Hai, perempuan.
Kau pikir
mengapa mereka mengetahui banyak hal tentangmu bahkan kehidupan pribadimu?
Sebab, kau
begitu popular diantara mereka.
Kau pikir
mengapa mereka memandangimu sampai sebegitunya?
Sebab, kau
begitu menarik, dan mereka takjub.
Kau pikir
mengapa mereka begitu memperhatikanmu?
Sebab, mereka
penasaran akan tentangmu.
Kau pikir
mengapa mereka membicarakanmu?
Sebab, kisah
hidupmu begitu menarik dibandingkan kisah hidup mereka.
Kau pikir
mengapa mereka mencibirmu?
Sebab, mereka
iri.
Kau pikir
mengapa mereka membicarakanmu lalu mencibirmu dan mengatakan kau bermain dengan
banyak pria, kau bukan perempuan yang baik?
Sebab, mereka
sangat iri, kau mempunyai banyak sekali teman, kau mempunyai banyak sekali
orang yang menyambutmu.
Maka, perempuan.
Terkadang kau
perlu bersikap anggun menghadapi tatapan mereka.
Terkadang kau
perlu bersikap dingin menghadapi prasangka mereka.
Terkadang kau
perlu bersikap seolah-olah berterimakasih karena mereka begitu memperhatikan.
Terkadang kau
perlu bersikap tenang ketika mereka membicarakanmu.
Terkadang kau
perlu tersenyum karena kisahmu lebih menarik dibandingkan mereka yang kisahnya
begitu membosankan dan tak ada sama sekali kesan “liar” di dalamnya.
Terkadang kau
perlu cukup mengangguk saja ketika mereka mencibir, karena mereka tak punya
banyak teman sepertimu, karena mereka tak selalu disambut oleh orang-orang yang
mereka harap.
Namun, meski
begitu, perempuan.
Rendahkanlah
pandangan dan hatimu,
Tak perlu
berbangga atas yang kau dapat,
Kau
mendapatkannya untuk belajar bersyukur.
Meski kau
seringkali dibully oleh mereka.
Meski kau
dipojokkan oleh orang yang katanya adalah sahabatmu.
Meski kau
difitnah berbagai hal di sosial media.
Kau tahu, kan?
Mereka itu siapa?
Teman-temanmu
sendiri.
Meski sering
kali dalam hatimu, kau menyangkalnya.
Akui sajalah,
bahwa mereka itu kebanyakan adalah teman-temanmu sendiri.
Yang terkadang
merebut apa yang telah kau dapat tanpa merasa bersalah, dan kau
mengikhlaskannya begitu saja.
Kau bercerita
padanya tentang yang baru saja kau dapat, lalu esoknya ia mengambilnya darimu
dan sampai detik ini kau masih terpaku tak percaya, tetap tersenyum padanya?
Bodoh, tapi lakukan saja, karena kau tahu dirimu lebih baik darinya. Ini bukan
pertama kalinya kau diperlakukan seperti itu.
Jangan percaya
siapapun. Yang pernah mengkhianatimu? Jangan.
Apa? kau ingin
memberinya kesempatan? Ya, kau memberinya kesempatan untuk menghancurkanmu
untuk yang kedua kalinya. Tetap tersenyum? Lagi-lagi bodoh, akui saja saat
tengah malam, sunyi, dalam kamarmu yang terdengar hanya tangisanmu sendiri,
bukan? Yang membungkam dengan sesak menggunakan bantal, selimut, atau apalah.
Berhentilah mendengarkan
nada-nada musik yang mengalunkan kepahitan, kau membuat udara di sekelilingmu
semakin sesak.
Tak perlu bermain
tebakan, semua yang membaca juga tahu, kau sedang patah hati, kan?
Lalu kau mencari
kesibukan ke sana-kemari, mengikuti acara ini dan itu, bergaul ke tempat ini
dan itu, kemudian kau melupakan pelajaranmu, dan membuat semua nilaimu
berantakan, kau akan mengetahui efek yang ditimbulkan oleh patah hati bukan
main-main.
Lalu, kau
berubah, penyendiri. Mengunjungi mal, kafe, restoran, dan berbagai tempat hanya
sendirian. Padahal kau tahu bahwa dirimu paling tak bisa bepergian sendirian,
karena itu membuatmu kebingungan siapa yang akan kau temani berbicara.
Sesampainya di rumah, kau melempar tasmu, mengganti bajumu, lalu berbaring
sejenak di atas ranjang, dan kau tahu bahwa kau akan tertidur dan bermimpi
buruk. Kau terbangun, mimpi buruk itu melukaimu, setiap malam, hingga
terbangun, tetapi lagi-lagi kau menyangkalnya, hanya sebuah mimpi.
Terkadang kau
merasa tak adil. Kau berpikir, apa tak boleh orang seperti dirimu melakukan
kesalahan? Kau hanya melakukan sedikit kesalahan, tetapi mereka mengucilkanmu,
mengolok-olokmu, menyalahkanmu.
Sementara, jika mereka melakukan kesalahan kau selalu memaafkan dan tetap
mencintai mereka. Kau terus berpikir, apa yang salah dengan orang-orang di
dunia ini? Mengapa ada saja yang tak berimbang?
