Lampu-lampu jalanan memamerkan terang cahayanya. Bukan hanya memperindah,
tetapi juga menerangi gelapnya malam di kota kami. Kemacetan kecil di
jalan-jalan di kota kami memang tak bisa dihindari. Aku sebagai penumpang cukup
menikmati macetnya, tetapi tidak dengan Bimo, temanku yang berada di kursi
kemudi.
“Gini aja terus sampai mampus.” Keluhnya pada macet. Aku cuma ketawa
garing.
“Santai ajalah.” Tanggapku. Muka Bimo bertambah ketus.
“Kira-kira banyak yang beda enggak ya nanti?” tiba-tiba Bimo mengalihkan
pembicaraan. Ya, malam ini kami akan menghadiri acara reuni angkatan SMA. Bimo
sepertinya sudah tak sabar ingin bertemu dan menyapa teman-teman lama kami.
“Mungkin ada yang sudah menikah dan punya anak, bahkan mungkin anaknya
udah punya anak.” Kataku. Bimo lalu tertawa renyah.
“Apa kita setua itu, bro?” tanya Bimo sambil menaikkan salah satu
alisnya.
Kemacetan itu akhirnya berakhir juga. Kalian mungkin membayangkan acara
reuni kami diadakan di suatu gedung atau bahkan hotel. Tetapi, kami tak pernah
kerepotan jika ingin membuat suatu reuni. Anggita, salah satu orang tajir dan
murah hati di angkatan kami dengan sukarela menjadikan rumahnya sebagai tempat
reuni kami. Rumah Anggita bisa menampung lebih dari satu angkatan, dengan gaya
rumah mewah masa kini, dilengkapi dengan taman belakang yang luas, kolam
berenang berada di sisi sebelah kanannya dan di seberangnya terdapat ruang
pertemuan terbuka yang bisa menampung kami semua. Di angkatan kami, anak-anak
yang tajir kebanyakan merupakan anak-anak pejabat, tetapi tak sama dengan
Anggita. Anggita merupakan seorang anak pengusaha, ibunya merupakan dosen di
universitas ternama. Mudah ditebak, ia melewati masa kuliahnya dengan mudah. Itu
yang selalu aku pikirkan. Terakhir kami mendapat kabar bahwa ia baru saja
menyelesaikan S2 nya di London. Anggita selalu saja terlihat sempurna di mata
kami semua. Bukan karena ketajiran dan kemurahan hatinya, tetapi ia juga
dikenal pandai dan berwajah cantik. Kalau boleh disamakan, ia sedikit mirip
dengan Dian Sastro. Wajahnya sangat Indonesia.
Ketika mungkin semua pria melihat ke arahnya, aku melihat ke arah yang
lain. Sama seperti sekarang, ketika kami tiba di rumah bak istana milik
Anggita, sang empunya rumah langsung menyambut kami diikuti teman-teman yang
lain. Ah, wajahnya, masih saja seperti Dian Sastro.
“Wah, sepertinya gue dan Vino sudah ketinggalan banyak cerita.” Ujar Bimo
sambil menyalami mereka satu-persatu. Anggita hanya menanggapi dengan senyuman.
Aku mengikuti Bimo menyalami mereka.
Sambil menunggu kedatangan yang lain, kami saling bernostalgia. Ah, dia
belum datang, atau tak datang?
“Hei, Vino! Ngelamun, ya? Dia mana, Vin? Datang, kan?” Anggita
menyodorkanku tiga pertanyaan sekaligus.
Dia yang dimaksud oleh Anggita adalah teman kami yang bernama Tasya. Sejak
aku dan Tasya dilahirkan, kami sudah bertetangga. Ia teman masa kecilku hingga
sekarang, sejak TK hingga SMA kami selalu saja satu sekolah. Bukan disengaja,
hanya saja pilihan kami selalu sama.
Hal itu menjadi sesuatu yang selalu didebatkan oleh Tasya. Ia berpikir
akulah yang selalu mengikutinya. Dalam hati aku selalu membenarkan hal itu,
hanya saja aku mengikutinya sejak kami lulus SD. Tetapi, konyolnya dia berpikir
aku mengikutinya sejak duduk di bangku TK. Padahal TK dan SD bukan aku yang
memilih, tetapi orangtuaku.

