat untuk tidur, ujarnya ketika melihat saya semalam pada jam tidur masih memegang ponsel.

Saya bergegas mencuci muka. Lalu membuka hordeng jendela lebar-lebar, merenung lagi. Alam ini indah betul, ya. Dari sini semuanya terlihat tentram. Tak bisa dibayangkan bila ada meteorid (menurut berita) yang sedang bergerak menuju bumi itu jatuh menabrak bumi. Pembahasan ini berawal dari pembicaraan keluarga saya pada waktu itu tentang peristiwa Ad-Dukhan yaitu bencana asap sebagai pertanda kiamat. Kabut asap panas yang bernama Dukhan ini akan menyelimuti bumi selama 40 hari 40 malam. Seorang teman dari tante saya, bahkan sekeluarga besarnya telah menyiapkan rumah di daerah pegunungan untuk menghadapi bencana kabut asap tersebut. Katanya, dajjal hanya turun ke kota-kota, bukan ke pelosok desa. Mereka bahkan telah menyiapkan persediaan makanan dan peralatan seperti oksigen, masker dan lain sebagainya di rumah tersebut. Terlepas dari kebenaran berita tersebut yang katanya akan tiba sebentar lagi peristiwa tersebut, kita sebagai umat Muslim sudah seharusnya meyakini peristiwa Hari Akhir dan tidak ada salahnya untuk mempersiapkan hal tersebut.

Boooom! Dunia akan hancur pada Hari Kiamat nanti. Semua yang kita punya, yang kita banggakan di dunia, semuanya akan hilang. Semuanya hancur. Semua yang kita punya tidak bisa menolong kita, kecuali amalan-amalan kita sendiri. Di kuburan kelak, Al-Qur’an yang kita sering baca akan datang kepada kita untuk menerangi kuburan kita sebagai orang yang sering membacanya. Di akhirat kelak, Nabi Muhammad SAW. juga akan menyelamatkan kita kalau kita sering bershalawat untuknya. Di hari akhir nanti, kita bakal dilindungi dari dajjal kalau kita hafal sepuluh ayat pertama dari surah Al-Kahfi, atau bisa juga dengan berusaha mengucapkan doa perlindungan dajjal setiap di penghujung shalat yaitu saat tasyahud akhir sebelum salam.

Menjadi Dewasa #2


Menjadi orang dewasa ternyata sedikit merepotkan, sewaktu kecil bisa dikatakan bebas berteman dengan lawan jenis. Ketika dewasa, berteman dengan lawan jenis sedikit-dikit ditanya, “itu siapa yang nelpon? Tadi sama siapa? Diantar sama siapa? Dibawain obat sama siapa? Kemarin yang ke rumah siapa?”

Saya menyadari semakin kita dewasa, pertemanan antar lawan jenis memang harus dijaga. Sebagai orang dewasa yang berakal harusnya sudah tahu batas-batasnya yang diperbolehkan dan tidak. Kita sudah sama-sama tahu kok, tinggal kembali ke diri kita sendiri untuk melakukan hal yang menurut kita baik untuk diri kita. Kita barangkali sudah dewasa, sudah tidak suka diatur-atur maka dari itu harus bisa sadar sendiri, kalau tidak, nanti Allah melalui caraNya yang tidak disangka baru menyadarkan kita.

Kangen jadi anak kecil, yang kalau berteman dengan lawan jenis dianggap biasa saja, tanpa embel-embel perasaan, setidaknya pada zaman saya kecil ya seperti itu. Sekarang menjadi orang dewasa apa-apa cukup sulit. Banyak persahabatan antar lawan jenis yang justru berakhir membawa perasaan. Makanya ada quote yang mengatakan bahwa tidak ada persahabatan murni antara laki-laki dan perempuan. Meski quote itu tidak sepenuhnya benar, sih. Ada juga kok yang memang cuma bersahabat. Maksud saya gini lho, kalau terlalu dekat berteman dengan lawan jenis kadang suka menimbulkan fitnah atau tanda tanya, “Itu siapa kamu? Tadi kamu pergi sama siapa?” Atau apalah.

Kalau jadi anak kecil, mana mungkin ditanya seperti itu, tidak akan disangka apa-apa, murni berteman.  Apakah ini bertanda bahwa kita sudah jadi orang dewasa? Mulai membatasi pertemanan dan memilih pergaulan?

Ya setidaknya jika memang kita berteman, bisakah saya tahu kabarmu? Bukankah kita berteman?

18/07/18

Keajaiban Perjalanan 6 Buku Favorit!


Fihi Ma Fihi

Sebuah buku tentang filsafat agama yang saya temui ketika saya pergi keluar kota untuk menikmati weekend bersama dokter kesayangan saya. Rencana keluar kota saat itu hampir-hampir gagal karena saya tidak berhasil menghubungi saudara saya yang saya pikir rumahnya bisa saya tinggali semalam saja. Sebelum weekend tiba, pada hari kamisnya saya tengah chat dengan sahabat saya. Kami baru saja berkenalan ketika saya tiba di Jogjakarta, tetapi saya merasa seperti sudah bersahabat lama dengannya. Meski ia hanya satu tahun di Jogja, banyak waktu yang telah kami habiskan bersama-sama, perjuangan keras untuk belajar demi masuk PTN kala itu.

Waktu chat kala itu saya benar-benar lupa rumahnya dimana. Tiba pada pertanyaan saya bertanya dia ada dimana sekarang, dia menjawab bahwa dia ada di rumahnya. Saya kembali bertanya dengan sangat bodohnya karena lupa rumahnya dimana, usai dia menjawab kota tempat tinggalnya, saya merasa ia adalah jawaban untuk keraguan saya untuk berakhir pekan di luar kota. Luar biasanya memang keluarganya sangat menyambut kami, bersama kedua orangtuanya, ia menjemput kami di pinggir jalan selepas kami turun dari bus, mengajak siang bersama, bahkan kedua orangtuanya berbaik hati mengantarkan kami kemanapun tempat wisata yang kami inginkan hingga larut malam.

Tiba saatnya kami beristirahat, tidur bertiga dalam kamar anak perempuan yang saya kenal sebagai sosok yang cuek, simple, easy going, tak banyak bicara, tidak moody, keren pokoknya! Di atas meja belajarnya kala itu, saya melihat buku berjudul Fihi Ma Fihi, buku itu pasti yang sedang dibacanya saat ini! Dan memang benar saja. Bacaan yang dibaca oleh sahabat saya ini memang selalu tidak bisa tertebak. Ia selalu membaca buku-buku yang berat, tidak biasa, tapi tentunya buku yang keren. Kebanyakan bacaannya adalah tulisan-tulisan penulis luar. Hampir-hampir setiap buku di tangannya adalah asing di mata saya. Kala itu Fihi Ma Fihi menarik saya untuk membacanya. Buku seorang filsuf, tentu tentang ketuhanan, sebuah buku karya Jalaluddin Rumi yang namanya sangat fenomenal. Buku ini sekaligus menjadi awal ketertarikan saya terhadap buku-buku berbau ketuhanan lainnya.

Kalau diantara pembaca ada yang tertarik, carilah buku Fihi Ma Fihi dengan cover putih, bukan hitam. Saya tidak tahu pasti apakah isinya berbeda, tetapi font dan peletakkan tulisan serta konsep buku bahkan kertas yang digunakan jauh berbeda dengan cover yang versi berwarna putih. Carilah buku yang bercover putih karena menurut saya buku tersebut lebih nyaman untuk dibaca. Jangan tertukar, sebab pada cover tidak saya temui pembeda diantara kedua buku tersebut.


Rectoverso

Rectoverso karangan Dee Lestari masuk ke dalam list buku favorit saya sejak dulu! Rectoverso memiliki konsep buku yang berbeda dengan kebanyakan buku lainnya. Covernya yang hardcover, font huruf yang tak biasa, disisipi gambar-gambar sunyi berwarna di setiap babnya dengan menghadirkan 11 cerita pendek sederhana yang menyentuh hati. Setiap ceritanya memiliki inspirasi yang berbeda-beda, tetapi selalu tentang hal yang sederhana. Buku ini juga berhasil difilmkan padahal setiap babnya memiiki cerita yang berbeda-beda. Karena saya sudah selesai membacanya atas pinjaman buku seorang teman, saya tidak bermaksud untuk membelinya meski saya jatuh hati pada buku yang satu ini.

Suatu hari saya datang ke sebuah acara amal. Di sana dibuka garage sale yang menjual berbagai macam buku-buku yang masih sangat bagus-bagus. Saya menemukan Rectoverso diantara buku-buku itu. Ah, sayang sekali, buku sebagus itu ditelantarkan di sana. Saya mengambilnya dan langsung membayarnya. Kini, buku itu ada di rak buku saya bersama dengan buku-buku kesayangan saya lainnya.

Terkadang, kita mampu untuk menahan untuk tak memiliki. Namun, ada kalanya waktu-waktu dimana kita bertemu dengannya lagi dan diberi kesempatan untuk bersamanya. Mungkin juga untuk selamanya.


Reclaim Your Heart

Buku yang satu ini pertama kali saya menemukannya saat tengah blogwalking ke blog seorang penulis yang cukup ternama di kalangan kami sendiri. Namun, saya menemukannya pada postingan-postingan lamanya, lama sekali. Saat itu ia bahkan menyisipkan link untuk mendownload versi PDF nya, rupanya berbahasa inggris, dan itu membuat saya cukup lama untuk membacanya terlebih saya tidak menyukai berlama-lama menatap layar gadget. Entah kenapa, kata hati bilang bahwa buku ini bagus karena juga direkomendasikan oleh seorang penulis yang bagus.

Lalu, lagi-lagi penulis lainnya merekomendasikan buku yang sama. Maka isenglah saya ke toko buku di dekat sini mencari buku tersebut. Di toko buku pertama bukunya telah habis, pada toko buku kedua, terkejutlah saya karena di sana masih ada hampir sepuluh buku. Saya tidak menyesal untuk buku yang satu ini. Tulisannya mencerahkan orang-orang yang mau membuka pikirannya untuk menerima wawasan-mencerahkan tentang cinta, duka, dan bahagia. Misal, mengapa orang-orang harus saling meninggalkan?


The Life-Changing, Magic of Tidying Up

Buku ini adalah buku yang direkomendasikan oleh ibu saya saat saya mengeluhkan bahwa betapa banyaknya barang saya dan betapa sulitnya saya untuk melepaskannya. Buku ini adalah buku karya Marie Kondo tentang seni dalam beres-beres. Unik, ya? Rupanya beres-beres pun ada seninya, ada tekniknya, ada cara yang jitu yang memudahkan kita dalam membereskan barang-barang di rumah kita.

30/05/18

~ Deen Assalam ~


Sumber gambar: My Gallery

Seluruh bumi ini akan terasa sempit
jika kita hidup tanpa toleransi
namun jika hidup dengan perasaan cinta
meski bumi sempit kita kan bahagia

Melalui perlaku mulia dan damai
sebarkanlah ucapan yang manis
hiasilah dunia dengan sikap yang hormat
dengan cinta dan senyuman

Sebarkanlah diantara insan
Inilah Islam agama perdamaian

( Lirik Deen Assalam )