Tampilkan postingan dengan label #cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #cerpen. Tampilkan semua postingan

16/04/20

#SebuahCerpen : Lima Ratus Playlist Lagu


( Pict from : www.larasatinesa.com )

Hari selo yang cukup panjang ini mungkin cocok kujadikan waktu untuk bersantai bersama diri sendiri. Terik mentari di Yogyakarta mengantarkanku pada warung es krim Tempo Gelato. Berbekal satu buku bacaan dan buku agenda dalam tasku, segera kulangkahkan kakiku masuk lalu berdiri sebentar mengamati sekitar kemudian memutuskan untuk memesan es krim matcha tea campur dark chocolate.

Saat itu Tempo Gelato cukup ramai karena memang pilihan yang tepat untuk berkunjung ke sini di kala siang terik seperti ini. Kebanyakan pelanggan adalah keluarga dan anak-anak muda yang kuperkirakan sebaya denganku. Seorang gadis duduk seorang diri di bangku dekat jendela dengan sebuah buku di tangannya tiba-tiba menarik perhatianku. Ia sama sepertiku, datang dan makan es krim sendirian sambil membaca buku yang dibawanya, atau barangkali dia menunggu seseorang datang?

Hatiku mengatakan bahwa ia sepertinya tidak sedang menunggu siapa-siapa karena pandangannya fokus pada es krim dan bukunya, tidak seperti orang yang gelisah karena menunggu seseorang.

“Permisi, Mbak. Di sini kosong?” tanyaku dengan hati-hati, khawatir mengganggunya.

“Eh, iya, silahkan..” jawabnya dengan cepat.

Aku duduk di bangku kosong yang berada di depannya. Kusadari, ia sempat agak lama menatap ke arahku. Sementara aku pura-pura sibuk dengan es krimku.

“Lho, kamu Diara, bukan?”

Aku menoleh ke arahnya dan sempat terkejut. Siapa perempuan dihadapanku ini?

“Iya, maaf, apa kita pernah bertemu?”

“Ya ampun, ini aku, Chika..” jawabnya menyebut namanya dengan berbinar-binar seakan masih tidak percaya bisa bertemu denganku di sini. Otakku berputar dan tak kalah kagetnya aku melihat Chika yang aku kenal dulu kini berada di hadapanku dengan penampilan yang berbeda.

“Lho, kamu Chika teman SMA-ku? Chika Wardhani?”

Gadis di hadapanku itu mengangguk-angguk sambil tersenyum lebar. Kemudian, kami sama-sama saling berdiri dan berpelukan, orang-orang sempat menatap heran ke arah kami.

“Sudah lama ya, Chika..”

Ia masih mengangguk-angguk tanpa berkata apa-apa, tetapi mata dan senyumnya masih melebar.

27/06/19

Meraba Jodoh


Perkenalkan, nama saya Prita dan sudah lebih dari 20 tahun saya berpijak di bumi ini. Ibu saya pernah mengatakan bahwa usia 24 tahun itu terlalu tua untuk seorang perempuan melakukan pernikahan dan ibunya ibu saya selalu bertanya kapan pernikahan itu terjadi pada saya sebagai cucu perempuan pertamanya. Sementara itu, ayah saya pernah membicarakan tentang pendidikan S2 kepada saya dan ibunya ayah saya beserta adik-adiknya yang merupakan eyang-eyang saya selalu saja mengatakan bahwa perempuan harus bersekolah tinggi, meski begitu harus pandai juga dengan urusan di dapur.

Butuh waktu untuk siap menerima bahwa ada orang lain di rumah kita. Bukanlah hal mudah saat kita harus berbagi tempat tidur, satu meja makan, satu sofa saat menonton televisi, dan lain-lainnya. Bayangkan jika semua itu terjadi melalui sebuah perjodohan yang tidak diinginkan? Betapa menyakitkan memaksa dua insan untuk saling jatuh cinta dan berbagi hidup bersama.

Bulan lalu saya resign dari pekerjaan saya sebagai seorang jurnalis di suatu perusahaan media swasta di Jakarta. Apa karena saya tidak menikmati pekerjaan saya sehingga saya memutuskan resign? Oh, tentu tidak. Semua orang juga tahu bahwa menjadi seorang jurnalis adalah impian saya sejak lama. Justru melalui pekerjaan sebagai jurnalis inilah yang mengantarkan saya kepada gerbang resign. Saya ambil bagian dalam bidang hubungan sosial atau biasanya pada apa yang terjadi dalam suatu keluarga. Banyak kejadian-kejadian mengharukan bahkan sampai yang mengerikan pun saya tulis dan abadikan dalam kolom berita. Sampai pada suatu hari, pada job terakhir ketika mengharuskan saya mengejar berita di luar kota dimana usai pulang dari kota tersebut, kereta kami melewati deretan ladang sawah yang menguning diterpa sinar senja dan pikiran saya melayang pulang ke rumah.

