30/12/22

08:11

Ia telah berpamitan sejak tadi, meninggalkan sisa sedikit teh hangat di gelasnya, juga pekat kecap di piringnya, juga basah kecup ungkapan terima kasih, juga pelukan yang bisa bersuara 'hati-hati di rumah'.

Tinggal perempuan itu, menata piring-piring kotor sisa sarapan, mendengar bunyi-bunyian mesin ajaib penyulap baju kembali bersih, bisingnya mesin air juga menghuni, belum lagi suara angin sepoi-sepoi yang muncul dari celah-celah mesin ajaib lainnya, tak ada suara manusia, tapi ada suara tangan-tangan yang bekerja.

Di atas ranjang kusut setiap pada pukul delapan pagi lebih sedikit, di sana ia kumpulkan matahari. Ia butuh panas menyala untuk membuat setiap anggota tubuh berdaya, 'nafas yang Tuhan beri tak boleh jadi sia-sia'

Jadi, hendak merapikan mulai dari mana?

 

Bogor, 21 Des '22 | 08.28

Menjaga Perasaan (Orang Lain)

 Aku melayangkan sebuah tanya bertubi-tubi kepada seorang kawan dekat via whatsApp,

"Oh gtu hahaha eeeeh kok bs pindah gtu siih? Nyari2 lg sendiri atau emang ditransfer sama kantor yg lamaa? Kamu tipenyaa yg gak suka update kerjaan gak siihhh? Asliii lhooo kalo liat story kmuu kyk gak pernah stres krn kerjaan? Apa iya betul kerjaan kamu ga bikin stres? Kalo iyaaa berarti itu berkah dan salah satu rejeki dalam hidup kamu yaaa😃 banyak orang yg aku kenal tuh pada tertekan sm pekerjaan mereka😂 atau nggak, banyak yg gak dpt2 kerjaaa.."

Lalu, apa jawabnya?

 "Aku berusaha untuk keep semuanya karena banyak yg belum dapet kerja plus ada yg kerjaannya banyak problem kayak yg kamu bilang tadi."

Aaaaa iya, menjaga perasaan orang lain! :')

Kalau yang tadi tentang menjaga perasaan orang lain dari hal-hal yang belum berhasil mereka miliki, di sisi lain di hari yang sama aku juga membaca kalimat yang menyentuh dari media quora. Ini tentang penerimaan terhadap diri kita. Ini tentang bagaimana menyikapi takdir yang belum tiba.

"Kalau kita sudah 100% menerima kondisi kita, tidak ada yang bisa membuat kita kesal atau tersinggung :)"

Rezeki

Hari ini dipertemukan dengan dua kalimat keren dari story-nya Prajurit Bumi yang tengah merayakan usia ke-23 dan lulus LPDP.

"Rezeki nggak kemana. Kalau rezeki, pasti nanti sampai juga!"

"Rezeki nggak kemana. Kita yang kemana-mana untuk jemput rezeki!"

Tegas, namun menenangkan.

 

Bdg, 12 Nov '22 | 11.55

Bukan Kebetulan

 Barusan tidak sengaja menonton cuplikan kajian Ustadz Harry Santosa,

"Anak itu bukan sebuah kebetulan, begitu juga dengan pernikahan. Orang-orang mengatakan saya KB tapi gagal, atau saya dulu nikahnya dijodoh-jodohkan dan lain sebagainya.

Kita mungkin tidak sedang merencanakan punya anak, atau tidak berencana untuk menikah, tapi ternyata semua itu terjadi. Kita tidak merencanakan, tapi Allah tidak pernah tidak merencanakan kelahiran seorang anak."

Jadi, sambutlah dan temukan hikmah di baliknya..

Selamat menerima dan memetik hikmah! :')

 

Yk, 26 Okt '22 | 21.43

Ketika Telah Menggenap

Ternyata ketika sudah punya pasangan jadi berasa normal banget sebagai perempuan pada umumnya yang pengen dikabarin, pengen didengerin, pengen dibantuin.

Dulu, apa-apa dikerjakan sendiri seringnya. Ngeliat orang-orang yang bergantung pada pasangannya rasanya aneh banget, kenapa nuntut untuk selalu dikabarin, nuntut perhatian, dan lain-lain. Ternyata, oh, wajar ya.. (ketawa dalam hati)

Sudah gitu biasanya barengan terus, tiba-tiba ldr jadi kayak adfghjklm aneh banget. Keluar naik motor sendirian aja bisa bikin melow. Super aneh. Padahal dulu naik motor keluar kota sendirian juga biasa ajaaaa.

Hampir seharian nggak dikabarin masa ngerasanya kayak dilupain hahahahaha aneh banget. Itulah bun sebagai manusia harus punya kesibukan biar nggak suka meratapi nasib.

Tapi di balik perasaan-perasaan seperti ini, ada rasa syukur yang begitu besar karena bisa merasakan hal ini, perasaan ini; perasaan ingin bertemu yang berkecamuk, perasaan resah karena tak kunjung dikabari, perasaan sepi seperti menghadapi dunia hanya seorang diri. Sekaligus tersisipi sebuah pelajaran bagaimana menghargai kebersamaan, memahami keadaan bahwa dalam hidup kadang ada jarak-jarak yang tercipta demi kebaikan bersama, memahami bahwa pentingnya memahami keadaan satu sama lain, saling pengertian, saling berlomba memberi perhatian di tengah kesibukan.

Catatan Kesepian

Aku membaca narasi kesepian dimana-mana; tumblr, twitter, story instagram close friend, status whatsapp dan lain-lain.

Hingga aku menyadari; kesepian adalah sebuah fase yang mungkin akan menghampiri setiap orang.

Narasi-narasi itu menjelma jadi keriuhan di media-media dunia maya. Anehnya nadanya berbeda-beda. Ada yang bersyukur dan tertawa di atas kesepian dirinya sendiri, ada yang meratapi, ada yang berusaha menerima dan menganggap masa-masa kesepian akan segera berlalu, tetapi ada juga yang terus saja terjebak seolah mereka terpaku di ruang yang sama; ruang kesepian yang memenjarakan mereka.

Cara menghadapinya juga berbeda-beda. Ada yang memilih sibuk bekerja dan menabung, ada yang rutin menuliskannya di dinding-dinding dunia maya sebagai upaya journaling, ada yang setengah mati melawannya dan menyangkal bahwa ia tidak sedang kesepian, namun ada juga yang berusaha keras memendamnya dan menghadapi dunia dengan ceria seperti biasanya.

Tidak apa-apa kalau kita merasa kesepian. Dalam hidup, ada kalanya hati merasa demikian. Menyaksikan ramainya kehidupan orang lain, sementara hidup kita sendiri begitu sepi, sunyi. Entah sedang merindukan suasana seperti apa, mungkin suasana keramaian yang pernah ada dulu. Namun, kita sendiri lupa seperti apa hari-hari ramai yang menyenangkan itu.

Orang yang Shalat, Tetap Bisa Kena Santet?

Nonton cerita mantan dukun di youtube, dia bilang, "Orang-orang suka mempertanyakan kenapa orang yang shalat tetap bisa kena santet? Lo pikir dulu aja, shalat lo gimana? Ketika shalat, pikiran lo isinya duniawi, gampang bagi kita buat nyantet lo. Makanya kalau mau shalat, dilepas dulu pikiran-pikiran duniawinya."

Dia juga ngasih contoh pikiran duniawinya yang relate huhu, "lo shalat tapi pikiran lo abis ini mau make up, mau pake baju apa ya.. itu gampang bagi kita buat nyantet."

Apa kabarnya ibu-ibu yang kalau shalat kepikiran anak, masakan, jemuran baju, dan lain-lain. Huhu. Semoga doa minta kekhusyuan dalam shalat nggak pernah lepas ya dari doa-doa kita.


Yk, 2 Agsts 2022 | 21.26

Eyang Uti dan Hal-hal yang Terkenang

Pagi itu aku kembali menyusun banyak rencana untuk hari-hari liburanku ke depan di Bandung dengan setengah rencana telah terlaksana. Namun, mendengar kabar nafas Uti tertatih-tatih, kami segera berkemas dan pagi itu juga pulang ke rumah Magelang.

Uti masuk rumah sakit dan kami bergiliran menjaganya. Esok siangnya, aku tengah makan lotek di lorong rumah sakit. Kala itu, kuamanahkan pada Kak Satriya dan Haikal—sepupuku yang baru berusia sembilan tahun, untuk menjaga Uti.

Lotekku hampir habis bersamaan dengan Kak Satriya yang berlari keluar memberitahu kami bahwa saturasi Uti yang tadinya hampir meraih normal, tiba-tiba turun drastis ke angka 60. Kami semua masuk ke kamar dan saturasi telah berada di angka nol. Haikal menjadi saksi grafik di layar monitor berubah menjadi garis lurus panjang seperti di film-film yang ia tonton, katanya.

Perawat berdatangan, pacu jantung dilakukan, dan kami saling bertangisan dalam ruangan.

Jenazah telah dimandikan, dishalatkan, dikuburkan, sebagaimana kewajiban kami mengantarkannya. Satu-persatu urusan diselesaikan.

Benar kata Bu Cinta, "..tapi, kenapa harus dikeluarkan namanya dari daftar KK?" Ya sudah kalau memang begitu ketentuannya, tapi kenapa harus begitu? :(

Pesan Terakhir

"Jangan lama-lama lho ya di Bandungnya, kamu sudah ada suami.." begitu bunyi pesan terakhir Uti kepadaku yang terus terngiang di benakku.

Rupanya bukan perihal semata karena kehadiran pasangan dalam hidupku, tetapi karena Uti juga akan pergi jauh. Nyatanya aku pulang dari Bandung menyelesaikan liburanku dengan begitu cepat.

"Iya Uti, ini aku sudah pulang tapi Uti juga telah berpulang." Bisikku di samping jenazahnya dengan berlinang air mata.

Uti, minggu ini juga usai Uti tidak ada, Kak Satriya pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan dan Cici—sahabat baikku akan segera pindah ke Makassar hari Selasa besok. Aku sampai bingung harus menangisi yang mana dulu. Semua terjadi dalam satu waktu dan begitu singkat. Apa yang kata Allah terjadi, maka terjadi.

Seperti ketegaran yang selalu Uti ajarkan pada kami, "Eyang Kakung sudah tenang, sudah tidak sakit.." ujar Uti dengan senyuman, pun kini kami akan belajar ikhlas menerima apa yang telah ditakdirkan.

Hanya saja.. ah, tidak ada lagi perempuan tua yang duduk di ruang tengah menantiku pulang ke rumah. 🥀

 

Ditulis di Yogyakarta, 9 Oktober 2022

Catatan Untuk Diri

Untuk agenda-agenda kebaikan bagi diri, jangan menunggu waktu luang, tetapi mulailah meluangkan waktu.

Untuk mencapai apa-apa yang diniatkan dalam hati, dengan penuh tekad diri, jangan menunggu sampai habis waktu, tetapi mulailah membuat target-target dari target kecil terlebih dahulu.

Untuk menuju sesuatu yang besar, mulailah perhatikan hal-hal kecil. Pelan-pelan mempelajari, mungkin dengan membaca, mendengarkan, atau mengambil pelajaran dari sesuatu yang terjadi.

Semoga Allah mudahkan setiap langkah kita di bumi yang fana ini. Aamiin.

Selamat menyambut pagi!

 

Yk, 12 Juli '22 | 05.59

Amor Fati

"Tiada satupun tak terencana, daun yang jatuh dan hujan yang turun.. Setiap musibah dan kematian telah dituliskan.." begitu bunyi salah satu lirik lagu Opick.

Ternyata semenenangkan ini mencintai takdirMu. Amor fati. Apapun yang telah terjadi, qodarullah. Ternyata semenenangkan ini, hati yang menerima. Ternyata sebersyukur ini di kala ada hal yang membuat kecewa, Allah tetap beri kita hidayah untuk menujuNya.

 

Yk, 16 Jun '22 | 10.58

Berpulang

Benar kata Bu Cinta, kapan waktu kematian seseorang sudah ditentukan sejak ia dalam kandungan, sehingga tidak ada alasan untuk tidak rela. Dan ketika waktu itu tiba, maka kita ucapkan, innaalillahi wa innaailaihi raaji'uun..

Selamat jalan Eril. Sudah tenang ya di sana, tidak terhimpit urusan-urusan dunia lagi seperti kami-kami ini yang masih terus berjuang dalam kehidupan yang fana ini.

Ril, katanya seseorang yang wafat lebih dulu itu berarti bekal akhiratnya mungkin telah cukup. Sehingga kami-kami ini yang masih bernafas di dunia, kemungkinan masih sangat sedikit amalnya.

Ril, sampai berjumpa lagi dengan keluargamu nanti di JannahNya.

Banyak yang mendoakanmu, Ril.

Ah, rasanya baru kali ini aku iri, namun bahagia. Sebab, bukan perkara dunia yang membuatku iri.

 

Dari aku, yang bukan siapa-siapanya Eril

Yk, 13 Jun '22 | 11.04 | Pagi ini Eril dimakamkan 🥀

Es Krim di Hari Tua

Beberapa hari yang lalu aku memasuki sebuah minimarket dekat tempat tinggalku. Menyusuri rak demi rak. Mencari apa yang kubutuhkan. Di sana aku berpapasan dengan seorang nenek. Tangannya sibuk memilih-milih es krim dalam lemari pendingin.

"Hmm nenek yang baik hati. Pasti hendak membelikan es krim sebagai oleh-oleh untuk cucunya di rumah!" Seruku dalam hati.

Aku masih mengelilingi satu-persatu rak. Sementara, nenek tersebut sudah tak terlihat lagi. Usai menemukan barang yang kucari, aku lekas membawanya ke kasir.

Langkahku baru saja tiba di hadapan suamiku yang menungguku di halaman minimarket, sepersekian detik aku terkesima. Bukan karena melihat suamiku, ececeh.. tapi ada sebuah pemandangan yang teramat manis disaksikan oleh kedua mataku.

"Kak, nengok belakang deh!" Suruhku padanya.

"Apa?" Suamiku menengok ke belakang.

Rupanya dugaanku tadi keliru. Es krim itu bukan untuk cucunya! Melainkan untuk diri nenek itu sendiri dan suaminya, seorang kakek yang telah menunggunya di dalam mobil jeep mereka.

Di halaman minimarket itu, tepatnya di dalam sebuah mobil jeep, di bawah gerimis siang hari, sepasang kakek dan nenek yang terlihat sudah sangat tua namun masih kuat tersebut tengah bersama menyantap es krim di tangan mereka. Hanya berdua saja. Aaaaaah manis sekali!!

Aku beralih memandangi suamiku seraya membatin, "Apakah usia kita bisa sama-sama akan sepanjang usia mereka? Lalu di hari tua nanti menikmati es krim di dalam mobil di bawah gerimis kota?"

Akan selalu ada banyak semoga yang kupinta pada-Nya untuk kita, Kak.

 

Yk, 11 Jun '22 | 19.02

Menyambut Takdir Terbaik

Pernikahan adalah sebuah momen yang amat sakral—menjadi salah satu dari tiga perjanjian dahsyat yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Mengapa demikian? Karena pernikahan merupakan perjanjian Allah dengan manusia. Dengan demikian, sepatutnya kita tidak menyepelekan pernikahan ini.

Banyak dari kita, termasuk mungkin saya sendiri, yang seringkali terpukau dengan apa-apa yang ditampilkan dalam pernak-pernik pernikahan seseorang. Khususnya era kini, postingan momen-momen tersebut sangat mudah ditemukan di laman sosmed kita.

Di balik penilaian kita soal pernak-pernik acara pernikahan seseorang, pernahkah kita memaknai lebih dalam, melihat dari sisi lain, tentang perjuangan di belakangnya?

Barangkali bagi sebagian pasangan, dekorasi dan segala tetek-bengeknya tidak begitu penting karena bagi mereka perjuangan hingga bisa memperoleh restu orang tua adalah yang terpenting. Juga, perjuangan-perjuangan lainnya seperti menyangkut materi, kemapanan, dan lain-lain.

Boleh jadi mereka memiliki wedding dream sendiri, tetapi saat waktunya tiba ada ujian-ujian tertentu yang membuat mereka melupakan hal itu dan hanya fokus pada bagaimana caranya agar mereka "sah".

Boleh jadi kita tidak tahu bahwa di balik sebuah akad yang khidmat, ada perjuangan yang begitu berat.

SAMAR

 "Iya, mba.. saya hanya menerima penghuni yang pasangan suami istri sah saja. Kalau pun nikah siri, silahkan perlihatkan bukti suratnya. Pernah ada yang mau ngontrak di sini, katanya tunangan. Saya bilang nggak bisa, harus pasangan yang sudah sah. Saya takut ikut menanggung dosanya kalo nerima penghuni kontrakan yang belum menjadi pasangan resmi.."

