Saat kamu
memiliki sebuah acara yang sudah kamu persiapkan setahun lamanya, tiba-tiba H-3
hari dosenmu memberikan tugas yang tidak bisa ditinggalkan. Kalau kamu tidak
mengikuti tugas ini, kamu akan mengulang matkul ini di tahun depan, dan
terpaksa tidak ikut pementasan di Taman Budaya Yogyakarta. Parahnya, jika mengulang
kamu bakal satu kelas dengan adik tingkat, dimana akan terjadi perasaan
canggung karena mereka bukan teman sekelas kamu. Parahnya lagi itu adalah kelas drama yang akan
dipersiapkan selama setahun. Belum lagi tugas-tugas makalah menumpuk, tugas
mind map, serta tugas menganalisis. Then, terjebak di sebuah rapat yang akhirnya menjadikan saya
panitia makrab. It’s okay, but I’m not really sure about what can I do in this
job.
Kembali ke
masalah awal acara penting kamu sudah kamu persiapkan selama setahun. Jarak
lokasi acara sekitar 35 kilometer dari kampus kamu atau bahkan lebih. Di sini,
kamu bingung memilih yang mana? Acaramu luar biasa pentingnya tetapi bagaimana
caranya agar kamu tidak mengulang matkul?
Di sisi lain ada
teman yang meminta bantuan untuk skripsinya dan seorang teman lainnya meminta
bantuan pendanaan untuk acara organisasinya, padahal keuangan kamu saat ini
sangat minim karena bulan ini harus membeli cukup banyak buku kuliah.
Lalu, cucian
kotormu sungguh menumpuk sampai kini kamu tinggal pakai baju seadanya dari
lemari kamu tanpa pilih-pilih. Akhirnya kamu memutuskan untuk laundry dengan
total berat 4,5 kilo cucian kotor itu dan merayu-rayu ibu laundry agar selesai
dalam 2 hari saja.
Lalu, kenapa
kemarin memutuskan ikut-ikutan suatu komunitas juga? Hei, itu bukan
ikut-ikutan, itu keinginan hati. Mengapa akhirnya saya memutuskan untuk ikut? Karena ini soal apa yang selama ini saya
cari. Saya telah menemukan, lantas mengapa saya membuang sebuah kesempatan
atas jawaban yang selama ini saya cari?