Kau sering
menyebut dirimu kekanak-kanakan, itu karena kau bersikap sok dewasa. Maka,
bersikap dewasalah secara nyata.
Kau berpikir
lagi, begitu banyaknya yang menyambutmu tetapi mengapa sulit untukmu memilih
satu di antara mereka? lalu hatimu sendiri yang menjawabnya, bahwa kau selalu berusaha
untuk tak bermain-main pada hal yang seperti itu.
Namun, banyak
pria di luar sana mengatakan ia terluka karenamu. Kau bercermin, dan bertanya
pada dirimu sendiri, “memangnya apa yang sudah kulakukan?” dan kemudian
mengutuki dirimu sendiri, tolol.
Ini terjadi
sebab orangnya adalah seseorang seperti dirimu. Jangan, jangan membenci dirimu
sendiri. Aku belum selesai berkata-kata.
Kau, mempunyai
wajah istimewa, mungkin dambaan banyak perempuan, dan idaman para lelaki.
Kau, mempunyai
kepribadian yang ceria, mereka iri tak sebahagia dirimu, hingga
berani-beraninya mengolok-olok dan meruntuhkan wajah ceriamu itu.
Kau, popular di
setiap kelas, kau mungkin tak mengenal semua orang di sekolahmu, tetapi semua
orang mengenalmu, bahkan satpam, ibu kantin, petugas kebersihan, dan petugas
perpustakaan. Semua guru menyukai murid sepertimu. Kau dipercayai melakukan
tugas ini dan itu, dan kau melakukannya dengan baik.
Kau, mempunyai
daya tarik yang tinggi. Di setiap langkah yang kau jalani, ada saja yang
menyapamu, duniamu tak pernah sepi meskipun kekasihmu pergi.
Kau, seseorang
yang mudah bergaul, sayangnya juga mudah percaya meskipun setelah dikhianati
berkali-kali.
Kau, senang
sekali bepergian, ke tempat-tempat yang indah, sayangnya kau seringkali kecewa
karena kau tak bisa pergi dengan seseorang yang kau sukai. Meski begitu di luar
sana banyak orang yang siap menggantikan dan setia menemanimu.
Kau, seseorang
dengan wawasan yang luas, itulah penyebab mengapa banyak orang yang datang
kepadamu. Sebab, apapun yang mereka bicarakan atau tanyakan, kau selalu punya
jawaban, jawaban yang mereka ingin dengar.
Sejauh ini, aku benar, tidak?
Seandainya kau
orang yang biasa-biasa saja, tersembunyi, tak suka bergaul, penyendiri, suka
murung, akankah ada orang-orang yang mau memperhatikan orang yang seperti itu?
tentu saja jawabanku tidak.
Tak lama, ayahmu
jatuh sakit. Kau duduk di sampingnya yang tengah berbaring. Wajahnya makin
menua, tubuhnya renta, lalu kau menangis tanpa suara. Memandangi raut wajah tua
itu, yang tengah tenang terlelap dalam tidurnya. Saat itu kau sadar, ini lebih
menyakitkan dibandingkan patah hati beribu kali.
Saat itu kau
berusaha berjanji untuk membenahi segala mimpimu demi mereka yang kau cinta.
Kau menyusun rencana masa depan ini dan itu. Kau menuliskan universitas-universitas
impianmu, apa-apa saja hal yang ingin kau bangun nanti, kau bahkan sudah
bangkit. Kau menyelipkan nama pria yang kini kau sukai diantara mimpi-mimpi
itu. Tidak, kau sama sekali tak berharap dicintai balik, tetapi kau amat
berharap bisa tetap menjadi temannya dan bisa menjalani hari bersamanya. Kau
ingin melukis senyum di bibir pria itu, senyum yang kaulah penyebabnya.
Kau bercermin, dan
tersenyum pada cermin itu. Kau benar-benar telah bangkit. Kau telah menemukan
teman-temanmu kembali, teman yang benar-benar teman, yang mau menerima
ketololanmu, yang tak iri dengan kelebihanmu, yang tak tersinggung dengan
ucapan-ucapan bodohmu, yang mau tertawa bersamamu. Lalu, kau berdo’a semoga
mereka tak seperti yang dulu-dulu.
Kini, kau
berusaha menjadi manusia yang lebih baik, menjaga sikap dan perkataanmu, dan
tidak bersikap tolol terhadap orang-orang tertentu. Kaupun percaya Tuhan tengah
memegang doa-doamu dan akan mengijabahnya hari demi hari nanti. Dengan sabar
kau akan menunggu hari demi hari itu, dan akan menjadi seseorang yang
luarbiasa, seperti mentari yang paling
bersinar di antara yang lainnya.
Selamat tahun
baru 2015, teman-teman ;)
Jadilah pribadi
yang menyenangkan. Jangan menyalah artikan pepatah yang mengatakan jadilah
dirimu sendiri, jika dirimu memiliki kebiasaan buruk, bagaimana caramu
mengartikan pepatah itu? jika ada hal yang buruk dalam dirimu, segera ubahlah,
berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi dan berguna bagi banyak orang. Do
an act of kindness everyday! Yeay!
Masih mau hidup
dalam masa lalu? Cobalah untuk ‘Make a new life’!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar