Perkenalkan, nama saya Prita dan
sudah lebih dari 20 tahun saya berpijak di bumi ini. Ibu saya pernah mengatakan
bahwa usia 24 tahun itu terlalu tua untuk seorang perempuan melakukan
pernikahan dan ibunya ibu saya selalu bertanya kapan pernikahan itu terjadi
pada saya sebagai cucu perempuan pertamanya. Sementara itu, ayah saya pernah
membicarakan tentang pendidikan S2 kepada saya dan ibunya ayah saya beserta
adik-adiknya yang merupakan eyang-eyang saya selalu saja mengatakan bahwa
perempuan harus bersekolah tinggi, meski begitu harus pandai juga dengan urusan
di dapur.
Butuh waktu untuk siap menerima bahwa
ada orang lain di rumah kita. Bukanlah hal mudah saat kita harus berbagi tempat
tidur, satu meja makan, satu sofa saat menonton televisi, dan lain-lainnya.
Bayangkan jika semua itu terjadi melalui sebuah perjodohan yang tidak
diinginkan? Betapa menyakitkan memaksa dua insan untuk saling jatuh cinta dan
berbagi hidup bersama.
Bulan lalu saya resign dari
pekerjaan saya sebagai seorang jurnalis di suatu perusahaan media swasta di
Jakarta. Apa karena saya tidak menikmati pekerjaan saya sehingga saya
memutuskan resign? Oh, tentu tidak. Semua orang juga tahu bahwa menjadi seorang
jurnalis adalah impian saya sejak lama. Justru melalui pekerjaan sebagai
jurnalis inilah yang mengantarkan saya kepada gerbang resign. Saya ambil bagian
dalam bidang hubungan sosial atau biasanya pada apa yang terjadi dalam suatu
keluarga. Banyak kejadian-kejadian mengharukan bahkan sampai yang mengerikan
pun saya tulis dan abadikan dalam kolom berita. Sampai pada suatu hari, pada
job terakhir ketika mengharuskan saya mengejar berita di luar kota dimana usai
pulang dari kota tersebut, kereta kami melewati deretan ladang sawah yang
menguning diterpa sinar senja dan pikiran saya melayang pulang ke rumah.
“Bim, kangen.” Ujar saya dengan
tanpa sadar pada Bimo, rekan kerja saya.
“Tapi gue enggak.” Malah dijawab
sama Bimo.
“Ih, bukan sama elu!” balas saya,
kesal dan menyesal.
“Lah? Terus sama siapa? Masa sama
botol air yang lu peluk-peluk dari tadi.”
Hehe. Saya nyengir. Sudah maklum
dengan kerecehannya.
“Gue kayaknya mau resign, deh.” Kata
saya, tapi masih mikir.
Bimo diam saja, tetapi matanya
melotot.
Kami saling terdiam cukup lama. Iya,
Bimo sudah tahu kejenuhan yang saya alami selama ini.
“Gue support apapun pilihan lu. Semoga
elu enggak pernah menyesal dengan segala hal yang sudah lu pilih.”
Saya tersenyum sambil menggeleng.
Cahaya senja diam-diam menembus kaca jendela kereta, meredup, lalu hilang
berganti dengan hitam pekat yang menyelimuti langit malam. Bintang tak juga nampak,
meski begitu saya berharap banyak hal-hal baik datang di masa depan.
Dan kini, di sini, di sebuah saung
kecil di tengah sawah, saya merenungi hari-hari itu, hari-hari dimana saya
membanting setir dalam kapal pelayaran hidup saya. Saya meninggalkan pekerjaan
impian saya, teman-teman saya, kehidupan kota saya, bukan semata-mata dengan
alasan kejenuhan tetapi ada yang lebih berharga dari semua itu yang tak ingin
saya sesali di kemudian hari bila saya memilih untuk hidup yang seperti itu-itu
saja. Saya memutuskan untuk pulang, memijaki tanah kampung halaman saya yang
aromanya selalu aroma rindu. Ah, aroma macam itu? Bukan macam apapun, dinamai
berbau rindu karena orang-orang selalu merindukan tanah ini, orang-orang yang
berani merantau dan mengambil risiko terguncang batinnya bila mengingat tanah
ini.
Saya pulang ke Magelang, disambut
peluk dan cium tentu saja. Masuk ke sebuah kamar yang telah lama saya
tinggalkan, aroma sprei yang baru dipasang menusuk, kentara sebab penuh
wewangian namun campur aroma lapuk karena sudah terlalu lama tinggal di dalam
lemari kayu. Saya tersenyum menatap sebuah lukisan usang yang masih saja kokoh
di dinding kamar ini. Seseorang pernah melukis wajah saya dengan begitu lihai
dan indah lebih daripada aslinya meski sewaktu memberi ia mengatakan permintaan
maaf sebab lukisannya tak akan mampu menandingi ciptaan Tuhan yang asli. Waktu
itu, ia ingin memberi saya sebuah kado ulangtahun, sesuatu yang benar-benar
dibuat olehnya, maka diputuskannya untuk melukis wajah saya. Ia adalah
seseorang yang sudah terlalu lama menaruh cintanya untuk saya, sayangnya pada
yang lain juga. Sebagai seseorang yang memiliki hati, tentu saya kecewa
padanya. Meski saya tahu, pada akhirnya cintanya selalu berlabuh pada saya.
