Benar memang membahagiakan saat kita bisa
berbagi hal-hal baik dan menyenangkan dengan orang lain, lebih-lebih jika
mereka orang-orang yang disayangi. Hanya, bagaimana kasusnya saat kita tiba di
kondisi paling buruk? Keadaan yang melampaui kecemasan, kesedihan, ketakutan, kekecewaan
yang bisa kita bayangkan, yang dapat orang lain (kita pikir) mengerti? Benar,
naluriahnya, hal paling aman dan nyaman utuk dilakukan saat tiba pada denting
keadaan yang demikian adalah menutup pintu, mengambil waktu, untuk diri
sendiri, membereskan hal-hal yang kita rasa berantakan, yang kita pikir bisa
kita kerjakan sendiri toh hidup kan hidup kita, mestikah ikut membuat repot
orang tersayang, orang-orang yang selalu ingin kita bahagiakan?
Pernyataan tersebut tidak salah, tapi juga
agak keliru.
Tidak ada cara lain untuk menggenggam tangan
seseorang – menjadi sahabat, menjadi saudara – selain dengan membukakan ia
pintu dan membiarkannya masuk ke dalam hidup kita.
Kau pun tahu letak kelirumu di situ. Lubang
besar yang akan terbaca oleh orang yang mengaku kau sayangi itu, orang yang kau
sebut ingin lindungi itu, sebagai ketakpercayaanmu atas mereka. Tentang
keluasan pikirannya untuk memahami, kebesaran hatinya untuk menampung luka yang
lain, juga daya dari kemampuan ia bertahan.
Jika benar, kemungkinan paling perih yang
telah kau beri pada orang-yang mengaku-ngaku-kausayangi tersebut, adalah meragukannya.
Lubang dalam yang juga akan menjatuhkan ia ke dalam pikiran buruk bahwa bisa
saja luka-luka yang mereka punya bukan pula sesuatu yang ingin kau tanggung. Paradoks
yang sungguh. (Azure Azalea dalam
buku Perjalanan Menemukan, halaman 30-32)
Huft. Saya
menghela nafas panjang dengan kejadian hari ini.
Berkali-kali
saya mencerna kembali sebuah quote yang terpampang dalam wallpaper ponsel saya,
“Hidup ini terlalu singkat, untuk mengejar
sesuatu selain surga.”
Hidup ini
terlalu singkat, untuk meributkan hal kecil, memikirkan hal yang menyakiti diri
sendiri.
