24/09/18

[The End] : Segenap Kepergian


“Wira Negara dalam sebuah tulisan pernah mengatakan hal yang paling sulit dalam mencintai adalah memulainya terutama membuka hati setelah membereskan yang lama. Namun, apakah kau tahu? Apa kau pikir semudah itu bagi perempuan selemah diriku? Melupakan yang telah pergi selamanya, menggantinya dengan yang tiba-tiba datang? Di saat kepergiannya justru lebih mendadak dari perkenalan kita yang baru-baru ini. Sekalipun kutahu bahwa kau hanya menggodaku saja, lewat selembar kertas yang kau lukis puisi di atasnya dengan pena pucat yang kau simpan di sela buku yang kau kembalikan tepat pada pertemuan terakhir kita. Aku tahu, semua itu sengaja ditulis untuk merisaukan aku bahkan di saat kau ingin pergi merantau dengan tenang tanpa diiringi rinduku padamu, toh untuk apa juga aku merindu, perkenalan terlalu singkat itu kau bilang tak pernah cukup untuk mencipta rindu yang tulus, hanya basa basi belaka bila aku menjerit mengatakan rindu.

Tak perlu terkejut mengapa aku tahu kau tak sungguh meninggalkanku, kau pergi untuk ilmu yang lebih tinggi, bukan pergi karena patah hati. Meski kau tak mengatakannya di pertemuan terakhir yang berhasil membuatku menangis seorang diri. Aku tahu hal-hal yang ingin kutahu. Aku tak perlu meneriakimu penjahat, aku yakin kau lebih memahami dirimu sendiri.

Kau bilang kau tahu banyak tentang diriku. Tetapi, untuk hatiku kau tidak tahu apa-apa rupanya. Seorang pria yang kutulis dalam surat yang tak sengaja kutinggalkan di dalam buku tersebut adalah pria yang kulindungi mati-matian namanya, namun surat itu tak pernah kusangka akan tiba dalam genggammu, dalam matamu. Pria yang selalu hadir dalam rindu dan segala doaku, namun ia meninggalkanku untuk selamanya karena sakit yang telah lama dideritanya pada dua bulan sebelum aku mengenalmu. Semua terjadi tiba-tiba, aku masih berduka meski aku tak menolak kehadiranmu. Namun, sekali lagi kutanyakan, bagaimana mungkin semudah itu untuk melupakan yang pergi? Kau tak pernah bertanya tentang hatiku, namun kau memilih pergi begitu saja usai membaca selembaran surat yang sangat tak sengaja kutinggalkan di buku yang bahkan sudah lama aku tak membukanya.” (Yogyakarta, 5 Oktober 2015, Dari perempuan yang terluka dan tak perlu kau sembuhkan.)

Usai membaca isi lembaran itu, jantungku tidak karuan. Aku tergopoh-gopoh pulang ke rumah, semalaman aku tidak bisa menenangkan diriku sendiri. Kuputuskan untuk menemuinya, mencarinya hingga kami bertemu, meski aku sama sekali tidak tahu keberadaannya. Ini sudah sangat lama, sudah sangat terlambat, tetapi aku merasa semua baru saja terjadi. Aku merasa takdir membawaku pulang untuk menemuinya, takdir mempertemukanku dengan lembaran surat yang ia pikir mungkin tak akan pernah sampai, kita tidak pernah tahu bagaimana hebatnya takdir bekerja.

[Chapter 2]: Segenap Kepergian


Perempuan itu tahu betul bahwa aku tak bersungguh-sungguh padanya, tahu betul dengan permainanku, tahu betul aku hanya menggodanya saja, tahu betul bagaimana kelak ia akan terluka bila ia anggap ketidakseriusanku sebagai kesungguhan. Namun, kini, rasanya aneh bila aku pun mengganggap diriku bahwa kala itu aku hanya bercanda, sekedar menggoda saja, atau bahkan kasarnya hanya mengisi waktu tatkala tiba-tiba gelanggang dipenuhi gadis-gadis cantik berlatih bermain teater. Ya, atau mungkin memang karena kami anak teater, kami senang bermain, menggoda para gadis yang hidungnya mancung, kulitnya putih mulus, dan cara mereka berbicara terngiang-ngiang di dalam sukma kami.

Sayang sekali, terlambat kusadari bahwa mungkin ketidakseriusan itu menjadi kesungguhan tatkala sudah bertahun-tahun tak jumpa namun garis wajahnya masih teringat jelas di benakku, senyumnya yang santun, tatapannya yang menghangatkan, dan bibir kecilnya yang jarang sekali kudapati cerewet berbicara, ia tak seperti gadis cantik lainnya, yang senang menari-nari di tengah lapangan, ia lebih senang duduk menunggu di sudut bangku penonton, sambil membaca buku yang jujur aku tidak tertarik untuk bertanya tentang buku apa yang tengah dibacanya.

 Mungkin juga dia tahu aku berbohong saat pertama kali dia protes tidak pernah mendapat sapaan dariku lalu kujawab bahwa aku jarang dekat dengan perempuan, apalagi secara tatap muka. Lebih tepatnya aku sadar diri, memangnya siapa aku, bisa semudah itu menyapa perempuan macam dia, yang anggun dan bahkan mungkin tak tersentuhkan oleh lelaki pecundang macam aku ini yang selalu bersembunyi dibalik lampu-lampu yang kumainkan.

Tetapi asal dia tahu saja bahwa aku jujur saat kukatakan padanya bahwa temanku cuma anak sanggar, tidak banyak. Giliran aku yang tahu bahwa dia berbohong soal temannya yang hanya sedikit. Aku tahu dia menyembunyikan ketenarannnya di balik anggun dan kekalemannya itu. Dia menyembunyikan dirinya di dalam buku-buku yang dibacanya.

Dia protes untuk kedua kalinya saat kukatakan bahwa aku tidak mudah mengingat wajah, termasuk wajahnya, sekalipun hanya satu yang anggun di dunia dan apabila itu hanyalah dirinya. Sialnya lagi, Aku masih ingat pula pertama kalinya ia menolak dengan santun untuk kuantar pulang. Dia bertanya mengapa aku ingin mengenalnya, tentu saja aku menjawab bahwa aku tidak tahu. Aku bilang lagi bahwa aku ingin tahu banyak hal tentangnya dan kukatakan bahwa tidak perlu sekarang, tidak perlu terburu-buru, karena aku takut nanti cepat lupa. Dia menjawab, kapan-kapan saja, aku balas ya sekarang tetapi nyicil, dia tertawa, aku juga tertawa. Aku bilang nanti aku chat lewat WhatsApp dia menjawab menantangku, bertanya bahwa memangnya aku berani ngechat dia? Kubilang memangnya ada alasan buat aku untuk tidak berani? Dia tertawa serta menjawab tidak tahu. Kubilang memangnya ada yang menjaganya hingga aku harus takut, tentu diakhiri tawa. Dia pun tertawa, lebih menertawai bahasaku sebenarnya.

Dia bilang dia butuh tambahan waktu, dia bilang dia ingin sehari menjadi 26 jam tetapi mungkin takdir terbaik yang ditetapkan oleh Tuhan adalah 24 jam dalam sehari. Aku bilang sepertinya enak jika sehari menjadi 26 jam, aku jadi bisa mengenalnya lebih dalam, tentu diiringi tawa. Dia menjawab, bahwa dia cuma perempuan biasa jadi aku tidak perlu mengenalnya dalam-dalam, tetapi kataku aku tidak mau jika tidak mengenalnya dalam-dalam, mumpung aku bisa mengenalnya mengapa tidak?

[Chapter 1]: Segenap Kepergian


Akhirnya langkahku kembali lagi di sini, sebuah tempat yang munafik bila kukatakan tak kurindukan. Ah, tidak ingin berlama-lama dalam prolog yang bisa jadi membosankan soal kampung halaman, tanah kelahiran, dan semacam itulah apa kata orang saja. Kembali pulang berarti juga kembali pada ingatan-ingatan yang sempat berhasil terlupakan.

Usai pamit pada Ibu, sore itu kuputuskan untuk berjalan-jalan ke sekitar pemukiman yang mulai terasa asing dalam pandanganku usai perantauanku beberapa tahun belakang ini di negeri orang.

Cukup terkejut saat mataku menemukan sebuah bangunan sederhana bertuliskan perpustakaan pada plang di depannya. Sejak kapan ada perpustakaan di sini? Tempat tinggalku ini memang termasuk pedalaman, luar biasalah bila ada perpustakaan dibangun di sini. Terkejut dan ikut senang untuk keasingan yang satu ini. Segeralah aku melangkah mendekati bangunan itu. Sore itu beberapa anak terlihat bernafsu dengan buku di hadapan mereka.

“Mas, masuk saja.” Kata seorang bapak yang berusia sekitar baru kepala tiga. Terlihat ia menimang-nimang anaknya dan mungkin sama sepertiku, sedang sekedar berjalan-jalan di sore hari. Kalau sudah menemui pemandangan semacam ini, tiba-tiba teringat pertanyaan ibu tiap kali kami tersambung dalam telepon, hanya saja hari ini belum terlontar perkataan itu saat aku baru saja tiba di rumah, mungkin nanti malam. Aku bertanya-tanya dalam hati kiranya kapan aku seperti bapak yang tadi, membawa anaknya berjalan-jalan dengan perasaan bahagia. Dan kembali terbayang wajah gadis itu.

“Mas, Mas, sini masuk!” lamunanku buyar, seorang anak menarik tanganku masuk ke dalam bangunan perpustakaan yang sungguh sederhana itu. Buku-buku yang tersedia di dalamnya tak kusangka-sangka, begitu bagus dan tak kalah jauh dengan buku-buku di kota, ya mungkin saja buku-buku ini memang kiriman dari kota.

Tentu saja mataku lebih tertarik menelanjangi buku-buku yang sering dibaca mereka yang seumuran denganku. Pandanganku berhenti pada sebuah buku dengan judul yang tak asing di benakku. Buku apa itu? Apa aku pernah membacanya? Mengapa seperti pernah melihatnya? Dimana? Kenapa bisa? Ah, pikiran ini terlau berisik. Tahu apa aku tentang buku-buku, tetapi setidaknya kini jauh lebih baik perkenalanku dengan buku dibanding jauh sebelum aku mengenal gadis itu, ia yang mengenalkanku pada buku yang baik dan bagus, lebih tepatnya aku memaksanya melakukan itu, setidaknya aku jadi punya alasan untuk berada di dekatnya, terserah bila aku dikatai modus atau apapun itu.

Aku membuka perlahan buku yang terlihat usang itu, kali-kali ada ingatan yang hinggap kembali. Tiba-tiba selembar kertas terjatuh, selembar kertas yang mungkin tak sengaja diselipkan sang pemilik buku dahulu sebelum buku itu menepi di perpustakaan ini.

Aku memungut lembaran kertas tersebut, sebuah tulisan tangan yang tidak asing untukku berada di sana, aku membaca isinya dan tanpa sadar aku terdiam lama, lama sekali, begitu lama, sangat lama.

***

“Cepat, cepat! Jam berapa ini! Malam ini kita gladi kotor!” seru sang stage manager diiringi teriakan-teriakan lainnya dari sutradara dan para asistennya. Kupejamkan mata sejenak, lelah tentu saja. Mataku terbuka kembali dan pria itu masih saja berlalu-lalang, entah apa maksudnya, mencari perhatian mungkin saja. Ah, mengapa aku jadi sebal. Tentu saja dia mondar-mandir, dia lah yang berperan besar dalam lighting untuk pentas kami minggu depan. Pria mungil itu menyita perhatianku sejak pertama kalinya ia mengirim pesan tidak jelas padaku. Pria mungil yang biasa saja, hampir-hampir sama dengan pria lainnya yang senang memberikan semangat dalam pesan-pesannya. Barangkali aku menyukai pesan-pesan semacam itu hingga selalu menunggu pesan darinya.

Pria mungil begitu aku menyebutnya, dengan sotoy menggondrongkan rambutnya hingga sebahu, sesekali matanya tertutup poninya yang berantakan itu, selalu setiap hari ia bersembunyi di balik jaket sweater bertudungnya, sesekali memakai kacamata karena memang dia minus. Ia bilang padaku bahwa ia tidak percaya diri untuk menggunakan kacamata, aku bilang dia bagus-bagus saja pakai kacamata, maka itulah barangkali akhirnya ia selalu menggunakan kacamatanya. Pria mungil itu tak begitu rupawan barangkali bagiku, tetapi ia terlihat imut di dalam sweaternya yang bertudung.

17/09/18

Mengiba


Senja selalu mengiringi kepulanganku, membersihkan diri menyambut malam yang sunyi lagi, manakala aku kembali sendiri, usai melatih diri dari sandiwara-sandiwara yang katanya harus kuhayati. Senjapun mengiringi sapuan demi sapuan dari gadis berparas cantik yang tempat tinggalnya tepat di dekat tikungan jalan yang selalu kulewati. Senja mengiringinya meluangkan sedikit waktu untuk mencipta jalan yang bersih, tak peduli berapa banyak sepeda motor yang melintas, membawa material debu yang menggunung, suara sapuannya tak berhenti, seolah mengiba pada setiap dedaunan dan debu yang memohon dibersihkan.

Namun, ia sendiri pun seolah meminta iba padaku. Aku mengiba pada setiap inci pakaian yang begitu minim dikenakannya. Mungkin begitu hinanya manusia seperti diriku, sok suci lantas terburu berpendapat mencemoh. Aku mengiba pula pada setiap detik mata pengendara yang melintas lantas terpukau dengan tiap inci lekuk tubuhnya, mungkin begitu hinanya manusia seperti diriku hingga lupa berkaca dengan hari-hari yang mengiba juga terjadi pada diriku sendiri atas segala hal yang kusesali namun kuulang kembali, berkali-kali.

Oh, manusia. Manusia yang ada di dalam diriku, tolong berhentilah mengiba. Ah, tapi kata orang biar belum jadi orang alim asal sudah membenci dosa itu. Bencilah dosanya, bukan manusianya, kata orang lain juga jangan megurusi dosa yang ada pada diri orang lain, kalau begitu ini sudah menjadi kebiasaanku di sisa hidupku bahwa aku selalu membenci dosaku sendiri.

Ya, mungkin gadis itu sama sepertiku, telah membenci dosanya sendiri, namun terus saja mengulangi dosa yang sama, berkali-kali.

Apa Perlu Menghilang?


Saya tidak tahu harus mulai bercerita darimana. Kita sebagai manusia, terkadang sulit menghadapi gejolak-gejolak yang tiba-tiba bermunculan di sekitar kita, betapapun kita sudah melakukan banyak antisipasi untuk itu.

Saya tidak tahu harus memulai cerita darimana, tetapi sungguh rasanya ingin menghilang saja. Kepedulian yang berlebihan yang ditimpakan kadang memang sulit dipercaya bahwa rupanya itu bisa menjadi beban risih dan justru mengacaukan hidup orang lain.

Saya tidak tahu harus memulai cerita darimana, karena tahu-tahu saja sudah banyak yang terjadi. Lucunya saya sulit dikejutkan karena kalian sendiri yang membocorkan, lucunya saya ingin kalian bahagiakan tetapi saya terbebankan.

Saya tidak tahu harus memulai cerita darimana, saya heran bagaimana bisa seseorang begitu ikut campur dalam hidup seseorang, dalam hubungan seseorang dengan seseorang yang lain, betatapun “hanya” berniat untuk membahagiakan, kau tidak pernah tahu bagaimana terlukanya ia dengan caramu yang katanya ingin “membahagiakan.”

Ah, kalau begitu mari sekali-kali redupkan niat untuk membahagiakan, karena sesungguhnya kamu tidak pernah tahu apa yang benar-benar membuat hati seseorang itu bahagia. Kebahagiaan tak selalu tampak dari sinar di matanya, bibirnya yang tak berhenti bercerita, antusias telinganya mendengarkan, gerak-geriknya yang ceria, tidak selalu seperti itu. Ada manusia-manusia yang dengan cara yang paling sederhanalah justru ia terkejut, terpukau, terbawa suasana, dan kebahagiaan itu mengalir dengan sendirinya bahkan tanpa ia sadari.

13/09/18

Masa Depannya Semua Orang


Para manusia berlomba-lomba mengejar masa depan mereka, masa depan yang belum pasti terjadi dan tiada satupun yang mengerti kelak akan menjadi apa dan seperti apa diri ini. Mereka melakukan investasi besar-besaran untuk dunia, berlomba-lomba menyaingi manusia lainnya, tidak pernah puas dengan segala hal yang telah diperoleh, dunia terus berhasil membuat mereka penasaran, bertahan hidup dan mengejar mimpi menjadi motivasi yang besar bagi mereka, namun tiadakah mereka sadar? Ada masa depan yang sudah jelas dan pasti akan terjadi, sering kali pula sudah dipertontonkan di depan mata mereka, namun terus saja mereka berpaling, padahal mereka tidak bisa mengelak bahkan jika masa depan itu sudah menghampiri mereka, masa depan yang namanya semua orang juga sudah mengetahui, masa depan yang mari kita sebut “kematian”.

“Dan kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia sebelum engkau (Muhammad), maka jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal? Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu hanya dikembalikan kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya : 34-35)

Kematian adalah suatu kebahagiaan bagi orang yang beriman karena orang yang beriman akan mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, sedangkan kematian adalah azab bagi orang yang tidak beriman.

“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS. Al-Kahfi: 110)

Orang beriman bukanlah semata-mata yang Islam KTP-nya, tetapi seperti yang didefinisikan dalam Al-Quran tentang pengertian orang beriman adalah sebagai berikut.

Istighfar


Bagaimana cara mengendalikan hati?
Bagaimana pula cara mengendalikan pikiran?
Ah, mungkin itu memang gunanya Al-Ma’tsurat.
Gunanya doa.
Gunanya dzikir.
Gunanya istighfar.

//Yogyakarta, 12 September 2018//

03/09/18

#4 The Grave of Fireflies


At night you went to dorm of your friend. She cooks soup meat and invite for dinner with her. This sweet thing seems to be not much different from dinner with someone that you love. At dinner, you also share many stories. You talk about an episode in the movie Sherlock Holmes series. It is about a woman's ghostly riddles by using wedding gown.

Because you successfully to make her feel fear, so that night she sleep in your kost, before it you guys are watching a film that was washed away, The Grave of the Fireflies. This movie is sad but you failed to cry and you say on your friend, "why couldn't I cry watching this sad film?" five minutes pass, then your tears can't stop. Labile, but ultimately this film successfully to make you cry until “sesenggukan” ya know.