01/01/15

Hai, Perempuan!




Hai, perempuan.
Kau pikir mengapa mereka mengetahui banyak hal tentangmu bahkan kehidupan pribadimu?
Sebab, kau begitu popular diantara mereka.
Kau pikir mengapa mereka memandangimu sampai sebegitunya?
Sebab, kau begitu menarik, dan mereka takjub.
Kau pikir mengapa mereka begitu memperhatikanmu?
Sebab, mereka penasaran akan tentangmu.
Kau pikir mengapa mereka membicarakanmu?
Sebab, kisah hidupmu begitu menarik dibandingkan kisah hidup mereka.
Kau pikir mengapa mereka mencibirmu?
Sebab, mereka iri.
Kau pikir mengapa mereka membicarakanmu lalu mencibirmu dan mengatakan kau bermain dengan banyak pria, kau bukan perempuan yang baik?
Sebab, mereka sangat iri, kau mempunyai banyak sekali teman, kau mempunyai banyak sekali orang yang menyambutmu.

Maka, perempuan.
Terkadang kau perlu bersikap anggun menghadapi tatapan mereka.
Terkadang kau perlu bersikap dingin menghadapi prasangka mereka.
Terkadang kau perlu bersikap seolah-olah berterimakasih karena mereka begitu memperhatikan.
Terkadang kau perlu bersikap tenang ketika mereka membicarakanmu.
Terkadang kau perlu tersenyum karena kisahmu lebih menarik dibandingkan mereka yang kisahnya begitu membosankan dan tak ada sama sekali kesan “liar” di dalamnya.
Terkadang kau perlu cukup mengangguk saja ketika mereka mencibir, karena mereka tak punya banyak teman sepertimu, karena mereka tak selalu disambut oleh orang-orang yang mereka harap.

Namun, meski begitu, perempuan.
Rendahkanlah pandangan dan hatimu,
Tak perlu berbangga atas yang kau dapat,
Kau mendapatkannya untuk belajar bersyukur.

Meski kau seringkali dibully oleh mereka.
Meski kau dipojokkan oleh orang yang katanya adalah sahabatmu.
Meski kau difitnah berbagai hal di sosial media.

Kau tahu, kan? Mereka itu siapa?
Teman-temanmu sendiri.
Meski sering kali dalam hatimu, kau menyangkalnya.
Akui sajalah, bahwa mereka itu kebanyakan adalah teman-temanmu sendiri.
Yang terkadang merebut apa yang telah kau dapat tanpa merasa bersalah, dan kau mengikhlaskannya begitu saja.
Kau bercerita padanya tentang yang baru saja kau dapat, lalu esoknya ia mengambilnya darimu dan sampai detik ini kau masih terpaku tak percaya, tetap tersenyum padanya? Bodoh, tapi lakukan saja, karena kau tahu dirimu lebih baik darinya. Ini bukan pertama kalinya kau diperlakukan seperti itu.

Jangan percaya siapapun. Yang pernah mengkhianatimu? Jangan.
Apa? kau ingin memberinya kesempatan? Ya, kau memberinya kesempatan untuk menghancurkanmu untuk yang kedua kalinya. Tetap tersenyum? Lagi-lagi bodoh, akui saja saat tengah malam, sunyi, dalam kamarmu yang terdengar hanya tangisanmu sendiri, bukan? Yang membungkam dengan sesak menggunakan bantal, selimut, atau apalah.
Berhentilah mendengarkan nada-nada musik yang mengalunkan kepahitan, kau membuat udara di sekelilingmu semakin sesak.
Tak perlu bermain tebakan, semua yang membaca juga tahu, kau sedang patah hati, kan?
Lalu kau mencari kesibukan ke sana-kemari, mengikuti acara ini dan itu, bergaul ke tempat ini dan itu, kemudian kau melupakan pelajaranmu, dan membuat semua nilaimu berantakan, kau akan mengetahui efek yang ditimbulkan oleh patah hati bukan main-main.
Lalu, kau berubah, penyendiri. Mengunjungi mal, kafe, restoran, dan berbagai tempat hanya sendirian. Padahal kau tahu bahwa dirimu paling tak bisa bepergian sendirian, karena itu membuatmu kebingungan siapa yang akan kau temani berbicara. Sesampainya di rumah, kau melempar tasmu, mengganti bajumu, lalu berbaring sejenak di atas ranjang, dan kau tahu bahwa kau akan tertidur dan bermimpi buruk. Kau terbangun, mimpi buruk itu melukaimu, setiap malam, hingga terbangun, tetapi lagi-lagi kau menyangkalnya, hanya sebuah mimpi.
Terkadang kau merasa tak adil. Kau berpikir, apa tak boleh orang seperti dirimu melakukan kesalahan? Kau hanya melakukan sedikit kesalahan, tetapi mereka mengucilkanmu, mengolok-olokmu,  menyalahkanmu. Sementara, jika mereka melakukan kesalahan kau selalu memaafkan dan tetap mencintai mereka. Kau terus berpikir, apa yang salah dengan orang-orang di dunia ini? Mengapa ada saja yang tak berimbang?
Kau sering menyebut dirimu kekanak-kanakan, itu karena kau bersikap sok dewasa. Maka, bersikap dewasalah secara nyata.

