Tampilkan postingan dengan label Kritik Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kritik Sosial. Tampilkan semua postingan

19/11/20

MADRASAH PERTAMA


Foto: 25 Agustus 2019 – Masa KKN di Dusun Kembaran, Magelang, Jawa tengah.


Hari ini aku bertemu Rasya dan Reynald untuk mengajar mereka. Rasya terlihat begitu banyak bicara walau ia masih duduk di bangku TK, sementara Reynald yang sudah duduk di bangku SD kelas satu terlihat aktif namun gugup ketika berbicara.

Bertemu anak-anak selalu menyenangkan. Rasanya hidup menjadi lebih hidup ketika mendengar suara anak-anak menggema di penjuru ruangan. Namun, sisi menarik lainnya adalah anak-anak selalu membawa pelajaran baru bagi orang-orang dewasa yang masih belajar bagaimana menjadi dewasa itu.

Ada saat dimana ketika Rasya bertanya padaku dengan tiba-tiba.

"Kak, kalau sombong tuh kayak gini bukan, 'eh eh aku punya sepeda bagus lho' itu sombong ya?"

Aku menjawab dengan caraku sembari bertanya balik,

"Jadi sombong itu boleh nggak?"

"Nggak."

Pinter!

Aku juga menjelaskan lawan kata dari sombong itu apa dan bagaimana, agar ia lebih memahami sifat mana kiranya yang baik untuk dimiliki.

Aku juga menambah pertanyaanku padanya karena penasaran.

"Kenapa nanya itu, Rasya?"

Rasya pun menjawab,

"Iya, soalnya aku belum tahu sombong itu apa dan kayak gimana."

JLEB. Dari sini aku sadar betapa pentingnya peran seorang Ibu (yang baik dan punya pemahaman yang cukup) untuk menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Anak-anak ini nampak polos dan banyak belum memahami sesuatu.

Bayangkan jika mereka tinggal di lingkungan yang mengajarkan hal-hal yang tidak benar? Yang justru malah memberi jawaban tidak benar ketika mereka bertanya sesuatu.

Mereka belum tahu apakah hal ini dan itu benar atau tidak karena mereka pun masih mencari tahu apa maknanya ini dan itu, apa maksudnya begini dan begitu. Mereka belum tahu apakah hal yang ini salah, atau hal yang itu benar. Mereka masih sangat butuh pengarahan dan pengajaran yang baik.

Pada masa-masa ini, kita perlu memberi pengajaran yang terbaik, pengajaran yang jujur. Bayangkan bagaimana ini menjadi amalan tersendiri untuk kita ketika kita adalah orang pertama yang mengajarkan mereka apa arti jujur, arti rendah hati, arti dermawan dan lain sebagainya. Bayangkan ketika kita adalah orang pertama yang mengajarkan huruf hijaiyah pada mereka. Bayangkan ketika kita adalah orang pertama yang mengajarkan apa arti tauhid dan iman pada mereka. Bayangkan ketika kita adalah orang pertama yang membacakan kisah para nabi untuk mereka. Bayangkan ketika kita adalah orang pertama yang mengajarkan mereka tentang doa-doa.

Jadi, apakah kita masih ragu untuk menjadi yang pertama bagi anak-anak kita kelak?

 

Catatan Bdg, 18 Nov 2020 | 20.10 

27/03/20

Masyarakat Indonesia di Tengah Ancaman Covid-19


Minggu-Minggu Awal Wabah Datang

Halo, saya Nina, salah satu masyarakat Indonesia yang ingin berbagi cerita tentang wabah yang melanda hampir seluruh negeri bahkan dunia. Pada minggu-minggu awal wabah datang ke Indonesia, yang mana pasien pertama berlokasi di Depok, Jawa barat, maka kami yang berlokasi di Jawa Tengah tentu masih bersikap biasa saja. Makin lama, wabah ini semakin memakan banyak korban. Orang-orang dinyatakan positif covid-19. Pada awalnya, pemerintah masih mencari sumber jejak penyebaran virus ini sampai pada akhirnya tidak lagi dapat terkendali karena pasien-pasien selanjutnya rupanya tidak mempunyai interaksi dengan pasien-pasien sebelumnya.

Minggu berikutnya, Yogyakarta mulai mengabarkan adanya salah satu warganya yang terkena covid-19 dan kami masih biasa saja. Hari-hari kemudian, satu-persatu sekolah mulai diliburkan, termasuk beberapa universitas. Salah satunya adalah universitas kami. Kami, sebagai mahasiswa perantauan yang sedang kebingungan dalam pergulatan skripsi lantas semakin kebingungan untuk membuat jadwal bimbingan. Para dosen tidak menerima bimbingan face to face padahal kami lebih nyaman untuk bertemu langsung karena akan lebih mudah memahami penjelasan dosen pembimbing yang bersangkutan. Mau dikata apa, surat edaran sudah dibagikan, kami berusaha mengiyakan.

Hari-hari saat itu masih tetap biasa saja, belanja ke warung sayur karena kami hendak memasak bersama. Kami hanya menghabiskan Rp. 20.000,- ribu untuk makan bertiga untuk dua kali makan, pagi dan sore; Sayur asem, tahu goreng, sambal terasi. How a cheap food costs! Wow, yeah, welcome to Jogja, nak! Selain itu, kami juga masih melakukan aktivitas seperti biasanya; menginap bersama, yang satu maskeran wajah, yang satu main handphone, yang satu nonton film, kami bercerita hingga larut malam, bahkan saya juga sempat masih datang ke kafe untuk pertemuan yang memang sudah saya agendakan dengan teman-teman SMA saya. Semua masih terasa biasa saja, meski imbauan love distancing, eh maaf, maksudnya social distancing atau jaga jarak sudah mulai diberlakukan.


Rumah kedua

Satu demi satu teman saya memutuskan untuk pulang ke rumah sebelum wabah kian menyebar dan lockdown yang sesungguhnya mulai diberlakukan. Untuk itu, saya juga segera berkemas bermaksud untuk pulang ke rumah kedua saya di Magelang. Saya bermaksud mengunci diri di daerah yang nyaman itu dengan ladang sawah sejauh mata memandang, juga awan-awan di langit yang berarakan, dan aroma semilir angin yang membuat diri tak berhenti menguap. Berdua dengan sepeda motor, saya melakukan perjalanan pulang yang saya pikir ini akan menjadi liburan yang amat panjang, tetapi semua itu hanya rencana manusia, Allah bisa merubahnya.

Ketenangan yang saya bayangkan ternyata berubah menjadi kebisingan karena rupanya pabrik yang berada di seberang rumah kedua saya itu sedang direnovasi dan dirobohkan, suara-suara yang dihasilkan dari alat-alat keras tersebut membuat saya terbangun dari tidur. Pagi itu, untuk kesekian kalinya ibu saya menghubungi saya dan lagi-lagi memberikan penawaran untuk pulang ke Bandung. Saya sudah sampaikan bahwa adanya imbauan sebaiknya tidak melakukan pulang kampung. Telepon berakhir dengan saya yang tidak berhasil dibujuk. Tidak berselang sampai lima menit, beliau menghubungi kembali. Kali ini yang terdengar adalah suara ayah saya. Wow. Tumben sekali.  Saya masih tidak berhasil dibujuk. Orangtua saya hanya memberikan penawaran yang menurut saya itu masih bisa ditolak, berbeda dengan perintah. Sambungan diputus, tetapi, di akhir pembicaraan saya mendengar helaan nafas yang panjang dan dalam dari ayah saya yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk mengiyakan dan pulang ke rumah di Bandung dengan naik kereta esok paginya. Saya berkemas kembali setelah semalam saya sudah menata barang-barang saya di lemari kamar, sedih rasanya harus packing kembali, alias saya malas. Saya tipe manusia yang kalau packing h-beberapa jam. Karena nanti sore saya hendak balik ke Jogja, maka sekarang saya harus packing.

Sore hari saya pamit, hujan sudah benar-benar reda, gerimis pun tak ada. Akan tetapi, baru tiga menit keluar ke jalan raya, hujan turun dengan deras dan mengagetkan pengguna jalan. Orang-orang berteduh. Saya memang membawa mantel tetapi saya juga membawa buku yang banyak. Jika tidak membawa buku, mungkin saya bisa menerobos hujan ini. Pada faktanya, saya berteduh samapi tujuh kali setiap hujan mulai deras. Setiap mereda, saya berjalan kembali. Begitu sampai di kamar kos, buku-buku saya basah, termasuk duit-duit yang terbuat dari kertas itu. Semalaman saya putar kipas agar buku-buku itu kering. Anak-anak yang malang.


Orang-Orang Indonesia Dalam Mata Perjalanan

Tiba di stasiun, para penumpang yang hendak masuk diperiksa suhu tubuhnya terlebih dahulu. Di stasiun juga sudah mulai diberlakukan social distancing dengan cara menandai silang pada kursi-kursi tertentu dengan tujuan untuk mengatur jarak duduk. Hingga saat saya menuliskan tulisan ini sudah ada 450 pasien positif covid-19, 20 pasien yang sembuh, dan 38 pasien meninggal dunia. Meski tulisan ini akan saya posting entah saat angka kasus dan kematian sudah berubah banyak atau tidak.

Dalam tulisani ini, saya ingin menceritakan hal-hal apa saja yang saya lihat selama di perjalanan. Bukan, bukan mengenai indahnya pemandangan, hijaunya sawah sejauh mata memandang, atau teriknya mentari. Ini tentang hal-hal yang dilakukan masyarakat kita, masyarakat Indonesia, sepanjang jalan Yogyakarta menuju Bandung. Sebelumnya, saya mau cerita dulu bahwa keadaan kereta lengang, sangat lengang untuk ukuran gerbong ekonomi, tidak banyak penumpang bahkan di gerbong kereta belakang saya, penumpangnya dapat dihitung jari. Saking lengangnya, rasa dingin AC sampai menusuk-nusuk. Lalu, apa saja yang saya lihat sepanjang perjalanan ini?

13/11/19

Pay Attention to Our Attitude!


Saya menulis ini tanpa ada maksud sedikitpun untuk membuka aib orang lain, karena di sini saya tidak menyebutkan secara jelas siapa orangnya atau merujuk pada siapa.  Saya berharap tulisan saya ini bisa dibaca oleh banyak anak laki-laki dan bisa membuat mereka sadar dan mengubah kebiasaan mereka. Saya sangat khawatir dan ketakutan dengan fakta yang seringkali saya temukan. Ini sejenis mengerikan mengetahui orang-orang tersebut hidup di sekitar saya.

Jadi ceritanya begini, mereka membuat suatu akun di sosmed. Dimulai dari satu orang, yang dimana satu orang ini adalah seseorang yang saya sering berdiskusi dengannya tentang banyak hal yang rumit tetapi ternyata dia memiliki pemikiran seperti itu. Dia membuat suatu akun dimana akun tersebut dijadikan olehnya sebagai media untuk berbagi gambar *maaf* alat kelamin, yang anehnya adalah jenis kelamin yang dia miliki sendiri. I mean, what are you doing, boy? Untuk apa, hey? Ngapain dia bikin gituan, bukannya dia juga punya sendiri? Ini sangat meresahkan saya karena dia teman saya sendiri. Saya takut jika menduga bahwa dia punya sejenis gangguan atau kelainan yang tidak terbaca oleh orang lain.

Jangan tanya mengapa saya bisa mengetahui fakta ini sekalipun dia membuatnya bukan dengan namanya. Karena ada petunjuk di sosmed dimana kita bisa menemukan akun-akun sosmed orang-orang yang nomornya kita simpan di hp kita. Jadi sangat jelas itu akunnya dia berdasarkan nomor ponsel yang digunakan bahkan tidak bisa disangkal lagi karena dia bahkan menyimpan nomor ponselnya di bio akun tersebut untuk memudahkan orang yang mau berbagi gambar yang tidak pantas tersebut.

Satu lagi teman saya, ia membuat akun dengan nama yang sama dengan sosmednya yang lain. Dia baru saja membuat akun tersebut. Informasi akun terbaru tersebut, dinotifikasi oleh sosmed menuju akun milik saya karena saya menyimpan nomor teman saya tersebut. Tahu apa yang dia follow? Followingnya baru enam akun dan kesemuanya itu berbau “hs”. Semuanya! Apa pacarnya tidak ilfil jika mengetahui hal ini? Ya ampun! Astaghfirullahaladzim! Tiba-tiba seluruh kewibawaan yang ia selalu tunjukkan di hadapan kita semua hancur berkeping-keping. I’m so sorry, boy.

Kalau kalian berkomentar bahwa ini wajar, tidak munafik, manusia normal, punya nafsu, saya bukan berpikir ke situ, ya. Saya survey tidak hanya dari satu sisi, ya. Suatu kali, saya pernah punya teman laki-laki dari aplikasi bermain game. Saya sering main game di situ dan ada fasilitas untuk ngobrol dan chatnya juga yang seringnya saya nonaktifkan karena tujuan saya jelas hanya untuk bermain game. Jelas saja pertemanan di dunia maya sangat berbahaya, saya menemukan banyak pria hidung belang, modus, alay, sange, dan sebagainya. Tetapi suatu kali saya bertemu dengan laki-laki normal dan sopan. Kami berteman sampai ke jenis sosmed lainnya. Kemudian, saya cek followingnya, awalnya saya pikir laki-laki seperti dia mesti aneh-aneh, tetapi ternyata hal yang saya takutkan itu tidak ada sama sekali dalam sosmednya. Justru dia mengikuti akun-akun yang sangat bermanfaat, seperti akun inspirasi, motivasi sampai akun beasiswa ke luar negeri. Padahal yang saya tahu tentangnya, dia lebih muda dari saya, tetapi dia sudah bekerja. Dia orang Jawa yang bekerja di Kalimatan. Ia bekerja sebagai karyawan sebuah toko. Hanya itu saja.

Kembali ke pembahasan awal, tidak tahu ya kenapa resah dan risih sekali! Rasanya alat kelamin sekarang menjadi barang murah bahkan tidak berharga. Saya mau menangis sendiri melihat hal ini. Aduh, manusia, dimana letak harga dirimu? Dimana letak ketakutan diri atas mata yang melihat sesuatu yang tidak pantas? Aduh, hati, mengapa sebebas ini? Aduh, pikiran mengapa semudah ini?

Kalau banyak orang yang suka dengan konten seperti itu lalu bahkan memfasilitasi dan membaginya, saya tidak bisa membayangkan bagaimana masa depan anak-anak bangsa nanti? Hal seperti itu dianggap wajar dan biasa, dipertontonkan dan dilihat. Bagaimana pikiran anak-anak kita tidak mudah dinodai? Kita tidak bisa selamanya menjaga anak-anak kita, tidak bisa mengawasi mereka 24 jam nonstop, tetapi setidaknya kita bisa mengurangi hal-hal tersebut dalam hidup kita. Berpikir sejak dalam diri sendiri bahwa ini salah, ini tidak boleh, ini tidak pantas, ini perlu dijauhkan, ini tidak layak dikonsumsi, ini mencemari. Segera ingkari, segera jauhi, segera hapus, segera istighfar!

31/10/19

Hiruk-Piruk Dunia Maya


Setiap hari linimasi sosial media penuh kegaduhan
Perkara satu memunculkan perkara lainnya
Netizen ikut memanaskan situasi
Semua orang memang boleh angkat bicara
Di balik topeng-topeng itu

Topeng-topeng yang entah jika di dunia nyata topeng lain apa yang digunakannya
Menyembunyikan identitas diri di balik sebuah akun dunia maya
Hanya mampu dikenali dengan apa yang ada dalam daftar following dan followernya
Nampaknya banyak penghuni di dunia maya ini menyukai keributan

Seorang teman pernah bekata, untuk membela seseorang dengan cara mencaci maki pihak yang disalahkan, bukankah hal itu membuat kita terlihat sama saja dengan mereka yang berbuat kesalahan dan menimbulkan masalah?
Bahkan lebih buruk, sebab ikut memperkeruh suasana
Nampaknya akhir-akhir ini membela seseorang di dunia maya justru menambah runyam karena mengintimidasi pihak yang memang bersalah
Alias semuanya jadi merasa terintimidasi
Alih-alih mengira mampu menyelesaikan masalah, rupanya justru hanya membuat pernyataan tentang keberpihakan dan secara tidak langsung telah membentuk penggiringan opini

Di sisi lain, ingin menghakimi kesalahan dan dosa mereka
Tapi jika menghakimi, salah-salah maka akan mendapat penghakiman lagi dari netizen lainnya
Maksudku begini, orang-orang terserah ingin berperan sebagai apa dan ingin memainkan dosa yang mana
Tetapi, apa yang membuat mereka berpikir bahwa dosa-dosa tersebut pantas diperlihatkan?
Lantas, terheran lagi melihat orang-orang lainnya memuja-muji dosa tersebut
Menikmati cerita konyol, oh ayolah aku hanya ingin menebar kebahagiaan dan kedamaian, begitu alasannya

Maaf, kebahagiaan dan kedamaian mana yang Anda maksud?
Suatu kebusukan yang dilakukan seseorang di suatu negeri tanpa ada yang mampu mencegah
Mampu mendatangkan musibah yang akan melanda satu negeri itu pula
Berapa kali orang-orang dari kalangan alim ulama berkata, “tak belajarkah kau dari kisah-kisah orang terdahulu? Kapan terakhir kali kau membaca mushafmu? Bacalah di sana, pahami maknanya, apa yang terjadi pada kaum terdahulu?” para guru kita menangis mengingat hari-hari sekarang ini

Aku hanya pengamat, seorang pembaca yang tak sengaja menikmati kisah berlumur dosa
Aku hanya ada di sana, ketika seseorang mulai membagikan cerita suramnya tanpa ending yang mulia
Aku ini, hanya ingin benar-benar hidup tenang
Hidup yang benar-benar hidup di dunia nyata
Bukan dunia maya yang kini sudah tak aman untuk mata, hati, dan pikiran

Sayangnya, aku tak mungkin meninggalkan rumahku di sini
Yang telah kubangun selama kurang lebih tujuh tahun belakang ini
Bila saatnya sudah benar-benar tiba, aku akan pergi nanti
Aku titip rumahku di sini, kepada setiap mereka yang datang menjejaki tempat ini

02/04/19

Review Buku: Seni Bersikap Bodo Amat Karya Mark Manson #2


 Sumber gambar: http://news.unair.ac.id

Mulai masuk pada bab Berhati-hatilah Dengan Apa yang Anda Percayai, buku ini semakin menarik. Dengan maraknya berbagai fenomena yang disuguhkan melalui media informasi dimana siapapun dapat mengakses dan membaca berita tersebut, sayangnya sebagai masyarakat awam kita seringkali dibingungkan oleh kebenaran berita-berita tersebut.

“Pada 1988, ketika menjalani terapi, seorang jurnalis dan pengarang berhaluan feminis Meredith Maran mendapati sebuah pengalaman yang mengagetkan: ayahnya pernah melakukan kekerasan seksusal terhadapnya ketika ia masih kecil. Ini sangat mengempas, suatu ingatan yang berusaha ia lupakan sejak beranjak dewasa. Namun, di usia 37 tahun, dia memutuskan untuk menghadapi ayahnya, dan juga mengatakan kepada keluarganya apa yang telah terjadi.

Kabar ini membuat seluruh keluarganya ketakutan. Ayahnya langsung menyangkal. Beberapa anggota keluarga memihak Meredith. Yang lain memihak ayahnya. Pohon keluarganya terbelah menjadi dua. Dan luka yang mengempas hubungan Meredith dengan ayahnya telah berlangsung lama sebelum pengakuan tersebut, kini telah menyebar seperti jamur yag menyerang cabang-cabang pohon itu. Kabar itu telah menyayat hati semua orang.

Lalu pada 1996, Meredith menyadari sesuatu yang tidak kalah mengagetkan: ayahnya tidak pernah melecehkannya secara seksual! Dia, dengan bantuan seorang terapis, sebenarnya menciptakan sendiri memori tersebut. Dipenuhi dengan rasa bersalah, dia menghabiskan sisa waktu selagi ayahnya hidup untuk mencoba berdamai dengannya dan anggota keluarga lain lewat permintaan maaf dan penjelasan yang disampaikan berulang-ulang. Namun, itu semua terlambat. Ayahnya meninggal dunia dan keluarganya tidak akan pernah menjadi sama lagi.”

Kisah ini sangat menyedihkan bagi saya. Hal ini kemudian mengait pada persoalan kepercayaan saya terhadap berita pelecehan seksual yang sering mencuat beberapa bulan terakhir ini. Pada awalnya, semua artikel menyoal perempuan yang dilecehkan oleh atasannya, temannya, kekasihnya dan lain sebagainya sampai pada suatu kali menemukan sebuah akun anonim yang menceritakan kisah pilunya. Ia mengaku sabagai seorang pria yang keperjakaannya hilang direnggut sekelompok wanita yang lebih tua darinya, ia ingin menegaskan bahwa pelecehan seksual bukan hanya bisa terjadi pada perempuan, tetapi laki-laki juga bisa terkena pelecehan seksual. Sayangnya, menurutnya, bila hal itu dilaporkannya, hal ini hanya akan menjadi bahan cemoohan.

Kembali ke soal wanita yang merasa dilecehkan lalu melaporkan kasus mereka, semisal si pria tidak bersalah, bagaimana perasaan istri dan anak-anaknya di rumah saat melihat isu dan fitnah menghampiri suami dan bapak mereka? Toh jika terbukti akan menjadi luka tersendiri dalam perasaan keluarga tersebut, bagaimana kasus tersebut mampu merusak psikologis keluarga tersebut. Perempuan dilibatkan dalam “peran” dalam cara-cara untuk menjatuhkan seseorang dari jabatannya merupakan “lagu lama” yang dimana keberadaannya dalam kasus dikaitkan sebagai teman perempuan, simpanan, selingkuhan dan menjadi bahan untuk membangun fitnah di sana-sini. Media dan publik mungkin bisa menilai semaunya, tetapi orang-orang terdekat tersangka tidak akan percaya hal itu. Di mata keluarga dan kerabat, bapak dan suami mereka adalah korban dari keserakahan pihak lain, dari hukum yang berjalan tak memihak mereka, dari orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk membalas dendam atau memberi peringatan pada yang ingin bertindak adil dan ingin membuktikan kebenaran. Jangan dikira mereka yang dijebloskan ke penjara adalah orang yang bersalah, bahkan mereka juga sudah mengetahui siapa dalang-dalang yang membuat mereka jatuh ke penjara pada jauh-jauh hari sebelum mereka dijebloskan. Untuk kasus yang satu ini pernah saya tulis tetapi batal saya publikasikan karena satu dan lain hal, sebab menulis rupanya butuh keberanian yang tidak setengah-setengah.

Kisah Meredith sebelumnya, membuat saya menutup mata untuk percaya begitu saja pada pemberitaan. Bukannya saya tidak membela kaum saya sendiri, tetapi selalu saja ada perasaan muak tersendiri yang saya rasakan, terlebih lagi saya sebagai masyarakat awam yang tidak pandai menilai apakah suatu berita benar atau tidak inilah yang membuat saya akhirnya memilih berada di jalur netral setelah lelah membaca berita dan mendengar seluruh klarifikasi atas berita yang telah saya percayai sebelumnya.

Review Buku: Seni Bersikap Bodo Amat Karya Mark Manson #1

 Sumber gambar: http://news.unair.ac.id


Ingin berkata-kata amarah ke mas-mas penjual martabak yang mendahulukan pesanan orang lain karena ketika saya memesan saya bilang, “saya tinggal dulu bentar ya, Mas.” Pasalnya bukan karena didahulukan pesanan orang lain, tetapi karena dialog setelah itu.

“Mas, pesanan saya mana?”
“Bentar, ya, hampir jadi.”

Saya heran, hampir setengah jam saya tinggal, kok belum jadi? Rupanya dia mendahulukan pesanan orang lain. Jadilah saya menunggu sambil berdiri, diam saja karena memang sendirian, untung bawa ponsel, pura-pura chattingan padahal tidak ada yang nge-chat. Akhirnya serah terima martabak pun terjadi, tiba-tiba masnya bilang,

“Mbak ngambek, ya?”
“Enggak, Mas.”
“Kok dari tadi diam saja?”
“Saya emang pendiam mas.” kataku dengan kalem. Lagian saya datang cuma sendirian, Ya kali saya ngomong sendiri.
“Mbaknya yang dulu pernah beli ke sini juga terus bilang kuah martabaknya kurang, kan?”
Sial, Masnya ingat saja. Yang awalnya saya pasang muka datar, jadi senyum-senyum.
“Kok, masih ingat sih, Mas? Saya saja sudah lupa.”
“Coba sini, mana nomor WA-nya.”

Saat itulah perasaan ilfeel berkecamuk dan muka saya kembali datar. Kenapa ya saya sensitif banget dengan laki-laki yang dengan begitu mudahnya minta nomor WA seorang perempuan yang sebenarnya ia tidak punya urusan apapun dengan perempuan itu? Jengkel juga waktu dia nanya Mbak ngambek, ya? Pertanyaannya itu menurut saya terlalu pribadi, dan saya pikir dia tidak perlu tahu suasana hati saya saat itu sedang seperti apa, toh kalau saya sedang galau juga apa urusannya dengan anda, hei!

Cepat-cepat saya bayar martabak saya dan pura-pura budek waktu dia menanyakan nomor WA. Gelinya lagi matanya tetap tertuju pada saya, mulai dari saya pakai helm, naik di motor, mungkin juga sampai saya hilang di belokan gang. Sungguh, tidak semudah itu Ferguso!

Saya tidak bisa membayangkan dengan hari-harinya sahabat saya yang dikaruniai wajah cantik luarbiasa. Jangankan antre beli martabak, cuma lagi antre untuk ambil uang di ATM saja, ada saja yang ngajak kenalan dan minta nomornya. Saya cuma geleng-geleng kepala saja melihat semua itu dari kejauhan, si pria itu kira tidak ada yang memperhatikan tingkahnya itu apa, hah! Si pria itu jingkrak-jingkrak kesenangan, beberapa kali meninju bahu sobatnya karena berhasil mengajak teman saya kenalan. Dari atas motor, saya cuma membatin ‘Oh gitu toh reaksinya cowok kalau kesenangan nemu cewek cantik di jalan.’

Mungkin orang lain boleh berbeda pandangan dengan saya, cuma menurut saya agak aneh dan kurang elegant saja cara orang-orang yang jatuh cinta di jalan. Namanya juga jatuh cinta, emang kadang aneh! Pernah juga baca suatu kisah sepasang suami istri yang menikah, berawal dari sang suami yang jatuh cinta saat melihat wajah sang istri di spion motor sewaktu mereka lewat jalan yang sama, lalu pria itu mengikuti si wanita sampai rumahnya dan bertekad suatu hari akan datang ke rumah itu lagi untuk melamar. Sebatas itu saja sih kisahnya. Pesan dari saya, jatuh cintalah dengan cara yang terhormat! Bagaimana caranya? Dengan kamu menghargai dan menghormati orang yang kamu cintai itu! Jangan membuatnya tidak nyaman apa lagi sampai ia merasa harga dirinya tidak dihormati dengan perbuatanmu yang tidak baik kepadanya.

Beda cerita lagi waktu saya menahan emosi ketika lewat di pertigaan di daerah dekat Stadion Maguwoharjo. Kala itu di pertigaan ada sepetak tanah yang hendak dibangun, di sana ada tiga orang bapak-bapak dan seorang mas-mas, mereka dengan penuh semangat menata bebatuan besar di sana, begitulah saya melihat mereka dari kejauhan. Lalu, tepat saat mas-mas ini didukung oleh ketiga bapak-bapak ini, ia melempar batu besar ke arah selokan dekat sepetak tanah itu, tepat saat itu saya lewat, dan byur!! Saya kecipratan air dari selokan itu karena lemparan batu yang besar dari mas-mas itu. Keempat pria itu speechless, tiba-tiba suasana mendadak freezing, mata saya yang memang garang ini mendadak terlihat sangat garang. Waktu itu saya pakai masker jadi mereka hanya bisa melihat mimik wajah saya dari tatapan mata saya. Sejenak seperti ingin memaki dalam hati, tetapi kemudian memutuskan untuk diam saja dan melupakan kejadian tersebut. Firasat saya mengatakan orang-orang tadi sepertinya merasa bersalah, tetapi mau dikata apa lagi saya tidak mempermasalahkan dan melanjutkan perjalanan saya. Toh tidak ada gunanya memaki dalam hati pada mereka, dan lagi pula hanya air selokan yang cipratannya tidak seberapa meskipun memang kotor.

Esok harinya, saya kembali melewati jalan tersebut. Dan mas-mas itu kembali melihat ke arah saya, sepertinya dia masih ingat soal ‘masalah’ kemaren, sepertinya dia hafal motor dan helm yang saya gunakan. Asli deh, waktu itu kasihan lihat tatapan matanya yang seperti sangat merasa bersalah. Padahal dalam hati saya mengatakan tidak apa-apa kok, Mas, kan tidak sengaja.

19/02/19

Seorang Teman dan Empat Pelajaran Berharga yang Dibawanya


Ternyata ada yang lebih menakutkan dari pernyataannya tempo hari ketika ia berkata, “aku tidak tahu mau kemana dan harus apa.”

Ia datang lagi, dengan kalimat-kalimat yang membuatku lebih bergidik lagi.

“Hidupku cukup susah, jadi ingin berhenti hidup.”

“Kamu percaya tidak bahwa saya sudah menginginkan hal ini lebih dari 3 tahun yang lalu, ingin berhenti hidup.”

saya kemudian diingati oleh sebuah cuitan seorang netizen di twitter. Waktu itu konteksnya tentang survey bahawa ternyata banyak mahasiswa yang pernah memiliki keinginan untuk mengakhiri hidupnya oleh sebab skripsi yang tak kunjung selesai, sementara teman-temannya satu persatu sudah pergi karena mengejar mimpi lainnya, sehingga mereka tidak memiliki teman sekedar untuk bercerita, kemudian ditambah hidup merantau, kesepian seorang diri di dalam indekosnya, sehingga banyak diantara mereka yang memiliki pikiran ingin bunuh diri saja.

Maka, ketika ia mempercayai dan memilih kita sebagai tempatnya untuk bercerita (terlepas dari problem apapun, bukan hanya masalah skripsi), jika kita justru tidak memberikan support yang layak, bahkan memberi kesan merendahkan apalagi sampai mengarah pada memperlihatkan bahwa kita menyepelekan apa yang dialami olehnya lalu di kemudian hari kita menemukannya bunuh diri, ketahuilah bahwa sesungguhnya kitalah yang membunuhnya.

Tidak semua orang mudah untuk membagi cerita mereka, bahkan banyak orang yang tidak punya tempat untuk bercerita.


Bagaimana Bisa Hanya Makan Bersama Adalah Hal yang Mewah?

Ia berasal dari keluarga yang jelas-jelas berada. Meski begitu, ada kemewahan yang tak bisa dibeli oleh keluarganya, yaitu memiliki jam makan bersama. Kadang kita lupa bahwa ada hal-hal sederhana bagi kita yang ternyata mewah bagi orang lain. Terlepas dari menu makanannya apa, pukul berapa, dimana, dan bagaimana keadaannya, tetapi ketika makan bersama dengan keluarga yang kita cintai itu bisa jadi adalah momen yang sangat diharapkan terjadi dalam hidup oleh banyak orang. Mirisnya kita sering melupakan hal itu, justru saat makan bersama keluarga, kita malah meributkan lauknya, rasanya atau hal-hal yang tak sepatutnya diributkan di meja makan.

Mungkin bagi dirinya hal sederhana seperti makan bersama keluarga mampu menjadi simbol bahwa mereka masih saling peduli satu sama lain. Tetapi, hari itu ketika ia bercerita, berakhir dengan kesimpulan bahwa mungkin keluarga mereka tidak peduli satu sama lain.


Mengapa Kakak Perempuan Itu Kebanyakan Galak? 

Ia mengatakan bahwa kakak perempuannya sangat galak sampai ia tidak pernah berani mengajak “ngobrol” kakaknya. Suatu hari, ia pernah bertemu kakaknya saat sang kakak datang ke kota tempatnya merantau. “Dari awal bertemu hingga dia pulang, saya dimarahi terus.” Ungkapnya dengan nada pasrah. “Padahal kamu tidak tahu apa kesalahanmu? Atau bahkan kamu tidak melakukan apapun?” tanya saya. Ia mengangguk. “Padahal selama bertemu dengannya, saya cuma diam saja.” Ungkapnya lagi.

“Aku memang selalu salah di matamu.” Rupanya ini adalah sebuah ungkapan yang tidak hanya berlaku dalam hubungan pertemanan dan asmara saja, tetapi juga terjadi dalam hubungan kakak-beradik.

Kisahnya ini membuat saya bercermin sebagai seorang kakak perempuan beradik dua, laki-laki dan perempuan. Ternyata sepertinya saya juga galak dan kurang ajar, kalau adik saya curhat serius saya cuma asal menanggapi seperti oh masa? Kata siapa? Sok tahu?! Siapa nanya! Cari aja sendiri! Saya berharap saya bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan saya ini. Kadang, saya merasa adik perempuan saya lebih dewasa dibanding saya, lebih mandiri, lebih bisa apa-apa, yang saya bisa dia juga bisa, yang dia bisa, tidak semuanya saya bisa. Banyak hal yang saya bisa lakukan karena dia mengajari saya, salah satunya adalah blogging ini. Iya! Dia yang pertama kali bilang kalau tulisannya mau dibaca banyak orang, publikasikan saja sendiri, bikin saja blog. *pengen nangis terharu atas sarannya ini*

Akhirnya saya bikin blog. Waktu itu dia juga bikin blog dan masih bocah, masih ingat banget dulu ada kolam ikan di blognya. Mungkin anak blog zaman dulu tahu, hehe. Jadi, kalau kita buka blognya bisa ngasih makan ikannya, lucu, deh. Tapi, blog dia sudah lama tidak aktif. Minta doanya ya teman-teman dia sekarang sedang berjuang mengejar masa depannya. Sedih kalau tidak tercapai, mengingat riwayat pendidikan dan prestasinya yang gemilang banget sampai-sampai waktu dia sekolah dasar, tiap dia bagi raport, saya senang, soalnya pulang-pulang pasti bawa hadiah yang banyak karena raport dan prestasi dia. Saya selalu dibagi hadiahnya soalnya kebanyakan, hehe.


Tahukah Kalian Betapa Waktu-Waktu Berbincang Dengan Orangtua Adalah Hal Kecil yang Berharga?

Pada suatu kali, ia diantar ke bandara oleh bapaknya. Hanya berdua saja di dalam mobil, hening, tanpa ada obrolan apapun, lebih tepatnya tak ada yang ingin memulai.

14/02/19

Man's Mistakes that Hurts Woman


Sebelumnya saya ingin mengatakan bahwa tujuan tulisan ini dibuat adalah untuk menghimbau kepada laki-laki di luar sana untuk mengubah kebiasaan buruk mereka yang tampaknya sepele, tetapi ini sangat menyakitkan bagi kami, sebagai kaum hawa. Kebiasaan buruk yang paling sering dimiliki oleh pria adalah mulutnya kotor, kata-katanya kasar, omongannya dapat seketika membuat wanita yang berhadapan dengannya menjadi berkaca-kaca, berbalik arah, menyembunyikan air matanya. Bukan kami cengeng, tapi siapalah wanita yang tidak bergetar ketakutan dalam hatinya saat ada seorang pria yang memaki-maki dirinya?

Tulisan ini saya muat atas ketidakrelaan saya terhadap apa yang terjadi pada salah seorang sahabat saya. Sekali lagi bukan untuk menyudutkan kekasihnya di sini, saya ingin menghimbau kepada pria manapun yang membaca ini, tolong jangan sakiti wanita dengan kebiasaan burukmu berbicara kasar.

Meski berulang kali sahabat saya tetap membela kekasihnya di saat mata saya sudah berapi-api karena tidak ikhlas dia diperlakukan seperti itu. Tiga kesalahan kekasihnya yang sangat sulit untuk saya tolerir sekaligus membuat saya murka dan setengah ilfil; berkata-kata kasar, negative thinking, serta tidak bersedia menunggu. Semua kebaikannya menjadi tidak bernilai bagi saya, benar saja kata pepatah susu sebelanga bisa rusak hanya karena nila setitik.


Berkata-kata kasar

Suatu hari, kekasihnya pergi keluar kota, entah alasannya apa ketika itu ia menitipkan kunci kosnya pada sahabat saya. Kalau boleh menduga, barangkali sahabat saya punya urusan dengan barang yang ada di dalam kos kekasihnya sehingga ia harus memegang kuncinya. Kekasihnya berkata bahwa malam itu ia akan pulang, ia melarang sahabat saya untuk tidur sampai ia tiba untuk mengambil kunci kosnya. Namanya juga ketiduran, sahabat saya tidak sadar diri dan tidak melihat ponselnya, yaiyalah. Begitu ia bangun dan melihat ponselnya, untuk pertama kalinya ia terkejut karena mendapati isi chat yang diterimanya dari sang kekasih begitu kasar. Binatang anjing dan kotorannya segala dibawa-bawa. Dia shock dong, saya yakin waktu itu dia nangis.

Ternyata saat seseorang ditinggal tidur atau bahkan dibuat menunggu, kita bisa melihat watak aslinya seperti apa, heu. Cuma karena ditinggal tidur lalu chat lama dibalas dan telepon tidak diangkat, marahnya bisa sekasar itu, tidak terbayang kalau dihadapkan pada masalah yang lebih rumit lainnya. Hal miris lainnya adalah, lihat siapa yang dikata-katain itu, perempuan yang katanya kau cintai. Boleh saya bertanya, apa benar kamu mencintainya? Kau lebih mencintai ego-mu, deh, sepertinya.

Contoh paling mudah untuk mengetahui kebiasaan berbicara kasar ini adalah ketika tengah bersamanya dalam suatu kendaraan dengan posisi si pria yang menyetir mobil atau mengendarai motor. Ketika ada situasi di jalan yang tidak sengaja tidak terkontrol seperti para pengendara lain yang tidak mau memberi kesempataan kendaraan kami untuk berbelok sehingga kendaraan kami nyaris menabraknya atau ketika ada pengendara lain yang memberi lampu sen mendadak dan berbelok secara tiba-tiba. Si pria yang tengah bersama kita ini pasti spontan terkejut. Responnya memang berbeda-beda, tetapi yang paling sering keluar dari mulut mereka adalah umpatan, cacian dan sumpah serapah padahal toh si pelaku yang membuat amarahnya meledak juga sudah pergi entah kemana, sementara pria ini terus saja megumpat sepanjang jalan. Pria berjenis seperti ini bisa membuat mood wanita yang bersamanya menjadi buruk. Tidak peduli dia sedang bersama saiapa, karena reaksinya meruakan kebiasaannya, dalam situasi ini bersifat spontan. Kalau pun ia bisa menahan ucapan kasarnya karena semisal sedang menyupiri bapak presiden, bisa jadi ia menahan umpatan dan hanya memaki dalam hati.

26/08/18

Mendewasa


Banyak orang terheran-heran pada saya, mengapa saya masih berteman dan menjalin komunikasi dengan orang-orang yang terlampau sudah lama jejaknya untuk diiringi hingga ke masa kini?

Saya ingin menceritakan seseorang, tetapi bahkan selain orang tersebut saya juga memiliki seorang teman yang dimana kami lahir di bidan yang sama, berbeda sebulan, saya mengenalnya sejak kami belum pandai membaca dan menulis, hingga sekarang ia hampir lulus kuliah yang dimana kami sama-sama kuliah di Yogyakarta dan kami masih saling berkomunikasi hingga kini. Bahkan ibu saya sendiri sampai menikah dan memiliki rumah, tetap berteman dengan sahabatnya sejak sekolah dasar karena sahabatnya tersebut mengikuti beliau tinggal di sebuah kota hingga sahabatnya pun menikah dan memiliki anak, hubungan keduanya pun sangat dekat sehingga sahabatnyalah yang sering mengurus makam almarhum bapak dari ibu saya yang dimakamkan di sebuah kota dimana dulu kami tinggal di sana.

Namun sedikit berbeda dengan seseorang yang satu ini. Kami berteman sejak galau karena ujian nasional sekolah dasar hingga galau karena skripsi, sesingkat itu waktu berjalan dan tak banyak pertemuan yang kami buat. Terlepas dari hitungan temu dan berbagai isyarat rindu, tetap saja saya tidak bisa lupa dengan obrolan kami sepanjang waktu temu itu.

Teman-temannya mungkin berubah, tetapi tidak dengan pertemanan kami yang temunya bisa dihitung jari dan waktunya dapat diingat memori. Kami berproses menjadi dewasa masing-masing. Saya tidak tahu bagaimana ia menjadi dewasa hingga saat kami bertemu, obrolan-obrolan tersebut dengan antusias memperkerjakan akal saya.

“Aku sama teman-teman ini, kami masing-masing punya pekerjaan.”
“Seperti si Bia, tiap hari pusing bikin laporan ke atasannya.”
“Aku sebagai laki-laki, sudah perlu berpikir dari sekarang untuk punya rumah sendiri. Aku sudah mengincar sebuah rumah, sedikit-sedikit nabung dari pekerjaanku.”
“Aku enggak bisa nambah hari untuk liburan, pekerjaanku nanti gimana.”
Saat itu, saya merasa ditampar sebuah quote, “wanita lebih senang dengan pria yang membicarakan masa depan, bukan masa lalu.”

"Lebay"

Suatu malam saya curhat melalui sambungan telepon dengan orang yang paling saya sayangi nun jauh di pulau Sulawesi sana.

“Kalau papanya temanku tuh suka nelpon, nanya sudah makan belum? Makan pake apa tadi? Gitu.” Saya curhat begitu dengan maksud menyinggung ayah saya yang berada di ujung sambungan telepon.

Lalu, tahu tidak ayah saya menjawab apa?
“Itu lebay.” Gitu katanya, astaga, saya ngakak.

Diam-diam saya memikirkan, kayaknya saya jiplakan beliau, deh. Dikit-dikit ngatain alay ke orang-orang yang care sama saya. Ya, kenapa sih, nanyanya sudah makan atau belum? Kalau sudah kenapa? Kalau belum terus kenapa?

Saya sempat mengonsultasikan hal ini ke salah seorang teman saya yang merupakan sarjana psikologi, mengapa saya berbeda dengan si B? yang ternyata si B itu bahagianya bukan main ketika ada yang bertanya kamu sudah makan, belum? Ke dirinya.

Menurut psikolog tersebut, rentetan pertanyaan atau kepedulian kecil seperti itu sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang hingga membentuk pribadi atau karakter yang berbeda seperti yang terjadi pada saya dengan si B.

Mengapa saya seringnya mengatai alay pada mereka yang care pada saya? Sebab, saya seolah “muak” karena sejak saya kecil sudah banyak dijejali rentetan pertanyaan dan kepedulian-kepedulian kecil yang membuat di dalam hidup saya terlalu banyak “memakan” hal tersebut karena saya dan si B berada dalam lingkungan yang berbeda yang dimana si B kurang mendapat perhatian orangtuanya yang disebabkan sang ibu sibuk mengurus ekonomi keluarga karena ayahnya sakit keras sehingga potensi rasa bahagia saat ditanya “kamu sudah makan, belum?” terhadap si B lebih besar dibanding saat pertanyaan tersebut dilontarkan pada mereka yang sejak kecil telah mendapatkan perhatian seimbang dari lingkungannya.

Lalu setelah saya curhat dan dijawab lebay, akhirnya ayah saya mencoba membuat banyak pertanyaan, dari mulai bagaimana tempat tinggal baru saya? Bagaimana teman-temannya? Bagaimana cita-cita saya yang dulu ingin jadi reporter? Masih sering menulis? Lanjut ke pembahasan S2, hingga membahas bahwa menikah bagi ayah saya adalah cita-cita dan lahirlah pertanyaan kapan kamu menikah? Uwowooooo.

Kamu tahu apa yang paling megerikan?
“Kalau kamu lanjut S2, berarti nyari laki-lakinya yang S2 juga, dong.”
“Emang kalau aku S2, laki-lakinya nggak boleh S1 saja?”
“Eh, ya, satu saja kalau punya suami.”

Begitulah ayah saya, kesannya terserah saya tetapi diam-diam mengarah pada satu arah.

09/08/18

Mau dibawa Kemanakah Followers Kita?


Mau dibawa kemanakah followers kita? Menurut saya, ini adalah PR untuk setiap masing-masing diri. Keegoisan kecil yang berawal dari ketidaksadaran bahwa hidup kita bukan seutuhnya milik kita. Kita dilahirkan di tengah sebuah keluarga, tumbuh di tengah-tengah suatu keadaan dan lingkungan, berkembang di dalam masyarakat, belum lagi kepopularitasan sebenarnya adalah suatu tanggungjawab yang sangat tinggi.

Mau dibawa kemanakah followers kita? Menurut saya, ini adalah PR besar utamanya teruntuk para public figure yang memiliki akun sosmed dengan follower selangit. Belum lama ini, seorang anak muda yang mengawali karirnya lewat dunia musik hingga sukses berakting di suatu film yang fenomenal membuatnya menjadi idola dan sosmednya diikuti jutaan orang, tentu kebanyakan memang yang mengikutinya adalah anak-anak muda lainnya. Suatu hal apapun yang diposting olehnya akan langsung meledak, tidak butuh waktu sehari, dalam hitungan menit seantero raya heboh membicarakannya. Bukankah bila sudah begini ia harus pahami betul posisinya? Pasalnya, diantara kita masih ada rasa egois yang tak kita sadari, bahwa diri kita bukanlah milik kita seutuhnya. Public figure membuat dirinya dimiliki pula oleh orang-orang yang mengikutinya.

Mau dibawa kemanakah followers kita? Lantas, suatu hari, ia membuat sebuah postingan yang tak layak untuk ia posting di hadapan publik. Tidak perlu menebak, karena ledakan itu pasti terjadi dalam hitungan detik. Jumlah like dan comment berebutan saling mengangkasa. Diperparah dengan dijadikannya highlight dalam berita-berita, mending jika beritanya membuat kritik dan saran, tetapi yang saya dapati justru mereka menelusuri lebih jauh bahkan memberitakan fakta-fakta yang saya pikir publik tak perlu tahu. Apa kita sudah kekurangan bahan berita? Masih banyak hal posiitif dan inspiratif lainnya dari seorang public figure yang bisa diberitakan dibandingkan hanya terus-terusan menggali dan memberitakan hal-hal yang menjadi privasinya meskipun sangat jelas para public figure memang mengumbarnya.

Mau dibawa kemanakah followers kita? Saya turut prihatin dengan fenomena ini. Mari sama-sama mengingat bahwa entah kita public figure atau bukan, mari menjaga sikap kita di dunia yang nyata maupun maya. Sejatinya di hadapan Allah semua manusia adalah public figure yang perlu menjaga sikapnya dan memiliki kesadaran penuh bahwa suatu saat kita akan diminta pertanggungjawaban atas semua hal yang pernah kita lakukan, entah di dunia nyata maupun di sosial media. Semoga sekarang atau kelak, kita bisa menjadi sosok orangtua yang mampu menuntun anak-anak kita dan berupaya menjadi teladan yang baik bagi mereka. Jadilah public figure yang menginspirasi dan membawa kebaikan bagi setiap orang yang mengenalnya! Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’no:3289).