Entah, selalu kagum pada mereka yang melek dengan dosa-dosa yang terlihat samar, yang senantiasa berhati-hati dengan setiap langkah dalam hidupnya, yang takut pada Tuhannya. Semoga kita menjadi salah satunya.

 

Yk, 6 Juni '22 | 13.27 | Cerita bulan lalu

Bicara Kehidupan

 

Source: Doc. pribadi

Semakin menjalani hari demi hari, sepahamnya kita amat mengetahui bahwa dalam hidup ini lelah adalah sesuatu yang pasti. Masalah demi masalah berhasil kita jalani dengan solusi yang kita ketahui, tetapi bukan berarti ia berhenti. Masalah hanya berganti.

Seseorang pernah menulis dalam blognya, "Saya punya seni tersendiri dalam menikmatinya. Ketika sebuah masalah datang, entah bagaimana saya selalu membandingkan masalah hari itu dengan masalah hari kemarin atau sebelumnya.

Jika hari ini masalah yang saya dapat saya rasa lebih ringan dari hari kemarin, maka harusnya hari ini saya mampu menghadapi, memecahkan dan melewatinya.

Namun, andaikan masalah yang hari ini saya rasa yang paling berat daripada masalah-masalah kemarin, maka saya menganggap hari itu 'level kemampuan menghadapi masalah saya' naik."

Di sisi lain juga, saya sering mengafirmasi pada diri sendiri, "Aku punya Allah yang menciptakanku, kalau nanti aku lelah maka Allah juga yg akan menguatkanku.."

Memaafkan Diri

Source: Tumblr


Setelah beberapa bulan berjalan dalam rumah baru, rumah yang awalnya begitu asing, rumah yang tidak terpikirkan sekalipun, yang pada akhirnya menjadi tempat pulang untuk waktu-waktu sekarang ini.

Ada banyak hal yang terjadi. Ada banyak percakapan yang tercipta. Ada berbagai keresahan yang menenangkan, sebab tahu bahwa semuanya akan dipikirkan bersama-sama.

Satu pelajaran yang telah kupetik dari perjalanan rumah tangga yang baru sangat sebentar ini ialah; betapa pentingnya memaafkan diri sendiri, berdamai dengan diri sendiri, sebelum suatu hari nanti hidup bersama dengan seseorang yang dimana membuat kita terus berupaya merawat perasaan padanya, memaafkan setiap kesalahannya, menerima apa-apa yang masih berproses menuju baik dalam dirinya.

Dahulu, seringkali membaca catatan yang nadanya selalu berulang; "Sembuhkanlah terlebih dahulu lukamu, sebelum kau membersamai seseorang baru yang datang ke dalam hidupmu.." Kini, sedikit memahami bahwa luka mungkin tidak selalu berarti disebabkan orang lain, tetapi juga luka-luka akibat kebodohan diri sendiri.

Maafkanlah diri kita dengan maaf yang baik. Maaf yang membawa diri pada kebaikan yang bertumbuh, bukan maaf yang mewajarkan dan membiasakan setiap salah.

Maafkanlah diri kita sebelum bertemu seseorang yang nantinya dengannya kita juga perlu berupaya untuk memaafkan salahnya. Bagaimana mungkin akan mudah memaafkan yang lain, jika kita sendiri masih bersusah payah untuk memaafkan diri sendiri? Bagaimana mungkin ingin bersama dalam merajut sakinah, namun kita sendiri masih sering mengorek luka-luka lama tanpa berusaha sedikitpun menyembuhkannya?

Untuk setiap hati yang baik, di sana hidup upaya untuk merawat kata maaf; untuk merawat cinta dalam rumah dimana tempat kita seharusnya pulang. ❤️


Yogyakarta, 21 Mei 2022 | 13.51

14/07/22

144 Hari

How’s life, Nin?

Akhirnya pulang ke rumah ini lagi. Sedikit jenuh dengan rutinitas, tidak bohong, sebab jenuh adalah hal yang manusiawi. Tetapi pada prinsipnya tetap meletakkan rasa syukur di antara segalanya. Utamanya untuk satu hal yang tak tertandingi; masih bernafas hingga detik ini. Artinya, masih punya banyak kesempatan untuk berbuat baik lagi. Dan kini, bertambah lagi seorang manusia yang ingin selalu saya bahagiakan, yang ingin selalu saya perlakukan dengan baik; seorang laki-laki yang kini keridhaannya menjadi yang utama bagi saya, selain ridha-Nya.

Akhirnya pulang ke rumah ini lagi. Jauh-jauh berkelana mencari kebahagiaan, lupa bahwa dahulu kala pulang ke sini menjadi salah satu yang menenangkan, membahagiakan. Masih diberi kemampuan untuk mengetik kata demi kata, mengetuk hati demi hati, semoga. Mengetuk dengan maksud memberi makna kebaikan yang semoga bisa diwujudkan, bukan membuat jatuh hati para pembaca. Walau pada akhirnya menikahi seorang pembaca, hehe. Tidak menyangka.

 

144 Hari Bersama, Hal-hal Apa yang Menjadi Pelajaran?

Ternyata baru 144 hari.

“Aduh, masih ada 50 tahun lagi. Kalau bosan gimana, ya?!!” tanya saya padanya. Sambil ketawa-ketawa.

“Belum ada setahun, tapi kenapa rasanya kayak sudah lama tinggal bareng kamu..” katanya.

Oleh karena itu, salut betul pada para bapak dan ibu yang berhasil mempertahankan pernikahan hingga berpuluh-puluh tahun. Bukan hal yang mudah, hidup seatap lalu berusaha menyambungkan segala obrolan, sifat, selera, toleransi, ekspektasi, dan lain-lain. Sebenarnya tidak harus menyambungkan segalanya, yang terpenting adalah ruang penerimaan itu dibuka seluas-luasnya, ego itu direndahkan serendah-rendahnya, maaf itu dihadirkan sebanyak-banyaknya.

144 hari pertama yang sangat berarti untuk kami. Hari-hari dimana terus saling belajar; belajar memahami satu sama lain, belajar menerima kekurangan pasangan, belajar merendahkan ego, belajar menghadirkan maaf yang banyak, belajar saling mengucap terima kasih untuk segala halnya, dan juga belajar bersyukur atas rezeki yang Allah berikan, sedikit maupun banyak.

 

Siap Menerima Segala Kritik dan Saran

Akhirnya pulang ke rumah ini lagi. Siang-siang hari, usai memasak semangkuk sayur terong balado dan ayam crispy. Syukur Alhamdulillah kuota dan wifi berlimpah, karenanya bisa memasak sembari melihat resep di channel youtube entah siapa, tidak kenal.

Siang ini mengirim banyak chat padanya, banyak emotnya juga.

“Sebelum kamu menjadi juri atas masakanku, aku akan menjadi juri terlebih dahulu untuk masakanku.”

“Aduh deg-degan..”

“Ntar malam masakanku dikomentarin apa ya.. (emot lesu, emot mulut terbuka lebar, emot mengeluh)

“Jangan sadis-sadis plissss.. (emot nangis yang banyak)

Jadi, dia ini pernah magang sebagai juri di master chef negeri antah berantah. Jadi lagi, setiap kali saya selesai memasak, setiap kali itu pula ruang hati saya meluas, juga kedua telinga saya bersiap untuk menerima segala kritik dan saran darinya. Awal-awal heran kenapa selalu deg-degan, oh yang ini bukan deg-degan karena cinta, tapi deg-degan karena seringnya tidak merasa siap untuk dikomentari. Padahal salah satu risiko pernikahan adalah harus selalu siap untuk dikomentari, lebih tepatnya untuk menerima segala kritik dan saran dalam hal apapun demi menjadi lebih baik, apalagi hal sesepele masakan yang sangat subjektif. Apalagi kita memasak memang untuk dia makan, memang untuk bikin dia senang dengan masakan kita. Dan perasaan bahagia di hati kita juga akan muncul begitu saja, ketika melihat seseorang yang kita sayangi berbahagia atas apa yang telah kita lakukan untuknya. Eciee.

12/05/22

/Za•lim/

Berdasar kbbi, men·za·limi berarti menindas; menganiaya; berbuat sewenang-wenang terhadap;

Sementara itu, dikutip dalam buku 73 Golongan Sesat dan Selamat karya Saifuddin Mujtaba, zalimun atau zalimin; artinya adalah orang yang aniaya (termasuk terhadap diri sendiri). Orang zalim adalah orang yang tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. Orang yang menghukum tidak berdasarkan hukum yang adil. Orang yang bertindak tidak sesuai dengan permainan yang telah dibuat atau diundangkan. Orang yang melanggar hak-hak asasi Tuhan dan juga melanggar hak-hak asasi manusia.

Jadi, beberapa hari yang lalu seusai bepergian, aku dan kak Satriya mampir ke warung untuk beli sesuatu. Sambil menunggu pesanan, tiba-tiba lewat sebuah motor dengan knalpot bersuara bising yang tentu begitu mengganggu telinga.

Seperti biasa, ketimbang memaki orang-orang semacam itu, cara kak Satriya sederhana saja dalam menghadapi manusia macam begitu. Kak Satriya cuma akan mengangkat jari telunjuknya sambil menunjuk-nunjuk ke arah bagian kepala tempat berpikir, yang jika dilisankan berarti, "otaknya dimana?!" Sedikit kasar tetapi hemat energi karena tidak perlu memaki dengan emosi, hehe.. cukup sedikit geleng-gelengkan kepala sembari menunjuk-nunjuk kepala sendiri.

Saat itu ia juga bilang,

"Aku kepikiran gimana kalo misalnya aja ada orang dengan motor berknalpot seperti itu bepergian dari Bandung ke Jogja? Berapa banyak orang di jalan yang merasa terganggu dengan suara knalpotnya? Bukannya sebanyak itu pula dosanya karena sudah zalim terhadap telinga orang-orang yang terganggu karena knalpotnya dia.."

Sepulangnya, aku termenung. Berapa banyak hal sepele yang mungkin tidak disadari telah kulakukan dan membuat orang-orang di sekelilingku merasa tersakiti karenanya? Semoga termaafkan.. :")

22/04/22

#7 Salah Sangka

 Sedang antri bayar makan di warung soto betawi.

“Mba, bayarnya sendiri-sendiri?”

“Gimana, Mas? Oh nggak, sekalian aja semuanya.” Jawab saya sambil menahan tawa dalam hati.

Setelah itu, saya dan Kak Satriya menuju parkiran sambil kubisiki ia, “Kak, bahkan orang tidak berpikir bahwa kita pacaran. Masa dikiranya kita bayarnya sendiri-sendiri.”

‘Karena kita memang temenan ya, Kak? Teman hidup..’ batin saya sambil tersenyum.

Lalu kami tertawa bersama. Kudekap erat tubuhnya di atas motor.

#6 Emang Dibolehin?

 Percakapan seorang teman dengan ibunya lewat telepon.

“Aku mau mandi, nih.”

“Cie mandi, mau kemana? Ketemu sama siapa?”

“Mau main sama Rili dan Nina.”

“Nina? Emang Nina dibolehin main sama suaminya?”

“Ya bolehlah, emangnya Mama, suka nggak dibolehin sama suaminya Mama..”

Hahahahaha kalau kata Kak Satriya, “Aja-aja ada..”

25/03/22

#5 Perkara Membangunkan


Hari itu Kak Satriya ada pemotretan untuk buku tahunan sekolah. Awalnya mengira akan pulang siang, ternyata sore hari baru pulang.

“Kamu udah makan siang, belum? Sabar ya, nanti aku pulang bawa makanan.” Ujarnya lewat pesan WhatsApp. Siang itu saya menunggunya sambil nyemil, tetapi ternyata sore hari ia baru tiba dengan sekotak makanan berisi ayam bakar. Lezat.

Malam harinya tentu saja saya masih kenyang karena baru selesai makan sore tadi. Rencananya juga malam ini ia akan meeting sehingga kemungkinan besar ia akan makan di luar bersama rekannya. Saya ngantuk, sementara ia masih menunggu kabar dari rekannya.

Esok paginya saya baru menyadari bahwa semalam ia tidak jadi meeting yang artinya kemungkinan ia tidak makan malam. Saya mulai dihinggapi perasaan bersalah. Duh Nina, kenapa sih kamu nggak nunggu sampai Kak Satriya beneran berangkat meeting? Kenapa malah tidur..

“Kak, maaf ya semalam aku ngantuk banget, kenapa kamu nggak bangunin aku? Kamu lapar, ya?”

“Mendingan aku bangunin polisi tidur, Nin..”

“Hah? Hehehe.. Emang sesusah itu ya bangunin aku?!”

Atau di lain waktu, kalau mata saya sudah tidak kuat, ia akan menyuruh saya untuk tidur duluan. Padahal waktu itu saya sedang membantunya mengetik, tapi bahkan kepala saya sudah tidak bisa tegak lagi. Dengan berbekal yakin, saya berkata, “Aku tidur bentar, nanti aku bantuin lagi. Tolong bangunin, ya!”

#4 Rezeki Pertama


Pagi di hari ketiga kami di hotel, Kak Satriya mendapat kabar dari seorang teman yang menawarkan pekerjaan dokumentasi liputan. Tentu saja langsung diiyakan. Berbeda dari job-job sebelumnya, dimana biasanya Kak Satriya mengambil job sebagai fotografer dalam acara wedding, kali ini ia hendak dipekerjakan untuk peliputan suatu acara yang dilaksanakan oleh kementerian kehutanan dalam upaya edukasi kopi terhadap para petani di daerah Ciwidey, Jawa Barat.

Sementara saya menulis tulisan ini, Kak Satriya tengah berada di Ciwidey bersama tim yang diutus dari Yogyakarta. Tidak tanggung-tanggung, dalam tim ini ikutserta ahli kopi, pengusaha coffe shop, professor, juga orang-orang hebat lainnya. Beberapa kali sepulang dari meeting, diceritakan olehnya tentang hal-hal menarik seputaran kopi ini.

Dan tentu saja, saya tidak sabar menantinya pulang. Tidak sabar menunggu oleh-oleh segudang cerita dan ilmu baru dari sana. Juga, sekeranjang buah stroberi kesukaan saya yang semoga sempat ia belikan.

Teringat pesannya di teras coffe shop tempat saya mengantarnya sebelum ia pamit pergi, “Jaga diri, ya. Kamu nulis aja biar nggak bosan, biar produktif.”

Dan lihat, aku sungguh-sungguh berbakti, kan? Kembali ke ruang ini dan menulis lagi. Kamu, cepat pulang.. cepat kembali..

*backsound lagu Firasat punya Marcell

#3 Beda Pemikiran


Malam itu saya bercakap-cakap dengan seorang teman perempuan yang datang ke pernikahan saya.

“Nin, pasti di luar sana banyak laki-laki yang sedang bersiap menuju kamu, sedang mempersiapkan diri untuk melamarmu. Lalu, mereka terkejut karena tiba-tiba kamu menikah. Mereka gagal hanya karena mereka kurang sat-set-sat-set.”

Ia juga banyak mendengar obrolan para laki-laki yang hadir di pernikahan saya waktu itu.

“Nggak dapat kakaknya, adiknya juga boleh.” Mereka bercanda dan tertawa di sela-sela alunan yang mengalir memenuhi ruang pernikahan.

Saya tiba-tiba teringat apa yang Kak Satriya katakan pada saya tempo hari, “Lebih baik sudah mencoba meskipun jika pada akhirnya harus gagal. Mungkin aku akan menyesal seumur hidup jika aku tidak mencobanya. Kalau saja saat itu aku tidak berani, mungkin kita tidak akan pernah berada di tahap sejauh ini.”

Saya juga membuka topik obrolan ini dengan Kak Satriya yang kini telah sah menjadi suami saya. 

“Kak, mungkin di luar sana banyak laki-laki yang menyukaiku, tapi mereka tidak kunjung datang. Kalau kata temanku, kebanyakan dari laki-laki tersebut merasa nggak pantas bersamaku, mereka takut nggak bisa mengimbangiku. Jadi, kebanyakan dari mereka hanya ingin sekedar mengekspresikan perasaannya tanpa berharap terlalu jauh. Lalu kamu, setelah kuceritakan banyak hal tentangku padamu yang sebenarnya aku hendak membuat nyalimu ciut dan barangkali memutuskan mundur karena aku tidak membutuhkan laki-laki yang minder, tapi kenapa kamu tidak demikian seperti laki-laki yang lain?” tanya saya padanya, waktu itu di tengah sarapan soto kudus sebelum pemotretan buku tahunan sekolah.