Sudah seringkali saya peringati, dimanapun tiada akan dia dapat perempuan
seperti saya. Oleh karena itu, karmanya membuktikan sendiri. Cintanya selalu
menuntunnya pulang dan membuka percakapan kembali dengan saya. Tetapi, di
kemudian hari ia berhasil belajar dari semua perjuangannya yang tak berhasil
bahwa merelakan orang yang dicintai untuk menemui kebahagiannya yang lain
adalah kerelaan yang utuh. Kini, ia hanya hadir sekali dalam setiap tahunnya.
Kini, banjiran kalimat doanya yang ia hadiahkan untuk saya di setiap tanggal kelahiran
saya. Kini, ia tahu pasti bahwa cinta tidak akan pernah memaksa.
Kembali ke kamar yang telah lama
saya tinggalkan ini. Aroma kerinduan lagi! Aromanya menyeruak dari setiap sudut
kamar ini. Meski kasurnya kapuk, tak seempuk kasur saya di Jakarta, tetapi
kehangatan rumahlah yang mengepung saya di sini. Sampai saya sebesar ini, saya
masih dijadikan tuan putri di rumah saya sendiri. Nenek saya amat memanjakan
saya, membelikan apapun yang saya mau, memasakkan makanan apapun yang saya
suka, melarang saya mencuci piring, bahkan sampai tak berani membangunkan saya
bila sedang tertidur. Tetapi, saya cukup tahu diri untuk tidak terlena dengan
segala kemanjaan yang disuguhkan di depan mata saya. Inilah saat yang saya
tunggu, untuk membantu nenek saya merawat rumah, tanaman-tanamannya, koleksi
guci kesayangannya, dan juga kakek saya yang kini hanya mampu terbaring di
tempat tidur karena mengalami keretakan pada tulang pinggulnya akibat jatuh
terpeleset pada tempo hari.
Sejak kembali pulang, saya merasakan
bahagia yang berbeda dari bahagia-bahagia lain yang biasanya saya rasakan.
Bahagia yang lebih berfaedah lebih tepatnya. Setiap hari, saya menyapu dan
mengepel rumah, membantu mengangkat jemuran, menemani nenek saya ke warung juga
mengantar beliau ke pasar, ke masjid, ke rumah temannya untuk pengajian dan
arisan. Hampir setiap hari juga saya menyelimutinya saat beliau ketiduran di
sofa, sudah hari-hari memang beliau sering tertidur di sofa.
Saya bukannya ingin pamer dengan ini
semua, tetapi ini suatu hal yang jarang terjadi dalam hidup saya, suatu
kebahagiaan karena pikiran untuk pulang sempat mampir dan kini saya berani
mewujudkan apa yang saya pikirkan, membiarkan seluruh waktu saya tersita hanya
untuk menemani orang-orang yang saya sayang, bukan untuk suatu kebahagian semu,
inilah kebahagiaan nyata yang saya tahu akan saya rasakan bila saya pulang.
Setidaknya ini yang sementara waktu ingin saya lakukan. Lalu soal pekerjaan?
Iya, jadi, sebelum pulang saya sudah memiliki cukup tabungan. Jika orang-orang
memilih tabungannya dihabiskan untuk liburan usai kerja keras mereka, kali ini
saya menggunakannya untuk keperluan sehari-hari di sini selama saya menemani
orang-orang yang sayang. Logika saya sedikit aneh, ada kekhawatiran bila kelak
saya menikah, saya tak bisa menemani mereka lagi selama yang saya mau. Saya
terlalu takut jika harus berpisah jauh dan belum melakukan apa-apa, meski apa
yang sekarang saya lakukan juga belum tentu bernilai di mata Tuhan maupun di
mata orang-orang yang saya sayang. Setidaknya, diri saya sendiri mengakui bahwa
saya sudah berusaha. Barangkali saya tak butuh pengakuan dari makhluk, meski
tak tahu juga apakah Tuhan menerima usaha saya atau tidak.
Saya merenungi sebuah kalimat yang
diutarakan oleh Raditya Dika, ‘Lu menikah
sama orang yang lu inginkan, bukan sama orang yang mau lu ubah. Menikah bukan
karena sudah waktunya tetapi karena dia orangnya.’
Zaman jadi mahasiswa dulu, ingin
punya pasangan yang selain taat shalat dan pandai mengaji juga ingin yang
nyambung diajak ngobrol utamanya melek pengetahuan sehingga bisa nyambung diajak
diskusi apa saja atau bahkan kita bisa bertukar pengetahuan. Selain itu,
berharap pula ia juga bisa memperbaiki barang-barang yang rusak. Imajianasi ini
semua berawal dari seorang teman yang mempunyai hubungan dengan seorang pria
yang sedang studi S2. Prianya ini anak jurusan sejarah, sehingga tentunya ia
tidak buta literasi karena begitu senang membaca dan menulis artikel, tetapi
meski kuliah jurusan sejarah di sisi lain ia mampu memperbaiki barang-barang
yang rusak seperti laptop, handphone, dan lain sebagainya, sudah seperti anak teknik
saja. Jadi, teman saya ini setiap ada tugas selalu dibantu prianya. Obrolan
dalam chattingan mereka bukanlah pertanyaan-pertanyaan sepele, bukan lagi nanya
sudah makan sudah mandi sudah bangun?
Pembahasannya berat, seputar pertanyaan dosen dan tugas-tugas kuliah kita.
Alhasil teman saya ini selalu menjadi golongan awal yang cepat menyelesaikan
tugas. Selain itu, dia jarang ke tukang service, kalau ada barangnya yang rusak
ia cukup minta tolong ke prianya ini untuk memperbaiki barangnya, salah satu
cara hidup hemat. Yeah.