29/12/16

Lee Dalam Catatan Harian Suzy





I might never be the hands you put your heart in
Or the arms that hold you any time you want them
But that don’t mean that we can’t live here in the moment
 ‘Cause I can be the one you love from time to time

And if you like midnight driving with the windows down
And if you like going places we can’t even pronounce
If you like to do whatever you've been dreaming about
Then baby, you're perfect
Baby, you're perfect
So let's start right now
[ One Direction - Perfect ]
Aku seorang penulis. Ya, penulis dalam diary-ku sendiri. Begitu yang Lee katakan padaku. Aku selalu ingin menjadi penulis. Kata dia, meski aku hanya menulis diary, aku sudah menjadi seorang penulis. Penulis yang menuliskan tentang dia dalam diary-nya. Lihat, betapa percaya dirinya dia. Tetapi, aku suka.

Aku senang mengingat-ingat kembali saat-saat bersamanya. Lee, dia tak suka ketinggian, tetapi hari itu di depanku dia mengiyakan pintaku untuk naik kora-kora di suatu pasar malam bersamaku. Aku menyesal tak merekam ekspresinya kala itu. Dalam hati, pasti ia jengkel setengah mati padaku. Di atas kora-kora yang melambung tinggi itu, aku cekikikan melihat kelakuannya. Wajahnya sudah tak karuan. Keringat dingin memenuhi dahinya. Tetapi, ia tetap bertahan mengiyakan pintaku naik kora-kora untuk kedua kalinya.

Lee adalah tipe orang yang sulit menghapal arah jalan. Berbeda denganku. Katanya dia mau terus bersamaku agar ia selalu berada di jalan yang benar. Kata dia aku adalah petanya. Peta petunjuk jalannya. Menurutku itu perkatan yang cukup romantis.

Aku pernah bercerita padanya. Aku iri pada teman-temanku, mereka bisa merasakan jatuh cinta, mereka bisa bercerita tentang orang-orang yang mereka suka. Tetapi, aku kacau dengan diriku. Aku sangat mudah jatuh kagum tetapi sulit untuk benar-benar mencintai. Kata dia saat itu, mengapa tak kucintai dia saja? Katanya aku boleh mencintainya agar aku punya bahan cerita di depan teman-temanku.

Aku bertanya padanya, lalu bagaimana dengan gadismu? Yang kau puja sebelum pertemuan kita kala itu? Kala dia memakai kaos bertuliskan sebuah nama teater. Katanya teater itu teater favoritnya, padahal itu juga teater favoritku. Akhirnya, teater-teater itu menciptakan pertemuan-pertemuan kami untuk yang kedua kalinya, ketiga kalinya, dan seterusnya.

Aku pernah berdiskusi dengan Lee. Aku tanya mengapa banyak lelaki yang tak juga menyerah dengan sikapku? Padahal aku sudah bersikap setengah mati tak memedulikan mereka agar mereka menyerah saja padaku, tetapi mereka tak kunjung menyerah. Aku bertanya pada Lee, apakah Tuhan memang menciptakan sosok lelaki seperti itu? Lee hanya tersenyum, manis sekali kala itu.

Aku bertanya lagi, tetapi mengapa setelah mereka mendapatkan yang  mereka iginkan seringkali mereka pergi dan menyia-nyiakan yang selama ini mereka perjuangkan? Aku mengambil contoh kecil dari kisah kedua orangtuaku. Jika saja kalian tahu, bahwa di kota-kota besar hal seperti itu seringkali terjadi. Saat aku duduk di bangku sekolah dulu, bisa dikatakan setengah dari jumlah siswa di kelas adalah anak-anak berlatar belakang broken home. Maka itulah aku bertanya pada Lee, mengapa pria-pria itu meninggalkan wanita mereka?

***

19/12/16

Melalui Cara Tuhan [Chapter 4]




“Sudah sadar?”
Aku membuka mata, apa yang terjadi denganku? Aku dimana?
Aku terlonjak, gadis itu berada di hadapanku. Aku mencubit pipiku, tetapi aku kesakitan. Apakah ini nyata? Aku masih belum tahu apa yang baru saja terjadi.
Kuperhatikan sekitarku. Aku berada di sebuah kamar yang kuperkirakan dari bangunannya ini adalah sebuah rumah tua.
“Mungkin Mas kebingungan, ya? Tadi saat Mas mau menyeberang, sebuah motor menyerempet. Kepala Mas sempat terbentur aspal saat jatuh. Tetapi, Mas masih ingat nama sendiri, kan?”
Aku diam seribu bahasa. Hatiku bergetar. Gadis di hadapanku ini, apa ia tak mengenaliku?
Ia ikut terdiam menunggu responku.
“Mas?” tegurnya. Aku tersadar dari lamunanku.
“Ya. Namaku Faras. ” Balasku.
Dia terdiam sejenak. Kupikir ia sedang mencoba mengingatku, tetapi ternyata tidak.
“Oh, Faras. Nama kita mirip, ya. Aku Fasya.”
Aku hendak menyalaminya, kupikir ia mengajakku berkenalan. Tetapi, ia menarik diri. Tak ingin menjabat tanganku. Ia sedikit salah tingkah, tetapi kemudian suasana kembali terkendali saat seorang kakek tua datang. Itu pasti kakeknya.
“Anak muda sudah sadar rupanya.” Kakek yang sudah terlihat rapuh itu masih mampu untuk tersenyum padaku. Aku balas tersenyum sambil menyalaminya.
“Iya, saya sudah sadar. Terimakasih sudah menolong saya.”
Kakek itu tertawa kecil.
“Bukankah sudah seharusnya?” Ia masih tertawa.
Keadaanku segera pulih, hari itu aku mengobrol banyak dengan kakek gadis itu, gadis yang selama ini kucari. Ia masih belum juga menyadari siapa aku.

Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Suara jatuhnya hujan di luar membuat alasan si kakek menyuruhku bermalam di rumahnya semakin kuat, dan aku tak bisa menolaknya.
“Jadi, kamu mencari seseorang di sini? Kupikir sedang berlibur.”
Aku hanya mengangguk-angguk. Sejak tadi aku tak melihat Fasya, entah dimana dia. Setelah ba’da Maghrib tadi ia mengantarkan minuman untuk kami, ia tak terlihat lagi.
“Fasya sudah tidur ya, Kek?”
“Hmm, belum. Dia kalau tidur biasanya kalau sudah larut.”
Aku memikirkan kesibukan apa kiranya yang dikerjakannya hingga larut. Bodohnya aku, tak tahu apa-apa tentang gadis yang kusukai.
“Dia punya pekerjaan?” tanyaku hati-hati.
“Iya, kamu bisa melihat pekerjaannya.”
Aku tak mengerti. Tetapi, si kakek seperti memberiku sebuah kesempatan untuk mengenal cucunya. Ia menunjuk ke belakang rumah.
“Di belakang rumah?”
Kakek hanya mengangguk. Aku sempat berpikir, mungkin gadis itu tengah mencuci baju atau memasak sesuatu, atau apa?

11/12/16

Pembongkaran Ide Cerita Seorang Nina



Iya deh iya. Judul postingan kali ini agak lebay. Tapi, kali ini aku mau sharing tentang gimana ide-ide cerita itu bemunculan di pikiranku. Aku mau membongkar ide-ide cerita dari beberapa cerpen atau cerbung yang aku buat.
Mengenai postingan cerita seri Yogyakarta yang berhasil aku post di blogku, sebenarnya ceritanya itu punya sekitar 10 seri. Aku hanya baru memosting beberapa kalau kalian cek pada label cerbung. Jadi, konsep kesepuluh cerita itu sudah ada semua. Sayangnya, aku pernah kepenuhan memori dan menitipkan filenya di laptop temanku. Tapi, aku lupa aku simpan di folder mana dan dengan nama apa. Itu kesalahan fatal yang aku sesali sampai sekarang. Aku masih berusaha mencari, sih. Untungnya, aku selalu menuliskan pokok konsepnya di buku tulis, pokok konsepnya masih ada, cuma konsep matangnya ya di folder yang terselip itu.

Then, aku bakal kasih tahu isi otakku. Eh, maksudnya tips-tips menulis untuk kalian yang mau belajar dan pengen membuat cerita. Semua berawal dari membiasakan menulis diary sejak kecil. Sayangnya, beberapa diary menuliskan hal-hal yang aku sesali. Nggak tanggung-tanggung buku diaryku aku bakar, abunya aku rendam di air cucian kaos kaki. Mungkin di sisi lain aku senang merawat kenangan, tetapi di sisi lain aku membenci kenangan. Sebab, aku ingin seseorang yang hadir di masa yang akan datang tahu bahwa aku sepenuhnya mencintainya dan telah menghapus segala hal di masa laluku, sehingga ia tak perlu mengkhawatirkan hal-hal kecil itu.

Oke, mulai dari first point. Untuk mengembangkan sebuah cerita, kamu hanya perlu menemukan satu kejadian. Cukup satu kejadian. Seperti dalam film Negeri Van Orange, hehe. Kamu hanya perlu mengembangkan satu kejadian. Contoh cerita dalam point ini ada pada cerbungku yang masih hangat, “Melalui Cara Tuhan”. Sumpah, judulnya kurang kreatif banget. Sudah mentok. Satu kejadian yang aku kembangkan menjadi 3 cerita bersambung itu adalah terinspirasi ketika aku berjalan-jalan layaknya wisatawan di sepanjang jalan Malioboro. Beberapa wisatawan yang lain yang tengah naik becak sembari merekam suasana. Dengan sengaja aku melambaikan tangan ke arah kamera mereka. Hanya itu. Itu satu kejadiannya. Kemudian, untuk latar belakang tokohnya yang merupakan anak teknik mesin perkapalan, aku terinspirasi dari salah seorang temanku. Aku mengoreksi informasi darinya, dan lagi-lagi aku dapat pengetahuan. Yeah, menulis membuat ilmu pengetahuanmu bertambah, it’s of course.

Indonesia Sedang Sakit?

Dari waktu ke waktu, makin beranekaragam berita di televisi. Menurutku, akhir-akhir ini bukan hanya ada satu dua berita yang hangat diperbincangkan, melainkan banyak sekali.

Makin hari, masalah manusia yang menuju dewasa seperti saya ini mulai digerogoti berbagai persoalan. Persoalannya sih yang itu-itu saja. Masalah hati. Bosan iya. 

 Muka galau anak SMA

Mari kita jadikan persoalan dalam hidup kita sebagai bumbu-bumbu penyedap dalam hidup kita. Kembali ke topik, awalnya berita-berita biasa-biasa saja. Saya tetap fokus pada kasus sidang Jessica, itu untuk beberapa bulan yang lalu. Entah, saya sampai mengikuti sidang demi sidangnya meski hanya lewat layar TV bahkan sampai buka youtube. Ketika buka line news juga yang paling menarik perhatian saya ya tetap berita sidang Jessica. Sampai-sampai saya menelusuri lebih dalam kasus itu bahkan latar belakang keluarga korban melalui hastag di explore instagram.

Namun, sekarang-sekarang ini berita yang hadir dan menarik minat saya cukup banyak. Bencana kembali menerjang negeri kita. Negeri kita ini butuh doa dari kita. Negeri kita ini butuh untuk didoakan. Bencana gempa bumi yang terjadi di  Aceh pada awal Desember tahun ini kembali menyisakan luka, bukan untuk warga Aceh sendiri, tetapi untuk Indonesia.

Selain bencana gempa bumi menjadi topik yang banyak diperbincangkan, topik-topik berita lainnya tak kalah menarik. Kalian mungkin mengerti topik yang mana yang saya maksud. Intinya, saya cuma mau bilang kalimat mainstream yang satu ini, “Mulutmu Harimaumu.” Suatu perkataan bisa membawa seseorang sampai ke bangku persidangan, di sisi lain apa kabar penegak hukum di Indonesia yang notabene sebenarnya dari kita sudah mengetahui seperti apa.

Drama-drama Korea seperti Pinocchio, I Hear Your Voice, dan Uncontrallably Fond mengajarkan saya tentang banyak hal. Saya yang sejak dulu berkeinginan menjadi seorang penyiar di televisi atau freelance mulai mengkhawatirkan peran dalam impian saya ini. Sosial media punya “power” yang sangat kuat. Sosial media punya potensi menyebarluaskan, memutarbalikkan, membenarkan, menyalahkan banyak hal. Gejolak ini membuat saya merasa ngeri. Bila impian saya kelak tercapai, akan menjadi model yang seperti apa saya? Kembali ke visi misi hidup, betapa pentingnya visi misi hidup yang kita pegang. Sebab, itu akan menjadi pegangan tiap kali kita mengambil keputusan. Hal ini pula yang membuat betapa pentingnya bagi seorang muslim dan muslimah untuk berpegang pada Al-Qur’an dan Hadits. Kembali pada drama Pinocchio bahwa berita yang diputarbalikkan atau katakan saja fitnah dapat membunuh seseorang. Difitnah membuatmu merasa ingin membunuh atau dibunuh saking putus asanya. Dari sini kita akan memahami konsep “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan”, dan itu fakta.

 Korban fitnah media dalam drama Pinocchio

Berbeda dengan I Hear Your Voice, drama yang satu ini menggambarkan bagaimana kehidupan dalam lembaga hukum, bagaimana pula peran orang-orang di dalamnya. Salah satunya, bagaimana beratnya menjadi seorang pengacara dan jaksa.

Yang Aku Takutkan




“Aku bisa menunggu, baik itu seratus atau seribu kali, tetapi hal yang paling aku takutkan adalah kalau aku tidak bisa menunggunya lagi. Aku takut suatu hari jika aku terbangun, ia sudah tidak ada lagi di dunia ini.” – Eul dalam Uncontrollably Fond

Melalui Cara Tuhan [Chapter 3]




Selama beberapa waktu kuputuskan untuk beristirahat, berhari-hari menjadi anak rumahan. Ketika di asrama dulu, begitu banyak waktu yang kuhabiskan tanpa keduaorangtuaku. Rasanya sekarang ingin aku menggantinya. Aku ingin berlama-lama di dalam rumah, menemani kedua orangtuaku, memperhatikan gerak-gerik mereka, membantu mereka melakukan pekerjaan rumah, makan bersama mereka, bercengkrama bersama mereka. Kupikir aku perlu melakukan ini hingga aku betul-betul nanti pergi bekerja dan menemukan gadis itu. Setelah menikah nanti, mungkin akan lebih banyak waktu yang kuhabiskan bersama pasanganku.

Hingga suatu pagi ibuku menyarankanku untuk pergi ke rumah pamanku.
“Pergilah ke rumah paman Sammy.”
“Ada apa di sana? Panen durian? Ikan-ikannya pada bertelor? Atau aku disuruh menjadi kuda-kudaannya si Bima lagi?“
Ibu menggeplak kepalaku dengan serbet.
“Kau ini seperti masih bocah!”
“Aku? Seperti bocah? Ha ha ha..” kutirui nada bicara Anggun dalam iklan shampoo itu, tetapi ibu malah menjitakku kali ini.
“Bicaralah kamu sama paman Sammy, tentang pekerjaan seperti apa yang kau inginkan, atau tentang rumah seperti apa yang kau cari, katanya kau ingin punya rumah sendiri, atau tanya paman Sammy mungkin ia punya kenalan perempuan yang bisa kau lamar.”
“Soal rumah, darimana aku bisa membelinya? Pakai uang ibu? Hih. Tabunganku belum cukup untuk membangun rumah idamanku. Tentang lamaran itu, ibu mudah sekali mengatakannya, seolah itu seperti games cocok-cocokkan. Enggak cocok, buang, cari yang lain. Hih.”

Ibu benar-benar membuatku berpikir kali ini.
“Ibu bosan melihatmu di rumah, sekali-sekali pergilah ke rumah Paman Sammy. Kali aja benar lagi panen durian.”
“Ibu mencoba merayuku, ya?” selidikku.
Ibu hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.
“Jangan coba-coba merayuku, Bu. Cukup dia saja yang bisa merayu dan memenuhi pikiranku, Bu.” Ujarku sambil spontan mencium pipi ibu.
Sesaat ibu terkejut dan tersenyum lebar.
“Dia siapa, Nak? Kamu sudah menemukannya?” ibu terlihat bahagia sekali.
Aku langsung berlari ke kamar tanpa menjawabnya.
Ibu masih sibuk bolak-balik dari dapur menuju ruang makan. Aku sudah menyiapkan ranselku, ibu melihatku dan sedikit terkejut.
“Aku berangkat Bu! Ke rumah paman Sam, seperti permintaan ibu! Aku tahu di sana akan ada ilmu dan pencerahan yang kudapatkan dari Paman Sam! Aku mengerti perintah Ibu! Siap laksanakan!” ujarku dengan nada tegas.
Ibu membalas hormatku. Tetapi, langsung menarik tanganku, memintaku untuk duduk di kursi, dan merayuku untuk memakan masakannya terlebih dahulu sebelum pergi.

***

Kembali lagi aku dikejutkan oleh takdir. Tak ada bagian dari waktu yang sia-sia, semuanya merupakan suatu proses untuk menuju pada sebuah tujuan yang direncanakan oleh-Nya.
“Mengapa kau mengulang-ulang terus videoku yang itu?” Paman Sam terheran-heran padaku. Aku tengah melihat-lihat video liburan paman Sam. Ia senang sekali traveling, entah itu sendirian, berduaan dengan istrinya, bersama keluarganya atau teman-temannya. Jelasnya, paman Sam akan selalu membuat banya video dalam perjalananya. Seperti video kali ini, ia membuat banyak rekaman gambar ketika melakukan perjalanan di Yogyakarta.

Tak sama seperti video-videonya yang lain. Kali ini sebuah video begitu membuatku keringat dingin, aku menahan napas. Kuperhatikan berulangkali video tersebut.
Paman Sam membuat sebuah rekaman sewaktu ia sedang asyik naik becak bersama sang istri di jalan Malioboro, tepatnya mendekati 0 Km. Paman merekam suasana di sekitar jalan itu, bagaimana gerak-gerik para penjual, wajah memelas pengamen jalanan, para pejalan kaki yang didominasi turis, dan seseorang yang selama ini begitu samar, tetapi di dalam video itu wajahnya terlihat begitu jelas. Ia terlihat iseng melambaikan tangannya ke arah kamera paman yang tengah merekam. Ia tersenyum bahagia dalam video itu.
“Paman, terimakasih atas videonya. Aku terinspirasi untuk melakukan perjalanan ke Yogyakarta.”
Ia tertawa mendengar perkataanku.
“Ya, ya, kawasan Malioboro memang tak pernah gagal menarik perhatian orang-orang.” Ia mengakhiri perkataannya sambil tertawa kembali. Aku hanya menggelengkan kepala. Paman Sam tak mengerti. Mungkinkah ini awal terjawabnya doa-doaku yang tiada berhenti itu?
“Berapa lama kamu akan di sana?” ibu bertanya padaku begitu ia mengetahui niat mendadakku ini.
“Setelah aku menemukannya.”
“Gadis itu di sana?”
“Mungkin.”
“Kenapa mungkin?”
“Karena aku masih belum tahu akhir dari takdirku.”
“Kau akan menemukannya.”
Ibu menatapku sambil tersenyum. Aku membalas dengan pelukan.

***

21/11/16

Melalui Cara Tuhan [Chapter 2]





Jason, temanku sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama itu mengetahui sepak terjangku saat di bangku sekolah dulu. Aku sering risih dengan sikapnya yang sering nempel-nempel denganku, katanya agar ia bisa ketularan famous juga sepertiku pada saat itu. Entahlah, aku sendiri tidak tahu seeksis apa diriku saat di bangku sekolah dulu.
Jason mengetahui banyak hal yang kualami saat masih sekolah dulu. Diantara sekian banyaknya teman perempuan yang menyukaiku, mungkin yang paling berkesan dan terkenang di benak kebanyakan temanku adalah perempuan bernama Adinda itu. Adinda seperti namanya ia bak seorang putri raja yang cantik jelita, berhati emas, bersuara lembut, berambut badai, bahkan kecerdasannya tak perlu diragukan lagi. Tak usah ditanyakan lagi berapa banyak pria yang menyukainya lantas patah hati karena ditolaknya. Pria-pria itu seringkali menuduh bahwa akulah penyebabnya.

Perempuan yang disebut-sebut primadona sejagat sekolah itu dikabarkan menyukai diriku. Aku yang disebut-sebut pria yang cukup pantas bersanding dengannya itu seringkali dicocok-cocokkan dengannya. Aku bisa melihat jelas tingkah tersipu Adinda kala itu, bagaimana wajahnya memerah, sesekali tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan yang kupikir lembut itu, berpura-pura melirik ke arah lain sambil sesekali memelintir rambutnya dengan jemarinya.  
Aku paham dengan komentar orang-orang di sekitarku, mereka mengatakan berbagai macam hal yang membuatku seolah-olah harus memaksa diriku sendiri untuk menerima kehadiran Adinda, orang-orang itu mengatakan, Adinda itu sempurna, Adinda itu gadis idaman, Siapa pria yang berani menolaknya? Pria sombong mana yang sampai sekarang menggantung perasaannya? Pria macam apa yang diinginkan Adinda.
Sampai obrolan itu merembet pada namaku. Jadi, Pria itu bernama Faras? Mengapa Faras tidak juga meresponnya? Apa pria itu tidak waras? Padahal ia cocok dengan Adinda, kita lihat saja nanti, bagaimana kalau kita taruhan kira-kira mereka nanti akan bersatu atau tidak?
Setiap orang yang kutemui tak percaya padaku saat aku mengatakan bahwa hingga kini tak pernah sekalipun aku menjalin suatu hubungan dengan gadis manapun. Lalu mereka tertawa, lantas mengatakan bahwa wajahku yang katanya rupawan ini begitu sia-sia. Aku tak peduli. Beberapa diantara mereka penasaran, bertanya padaku perempuan seperti apa yang kuinginkan, atau bahkan sudah adakah perempuan itu hanya saja aku belum mendapatkannya? Aku hanya menjawabnya dengan senyuman.

Kami kembali disibukkan dengan pelbagai kegiatan sehari-hari di asrama. Sebagai seorang senior, aku mengambil alih tugas pengecekan kebersihan tiap kamar. Melatih junior dalam persiapan penampilan pedang pura juga masih menjadi bagian dari tugas kami.
Aku tak menyangka mendapati diriku sudah sejauh ini, proses pembuatan skripsi di akademi pelayaran ini tidak seperti pembuatan skripsi di universitas pada umumnya. Mulai sejak semester 3 hingga semester empat, kami ditugaskan untuk menuntaskan tiga bab awal dalam skripsi. Kemudian berlanjut hingga menjalani ujian keahlian bidang, dalam hal ini aku mengambil bidang teknik mesin. Setelah itu, pada semester lima diadakan praktik, tetapi kami harus memiliki segala kelengkapannya seperti sertifikat, paspor, dan lain sebagainya. Mengenai praktiknya ini, selama setahun aku ditempatkan di Turki. Tentunya bukan hal yang mudah hingga aku bisa melakukan praktik di sana. Waktu itu aku melakukan ujian di suatu perusahaan yang pada akhirnya menempatkanku di negara Turki bersama dengan empat orang kawanku yang lain.
Setelah itu, pada semester enam, kami pulang dan kembali belajar lagi untuk melanjutkan skripsi kami pada semester tujuh hingga delapan. Saat skripsi sudah selesai, kami melakukan persentasi. Ini tak semudah yang kuceritakan, sebab jika dosenmu merasa skripsimu begitu “kurang”, dosenmu bisa saja memintamu mengganti skripsimu.

18/11/16

Melalui Cara Tuhan




Fasya, gadis bermata teduh itu mencintai kesepian. Rembulan, bintang, awan, langit, semua berkawan dengannya. Rerumputan, pepohonan, ilalang, hutan, senantiasa menjadi temannya. Fasya, gadis dengan mata bermandikan cahaya rembulan itu mencintai buku-buku, teh, bunga-bunga, bahkan anak-anak. Fasya, seorang gadis yang normal tetapi memilih menjalani hidup yang tak normal. 

Ketika duduk di bangku sekolah dasar dulu, Fasya disebut-sebut sebagai siswi populer dengan kecerdasan di atas rata-rata anak seusianya, kemampuannya berbicara dengan penuh percaya diri di depan umum, dan prestasinya begitu gemilang hingga ia selalu menjadi kebanggan sekolahnya. 

Sayangnya, selepas ia lulus sekolah dasar, kedua orangtuanya meninggal dunia dalam kecelakaan beruntun. Fasya yang memiliki kecerdasan yang tinggi itu paham betul apa yang terjadi dengan orangtuanya. Jiwanya begitu terguncang, pikirannya menjadi kacau balau, kepingan hatinya hancur berserakan.

Kemudian ia menghilang. Tak terdengar lagi kabarnya. Tak tahu lagi seperti apa kini rupanya. Tak paham lagi bagaimana kondisinya, kondisi hati dan lukanya. Entah seperti apa kini.

***

Aku berbaring menatapi langit-langit bisu di dalam kamar asramaku. Sudah sejauh ini rupanya langkahku, impianku untuk segera lulus sudah mendekat ke arahku. Impian-impian yang lebih besar juga tengah menungguku, memintaku untuk segera digapai.
“Jadi, bagaimana, Boi?” perhatianku berpindah pada pertanyaan Ari, pria asal Pulau Belitung itu penuh dengan ambisi.
“Apanya yang bagaimana, Boi?” kubalas dengan menirukan logatnya.
“Setelah lulus nanti, apa rencanamu?” kali ini pertanyaannya membuatku kembali memandangi langit-langit yang bisu.

Namun tiba-tiba saja bayangan seorang anak perempuan berkelebat di langit-langit tanpa suara itu. Anak perempuan yang pertama kali kusuka. Kupejamkan mataku sesaat. Kemudian membukanya, menarik napas panjang, aku menyadari anak perempuan itu bukan lagi seorang anak perempuan. Buruknya lagi aku tak tahu dimana ia. Akhirnya aku menjawab pertanyaan Ari seadanya saja.
“Aku belum memikirkannya, Boi. Kau sendiri bagaimana?”
“Setelah lulus nanti, akan segera kusebar undangan. Tak sabar aku ingin pinang si Juleha itu, Boi.” Ujarnya sambil tertawa, aku sedikit terkejut hingga langsung bangkit dari tempat tidur. Ia menepuk-nepuk bahuku. Aku hanya bisa mengangguk-anggukan kepalaku.
“Siapa gadis yang ada di dalam puisi-puisimu itu, Boi?”
Aku terkejut mendengar pertanyaannya.
“Apa? Kau tahu tentang puisi-puisiku? Hei! Kau pasti membuka-buka lemariku, ya?!” aku jengkel bukan main, kujitak kepalanya berkali-kali.
“Maafkan aku, Boi. Sebentar lagi kita berpisah dan akan melanjutkan ke proses kehidupan yang lainnya, mengapa kau tutup-tutupi gadismu itu? Setidaknya biarkan sahabatmu ini tahu bahwa kau juga bias laku, Boi!”
Mendengar itu, kupelototi saja dia. Dia membalasku dengan cengiran. Kemudian mengambil handuknya sambal bersiul menuju kamar mandi.

Selama beberapa detik, memoriku sempat terguncang. Bayangan gadis itu sungguh buram di benakku, meski ingin sekali aku mengingat rupanya. Seperti apa ia sekarang? Dimana ia sekarang?
Jika benar ia tak berharga untukku, mengapa sejak kecil dulu aku suka sekali membuat puisi tentang dirinya? Mengapa ia selalu menginspirasiku untuk membuat rangkaian kata-kata puitis? Mengapa aku suka menggambarkan dirinya melalui kalimat-kalimat sederhana yang aku tak mengerti mengapa harus karena kehadirannya? Bahkan aku tak paham mengapa aku masih menyimpan semua kertas-kertas usang yang berisi semua puisi itu? Pertanyaan dari Ari tadi seperti sebuah takdir kecil, takdir yang membuatku harus mengingatnya kembali pada hari ini. Gadis itu, masihkah ia mengingatku?

Aku memikirkannya begitu lama, sampai-sampai aku tak menyadari bahwa Ari sudah keluar dari kamar mandi.
“Lekas ganti bajumu, Boi. Berpenampilanlah yang wajar, kita akan melatih junior kita!”
“Berpenampilan yang wajar? Hei, maksudmu selama ini aku sering tak wajar?”
Ari tak menjawabku, ia melemparkan handuknya ke arah wajahku. Asem!
Beginilah hari-hari terakhir kami di Akademi Pelayaran kebanggan kami ini. Melatih para junior sudah menjadi bagian tugas kami. Selain itu, kami masih mengikuti apel tiap harinya, serta kegiatan rutin pembersihan kamar.

13/11/16

Kisah Gerimis





Aku masih menunggu
Sementara kau terus berceloteh tentangnya
Memberiku sebuah paham
Bahwa kau mencintainya


Aku masih menunggu
Sementara kau terus memilih menghabiskan malammu
Dengan kepekatan kopi
Yang kian menjadi dalam cangkirmu


Aku masih menunggu
Sementara kau masih begitu-begitu saja
Memamerkan hal yang tak kupahami
Bukan memamerkan mimpi


Sampai di suatu hari kau dapati sebuah undangan
Kau temukan namamu di sana
Tetapi tak bersanding dengan namaku
Kau temukan namamu di sana
Di label kemana undangan ini hendak ditujukan
Kepadamu, sebagai tamu


Lalu,

Kau,

Menyesal,

Dan aku,

Tak bisa berbuat apa-apa



Yogyakarta, 13 November 2016
Melihat langit gerimis, membuatku ingin menulis sesuatu yang miris.
Biarkan tulisan ini hanya cerita mereka, jangan menjadikannya cerita kita juga.



Sumber gambar: Tumblr.com