21/09/17

[All About Life] : K e m u m e t a n



Saat kamu memiliki sebuah acara yang sudah kamu persiapkan setahun lamanya, tiba-tiba H-3 hari dosenmu memberikan tugas yang tidak bisa ditinggalkan. Kalau kamu tidak mengikuti tugas ini, kamu akan mengulang matkul ini di tahun depan, dan terpaksa tidak ikut pementasan di Taman Budaya Yogyakarta. Parahnya, jika mengulang kamu bakal satu kelas dengan adik tingkat, dimana akan terjadi perasaan canggung karena mereka bukan teman sekelas kamu. Parahnya  lagi itu adalah kelas drama yang akan dipersiapkan selama setahun. Belum lagi tugas-tugas makalah menumpuk, tugas mind map, serta tugas menganalisis. Then, terjebak di sebuah rapat yang akhirnya menjadikan saya panitia makrab. It’s okay, but I’m not really sure about what can I do in this job.

Kembali ke masalah awal acara penting kamu sudah kamu persiapkan selama setahun. Jarak lokasi acara sekitar 35 kilometer dari kampus kamu atau bahkan lebih. Di sini, kamu bingung memilih yang mana? Acaramu luar biasa pentingnya tetapi bagaimana caranya agar kamu tidak mengulang matkul?

Di sisi lain ada teman yang meminta bantuan untuk skripsinya dan seorang teman lainnya meminta bantuan pendanaan untuk acara organisasinya, padahal keuangan kamu saat ini sangat minim karena bulan ini harus membeli cukup banyak buku kuliah.

Lalu, cucian kotormu sungguh menumpuk sampai kini kamu tinggal pakai baju seadanya dari lemari kamu tanpa pilih-pilih. Akhirnya kamu memutuskan untuk laundry dengan total berat 4,5 kilo cucian kotor itu dan merayu-rayu ibu laundry agar selesai dalam 2 hari saja.

Lalu, kenapa kemarin memutuskan ikut-ikutan suatu komunitas juga? Hei, itu bukan ikut-ikutan, itu keinginan hati. Mengapa akhirnya saya memutuskan untuk ikut? Karena ini soal apa yang selama ini saya cari. Saya telah menemukan, lantas mengapa saya membuang sebuah kesempatan atas jawaban yang selama ini saya cari?

17/09/17

[All About Life]: Book For Mountain



“Tidak ada yang benar-benar luang,
yang ada meluangkan.
Tidak ada yang benar-benar sibuk,
yang ada adalah prioritas.”
 – Anonym  

Datang dari berbagai jurusan, datang dari berbagai universitas, datang dari berbagai daerah, datang dengan berbagai penampilan, datang dari berbagai usia, saling dipertemukan karena tujuan dan niat hati yang sama.

Saya sangat terkesan ketika saya membiarkan diri saya terbawa ke tengah-tengah mereka. Dalam kesan pertama saya mengenal mereka, membuat saya menyimpulkan bahwa mereka adalah orang-orang pandai, berani berbicara di depan umum, gaya bahasa yang mereka gunakan sangat cerdas. Mereka kebanyakan adalah pendaki gunung yang senang dengan buku. Mereka penuh semangat, bervisi dan misi, dan sukarela menawarkan dirinya untuk datang menjadi seorang volunteer.

Komunitas bukanlah sebuah “fashion”, bukanlah menjadikan seseorang terkesan keren karena mengikutinya. Jika berpikir masuk ke sebuah komunitas adalah untuk peduli, untuk berbagi, mungkin secara umum gambarannya seperti itu, tetapi justru dalam komunitas kitalah yang belajar, mendapat banyak sekali pelajaran. Setidaknya itu yang dikatakan seorang senior saya dalam komunitas @bookformountain.

14/09/17

How to Know Each Other



“The wise way to know each other is by traveling together,
having a deep conversation,
and living together.”
– Mind Traveler book by Feputeri


Sumber gambar: www.tumblr.com

Bagaimana Mungkin Aku Bahagia Melihat Kau Bahagia Atas Sesuatu yang Salah?



Ada saatnya aku menghela nafas,
Ketika aku melihatmu berbahagia,
Semestinya ada bahagia juga yang menderaku.
Tetapi, bagaimana mungkin aku bahagia,
Ketika kau bahagia akan sesuatu yang salah?

Kau gelisah melihat jam di pergelangan tanganmu,
Piring dan sendokku masih beradu,
Makananmu masih tersisa,
Namun, kau bilang kau sudah kenyang.

Aku memberanikan diri memulai percakapan,
“Ada apa?” tanyaku.
“Dia sakit.” Jawabmu.
“Oh, jadi hari ini kalian tidak bertemu?”
“Paling nanti malam, makan malam bareng.”

Aku menghela nafas.
Kali ini, aku tak akan berpura-pura bahagia lagi atas itu.
Aku menghela nafas.
“Balik, yuk!”

Bila Gagal



“Bila gagal tetap pantang mundur,
injak kegagalan itu dan tetap berjalan ke depan,
hingga mampu berpijak di tempat yang lebih tinggi.”
– The Age of Shadows


Sumber gambar: www.tumblr.com