Tampilkan postingan dengan label #cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #cerbung. Tampilkan semua postingan

09/06/21

#14 Surat Terakhir

 

Source: Tumblr/cottageaesthetic

Yang Terhormat,

Tuan Sam

di Tempat

 

Samudra, rupanya sayalah orang yang ditunjukkan jalan itu untuk yakin bahwasannya kau ada, hadir. Kemarin saya tak sengaja menemukan blog milikmu. Sebuah blog yang berisi jurnal foto. Saya menemukan sebuah foto di sana. Saya tahu ini tidak masuk akal bagi saya. Sebab, bagaimana bisa saat itu engkau berada di sana? Di saat yang sama, saya pun ada di sana. Saya sudah memeriksa banyak foto yang sering saya ambil di sana. Tak sedikit pun timbul keraguan. Bahwasannya tempat itu adalah sama. Saya pikir suatu hari nanti akan datang kesempatan bagi saya untuk bisa mendengar semua penjelasan yang masuk akal ini, tentang mengapa di hari itu kau ada di sana, mengendap-endap mungkin, bagaimana bisa saya tidak menyadari kehadiran engkau yang dekat di hati. Ya, mungkin suatu saat nanti datang harinya. Atau tidak akan pernah. Saat seluruh pertahanan saya telah runtuh. Tak tersisa.

Samudra, telah kutangisi engkau di hadapan ibundaku selama berwaktu-waktu. Saya kehabisan kata. Di hadapannya hanya bisa menyuguhkan air mata. Pada akhirnya saya sadar bahwa di dunia ini ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, seperti hatinya orang lain. Engkau yang tak bersegera menujuku juga mungkin sudah menjadi bagian dari ketetapan-Nya. Ada sesuatu yang menahanmu. Atau engkau memang tidak seharusnya datang, kata-Nya. Adalah salah saya, yang bersikeras menunggu di ruang yang tak pasti.

Usai menangisimu di hadapannya dengan kuungkapkan segala kebaikanmu yang saya tahu, bunda akhirnya mempercayaimu. Awalnya bunda sudi membiarkanku untuk menunggu engkau, tetapi akhirnya bunda mengatakan sampai kapan? Mengapa orang bertanya sampai kapan adalah karena tidak ada kejelasan satuan waktu yang menjadi tujuannya.

Kata ayah, jangan menyia-nyiakan seseorang yang baik dan pasti demi satu orang lainnya yang belum tentu baik dan tidak pasti. Kata bunda, kalau saya menikah akan ada banyak sekali orang yang berbahagia. Saya adalah cucu pertama perempuan dari kedua belah pihak keluarga besar ayah maupun bunda. Ada harapan yang besar di pundak saya. Semua orang ingin memilihkan yang terbaik untuk kehidupan saya. Saya berterima kasih kepada Allah untuk hal itu.

Samudra, saya memikirkan kembali tentang hidup ini. Untuk apa kita hidup? Apa tujuan hidup kita? Apa kiranya yang kita sedang cari di hidup yang singkat ini?

#13 Menemukan Mentari

Source: Tumblr/cottageaesthetic

Demamnya sudah turun. Mentari kembali beraktivitas. Kali ini, ia sedang senang-senangnya mengurus blog barunya. Blog khusus semacam foto-foto tematik. Foto-foto perjalanannya ke berbagai tempat. Foto-foto absurd. Foto-foto yang menjadi bukti kemana kaki-kakinya pernah melangkah. Setiap fotonya ia berikan keterangan lokasi. Mentari puas dengan satu kesibukannya ini. Blog ini termasuk satu dari beberapa blog rahasia yang dimilikinya. Barangkali hanya dia seorang yang berkunjung. Mentari tidak follow siapapun dan tidak menyebarkan hastag apapun. Ia ingin menikmati dirinya sendiri di dalam sebuah tempat dimana ia merumahkan perjalanannya.

Dengan iseng, ia mencari sebuah tempat kesukaannya melalui sebuah hastag. Satu nama kota terlintas. Kota yang damai. Magelang. Kota yang pernah menjadi tempatnya berpulang. Ia menelusuri linimasa tersebut. Memandangi hasil jepretan orang-orang yang mengabadikan kota Magelang dari berbagai sisi.

Sejenak Mentari terdiam. Di hadapannya ada sebuah foto yang membuatnya berhenti. Ia berpikir. Adalah sebuah foto dengan caption, “beautiful Magelang with a beautiful person.”

Bukan captionnya yang membuatnya terdiam, tetapi foto itu sendiri. Seorang perempuan duduk memandangi langit di tengah sawah, di bawah sebuah saung yang diteduhi sebuah pohon pepaya.

Perempuan yang duduk itu, sangat tidak asing. Ada kepanikan di dalam kepalanya. Jari-jarinya bergerak cepat, mencari-cari file yang entah apa. Hingga beberapa saat kemudian jari-jarinya berhenti. Sesuatu itu telah ditemukan. Dicocokkannya dengan foto tersebut. Dirinya sendirilah yang pernah datang ke tempat itu, menggunakan pakaian itu, duduk di pinggir saung kecil itu, menatap langit dengan cukup lama, menghirup udara persawahan sehabis mendung.

Mentari menarik nafas panjang, menghembuskannya, berkali-kali hal itu dilakukannya. Ia melirik nama pemilik blog itu. Saddam Samudra.

Mendadak tubuhnya gemetar hebat, dadanya sesak, air matanya runtuh. Pikirannya semakin kacau, hatinya dibuat bertanya-tanya.

03/06/21

#12 Kepada Tuan Sam

 

Source: Tumblr/Swedishlandscapes

Yang terhormat,

Tuan Sam

di tempat

 

Pertama, dengan berat hati saya harus menulis surat ini. Biar kuceritakan kembali perihal malam itu, barangkali engkau lupa.

Saya adalah anak perempuan yang berdiri di bawah gerimis suatu malam pada bertahun-tahun yang lalu. Seharusnya saya bisa berlari pulang karena hujan hanyalah gerimis, tetapi gelapnya jalanan perumahan yang belum begitu ramai penghuni itu membuat langkah saya tertahan. Saya baru saja pulang dari masjid usai shalat Magrib bersama anak-anak sebaya saya kala itu. Setiap sore pada Rabu dan Sabtu, kami rutin ikut TPA di masjid yang dilanjutkan shalat Magrib berjamaah. Saya ingat saat itu seorang anak laki-laki dengan bangga menceritakan sebuah pengalamannya yang menyeramkan. Anak-anak ketakutan dan berhamburan seolah dalam sekejap harus segera tiba di rumah. Mungkin saya berlari paling pelan hingga ketinggalan rombongan. Saya diam di tepi jalan.

Adalah engkau, seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang lewat kala itu. Melihat saya dan menghampiri menawarkan bantuan untuk mengantarkan sampai rumah. Sejak saat itu barangkali awal mula terpikatlah saya, bahwa kebaikanmu tak pernah bisa dilupakan. Kemudian kita berteman. Kepindahan saya ke kota lain menjadi sebab berakhirnya seluruh cerita kita yang ternyata barangkali sebenarnya belum benar-benar berakhir.

Sam, saya telah mencari engkau kemana-mana. Berbekal sebuah nama milikmu. Saya menelusuri setiap linimasa, berharap jumpa sedikit kabar tentangmu. Suatu hari saya menemukan sebuah akun medsos milikmu, tetapi rupanya kau tidak terlalu aktif di sana. Beberapa kali saya menelusuri lewat mesin pencarian, bersyukur nan bahagia namamu berulang kali muncul sebab mempublikasikan beberapa jurnal ilmiah. Kau keren, Tuan! Tentu saja seperti sejak dulu. Bahkan namamu berkali-kali masuk artikel, tentu artikel yang baik-baik. Semoga orang itu memang engkau, bukan orang lain yang memiliki kesamaan nama. Saya takut salah mengira.

30/05/21

#11 Teman Hidup

 

Source: Tumblr/kitaplarvsarkilar


Perjalanan panjang?

“Maksudnya, Kak?”

Kak Dito tidak segera membalas. Rasa ge-er menyelimuti Mentari, tapi ia teringat apa kata Kica. Ada tiga hal yang melunturkan kegantengan seorang laki-laki, pertama ketidaksholehan, kedua kege-eran, ketiga kegengsian. Begitu pula pada seorang perempuan. Kege-eran bisa melunturkan kecantikan.

“Eh, sorry sebelumnya, kok gue jadi pake aku-kamu, sih. Kayaknya kebawa budaya Yogyakarta nih. Hehe.”

Mentari menyipitkan mata. Kak Dito melanjutkan typingnya.

“Ngetrip bareng anak-anak yuk! Ke blue fire, gitu, Mentari.”

Oalah.

“Waaaaa, blue fire-nya yang mana?”

“Yang di ujung pulau, nanti kita backpackeran gitu, tapi tenang nanti ada relasi juga di sana.”

“Ujung pulaunya mana?”

“Banyuwangi.”

“Hah Banyuwangi??? Impian aku banget. Itu dulu rencanaku sehabis sidang, tapi sampai sekarang belum kesampaian. Aku pengen, tapi gimana bilangnya ke orang tuaku?”

“Mau gue yang mintain izin?”

“Nggak perlu, kak.”

Mentari teringat ekspedisi Kei. Dengan alasan kuat saja tidak berhasil, apalagi sekedar berjelajah seperti ini.

“Atau ajak aja sekalian ayah lo buat ikut.”

“Nggak mungkin, Kak. Ayahku pekerja keras. Nggak mungkin mau ambil sembarangan cuti untuk hal-hal semacam ini.”

“Kata gue sih, lo coba ngomong dulu. Kita nggak pernah tahu isi hati dan pikiran orang lain. Siapa tahu orang tua lo berubah pikiran.”

Mentari merenung. Dipikirkannya kembali tujuan hidupnya.

 

26/05/21

#10 Ekspedisi

 

Source: Tumblr

Sambil menatap langit-langit kamar, Mentari memainkan ponselnya. Mencoba menghubungi Bima lewat pesan teks.

“Bim, yakin sama perempuan itu?”

“Kenapa emang?”

“Nanya aja.”

“Jujur nih ya, yang mau serius sama gue itu nggak banyak. Susah nyarinya. Ketika gue udah nemu satu yang cocok, kenapa gue harus ngerem?”

Mentari tertawa dalam hati. Ternyata Bima sadar dirinya tidak selaku barang di Tanah Abang.

“Kan aku cuma nanya yakin atau nggak.”

“Aneh lo. Udah di tahap ini masa gue nggak yakin.”

Mentari menghela nafas. Sebentar lagi temannya akan berkurang satu. Kenapa setiap seorang teman akan menikah, teman lainnya akan merasa kehilangan? Pertanyaan yang tak kunjung Mentari temukan jawabannya.

 

***

 

Mentari menulusuri linimasa. Dibuat terkaget-kaget dengan sepasang kekasih yang masih saja belum halal, tetapi bepergian dari Sabang sampai Merauke bersama-sama dalam waktu yang berturut-turut.  Bagaimana bisa seorang perempuan mendapat izin dari orang tuanya untuk bepergian seperti ini?

Diam-diam dalam hati sebenarnya Mentari juga ingin, tapi toh sangat tidak mungkin. Pertama, ia mungkin tidak akan diizinkan oleh orang tuanya. Kedua, ia tidak punya kekasih. Mau pergi sama siapa?

Rasa penasarannya membuat jari-jarinya terus berusaha menelusuri jejak-jejak petualangan sepasang kekasih tersebut yang ditinggalkan dalam bentuk banyak potret yang dibagikan oleh keduanya.

Si laki-laki sama sekali tidak pernah memajang foto berdua dengan kekasihnya, sampai di akun si perempuan, si perempuan sendiri yang membagikan potret keduanya dengan caption yang dinilai romantis oleh kalangan muda. Sebuah potret petualangan mereka dan caption yang merangkum keseluruhannya.

25/05/21

#9 Menghitung Hari

 

Source: Tumblr

Di sambungan telepon pada sembilan tahun yang lalu.

“Halo, Bimanya ada?”

“Iya, ini gue.”

“Bim, selamat ulang tahun, ya! Cie makin tua, makin berkurang aturan, nih.”

“Haha.. kata siapa berkurang. Yang ada tanggungjawab makin banyak!”

“Yaudah jalanin aja! Eh besok gue tunggu ya di kafe biasa dekat Braga jam 4 sore!”

“Barengan aja nggak sih balik dari sekolah?”

“Nggak ah, males gue kalo temen-temen pada ciye-ciyein gue sama elo.”

“Atuh kumaha?”

“Gue balik rumah heula, berangkat sendiri-sendiri wehlah.”

“Ye, si ribet! Serah lo, deh! Kumaha sia, weh! Jam 4 ya!”

 

***

 

Bima dan Mentari sudah berteman selama sepuluh tahun lebih. Kala itu Mentari masih bergue-elo sebelum akhirnya merantau ke Yogyakarta mengubah kebiasaannya dalam berbicara. Yogyakarta mengubah banyak hal dalam dirinya, meski Bima tetap ada dalam kehidupannya.

Keduanya pernah masuk sekolah dasar yang sama di kota Bogor.  Selepas lulus sekolah dasar, Mentari hijrah ke Bandung bersama keluarganya. Ternyata Bima juga. Begitu di Bandung, mereka tidak lagi masuk sekolah yang sama. Lulus SMP, rupanya tanpa sengaja mereka mengincar SMA yang sama dan berhasil masuk. Tak heran nama Bima sering terdengar di sela-sela percakapan di dalam rumah Mentari.

Bahkan sampai pada hari ini, ketika Mentari baru saja pulang dari bank.

"Neng, kok nggak cerita sih kalau Bima mau menikah?"

18/05/21

#8 Skripsweet

 

Source: Tumblr

Di samping memori Candra, ada banyak cerita lain yang tidak kalah ramai. Hadir karena sebuah alasan, pergi pun begitu meski tidak dijabarkan terang-terangan. Bunda tidak tahu bahwa ada satu orang lagi yang selalu ada. Bukan sekedar selalu ada, tetapi selalu punya jawaban untuk setiap pertanyaan yang diajukan oleh Mentari dan selalu bertanya balik seolah perspektif Mentari adalah juga selalu penting baginya.

Adalah Kak Dito, satu-satunya stranger yang namanya ada dalam daftar ucapan terima kasih di halaman skripsi Mentari. Bukan stranger, sih. Sejak banyak membantu Mentari, Kak Dito sudah berubah jadi Ranger. Sebenarnya mereka sering berpapasan bertahun-tahun di lingkungan fakultas, tanpa pernah berkenalan. Sampai suatu hari Kak Dito menjadi satu-satunya harapan bagi Mentari dalam menyelesaikan skripsinya. Selain jarak angkatan yang tidak terlalu jauh, sehingga menurut Mentari, Kak Dito masih kuat ingatannya mengenai bahasan skripsi, juga Kak Dito barangkali orang yang paling mudah untuk ditemui. Kak Dito ialah orang yang menggunakan teori tugas akhir yang sama dengan Mentari. Mentari butuh lebih banyak pemahaman untuk memahami, utamanya dari seseorang yang sabar mengajari.

Hari-hari mengerjakan skripsi tidak lepas dari hari-hari menghubungi Kak Dito. Lebih tepatnya datang untuk merepotkannya. Anehnya Kak Dito selalu mau-mau saja diganggu olehnya. Mentari dan Kak Dito bisa berbincang lama sekali, yang awalnya hanya membahas persoalan tugas akhir, hingga akhirnya kemana-mana. Traveling, fotografi, perlombaan, organisasi, dosen, kepribadian, media sosial, volunteering, pendakian, podcast, desa-desa, kisah-kisah, bencana-bencana, film-film, buku-buku, kelinci, kucing, suku Baduy, kereta api, negara Swiss, juga tentang bahasan tesis kak Dito sendiri yang juga sedang berjuang menyelesaikan S2, apapun itu, pernah ada dalam pembicaraan mereka, tetapi yang paling penting dari itu semua adalah kesabarannya dalam menjelaskan dan seluruh wejangan-wejangannya yang amat berguna untuk Mentari yang banyak tidak mengertinya.

 

11 Desember 2019

Kalau ada yang ditanyain, tanyain aja. Selow.

Kemaren gue ada sih buku-buku dari pdf, tapi kalau teori-teori yang inti kayak Iser dan Creswell dari buku cetak semuanya, buku pdf tambahannya aja. Pakai aja bukunya nih, sekarang udah nggak kepake kok.

 

15 Desember 2019

Kalau ketemu dosbing lo, salamin ya! Bilang aja dari Dito ganteng gitu.

 

25 Desember 2019

Nggak balik Bandung, Mentari? Kampus udah libur belum, sih?

 

9 Januari 2020

Liburan-liburan gini nggak usah pusing mikirin skripsi, pusingnya ntar aja pas masuk hahaha, yang penting kita punya target aja, tapi ya kalau bsia dicil dan nggak bikin stress kenapa nggak hehe..

Ya lo bisa bikin cover skripsinya dulu kek, atau curriculum vitaenya kek, yang penting nambah lembarnya.

Kalau lo di rumah mending nikmati liburan, mumpung di rumah. Skripsiannya di Jogja aja, kalau ntar pusing juga kan banyak temennya kalau di jogja mah hahaha, kalau di rumah pusing sendiri..

 

09/05/21

#7 Memori Candra

Source: Tumblr

Sore bersama Bunda lagi. Keberkahan lagi. Keberuntungan lagi. Sayangnya, membahas hal-hal yang membuat Mentari tertunduk. Bingung. Dan bingung.

“Bunda nggak ingin kejadian seperti yang terjadi pada Candra terulang lagi. Empat tahun, Mentari. Empat tahun selama perkuliahan dia rela selalu kamu repotin. Bahkan saat dia tahu bahwa dia mungkin tidak bisa mengambil hati kamu. Sampai pada akhirnya dia mundur dan sekarang memilih orang lain. Kamu kehilangan teman sebaik dia, Mentari.”

Mentari seketika teringat memori yang lalu. Tentang Candra. Mentari melirik ponselnya. Matanya mencari-cari kontak Candra. Seluruh history percakapannya dengan Candra masih tersimpan rapi. Mungkin bukan karena Candra adalah seseorang yang berarti, tetapi karena memang dasarnya Mentari malas untuk menghapus-hapus percakapan yang pernah ada. Tersimpan rapi dimulai pada hari itu, hari dimana Candra menemaninya membeli HP baru sehingga seluruh percakapan yang ada dimulailah pada hari itu.

 

19 Januari 2019

*Mentari sehabis ditemani Candra beli HP*

Can, makasih banyak ya udah ditemenin beli HP. Ini tombol matiin power HP-nya dimana, ya?

Iya, sama-sama. Kamu nggak tahu? Saya balik ke kos kamu aja kalau gitu.

Untuk ngasih tahu cara matiinnya? Nggak usahlah. Nyusahin kamu nanti.

Kan emang selalu nyusahin, tapi saya senang kalau disusahin sama kamu. Hehe.

 

20 januari 2019

 *Candra ngirim beberapa foto candid Mentari*

Masih ingat ini?

Hahahahaha hapus ih, Candra. Ini jaman kapan? Lawas banget nih pasti.

Nggak mau dihapus, ah. Nemu ini aja saya senang.

Kok punya sih foto-foto itu? Ternyata udah ngefans dari dulu ya, Can.

Emang iya hahahaha menyedihkan ya punya fans dekil kayak gini.

 

21 Januari 2019

*Candra nanya soal menanam*

Kamu masih mau nanem?

Saya udah nggak ada pot, mana sini pot kamu, Can.

Saya tadi mau ngasih pot tapi belum sempat, besok aja. Mau berapa pot?

Gimana, sih. Yang ada aja.

 

22 Januari 2019

*Candra bertanya*

Nitip nasi goreng atau capcay, nggak?

Dimana?

Saya lagi makan nih sama Mas Didi, di warung capcay. Mau dipesenin?

Nggak usah, Can. Makasih.

Makan nasi lho kamu.

Iya besok.

 

#6 Wajah Seorang Perempuan

 

Source: Tumblr

Pagi menjelang siang. Mentari menarik kopernya. Ia telah sampai di depan kamar sebuah hotel tempatnya menjalani sebuah training selama tiga hari kedepan. Pelan-pelan membuka pintu lalu bergegas menuju kamar mandi yang di dalamnya menggantung sebuah cermin. Mentari mencuci wajahnya. Dilihatnya wajahnya pada pantulan cermin itu.

Ia menghela nafas.

Wajah ini. Wajah yang mengundang banyak dosa. Wajah yang dengannya mungkin seseorang bisa saja berdosa. Mengagumi tanpa menyebut nama-Nya. Ampuni saya, yaa Rabb. Batin Mentari.

Dibilasnya sabun yang memenuhi wajahnya. Terbayang kejadian malam itu. Sehabis pentas teater, masih menggunakan gaun putih sebagai kostum, tiba-tiba Candra menujunya. Tahu apa kalimat pertama yang dilontarkannya?

"Kamu cantik banget malam ini."

Seperti keceplosan atau bagaimana, tapi Mentari berusaha tidak peduli.

"Apasih." Tangkasnya. Candra salah tingkah. Dan sepanjang malam itu lagu Beautiful in White diputar Candra dari balik headset-nya.

Atau suatu kejadian, ketika Mentari tempo hari belanja bulanan ke supermarket dekat tempat tinggalnya, seorang pria melihat ke arahnya terus-menerus. Mentari pura-pura tidak peduli walau ngeri dalam hati. Begitu berpapasan, laki-laki itu berseru, "Ih, cantik!" Mentari terkejut, sementara laki-laki itu masih menatapnya. Ngeri.

Ia selalu teringat firman-Nya dalam Al-Qur’an tentang laki-laki dan pandangannya, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS. An-Nur : 30)

Ada lagi yang lebih mengerikan, saat seorang lelaki tua gila menerobos masuk ke rumah KKN-nya. Semua perempuan di dapur saat itu, tetapi lelaki itu hanya menatap fokus pada dirinya sambil menunjuk-nunjuknya dan berkata ingin mempersuntingnya. Mengerikan, bukan? Saat seorang perempuan dengan wajah baru bangun tidur hendak memasak sarapan pagi, lalu harus menjadi korban kegilaan seseorang dengan menerima perkataan yang membuatnya bergidik ngeri.

08/05/21

#5 Belum Usai

 

Source: Tumblr

Sore di teras rumah. Bunda baru selesai menyapu halaman, Mentari keluar hendak menyapa Bunda dan langit. Duduk bersama Bunda di teras rumah saat sore hari adalah keberkahan bagi Mentari. Masih di dunia yang sama, menatap langit yang sama, membahas hal-hal yang perlu dibahas.  

“Neng, kamu jadi terima tawaran Bu Eka untuk ngajar di sekolah miliknya yang di Bogor?”

 “Kayaknya belum bisa, Bunda."

Belum, bukan belum bisa, tapi belum siap. Belum siap bertemu cinta pertama. Entah cinta atau bukan, pertama atau bukan, Mentari tidak siap kalau harus tinggal satu kota dengan orang itu.

"Ayah pengen ada salah satu anaknya yang ngurus rumah di Bogor. Kalau kamu mau, nanti abang kamu juga pindah ke Bogor dari Jakarta. Jadi, kamu ada yang menemani."

Mentari nampak berpikir.

Kalau orang itu tahu Mentari tinggal di Bogor juga, bagaimana? Apakah orang itu mau bertemu dengannya? Kalau nanti dia bertemu orang itu dengan tidak sengaja, bagaimana?

Ah, dasar Mentari. Padahal Bogor itu luas. Walau kalau takdirnya bertemu, pasti akan bertemu. Kalau tidak, ya tidak.

Terus kalau ketemu, saya harus gimana? Harus ngomong apa? Terus apakah saya harus bertemu untuk sekedar menguji debaran di jantung saya? Ah, gimana..

Terus kalau hati saya belum siap, tapi kedua kaki saya oke-oke saja, lalu kalau tiba-tiba saya sudah berada di depan rumahnya, gimana?

Tapi Mentari tahu kalau dia tidak seberani itu. Tidak akan.

"Mentari." Panggil Bunda. Lamunannya buyar.

"Di Bandung masih banyak yang perlu Mentari urus, Bun.. Mentari minta maaf, ya."

Bunda mengangguk.

#4 Preloved

 

Source: Tumblr

Lagi-lagi anak-anak yang lain belum datang. Sulit sekali mengubah kebiasaan yang sudah diwajarkan, tapi Mentari selalu datang lebih dulu, Bima selalu menyusul setelahnya karena rumahnya cukup dekat dari titik kumpul.

"Mau ngirim barang jualan lagi? Preloved?" Bima memandangi barang-barang bawaan Mentari.

"Iya, nih." Respon Mentari.

"Barang apa?”

“Buku, ada juga baju-baju.”

“Nggak apa-apa dijual lagi?”

“Nggak apa-apa, bukunya sudah nggak saya baca lagi, bajunya juga sudah saya nggak mau pakai lagi.”

“Kenapa pada dijual, sih?”

“Kan sudah dijawab barusan.”

“Itu gua bukan nanya, tapi pernyataan. Heran. Pantas baju yang lo pakai itu-itu aja, yang lainnya pada dijualin, sih.”

“Dipakai berkali-kali karena nyaman.”

“Nyaman atau.. karena nggak punya pilihan lain.”

Mentari tersenyum kecut. Sembarangan, batinnya.

“Kenapa sih orang-orang suka mengumpulkan hal yang nggak penting, yang nggak bermanfaat buat kehidupan dia selanjutnya. Kalau kita mati besok gimana? Berusaha menyedikitkan barang-barang saja, supaya nggak ngerepotin orang-orang yang nanti kita tinggalkan. Nggak bikin mereka bingung dengan apa-apa yang pernah kita miliki.”

“Kenapa sih ngomong gitu?” Bima memancing.

“Kenapa sih orang-orang suka menghindar dari topik kematian?” Mentari membalas.

“Gue nggak menghindar. Gue justru tanya, kenapa lo ngomong gitu?”

“Tiba-tiba terlintas aja.”

“Terlintasnya sering, ya.”

Mentari hanya nyengir.

28/04/21

#3 Kata Mas Anon

 

Source: Tumblr


Langit sedang ramah. Sore cerah.

"Kena minyak panas lagi?" Bima tiba-tiba datang.

Mentari menatap nanar punggung tangan kanannya.

"Oh, nggak. Kegesrek waktu ngangkat koper." Mentari jujur.

"Sok kuat, sih." Canda Bima.

"Emang udah biasa, kok." Mentari jujur lagi.

"Giliran ada Bang Harun mendadak nggak biasa." Canda Bima lagi.

"Heh! Waktu itu emang berat, tau! Satu kardus besar isinya buku semua." Lagi-lagi Mentari memang jujur.

Mentari dan Bima sedang menunggu teman lainnya. Teman-teman komunitas. Hari itu mereka hendak melangsungkan rapat. Mentari selayaknya matahari, selalu muncul terlebih dahulu.

Tapi baginya, tidak apa-apa. Menunggu berarti menjadi kesempatan untuknya. Kesempatan membaca tulisan-tulisan lelaki anonim di sebuah blog yang teduh.

"Mas Anon itu lagi." Bima lagi-lagi ikut campur. Mentari memang pernah menceritakan padanya, perihal tulisan-tulisan lelaki itu, lelaki yang dipanggilnya Mas Anon, a.k.a Anonim.

"Iya, nih."

"Ada tulisan terbaru?"

"Iya."

Mentari masih menatap layar laptopnya, layar yang menampilkan tulisan lelaki itu.

 

“Perempuan baik itu, namanya tidak berkeliaran di tongkrongan anak laki-laki,

Karena perempuan baik itu namanya tidak sembarangan diucapkan oleh anak laki-laki.”

 

            Mentari mengernyitkan dahi. Ah, apa iya begitu?

 

25/04/21

#2 Stranger


Source: Tumblr

Gujes, gujes. Kereta melaju. Cepat.

Perempuan itu terus memandang keluar jendela. Seakan tak punya pilihan lain. Mencoba kegiatan lain dengan membuka-buka buku bacaan yang dibawanya, hingga kemudian mulai tak fokus karena perutnya mulai merengek minta diisi. Tangannya merogoh tas ransel di pangkuannya. Sebuah roti muncul, dengan keju di bagian atasnya, mungkin juga di dalamnya. Perempuan itu perlahan melahap rotinya sambil terus melihat keluar jendela. Di hadapannya terhampar hijau yang menyala di mata, bercampur dengan semesta yang tengah mempertontonkan birunya. Merasa diperhatikan, perempuan itu berhenti mengunyah. Akhirnya peduli juga, batinnya.

"Keju, langit biru, buku-buku."

Perempuan itu sungguh berhenti mengunyah, lebih tepatnya karena terperangah. Cerdas, batinnya. Tiga hal yang menjadi favoritnya sekaligus digumamkan oleh laki-laki di hadapannya. Dengan berusaha biasa saja, berpura-pura tidak takjub, perempuan itu kembali asyik mengunyah.

Rasa kantuk mulai menyerbunya. Apa-apa yang memenuhi pangkuannya, dirapikannya kembali Perempuan itu akhirnya tertidur. Pulas. Tak menyadari bahwa biru langit mulai berpendar.

Tik. Tik. Tik. Laju kereta melambat bersamaan dengan kaca jendela yang mulai dihuni titik-titik air hujan. Hanya gerimis. Perempuan itu terbangun, mengucek-ngucek kedua matanya.

Belum hilang kantuknya, kembali laki-laki di hadapannya membuatnya terperangah.

23/04/21

#1 Dalam Perjalanan Pulang

Source: Tumblr

Perempuan itu memegang kepalanya yang sebenarnya tidak sakit di ruang tunggu kereta. Memikirkan nasib surat-surat yang ia pajang di blog pribadinya, juga nasib rasa malu yang kian mengakar. ‘’Ah..’’ racaunya, tidak jelas.

Perempuan itu merasa malu dengan surat-surat yang dibuatnya, surat cinta katanya, surat-surat yang entah untuk siapa. Sesiapa sajalah, batinnya. Terdengar putus asa, tapi sebenarnya tidak juga. Ia yakin di suatu tempat, surat-suratnya itu mendapatkan balasan, tetapi balasan yang tidak pernah sampai kembali padanya.

Jika saja tak diterimanya kabar bahwa neneknya sudah dua hari tidak kunjung bangun dari tidurnya, mungkin sekarang ia sedang bersiap “kencan” dengan teman perempuannya di rumah makan seafood yang tersembunyi di daerah Jalan Sudirman, belakang circle-K lampu merah.

“Ah..” lagi-lagi. Masih dengan tertunduk sembari memegang kepala.

Malu kembali menyeringai. Menceritakan kriteria pasangan dan dibaca orang-orang yang tidak bisa ia tebak isi kepalanya adalah perkara nyaris bunuh diri. Bagaimana jika ada laki-laki yang mungkin membuatnya tertarik, lantas mundur teratur karena tulisannya. Bukan cerdas yang seperti itu yang ia maksud. Maksudnya adalah, cerdas karena mau berpikir, mau belajar, mau duduk bersama-sama untuk diskusi. Sebenarnya ini perkara soal; ia merasa bukan perempuan yang pintar, sering salah menangkap maksud, terlalu polos kalau kata orang, memberi perintah padanya harus detail karena kalau tidak, otaknya tidak mampu mencerna, loading istilahnya. Maka, bermimpi bisa hidup bersama laki-laki yang cerdas menjadi pengharapannya. Tanpa agar supaya. Selain, melengkapi kekurangannya.

17/11/18

[The End]: Sebuah Tanya


Namanya Pram, dulu ia rapi, taat shalat 5 waktu ke masjid, rajin mengaji, sering ikut kajian-kajian keagamaan dan hidupnya tenang. Dulu, sebelum ia kehilangan panutannya. Pram yang sekarang adalah bocah yang kebingungan dalam hidupnya sendiri karena dua orang sahabatnya yang menjadi panutannya selama ini memutuskan untuk pindah dari kota yang menjadi awal mula persahabatan mereka. Keduanya memutuskan untuk bermimpi lebih jauh lagi, lebih tinggi lagi.

Pram yang taat mulai berubah sejak masuk sanggar seni itu. Ia bercerita bahwa pernah selama satu minggu memutuskan untuk tidak berkunjung ke sanggar dan ia bisa mendapati dirinya yang begitu rapi. Selama satu minggu itu ia mampu melaksanakan shalat lima waktu, tetapi begitu ia datang kembali ke sanggar seninya, penampilannya berantakan. Aku cukup terkejut saat melihat foto dirinya pada sekitar dua tahun yang lalu, ia terlihat bagai selebgram dengan kulit bening, mata dengan pandangan optimis, kerapihan begitu melekat di dirinya yang dulu. Aku memandangi ia yang ada pada hari ini, ia yang tak ingin ia ingini. Pram, ia pasti sangat merindukan dirinya yang dulu. Apa yang bisa kulakukan?

Ia juga bercerita pernah suatu kali ke sanggar membawa sarung, berniat jika azan tiba dia hendak pergi shalat, tetapi – sekali lagi dengan tatapan sedih, begitu ia ada di sana, atmosfernya berbeda, tiba-tiba saja ia tidak jadi menunaikan shalat. Di sanggar itu, tidak pernah disinggung soal tuhan, tidak ada pembicaraan tentang agama apalagi Tuhan.  Bagi mereka, hubungan antara Tuhan dengan manusia adalah urusan pribadi masing-masing manusia, sudah menjadi sangat individual sehingga tak ada yang peduli satu sama lain soal menaati perintah Tuhan. Miris, kata Pram.

Namanya Pram, dan ia adalah anak yang beruntung karena sangat disayangi oleh ibunya. Kata Pram, ibunya mengatakan bahwa beliau rela menyekolahkannya dimanapun, berapapun biaya yang harus dikeluarkannya, asalkan Pram bersekolah tinggi dan pulang ke rumah bisa mengaji, itu saja cukup bagi ibunya. Mungkin inilah hal-hal yang begitu lama amat mengganggu pikiran Pram dan ia renungi berpuluh-puluh kali hingga sampai datang padaku di kemudian hari. Pertanyaan yang mengganggu pikirannya dan entah mengapa sulit sekali ia temukan jawabannya; untuk apa ia hidup? mau apa? mau kemana? Ia kebingungan berpikir, sementara orangtuanya rela mengeluarkan harta sebanyak apapun untuk hidupnya.

Pram bercerita bahwa tempo hari, ibunya pernah datang ke kos tempat dimana ia tinggal selama di Yogyakarta ini. Kos Pram bukanlah kos kumuh atau bahkan jelek. Kos nya adalah kos standar yang masih sangat layak untuk ditempati manusia. Akan tetapi, ibunya mengatakan bahwa lebih baik ia cari kos yang mahal saja tetapi bagus daripada kosnya yang sekarang yang menurut ibunya bangunannya seperti mau roboh, padahal kami semua tahu kosnya masih sangat layak dan bagus-bagus saja tetapi lucunya ibunya sangat khawatir, katanya “takut roboh”.

[Chapter 1]: Sebuah Tanya


Pekerjaanku sebagai seorang editor terjemahan lepas membuat hari-hariku terpaksa menjadikan kafe sebagai rumah kedua. Aku yang awalnya sangat bosanan, seringkali berpindah dari satu kafe ke kafe yang lain. Namun, barangkali pikirku benar bahwa suatu saat akan ada satu kafe yang cocok. Aku akhirnya menemukannya, sebuah kafe ala rumahan di jalan Srikandi. Kafe ini tidak terlalu terlihat karena jalan Srikandi bukan jalan umum yang sering dilalui kendaraan, namun sangat mencolok karena di daerah sini ia berada di antara rumah-rumah besar dan berpagar tinggi. Tampaknya sang pemilik rumah tak mau ketinggalan memanfaatkan rumahnya yang terletak di Yogyakarta untuk membuka usaha. Jadilah ia bangun sebuah kafe sederhana dimana pengunjung dapat memilih untuk duduk di dalam atau di luar. Di dalam, pengunjung kafe akan duduk-duduk anggun dengan pemandangan dekorasi ruang yang menyamankan mata. Pun di luar, pengunjung akan ditawarkan pemandangan yang sejuk dengan berbagai jenis tanaman dan pepohonan di sekitarnya, ditambah lagi kafe ini menyediakan jajanan di angkringan yang terletak di taman kafe bersama dengan deretan bangku-bangku yang bisa pengunjung tempati.

Kafe The House bukanlah awal mula cerita ini terkisah, tetapi bolehlah aku memulainya dari sini, tempat yang rupanya kami selalu bertemu satu sama lain, tetapi awalnya tidak saling mengenal, sampai pada suatu hari aku menjadi salah seorang panitia untuk event di Jogja National Museum dan melakukan survey lukisan di sanggar tempat ia biasa berkarya.

Di sanggarnya kami berkenalan satu sama lain. Aku bersama dengan seorang temanku, sedangkan ia di sana dengan beberapa anak sanggar lainnya. Rasanya tak heran saja saat pertama kali melihat kelusuhannya, kumaklumi karena mereka anak sanggar, tetapi entah juga berawal darimana pemakluman terhadap semua kelusuhan itu. Aku yakin karpet yang tergelar di sana hampir tidak pernah dicuci, apa lagi keset-keset itu yang terlihat hanya dipakai lalu dijemur, basah terguyur hujan, kering kembali terkena terik matahari. Sanggar itu bentuknya cukup unik menurutku. Beberapa bagian beratap, sebagian lainnya bangku-bangku dan meja beratap langit dengan sebuah pohon rimbun di salah satu sisinya.

Sesuai kesepakatan pada komunikasi kami sebelumnya via sosmed, hari itu mereka akan menunjukkan koleksi lukisan mereka pada kami yang sekiranya jika ada yang sesuai dengan tema akan kami ikutsertakan di pameran lukisan di Jogja National Museum pada acara yang akan kami adakan sebulan mendatang. Mereka mempercayai kami dan dengan senang menceritakan lukisan-lukisan itu.

Kulihat ia tak banyak bicara sebagaimana temannya yang lain. Sesekali melirik ke arahku, juga ke arah temanku, tidak ada yang spesial. Aku menatapnya dengan tatapan wanita dewasa agar ia tahu barangkali memang aku lebih tua darinya, sementara ia hanya masih terlihat seperti bocah yang tenggelam dalam dunianya sendiri.

Berawal dari sanggar yang kemudian beberapa kali bertemu di kafe The House, kami seringkali bertukar pikiran. Anehnya aku tak pernah berbicara soal identitas diriku padanya tetapi ia banyak bercerita tentang dirinya padaku. Mengenang perkenalan pertama kami, sosok hitam manis itu tak banyak bicara, hingga Sekarang tiba-tiba saja aku tahu banyak hal tentangnya, ini sangat aneh, ia sendiri yang datang dan bercerita padaku tanpa kupinta.

10/10/18

[The End]: Keliru Hati


Beberapa bulan yang lalu, di sebuah kafe, tentu saja bukan Kafe The People, ketika aku tengah asyik dengan diriku sendiri, membelanjakan waktuku di dalam kafe ini bertemankan buku, earphone dan tentu saja kopi, aku tak percaya bahwa kehadiranku yang rutin ke kafe ini mengantarkan aku pada hari-hari yang membahagiakan.

Mbak Kinanti, bukan?” aku menoleh melihat siapa yang mengajakku berbicara sembari kulepas earphone di telingaku.

“Iya, ada apa, ya?”

Tanpa dipersilahkan, ia langsung duduk di hadapanku. Kuperhatikan dia, sepertinya ia lebih tua dariku. “Manggilnya Kinan saja.” Kataku. Ia tersenyum dan mengangguk.

Entah mengapa rasanya kami seperti sudah kenal bertahun-tahun, begitu banyak obrolan hari itu. Aku memang sering melihatnya di kafe itu. Tidak sering juga, sih. Mungkin akhir-akhir ini saja.

Namanya Kemal. Ada perasaan senang bukan main ketika ia mengaku sudah membaca beberapa buku karyaku. Bahkan ia selalu menanti tiap tulisan yang kuposting di website pribadiku. Ia tak menyangka bahwa akhirnya aku menulis about my daily di dalam website pribadiku. Katanya, aku biasanya hanya menulis baris-baris sajak, cerita pendek dan prosa, dan hal-hal lain yang berbau sastra. Maka dari itu ia tahu kalau aku sering nongkrong di tempat ini karena aku akhir-akhir ini sering menuliskan daily dan sempat membahas kafe ini di dalam postingan daily.

“Pada awalnya saya hanya berniat untuk memperhatikan kamu dari tempat duduk di pojok sana.” Katanya dengan senyum lebar tetapi ada rasa malu-malu di wajahnya.

“Iya, iya, saya tahu. Saya sering lihat kamu duduk di situ.” Ia tertawa mendengar kejujuranku.

“Tetapi, kamu pasti tidak tahu apa saja yang saya lakukan di pojokan sana.” Katanya masih dengan tersenyum. Aku hanya memasang wajah penasaran. “Saya mencoba membuat sketsa wajah kamu dari pojokan sana. Kamu harus terima karya saya ini, tidak mudah membuat sketsa wajah kamu dari pojokan sana.” Ia kembali tertawa, diiringi tawaku juga.

Ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya yang kuduga itu adalah sketsa wajahku. Tetapi, mataku malah mendapati sebuang bingkisan cantik berwarna merah muda yang dihiasi sebuah pita di pinggirnya.

“Selamat ulangtahun, Kinanti. Menulislah tentang hal-hal yang baik, maka kamu selamanya akan menjadi penulis kesukaan saya.” Ia tersenyum lebar, sementara mataku berbinar menerima kejutan kecil dari seseorang yang baru saja aku kenal sekitar satu jam yang lalu. “Saya tidak akan bertanya mengapa di hari ulangtahunmu ini kamu memilih untuk duduk sendirian di sini, karena bagi saya, kamu selalu memiliki cara yang berbeda dengan orang lain dalam memandang hidupmu. Sama seperti hal-hal yang kamu tuliskan, hal-hal yang tak terjamah oleh pikiran saya.”

[Chapter 2]: Keliru Hati


Selangkah dua langkah aku berusaha masuk tanpa ragu. Namun, tiba-tiba kuhentikan langkahku. Cepat sekali mataku ini menemukannya, menemukan pria itu, pria yang aku pikir kami sudah sama-sama saling menyentuh hati satu sama lain. Mungkin benar, hanya pikiranku saja. Hatinya tidak.

Aku berusaha mengatur degupan jantungku agar menjadi normal kembali. Aku tahu, degupan yang kali ini bukan degupan seperti biasanya, degupan yang gugup bila bertemu dengannya. Kali ini hanya degupan yang tak normal, mungkin karena ini menjadi pertemuan baru lagi untuk kami setelah beberapa bulan tidak pernah bertemu bahkan bertukar kabar. Soal menjadi teman dan berdiskusi bersama, ah, itu, hanya omong kosongnya saja. Atau memang aku yang menghindarinya? Sejak beberapa bulan yang lalu, aku tak pernah lagi membalas pesannya. Untuk apa ia masih mengirimiku pesan dan mengajakku berdiskusi, sementara dengan segala tingkah lakunya itu mampu menghadirkan perasaan-perasaan itu lagi di dalam hatiku? Perasaan yang kuakui bukan menjadi tanggungjawabnya meski awal perkenalan kami adalah ia sendiri yang mengajakku terbawa dalam obrolannya di suatu hari di dalam gerbong kereta.

Aku mencengkram erat tasku. Kembali mengatur nafas dan degupan jantungku. Di sini, di kafe ini, kebersamaan yang diperlihatkan oleh pengunjung di sini, aku rasa telah menciptakan kehangatan yang tak biasa. Rasanya ingin menjadi salah satu dari mereka yang menciptakan kehangatan itu. Apa boleh buat bila hadirku di sini untuk menyudahi sebuah cerita, sedihnya lagi mungkin ini menjadi kali terakhirku datang ke tempat ini, setelah begitu banyaknya pembicaraan kami yang terkenang di sini. Setelah ini, semua ini tak berarti apa-apa. Aku ingin membuatnya seperti itu saja, seperti aku tak pernah berkunjung ke sini bahkan tak pernah mencicipi seteguk kopi di sini.

Dia dan gadis itu sedang menikmati minuman mereka, menikmati waktu yang mereka punya untuk berdua, menikmati cerita yang meluncur dari bibir masing-masing. Aku melangkah menuju meja mereka. Ia terkejut dengan kedatanganku, tentu saja. Apa lagi gadis di hadapannya.

“Hai.” Aku mengulurkan tanganku dan mencoba tersenyum pada gadis itu. Gadis itu terlihat keheranan, tetapi aku tak peduli. Pria itu juga sama, wajahnya seolah ingin mengatakan mau apa lagi orang ini?

08/10/18

[Chapter 1]: Keliru Hati


“Halo?” aku menghela nafas setelah beberapa menit menyimak suara di ujung sana. “Jadi benar malam ini ia akan pergi ke kafe itu lagi?” tanyaku untuk meyakinkan diriku sendiri. Sejenak aku memijit-mijit dahiku dengan tangan yang masih menggenggam karcis. Kemudian kututup ponselku setelah pembicaraan kami selesai. Sekian detik kuperhatikan karcis dalam genggamanku dengan gelengan kepala. Tadi itu aku genggam atau aku remas, sih? Bentuk karcis tiba-tiba saja tak karuan begini, mengikuti hatiku yang tiba-tiba saja juga sulit kukendalikan. Detak jantungku makin cepat bersamaan dengan suara kereta yang melesat di hadapanku.

Aku kembali duduk menunggu. Kuperhatikan lagi karcis keretaku itu. Sudah lama rasanya tidak naik kereta. Ya, semenjak hari itu. Semenjak aku merasa kereta bukan satu-satunya transportasi di dunia ini. Semenjak aku merasa bahwa aku perlu menghindari kenangan yang mungkin akan mengendalikan diriku lagi bila aku kembali pada detik itu.

Aku sudah duduk di kereta dan mulai mengeluarkan seluruh perbekalanku. Mataku akan tetap mengawasi pemandangan di luar jendela sana, tetapi kubiarkan tanganku menggenggam buku, sementara telingaku pun mengerjakan perannya sendiri, mendengarkan alunan lagu dari earphone yang baru saja kupasang. Aku ingin berpura-pura sibuk sendiri.

Tetapi, ternyata peran hati dan memoriku lebih kuat dibanding usahaku yang lain untuk menyibukkan diriku.

Mbak, suka baca bukunya Leila S. Chudori juga?”

Aku menoleh. Seorang pria dengan wajah ramah di hadapanku tiba-tiba saja bertanya tentang buku yang tengah kubaca.

Aku hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Tak ada niat untuk mengobrol lebih jauh. Namun, ia bersuara lagi.

“Sudah baca semua bukunya Leila, Mbak?”

Aku diam memperhatikannya sekilas. Apa tadi dia bilang? Semua bukunya Leila? Apa mukaku ini muka kutu buku banget? Kugelengkan kepalaku sambil tersenyum untuk membalas pertanyaannya.

“Boleh pinjam sebentar nggak, Mbak? Saya belum baca bukunya Leila yang itu.” katanya sambil melirik buku yang tengah kubaca ini. “Oh iya, nama saya Seno.” Dia mengulurkan tangannya. Kusambut ulurannya dengan agak ragu, “Kinan.” Balasku dengen menyebut namaku.

Obrolan kami mendadak bukan lagi hanya tentang buku, tetapi juga tentang diri kami masing-masing. Ia bercerita tentang komunitasnya, pun aku. Ia bercerita tentang hobinya, pun aku. Kami memutuskan untuk bertukar kontak, berharap bisa bertemu kembali dan lebih banyak bercerita lagi.

Aku tersentak, tiba-tiba seseorang menyentuh pundakku.

Mbak, bisa tolong geser sedikit?” Seorang ibu-ibu memintaku bergeser sedikit. Ia hendak duduk di sampingku, tetapi karena tubuhnya yang besar, aku harus meniadakan sedikit space tempat dudukku dengan jendela agar si ibu bisa duduk.

Di sisi lain, aku berterimakasih di dalam hati karena ibu ini telah membuyarkan kenangan itu. Kenangan yang pada akhirnya mengembalikan aku pada detik itu.

Baru setengah jam berlalu, aku sudah menguap di kursiku. Kututup bukuku lalu melirik jam di pergelangan tanganku. Masih ada dua setengah jam lagi sebelum tiba. Kusimpan kembali bukuku di dalam tas. Kubiarkan alunan musik menemani tidurku di dalam perjalanan kali ini.

Meski dengan mata yang sudah terpejam, tetap saja bayangnya masih menari-nari di pikiranku. Aku masih merangkai kata untuk menjadi sebuah kalimat bahkan mungkin paragraf untuk membentuk sebuah cerita yang akan kuhadirkan malam ini. Dalam hati aku berdoa dan meyakinkan hatiku bahwa semua ini akan baik-baik saja, semuanya sudah normal kembali. Kau tak perlu lagi menyembunyikan luka, luka yang sudah terobati mana yang perlu kau sembunyikan, Kinanti? Luka itu sudah tidak mengangga lagi, perasaan itu juga telah berganti, kau siap menyambut bahagia di suatu hari yang telah kau rencanakan bersama seseorang nanti, Kinanti.

24/09/18

[The End] : Segenap Kepergian


“Wira Negara dalam sebuah tulisan pernah mengatakan hal yang paling sulit dalam mencintai adalah memulainya terutama membuka hati setelah membereskan yang lama. Namun, apakah kau tahu? Apa kau pikir semudah itu bagi perempuan selemah diriku? Melupakan yang telah pergi selamanya, menggantinya dengan yang tiba-tiba datang? Di saat kepergiannya justru lebih mendadak dari perkenalan kita yang baru-baru ini. Sekalipun kutahu bahwa kau hanya menggodaku saja, lewat selembar kertas yang kau lukis puisi di atasnya dengan pena pucat yang kau simpan di sela buku yang kau kembalikan tepat pada pertemuan terakhir kita. Aku tahu, semua itu sengaja ditulis untuk merisaukan aku bahkan di saat kau ingin pergi merantau dengan tenang tanpa diiringi rinduku padamu, toh untuk apa juga aku merindu, perkenalan terlalu singkat itu kau bilang tak pernah cukup untuk mencipta rindu yang tulus, hanya basa basi belaka bila aku menjerit mengatakan rindu.

Tak perlu terkejut mengapa aku tahu kau tak sungguh meninggalkanku, kau pergi untuk ilmu yang lebih tinggi, bukan pergi karena patah hati. Meski kau tak mengatakannya di pertemuan terakhir yang berhasil membuatku menangis seorang diri. Aku tahu hal-hal yang ingin kutahu. Aku tak perlu meneriakimu penjahat, aku yakin kau lebih memahami dirimu sendiri.

Kau bilang kau tahu banyak tentang diriku. Tetapi, untuk hatiku kau tidak tahu apa-apa rupanya. Seorang pria yang kutulis dalam surat yang tak sengaja kutinggalkan di dalam buku tersebut adalah pria yang kulindungi mati-matian namanya, namun surat itu tak pernah kusangka akan tiba dalam genggammu, dalam matamu. Pria yang selalu hadir dalam rindu dan segala doaku, namun ia meninggalkanku untuk selamanya karena sakit yang telah lama dideritanya pada dua bulan sebelum aku mengenalmu. Semua terjadi tiba-tiba, aku masih berduka meski aku tak menolak kehadiranmu. Namun, sekali lagi kutanyakan, bagaimana mungkin semudah itu untuk melupakan yang pergi? Kau tak pernah bertanya tentang hatiku, namun kau memilih pergi begitu saja usai membaca selembaran surat yang sangat tak sengaja kutinggalkan di buku yang bahkan sudah lama aku tak membukanya.” (Yogyakarta, 5 Oktober 2015, Dari perempuan yang terluka dan tak perlu kau sembuhkan.)

Usai membaca isi lembaran itu, jantungku tidak karuan. Aku tergopoh-gopoh pulang ke rumah, semalaman aku tidak bisa menenangkan diriku sendiri. Kuputuskan untuk menemuinya, mencarinya hingga kami bertemu, meski aku sama sekali tidak tahu keberadaannya. Ini sudah sangat lama, sudah sangat terlambat, tetapi aku merasa semua baru saja terjadi. Aku merasa takdir membawaku pulang untuk menemuinya, takdir mempertemukanku dengan lembaran surat yang ia pikir mungkin tak akan pernah sampai, kita tidak pernah tahu bagaimana hebatnya takdir bekerja.