Kau berpikir lagi, begitu banyaknya yang menyambutmu tetapi mengapa sulit untukmu memilih satu di antara mereka? lalu hatimu sendiri yang menjawabnya, bahwa kau selalu berusaha untuk tak bermain-main pada hal yang seperti itu.
Namun, banyak pria di luar sana mengatakan ia terluka karenamu. Kau bercermin, dan bertanya pada dirimu sendiri, “memangnya apa yang sudah kulakukan?” dan kemudian mengutuki dirimu sendiri, tolol.

Ini terjadi sebab orangnya adalah seseorang seperti dirimu. Jangan, jangan membenci dirimu sendiri. Aku belum selesai berkata-kata.
Kau, mempunyai wajah istimewa, mungkin dambaan banyak perempuan, dan idaman para lelaki.
Kau, mempunyai kepribadian yang ceria, mereka iri tak sebahagia dirimu, hingga berani-beraninya mengolok-olok dan meruntuhkan wajah ceriamu itu.
Kau, popular di setiap kelas, kau mungkin tak mengenal semua orang di sekolahmu, tetapi semua orang mengenalmu, bahkan satpam, ibu kantin, petugas kebersihan, dan petugas perpustakaan. Semua guru menyukai murid sepertimu. Kau dipercayai melakukan tugas ini dan itu, dan kau melakukannya dengan baik.
Kau, mempunyai daya tarik yang tinggi. Di setiap langkah yang kau jalani, ada saja yang menyapamu, duniamu tak pernah sepi meskipun kekasihmu pergi.
Kau, seseorang yang mudah bergaul, sayangnya juga mudah percaya meskipun setelah dikhianati berkali-kali.
Kau, senang sekali bepergian, ke tempat-tempat yang indah, sayangnya kau seringkali kecewa karena kau tak bisa pergi dengan seseorang yang kau sukai. Meski begitu di luar sana banyak orang yang siap menggantikan dan setia menemanimu.
Kau, seseorang dengan wawasan yang luas, itulah penyebab mengapa banyak orang yang datang kepadamu. Sebab, apapun yang mereka bicarakan atau tanyakan, kau selalu punya jawaban, jawaban yang mereka ingin dengar.
 Sejauh ini, aku benar, tidak?

Seandainya kau orang yang biasa-biasa saja, tersembunyi, tak suka bergaul, penyendiri, suka murung, akankah ada orang-orang yang mau memperhatikan orang yang seperti itu? tentu saja jawabanku tidak.

Tak lama, ayahmu jatuh sakit. Kau duduk di sampingnya yang tengah berbaring. Wajahnya makin menua, tubuhnya renta, lalu kau menangis tanpa suara. Memandangi raut wajah tua itu, yang tengah tenang terlelap dalam tidurnya. Saat itu kau sadar, ini lebih menyakitkan dibandingkan patah hati beribu kali.
Saat itu kau berusaha berjanji untuk membenahi segala mimpimu demi mereka yang kau cinta. Kau menyusun rencana masa depan ini dan itu. Kau menuliskan universitas-universitas impianmu, apa-apa saja hal yang ingin kau bangun nanti, kau bahkan sudah bangkit. Kau menyelipkan nama pria yang kini kau sukai diantara mimpi-mimpi itu. Tidak, kau sama sekali tak berharap dicintai balik, tetapi kau amat berharap bisa tetap menjadi temannya dan bisa menjalani hari bersamanya. Kau ingin melukis senyum di bibir pria itu, senyum yang kaulah penyebabnya.

Kau bercermin, dan tersenyum pada cermin itu. Kau benar-benar telah bangkit. Kau telah menemukan teman-temanmu kembali, teman yang benar-benar teman, yang mau menerima ketololanmu, yang tak iri dengan kelebihanmu, yang tak tersinggung dengan ucapan-ucapan bodohmu, yang mau tertawa bersamamu. Lalu, kau berdo’a semoga mereka tak seperti yang dulu-dulu.
Kini, kau berusaha menjadi manusia yang lebih baik, menjaga sikap dan perkataanmu, dan tidak bersikap tolol terhadap orang-orang tertentu. Kaupun percaya Tuhan tengah memegang doa-doamu dan akan mengijabahnya hari demi hari nanti. Dengan sabar kau akan menunggu hari demi hari itu, dan akan menjadi seseorang yang luarbiasa, seperti mentari yang  paling bersinar di antara yang lainnya.

Selamat tahun baru 2015, teman-teman ;)
Jadilah pribadi yang menyenangkan. Jangan menyalah artikan pepatah yang mengatakan jadilah dirimu sendiri, jika dirimu memiliki kebiasaan buruk, bagaimana caramu mengartikan pepatah itu? jika ada hal yang buruk dalam dirimu, segera ubahlah, berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi dan berguna bagi banyak orang. Do an act of kindness everyday! Yeay!

Masih mau hidup dalam masa lalu? Cobalah untuk ‘Make a new life’!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar