Tampilkan postingan dengan label Catatan Perayaan Usia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Perayaan Usia. Tampilkan semua postingan

24/01/22

Catatan Perayaan ke-25

Hidup dengan penuh kesadaran. Bersyukur dan menikmati setiap ibadah, rutinitas, makanan, pertemuan-pertemuan.

Hidup dengan penuh kesadaran. Tahu bahwa hidup di bumi tidak akan selamanya. Tahu tapi tidak sekedar tahu, sehingga lelah tidak sekedar lelah, sebab niat tidak sekedar niat.

Hidup dengan penuh kesadaran. Tidak membiarkan hari berlalu dengan kesia-siaan. Berusaha membuat to do list untuk dilakukan. Juga, tujuan-tujuan kehidupan.

Hidup dengan penuh kesadaran. Belajar berkenalan dengan diri sendiri, tahu apa yang dibutuhkan, berusaha meredam ego dari segala yang diinginkan—sebab sadar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa kita miliki. Selalu kembali pada perenungan tentang mati. Tahu bahwa usia diri sudah sepertiga dari rata-rata usia manusia yg hidup di bumi. Tidak.. tidak. Hampir setengahnya mungkin.

Hidup dengan penuh kesadaran. Tahun ini banyak pelajaran, juga air mata yang bertumpahan, perjuangan demi perjuangan, pertanyaan demi pertanyaan, bahkan ada satu hari dimana kebahagiaan terjadi bersamaan dengan pemakaman yang tercinta. Juga, tentang selamanya kehilangan dan tinggal kenangan.

Hidup dengan penuh kesadaran. Bukan kehidupan kalau hanya ada kebahagiaan. Bahkan dalam kebahagiaan pun ada ujian; kita diuji apakah kita tetap mampu bersyukur atau tidak, entah dengan luka maupun kebahagiaan.

Hidup dengan penuh kesadaran. Tahun ini banyak sekali hal yang 'baru bisa pertama kali' dalam hidup untuk kulakukan; berkuda, renang, naik kereta 12 jam, melihat Blue Fire dari dekat, bertemu monyet-monyet Baluran, sepedaan menyusuri sawah Bantul sampai ke pantai, belajar bersama anak-anak di sekolah dasar. Juga, mencerna ilmu-ilmu yang bertebaran di lingkungan, acara-acara, obrolan dalam pertemuan, juga momen-momen di luar dugaan.

Hidup dengan penuh kesadaran. Mempertimbangkan pilihan, mengambil keputusan, mengetahui apa yang dipertanggungjawabkan.

Hidup dengan penuh kesadaran. Semoga Allah senantiasa menjadi tujuan.

 

With Love,

 

Nina

 

Bdg, 24 Januari 2022

Kontemplasi setahun ke belakang


 


28/01/20

Catatan Perayaan ke-23



Pada perayaan ke-23 ini, saya tidak mau menulis yang sendu dan kelam seperti perayaan 22 kemarin. Pada perayaan 22 kemarin itu sendu karena mendiagnosa diri sendiri bahwa mungkin diri ini terkena anxiety disorder yang salah satu jenisnya itu panic attack. Saking paniknya itu juga karena benar-benar tidak tahu tentang hal ini dan tidak kenal dengan gangguan ini. Waktu itu benar-benar tidak sengaja kebetulan menemukan artikel dan video yang berhubungan dengan kasus serupa yang saya alami. Hal ini tanpa saya cari, karena muncul sendiri di timeline saya. Ternyata pasien yang menderita hal itu banyak sekali, jadi saya merasa tidak sendirian. Saya tidak sampai pada pengobatan, tetapi lebih banyak mencari tahu lagi tentang sakit itu. Searching kemana-mana dan menemukan bahwa panic attack ini bersifat spontan, bukan reaksi dari tekanan, tanpa alasan dan tidak diprediksi, seperti terjebak terror luarbiasa, seperti merasa ingin mati. Tidak main-main, memang rasanya kayak mau mati. Lalu juga kehilangan kontrol atas tubuh dan pikiran atau bahkan serangan jantung. Perkiraan penyebabnya adalah kombinasi antara kondisi biologis tubuh dan faktor eksternal lingkungan. Jadi, waktu itu sering banget nangis karena ketakutan yang mana waktu itu benar-benar tidak tahu apa-apa tentang hal ini. Edukasi kesehatan itu penting banget ternyata, apalagi soal kesehatan mental yang bisa menyerang siapa saja dan kapan saja. Saya mengalami tujuh gejala dari belasan gejala yang disebutkan. Jadi, gangguan kecemasan umum itu berupa rasa takut yang tidak realistis yang dapat muncul tiba-tiba tanpa alasan. Saya sempat menghubungi fasilitas konsultasi psikolog via line tapi pihaknya tidak bisa langsung mendiagnosa.

Setelah saya tahu saya itu kenapa, apa yang terjadi pada saya, ini jenis sakit apa, saya jadi bisa mengatasinya. Saya membaca cara-cara apa yang harus dilakukan jika tiba-tiba muncul lagi, anehnya kalau di artikel-artikel itu orang-orang biasanya terkena panic attack adalah dalam situasi keramaian, sedangkan yang saya alami adalah ketika saya sendirian, maka dari itu ini awalnya cukup sulit untuk saya, kalimat alaynya seperti “dibunuh oleh kesepian”. Waktu pertama kali kena, saya takut banget, saya tidak tahu saya kenapa, saya cuma bisa memaksa untuk tidur berharap setelah bangun semuanya baik-baik saja, normal kembali. Makanya sering tidur dengan wajah basah dipenuhi airmata karena ketakutan.

Oleh karena itu, kali ini ingin bincang-bincang ringan tentang obrolan yang “serius”, mengenai bagaimana kehidupan saya sekarang. Sekarang, saya sudah di fase yang sedikit memuakkan dengan dipenuhi pertanyaan basa-basi.

13/11/19

Renungan Menjelang Akhir Zaman


Hari ini saya sendirian di sebuah kamar hotel. Ayah saya sedang pergi ke suatu acara bersama rekan-rekannya, ibu saya sedang menjadi wisatawan dan jalan-jalan dengan teman-temannya yang kebetulan disopiri oleh kakak saya, sementara itu adik saya sedang mengadakan meet up dan reuni kecil-kecilan dengan teman-teman lamanya di kota ini. Saya memilih sendirian di kamar hotel, ingin banyak merenung. Terlalu banyak waktu yang sia-sia di tahun ini, banyak momen yang sebenarnya berharga, tetapi tidak berhasil dibuat bermakna. Tahun ini banyak ekspetasi yang terlalu tinggi sehingga tak sampai dan menyebabkan kecewa hati. Tahun ini banyak perubahan dalam hidup; rumah baru, tempat baru, orang baru, keluarga baru, teman-teman baru, perjalanan pulang yang baru, kehilangan yang baru, namun dengan rasa duka yang tetap sama sampai sekarang. Kita tidak pernah baik-baik saja ketika kehilangan orang yang kita cinta.

Akan tetapi, sebenarnya saya yakin tahun depan akan lebih banyak lagi perubahan yang terjadi. Akan lebih banyak lagi gejolak perasaan yang beraneka ragam akan timbul. Saya harus mulai bergerak dari sekarang. Karena saya tahu saya adalah pribadi yang mudah panik, maka saya harus membuat persiapan untuk segala kemungkinan yang akan terjadi dalam hidup saya.

Duh, sial! Saya ketiduran, dua jam lebih! Benar kata ayah saya, hotel itu tempat untuk tidur, ujarnya ketika melihat saya semalam pada jam tidur masih memegang ponsel.

Saya bergegas mencuci muka. Lalu membuka hordeng jendela lebar-lebar, merenung lagi. Alam ini indah betul, ya. Dari sini semuanya terlihat tentram. Tak bisa dibayangkan bila ada meteorid (menurut berita) yang sedang bergerak menuju bumi itu jatuh menabrak bumi. Pembahasan ini berawal dari pembicaraan keluarga saya pada waktu itu tentang peristiwa Ad-Dukhan yaitu bencana asap sebagai pertanda kiamat. Kabut asap panas yang bernama Dukhan ini akan menyelimuti bumi selama 40 hari 40 malam. Seorang teman dari tante saya, bahkan sekeluarga besarnya telah menyiapkan rumah di daerah pegunungan untuk menghadapi bencana kabut asap tersebut. Katanya, dajjal hanya turun ke kota-kota, bukan ke pelosok desa. Mereka bahkan telah menyiapkan persediaan makanan dan peralatan seperti oksigen, masker dan lain sebagainya di rumah tersebut. Terlepas dari kebenaran berita tersebut yang katanya akan tiba sebentar lagi peristiwa tersebut, kita sebagai umat Muslim sudah seharusnya meyakini peristiwa Hari Akhir dan tidak ada salahnya untuk mempersiapkan hal tersebut.

Boooom! Dunia akan hancur pada Hari Kiamat nanti. Semua yang kita punya, yang kita banggakan di dunia, semuanya akan hilang. Semuanya hancur. Semua yang kita punya tidak bisa menolong kita, kecuali amalan-amalan kita sendiri. Di kuburan kelak, Al-Qur’an yang kita sering baca akan datang kepada kita untuk menerangi kuburan kita sebagai orang yang sering membacanya. Di akhirat kelak, Nabi Muhammad SAW. juga akan menyelamatkan kita kalau kita sering bershalawat untuknya. Di hari akhir nanti, kita bakal dilindungi dari dajjal kalau kita hafal sepuluh ayat pertama dari surah Al-Kahfi, atau bisa juga dengan berusaha mengucapkan doa perlindungan dajjal setiap di penghujung shalat yaitu saat tasyahud akhir sebelum salam.

24/01/19

Catatan Perayaan ke-22


Hidupnya dipenuhi perenungan panjang yang tak pernah usai. Malam-malamnya dipenuhi kegetiran yang sulit ditaklukan oleh diri sendiri. Begitu banyak kegelisahan batin yang ia sembunyikan entah dari siapa dan mengapa.

Waktu-waktu sendirinya dihabiskan untuk memikirkan percakapan dengan Tuhan. Berbicara sendiri dalam pikirannya, sebenarnya mengajak Tuhan untuk turut berdiskusi, kadang pula membenci apa kata hati tentang menjadi apa gerangan dirinya pada hari ini.

Tak pernah ingin menyesali apa yang sudah dan telah usai, karenanya ia mengira dengan pasti skenario Tuhan selalu terjadi untuk membawa hamba-Nya ke tempat yang lebih baik, itu juga bila si Hamba punya keinginan dan mencari jalan melalui berbagai diskusi yang diciptakannya bersama sang Tuhan.

Akhir-akhir ini ia selalu bercerita pada Tuhan soal pengharapan. Apakah benar bahwa ia telah sungguh-sungguh menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya tempat ia berharap? Seringkali dipertanyakannya hal itu pada dirinya sendiri. Sudah basi benar cerita tentang pedihnya berharap pada sesama manusia. Insan yang satu ini meminta belas kasih Tuhannya untuk melepaskannya dari segala pengharapan yang seringnya  dipenuhi nestapa pada makhluk-Nya.

Selamat bertemu kembali dengan tanggal lahirmu, Mentari. Tak ada perayaan, katamu. Aku ingin merenung lebih lama lagi, lebih panjang lagi, tentang usiaku, tentang hidupku, katamu.

Aku tak mau lagi ada banyak pengharapan, biar sisanya hanya doa-doa yang tak kuketahui, biar sisanya di dengar langit saja, biar Dia saja yang tahu tentang air matamu karena begitu mencintaiku karena-Nya, begitu katamu.

Aku tak mau lagi ada bahagia yang terlalu berlebihan, karena aku seringkali bahagia karena hal-hal sederhana yang mengejutkan, begitu katamu.

Aku tak mau lagi umur panjang menjadi sebuah kesombongan karena sudah terlalu banyak waktu yang kusia-siakan, begitu katamu.

Kali ini, biarkan aku sunyi bersama Tuhan. Melakukan diskusi, biarkan air mata saja yang berbicara, tentang rasa sedihku bila bagaimana kelak jika nanti aku tak bisa melihat wajah-Nya? Begitu katamu.

Aku tak berbohong perihal malam-malamnya yang penuh isak tangis. Ia tertidur dengan memeluk dirinya sendiri, dengan basah air mata yang masih menghias pipi, dengan nafas yang memburu di tengah malam sunyi dan lampu yang sudah meredup menutup diri.

Rindu ucapnya lirih pada acapkali. Tak pernah jujur pula ia padaku, tentang siapa yang dirindukannya itu. Tetapi, sebab kutahu selalu soal Tuhan yang dibicarakannya, barangkali pula Tuhanlah yang dirindukannya.

Kutengok kau kemudian, menangis di sudut ruang. Kutinggalkan kau sendirian, aku tak akan membuatkanmu suatu perayaan, selamat bercengkrama dengan Tuhan lewat pikiran. Ingat, kau adalah yang selamanya kucinta, kuperjuangkan. Ingat, kau adalah yang selamanya kudekap, hanya aku yang mampu mendekapmu, bahkan bila suatu hari tak kau temukan siapa-siapa, hanya aku yang akan mendekap,

25/01/18

Catatan Perayaan ke-21



“Andai kamu tahu bagaimana Allah mengatur urusan hidupmu,
pasti hatimu akan meleleh karena cinta kepadaNya.”
(Ibnul Qoyyim Al Jauziyah)

Di dalam kehidupan, siapapun tahu bahwa waktu tak bisa diruntuhkan. Sebab itu pula jika hari ini saya mendapat kesulitan saya akan menghibur diri ini, “hari ini pasti akan berlalu” bahkan jika agenda saya sudah penuh beberapa pekan ke depan, saya tahu hari-hari itu nantinya juga akan berlalu, tetapi ada beberapa hal yang memang menakutkan bila berlalu, apakah soal perasaan bisa semudah itu berlalu? Siapapun berharap agar bisa dicintai selalu, utamanya oleh mereka yang mencintaimu dengan penuh rasa hormat, dengan ketulusan hati tanpa batas, dengan segala pengorbanan waktu dan materi hanya untuk menemuimu.

Di dalam perjalanan, siapapun tahu bahwa di sana ada kemudahan dan kesulitan. Di dalam melangkah, ada yang menuju pada kebenaran tetapi ada juga yang mengambil jalan kebobrokan. Saya tersadar bahwa di depan sana akan ada banyak sekali pilihan yang menanti, yang mau tidak mau harus saya pilih, akan ada banyak sekali pilihan yang akan kita temui, pilihan-pilihan saat Allah menawarkan pada kita tentang takdir-Nya. Ia anugerahkan usia panjang dan akal sehat pada kita agar kita berpikir, agar kita mampu membaca kekuasaan-Nya, agar kita tidak tersesat dalam menyelami samudera-Nya. Selama nafas masih ada, selama itu pula Allah beri kita waktu untuk belajar untuk membuat kita sadar bahwa kita tak akan pernah berhenti belajar, setiap kali belajar setiap kali itu pula mengetahui betapa penuh kekurangannya diri ini.

Tahun 2017 bagi saya adalah tahun yang penuh keajaiban dan petualangan, ajaib karena hampir setiap yang saya inginkan tertunaikan. Mulai dari IPK yang cukup memuaskan, pekerjaan, terpilih sebagai kontributor suatu kumcer, sanggup menyelesaikan bacaan beberapa buku (saya termasuk yang lamban dalam membaca buku), pergi ke tempat-tempat yang seru dan berkesan, setiap bulan menengok kakung dan uti, dan menyukseskan suatu project yang digarap selama setahunan. Allah masih kasih bonus lagi untuk masuk ke sebuah komunitas yang di sana saya bertemu dengan teman-teman yang sangat luarbiasa, suatu komunitas yang visi dan misinya matang, suatu komunitas yang menciptakan banyak pengalaman di kehidupan anggotanya. Keajaiban lainnya Allah membersamai saya saat tersesat di Jalan Kaliurang KM 25 ke atas yang saat itu hujan sedang deras-derasnya dan kabut dimana-mana. Lalu Allah beri saya kejutan lagi dengan utuh seutuh-utuhnya barang-barang saya ketika terjadi pembobolan di asrama yang mana semua pintu kamar dibuka dan hampir semua lemari diobrak-abrik, dibuka paksa.

“.. Dia mengetahui apa-apa
yang tiap-tiap diri usahakan.. “
(QS: Ar-Ra’d : 42)

Selain itu juga, selama setahun ini saya menemui takdir-takdir yang tak biasa, hal-hal yang sebelumnya tak pernah saya jalani, dan untuk sebuah tema yang saya layangkan teruntuk 2017 bernama “menantang diri”.

Saya menantang diri menerima ajakan bisnis seorang teman, mengikuti sekber untuk mengajar dan berbicara di depan umum, menyelesaikan novel (meski belum sepenuhnya rampung), mengirim cerpen ke penerbit (diterima atau tidaknya, yang penting sudah mengirim), menulis postingan sebanyak-banyaknya di blog, menantang diri jalan mendaki menuju puncak Ciremay (saya bukan orang yang kuat berjalan kaki dalam waktu lama, apalagi mendaki) bahkan saya menantang diri untuk menulis puisi cinta (ini sulit kalau tidak melibatkan perasaan di dalamnya), rutin menulis agenda, dan menargetkan banyak membaca buku. Memang tidak mudah, makanya saya sebut ini adalah tantangan.

~Meski waktu akan cepat berlalu,
Di kala senja terasa hampa,
Kuingin candamu dan hadirmu,
Agar aku bisa menikmati indahnya dunia~

24/01/17

Catatan 20 Tahun

Yang pernah jatuh akan berdiri lagi..
Sama seperti manusia kebanyakan, aku pernah jatuh dan patah. Aku pernah hampir menyerah pada mimpi, pada hal-hal yang mungkin tak pantas dalam genggamku, pada dia yang pernah membuatku jatuh setengah mati, pada kejadian-kejadian yang mungkin kenangannya sulit untuk aku hindari.

Meski begitu, tiap kali jatuh, kucoba berdiri lagi. Tiap kali gagal, kucoba yakini suatu saat akan ada mimpi yang akan membersamaiku. Tiap kali aku diminta pergi, aku tak beranjak dari tempatku berdiri. Ketika takdir membawaku pada suatu rentetan kejadian yang kuanggap ajaib karena tak pernah terpikir sekalipun ini akan ada dalam skenario di hidupku. Lalu, firasatku membenarkan. Hatiku akan memastikan diriku jika suatu saat ada yang membuatku jatuh lagi, ia akan membantuku berdiri, tak akan lagi memintaku untuk pergi, tak akan lagi, tak akan lagi.

Terimakasih untuk yang jatuh padaku. Berdo’alah agar Allah lindungi kamu dari lemahnya jiwa yang jatuh hati agar kamu tak rasakan bagaimana patah hati akan mempersulit hari-harimu sendiri. Kau akan kesulitan makan, minum, tidur, dan melakukan aktifitas normal lainnya. Kau akan menjadi tak normal, bahkan enggan memandang dirimu sendiri di dalam cermin di kamarmu.

Terimakasih untuk selalu mendukung apa yang aku lakukan, termasuk ucapan terimakasih karena mengunjungi tulisan-tulisanku. Untuk mengetahui tentang seseorang khususnya di jaman sekarang, bukankah sangat mudah? Ketika kau tak berhenti membaca tulisannya kau akan memahami sendiri sang penulis itu, kau akan menyelami isi pikirannya bahkan hatinya. Lantas, masih maukah melakukan cara-cara yang tak elegant? Bukankah lebih tepat sasaran jika langsung meminta hatinya melalui Sang Penciptanya?

Yang patah tumbuh yang hilang berganti..
Seperti mimpi semalam. Seperti yang aku tuliskan dalam lembaran-lembaran agenda bisuku. Mimpi dengan sendirinya melukiskan dirinya. Keyakinan selalu menang bahwa Allah akan gantikan. Meski kala itu, langkahku terbelenggu dan mataku tak sanggup membendung, aku tahu, aku harus memilih. Meninggalkan hal baik untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Dari sebuah perjalanan yang ikhlas, aku belajar banyak hal bahwa kau harus berani memilih, menjalani pilihan, dan menghadapi risiko dari segala pilihanmu.

Bukankah setiap manusia memiliki pilihan? Bukankah setiap manusia memiliki hak atas dirinya sendiri? Bukankah setiap manusia bisa memberontak? Untuk hati dan jiwanya sendiri. Setiap manusia adalah sama, sama-sama ditiupkan ruh ke dalam jiwanya, perihal ia memiliki wajah tampan atau cantik, bukankah itu hanya sebagian kecil bonus dari Sang Pencipta?

Lalu, di antara manusia-manusia itu Allah takdirkan untuk bertemu. Pertemuan diciptakan adalah untuk kau hargai. Jadi, aku ingin meminta maaf pada semua yang tak bisa melangkah bersamaku mungkin karena beberapa alasan yang tak bisa aku kemukakan. Tanpa mereka tahu, mereka selalu punya tempat di hatiku. Siapapun mereka. Tak kenal jarak atau waktu. Karena tiap orang yang hadir di dalam hidupku, jauh atau dekat, lama atau sebentar, selalu memberi kesan dengan cara mereka sendiri. Mungkin aku dingin terhadap mereka, tetapi mereka akan selalu hangat di dalam hati, di kenanganku. Tiap orang yang hadir adalah keputusan-Nya, adalah takdir dari-Nya. Mereka dihadirkan bukan sekedarnya saja, tetapi membawa pelajaran yang kadang manusia buru-buru tak ingin mengerti. Padahal, jikalau mereka memiliki waktu sebentar saja untuk memikirkan takdir yang tengah berjalan, mungkin rasa bijak akan hinggap.