28/06/18

Muslimah Sinau




“Alhamdulillah, para peserta Ramadan Menulis telah membuktikan konsistensi mereka dalam Ramadan Menulis. Mereka inilah yang mampu menyajikan lebih dari 19 Tulisan, yang artinya insyaaAllah mereka telah mengisi bulan Ramadan dengan kegiatan yang bermanfaat. Semoga tulisan para peserta menjadi amal yang diterima oleh Allah, dan meginspirasi para pembaca. Selamat, you girls are the winners!”
- @primaditarahma, Founder @muslimahsinau


Alhamdulillah, terima kasih banyak untuk teman-teman yang senantiasa konsisten meluangkan waktunya untuk membaca tulisan saya. Alhamdulillah, terima kasih untuk para Ukhmin yang telah memilih saya sebagai peserta terbaik. Awalnya saya ragu untuk ikut, mengingat banyak agenda saya selama Ramadan, awalnya saya tidak berpikir ini sebagai ajang lomba dan semacamnya. Saya berharap dengan mengikuti acara ini, saya dapat belajar untuk konsisten pada waktu dan tulisan, bertanggungjawab dengan project yang tengah saya ikuti, dan tidak melupakan agenda saya yang lainnya dengan membuat keseluruhan aktivitas tetap berjalan dan berkesinambungan selama Ramadan.  Semoga apa yang saya tulis menuai manfaat. Tetap saling mendoakan dan saling berbagi energi positif, ya!


22/06/18

Yang Pertama Menjadi Seorang Ibu :)


Untuk:
Seseorang yang pernah menjadi teman sebangku selama bertahun-tahun.

Apa kabar? Kudengar kabar bahwa kau kini telah menggendong bayi yang menggemaskan dengan tampang rupawan, buah hati dari pernikahanmu dengan ia yang dijodohkan denganmu.

Mungkin awalnya terkejut saat lamaran itu rupanya ditujukan padamu. Kudengar pria itu adalah pria soleh yang bersekolah di Madinah, anak dari seorang tokoh. Tentu yang baik-baik terkenal dari pria itu apalagi keluarganya. Sungguh telah Allah takdirkan yang baik-baik hadir dalam hidupmu, semoga akupun adalah kebaikan yang sempat Allah kirimkan untukmu ketika kita berada dalam sepermainan yang sama pada kala dulu.

Persahabatan yang ditakdirkan karena kekonyolan mengidolakan orang yang sama. Luar biasa semangat remaja kita kala itu, berempat menabung untuk membeli buku biografi sang idola. Di sela-sela jam pelajaran yang kosong atau istirahat memutar musik yang sama-sama telah kita hafal liriknya. Setiap Jum’at naik angkot pergi ke mall menuju toko kaset untuk beli kaset horror, sebab orangtua tidak mau membagi filmnya karena usia kami masih dibawah 15 tahun. Pulang ke rumah di belokan Jalan Urip, yakni Jalan Perkebunan kalau tidak salah ingat, masuk ke kamar paling depan, menutup gorden, mematikan lampu, memutar film horror, masing-masing dari kita sibuk memeluk bantal. Sering pula filmnya zonk, tidak seru, karena memang kita ngasal pilih, tidak melihat trailernya. Sering pula macet-macet kasetnya di tengah jalan.

Kadang juga diselingi selfie-selfie-ria, yang untungnya salah satu dari kita selalu memiliki handphone keluaran terbaru sehingga sampai saat ini moment-moment itu masih tersimpan rapi dengan kualitas foto yang super pada zamannya.

Hei, siapa yang bakal mengira bahwa waktu mengubah segalanya. Takdir mengubah arah langkah kita, penampilan kita, jarak kita, berbagai halnya tentang kita berubah.

Hei, siapa yang menyangka bahwa kau yang kelak pertama kali menjadi seorang ibu diantara kita berempat, siapa yang menduga bahwa diantara kita akan ada yang menjadi ipar, Maha Besar Allah dengan segala takdir-Nya.

Seperti mereka yang berubah, kaupun hilang dari peradaban. Bolehkah aku bertanya, seperti apa kebahagiaan yang kau rasakan itu? Bisakah kita saling menyisihkan waktu dan mengobrol sebentar? Bernostalgia tentang yang baik-baik saja.

Aku yang sempat menjadi teman seperjuanganmupun tahu betul bagaimana kau pantas mendapatkan yang terbaik karena kau anak baik-baik. Tentu aku malu, tentu aku ingin menangis. Mungkin karakter kita tak jauh beda, sayangnya apa yang terjadi padamu berbeda dengan apa yang terjadi padaku. Banyak sekali keputusan-keputusan yang kita buat jauh berbeda. Mungkin juga karena kita datang dari latar keluarga, sosial, dan lain-lainnya yang berbeda, membuat aku begitu rapuh dibanding engkau. Membuat aku lebih menyesal, lebih ingin menangis, lebih ingin menghindar dari segala nostalgia yang buruk.

Terima kasih pernah memilih untuk duduk denganku di kelas, membagi pekerjaan rumah denganku, mempercayakan segenap rahasia pada telingaku. Terima kasih karena kehidupanmu kini begitu menginsiprasiku, semoga kau tak pernah menyesal pernah membagi waktu bersamaku. 



With Love,


Nina-mu

Kebodohan Kita



“Have you ever stopped for a while and asked yourself,
 what is going to happen to me the first night in my grave?”


Orang-orang yang benar-benar beriman khawatir kalau-kalau amal ibadahnya tidak diterima Alllah SWT. Mereka yakin akan ke-Esaan dan kekuasaan Allah SWT. untuk umat ini. Seperti inilah sikap para sahabat ra. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Abu Bakar As-Shiddiq ra. Berada tepat di samping seseorang lalu sambil menunjukkan lidahnya beliau berkata: “inilah yang mengantarkanku ke tempat-tempat berbahaya.”

Ali bin Abi Thalib ra. sangat merisaukan dua hal: panjang angan-angan dan menuruti nafsu. Panjang angan-angan membuat orang lupa akhirat, sementara menuruti nafsu menyelewengkan orang dari al-haq (kebenaran). Beliau bertutur, “Ingat! Dunia itu lekas berlalu sedang akhirat cepat datang. Masing-masing mempunyai generasi. Maka, jadilah generasi akhirat, jangan generasi dunia. Sebab hari ini (di dunia) adalah amal, tidak ada perhitungan, sedangkan esok (di akhirat) adalah perhitungan, tidak ada amal.”

Kebodohan mayoritas Kaum Muslimin adalah mereka yakin akan luasnya rahmat dan ampunan Allah sehingga mereka tenang-tenang saja berbuat maksiat; tak henti-hentinya berbuat keji, bahkan pengetahuan mereka seperti ini dijadikan alasan untuk terus berbuat maksiat. Ini jelas salah, alasan yang mencelakakan diri, sebab Allah benar Maha Pengampun Maha Penyayang tetapi juga Maha Berat Siksaan-Nya, sebagaimana dinyatakan secara jelas di dalam kitab-Nya, dalam berbagai tempat (surat) firman-Nya yang artinya: “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yng sangat pedih. (QS. Al-Hijr : 50)

“Berharap kasih sayang dari orang yang kamu tentang,
percuma saja bahkan tolol.” – Ma’ruf  al-Kurakhy


*Tulisan ini dikutip dari Buku Akhir Hidup yang Bahagia, karya Moh. Djawad Dahlan dan Anwar Azmi.