“Bim, kangen.” Ujar saya dengan tanpa sadar pada Bimo, rekan kerja saya.
“Tapi gue enggak.” Malah dijawab sama Bimo.
“Ih, bukan sama elu!” balas saya, kesal dan menyesal.
“Lah? Terus sama siapa? Masa sama botol air yang lu peluk-peluk dari tadi.”

Hehe. Saya nyengir. Sudah maklum dengan kerecehannya.

“Gue kayaknya mau resign, deh.” Kata saya, tapi masih mikir.
Bimo diam saja, tetapi matanya melotot.

Kami saling terdiam cukup lama. Iya, Bimo sudah tahu kejenuhan yang saya alami selama ini.

“Gue support apapun pilihan lu. Semoga elu enggak pernah menyesal dengan segala hal yang sudah lu pilih.”

Saya tersenyum sambil menggeleng. Cahaya senja diam-diam menembus kaca jendela kereta, meredup, lalu hilang berganti dengan hitam pekat yang menyelimuti langit malam. Bintang tak juga nampak, meski begitu saya berharap banyak hal-hal baik datang di masa depan.

Dan kini, di sini, di sebuah saung kecil di tengah sawah, saya merenungi hari-hari itu, hari-hari dimana saya membanting setir dalam kapal pelayaran hidup saya. Saya meninggalkan pekerjaan impian saya, teman-teman saya, kehidupan kota saya, bukan semata-mata dengan alasan kejenuhan tetapi ada yang lebih berharga dari semua itu yang tak ingin saya sesali di kemudian hari bila saya memilih untuk hidup yang seperti itu-itu saja. Saya memutuskan untuk pulang, memijaki tanah kampung halaman saya yang aromanya selalu aroma rindu. Ah, aroma macam itu? Bukan macam apapun, dinamai berbau rindu karena orang-orang selalu merindukan tanah ini, orang-orang yang berani merantau dan mengambil risiko terguncang batinnya bila mengingat tanah ini.

Saya pulang ke Magelang, disambut peluk dan cium tentu saja. Masuk ke sebuah kamar yang telah lama saya tinggalkan, aroma sprei yang baru dipasang menusuk, kentara sebab penuh wewangian namun campur aroma lapuk karena sudah terlalu lama tinggal di dalam lemari kayu. Saya tersenyum menatap sebuah lukisan usang yang masih saja kokoh di dinding kamar ini. Seseorang pernah melukis wajah saya dengan begitu lihai dan indah lebih daripada aslinya meski sewaktu memberi ia mengatakan permintaan maaf sebab lukisannya tak akan mampu menandingi ciptaan Tuhan yang asli. Waktu itu, ia ingin memberi saya sebuah kado ulangtahun, sesuatu yang benar-benar dibuat olehnya, maka diputuskannya untuk melukis wajah saya. Ia adalah seseorang yang sudah terlalu lama menaruh cintanya untuk saya, sayangnya pada yang lain juga. Sebagai seseorang yang memiliki hati, tentu saya kecewa padanya. Meski saya tahu, pada akhirnya cintanya selalu berlabuh pada saya. Sudah seringkali saya peringati, dimanapun tiada akan dia dapat perempuan seperti saya. Oleh karena itu, karmanya membuktikan sendiri. Cintanya selalu menuntunnya pulang dan membuka percakapan kembali dengan saya. Tetapi, di kemudian hari ia berhasil belajar dari semua perjuangannya yang tak berhasil bahwa merelakan orang yang dicintai untuk menemui kebahagiannya yang lain adalah kerelaan yang utuh. Kini, ia hanya hadir sekali dalam setiap tahunnya. Kini, banjiran kalimat doanya yang ia hadiahkan untuk saya di setiap tanggal kelahiran saya. Kini, ia tahu pasti bahwa cinta tidak akan pernah memaksa.

Kembali ke kamar yang telah lama saya tinggalkan ini. Aroma kerinduan lagi! Aromanya menyeruak dari setiap sudut kamar ini. Meski kasurnya kapuk, tak seempuk kasur saya di Jakarta, tetapi kehangatan rumahlah yang mengepung saya di sini. Sampai saya sebesar ini, saya masih dijadikan tuan putri di rumah saya sendiri. Nenek saya amat memanjakan saya, membelikan apapun yang saya mau, memasakkan makanan apapun yang saya suka, melarang saya mencuci piring, bahkan sampai tak berani membangunkan saya bila sedang tertidur. Tetapi, saya cukup tahu diri untuk tidak terlena dengan segala kemanjaan yang disuguhkan di depan mata saya. Inilah saat yang saya tunggu, untuk membantu nenek saya merawat rumah, tanaman-tanamannya, koleksi guci kesayangannya, dan juga kakek saya yang kini hanya mampu terbaring di tempat tidur karena mengalami keretakan pada tulang pinggulnya akibat jatuh terpeleset pada tempo hari.

Sejak kembali pulang, saya merasakan bahagia yang berbeda dari bahagia-bahagia lain yang biasanya saya rasakan. Bahagia yang lebih berfaedah lebih tepatnya. Setiap hari, saya menyapu dan mengepel rumah, membantu mengangkat jemuran, menemani nenek saya ke warung juga mengantar beliau ke pasar, ke masjid, ke rumah temannya untuk pengajian dan arisan. Hampir setiap hari juga saya menyelimutinya saat beliau ketiduran di sofa, sudah hari-hari memang beliau sering tertidur di sofa.

Saya bukannya ingin pamer dengan ini semua, tetapi ini suatu hal yang jarang terjadi dalam hidup saya, suatu kebahagiaan karena pikiran untuk pulang sempat mampir dan kini saya berani mewujudkan apa yang saya pikirkan, membiarkan seluruh waktu saya tersita hanya untuk menemani orang-orang yang saya sayang, bukan untuk suatu kebahagian semu, inilah kebahagiaan nyata yang saya tahu akan saya rasakan bila saya pulang. Setidaknya ini yang sementara waktu ingin saya lakukan. Lalu soal pekerjaan? Iya, jadi, sebelum pulang saya sudah memiliki cukup tabungan. Jika orang-orang memilih tabungannya dihabiskan untuk liburan usai kerja keras mereka, kali ini saya menggunakannya untuk keperluan sehari-hari di sini selama saya menemani orang-orang yang sayang. Logika saya sedikit aneh, ada kekhawatiran bila kelak saya menikah, saya tak bisa menemani mereka lagi selama yang saya mau. Saya terlalu takut jika harus berpisah jauh dan belum melakukan apa-apa, meski apa yang sekarang saya lakukan juga belum tentu bernilai di mata Tuhan maupun di mata orang-orang yang saya sayang. Setidaknya, diri saya sendiri mengakui bahwa saya sudah berusaha. Barangkali saya tak butuh pengakuan dari makhluk, meski tak tahu juga apakah Tuhan menerima usaha saya atau tidak.

Saya merenungi sebuah kalimat yang diutarakan oleh Raditya Dika, ‘Lu menikah sama orang yang lu inginkan, bukan sama orang yang mau lu ubah. Menikah bukan karena sudah waktunya tetapi karena dia orangnya.’

Zaman jadi mahasiswa dulu, ingin punya pasangan yang selain taat shalat dan pandai mengaji juga ingin yang nyambung diajak ngobrol utamanya melek pengetahuan sehingga bisa nyambung diajak diskusi apa saja atau bahkan kita bisa bertukar pengetahuan. Selain itu, berharap pula ia juga bisa memperbaiki barang-barang yang rusak. Imajianasi ini semua berawal dari seorang teman yang mempunyai hubungan dengan seorang pria yang sedang studi S2. Prianya ini anak jurusan sejarah, sehingga tentunya ia tidak buta literasi karena begitu senang membaca dan menulis artikel, tetapi meski kuliah jurusan sejarah di sisi lain ia mampu memperbaiki barang-barang yang rusak seperti laptop, handphone, dan lain sebagainya, sudah seperti anak teknik saja. Jadi, teman saya ini setiap ada tugas selalu dibantu prianya. Obrolan dalam chattingan mereka bukanlah pertanyaan-pertanyaan sepele, bukan lagi nanya sudah makan sudah mandi sudah bangun? Pembahasannya berat, seputar pertanyaan dosen dan tugas-tugas kuliah kita. Alhasil teman saya ini selalu menjadi golongan awal yang cepat menyelesaikan tugas. Selain itu, dia jarang ke tukang service, kalau ada barangnya yang rusak ia cukup minta tolong ke prianya ini untuk memperbaiki barangnya, salah satu cara hidup hemat. Yeah.

17/11/18

[The End]: Sebuah Tanya


Namanya Pram, dulu ia rapi, taat shalat 5 waktu ke masjid, rajin mengaji, sering ikut kajian-kajian keagamaan dan hidupnya tenang. Dulu, sebelum ia kehilangan panutannya. Pram yang sekarang adalah bocah yang kebingungan dalam hidupnya sendiri karena dua orang sahabatnya yang menjadi panutannya selama ini memutuskan untuk pindah dari kota yang menjadi awal mula persahabatan mereka. Keduanya memutuskan untuk bermimpi lebih jauh lagi, lebih tinggi lagi.

Pram yang taat mulai berubah sejak masuk sanggar seni itu. Ia bercerita bahwa pernah selama satu minggu memutuskan untuk tidak berkunjung ke sanggar dan ia bisa mendapati dirinya yang begitu rapi. Selama satu minggu itu ia mampu melaksanakan shalat lima waktu, tetapi begitu ia datang kembali ke sanggar seninya, penampilannya berantakan. Aku cukup terkejut saat melihat foto dirinya pada sekitar dua tahun yang lalu, ia terlihat bagai selebgram dengan kulit bening, mata dengan pandangan optimis, kerapihan begitu melekat di dirinya yang dulu. Aku memandangi ia yang ada pada hari ini, ia yang tak ingin ia ingini. Pram, ia pasti sangat merindukan dirinya yang dulu. Apa yang bisa kulakukan?

Ia juga bercerita pernah suatu kali ke sanggar membawa sarung, berniat jika azan tiba dia hendak pergi shalat, tetapi – sekali lagi dengan tatapan sedih, begitu ia ada di sana, atmosfernya berbeda, tiba-tiba saja ia tidak jadi menunaikan shalat. Di sanggar itu, tidak pernah disinggung soal tuhan, tidak ada pembicaraan tentang agama apalagi Tuhan.  Bagi mereka, hubungan antara Tuhan dengan manusia adalah urusan pribadi masing-masing manusia, sudah menjadi sangat individual sehingga tak ada yang peduli satu sama lain soal menaati perintah Tuhan. Miris, kata Pram.

Namanya Pram, dan ia adalah anak yang beruntung karena sangat disayangi oleh ibunya. Kata Pram, ibunya mengatakan bahwa beliau rela menyekolahkannya dimanapun, berapapun biaya yang harus dikeluarkannya, asalkan Pram bersekolah tinggi dan pulang ke rumah bisa mengaji, itu saja cukup bagi ibunya. Mungkin inilah hal-hal yang begitu lama amat mengganggu pikiran Pram dan ia renungi berpuluh-puluh kali hingga sampai datang padaku di kemudian hari. Pertanyaan yang mengganggu pikirannya dan entah mengapa sulit sekali ia temukan jawabannya; untuk apa ia hidup? mau apa? mau kemana? Ia kebingungan berpikir, sementara orangtuanya rela mengeluarkan harta sebanyak apapun untuk hidupnya.

Pram bercerita bahwa tempo hari, ibunya pernah datang ke kos tempat dimana ia tinggal selama di Yogyakarta ini. Kos Pram bukanlah kos kumuh atau bahkan jelek. Kos nya adalah kos standar yang masih sangat layak untuk ditempati manusia. Akan tetapi, ibunya mengatakan bahwa lebih baik ia cari kos yang mahal saja tetapi bagus daripada kosnya yang sekarang yang menurut ibunya bangunannya seperti mau roboh, padahal kami semua tahu kosnya masih sangat layak dan bagus-bagus saja tetapi lucunya ibunya sangat khawatir, katanya “takut roboh”.

[Chapter 1]: Sebuah Tanya


Pekerjaanku sebagai seorang editor terjemahan lepas membuat hari-hariku terpaksa menjadikan kafe sebagai rumah kedua. Aku yang awalnya sangat bosanan, seringkali berpindah dari satu kafe ke kafe yang lain. Namun, barangkali pikirku benar bahwa suatu saat akan ada satu kafe yang cocok. Aku akhirnya menemukannya, sebuah kafe ala rumahan di jalan Srikandi. Kafe ini tidak terlalu terlihat karena jalan Srikandi bukan jalan umum yang sering dilalui kendaraan, namun sangat mencolok karena di daerah sini ia berada di antara rumah-rumah besar dan berpagar tinggi. Tampaknya sang pemilik rumah tak mau ketinggalan memanfaatkan rumahnya yang terletak di Yogyakarta untuk membuka usaha. Jadilah ia bangun sebuah kafe sederhana dimana pengunjung dapat memilih untuk duduk di dalam atau di luar. Di dalam, pengunjung kafe akan duduk-duduk anggun dengan pemandangan dekorasi ruang yang menyamankan mata. Pun di luar, pengunjung akan ditawarkan pemandangan yang sejuk dengan berbagai jenis tanaman dan pepohonan di sekitarnya, ditambah lagi kafe ini menyediakan jajanan di angkringan yang terletak di taman kafe bersama dengan deretan bangku-bangku yang bisa pengunjung tempati.

Kafe The House bukanlah awal mula cerita ini terkisah, tetapi bolehlah aku memulainya dari sini, tempat yang rupanya kami selalu bertemu satu sama lain, tetapi awalnya tidak saling mengenal, sampai pada suatu hari aku menjadi salah seorang panitia untuk event di Jogja National Museum dan melakukan survey lukisan di sanggar tempat ia biasa berkarya.

Di sanggarnya kami berkenalan satu sama lain. Aku bersama dengan seorang temanku, sedangkan ia di sana dengan beberapa anak sanggar lainnya. Rasanya tak heran saja saat pertama kali melihat kelusuhannya, kumaklumi karena mereka anak sanggar, tetapi entah juga berawal darimana pemakluman terhadap semua kelusuhan itu. Aku yakin karpet yang tergelar di sana hampir tidak pernah dicuci, apa lagi keset-keset itu yang terlihat hanya dipakai lalu dijemur, basah terguyur hujan, kering kembali terkena terik matahari. Sanggar itu bentuknya cukup unik menurutku. Beberapa bagian beratap, sebagian lainnya bangku-bangku dan meja beratap langit dengan sebuah pohon rimbun di salah satu sisinya.

Sesuai kesepakatan pada komunikasi kami sebelumnya via sosmed, hari itu mereka akan menunjukkan koleksi lukisan mereka pada kami yang sekiranya jika ada yang sesuai dengan tema akan kami ikutsertakan di pameran lukisan di Jogja National Museum pada acara yang akan kami adakan sebulan mendatang. Mereka mempercayai kami dan dengan senang menceritakan lukisan-lukisan itu.

Kulihat ia tak banyak bicara sebagaimana temannya yang lain. Sesekali melirik ke arahku, juga ke arah temanku, tidak ada yang spesial. Aku menatapnya dengan tatapan wanita dewasa agar ia tahu barangkali memang aku lebih tua darinya, sementara ia hanya masih terlihat seperti bocah yang tenggelam dalam dunianya sendiri.

Berawal dari sanggar yang kemudian beberapa kali bertemu di kafe The House, kami seringkali bertukar pikiran. Anehnya aku tak pernah berbicara soal identitas diriku padanya tetapi ia banyak bercerita tentang dirinya padaku. Mengenang perkenalan pertama kami, sosok hitam manis itu tak banyak bicara, hingga Sekarang tiba-tiba saja aku tahu banyak hal tentangnya, ini sangat aneh, ia sendiri yang datang dan bercerita padaku tanpa kupinta.

02/11/18

Jangan Membenci Bara dan Prabu!


Entah kenapa akhir-akhir ini di sela-sela deadline yang menumpuk, kelas kuliah yang seolah tak habis-habis, berbagai seminar yang sungguh menarik untuk diikuti, terajut suatu tanda besar dalam benakku. Bangku kuliah, dosen, kosan, deadline, seminar, tugas, email, dan lain sebagainya seolah-olah tak pernah bosan untuk terus meyakinkanku bahwa aku sudah ada di tahap ini, di masa ini.

Keinsomniaan yang melandaku, kumanfaatkan untuk merenungi hari-hari yang kulewati dalam kehidupanku. Semua pikiran ini tidak boleh bila tidak membawa Tuhan. Tuhan haruslah selalu disangkutpautkan dalam kehidupan kita, dalam tata aturan dari hal kecil hingga hal besar, itu yang kudengar dari para ulama. Maka miris sekali mendengar ungkapan Nietsche yang mengatakan bahwa banyak orang beragama tetapi tidak menghadirkan agama dalam hidup mereka.

Setiap kali mengingat Tuhan, ada saja partikel-partikel dalam tubuh yang turut menguatkan jiwa dan tubuh. Aku percaya bahwa semua hal terjadi atas ijin-Nya, bahkan bila itu hanyalah sehelai daun yang terhempas dari pohonnya.

Ah, bila aku ada di dunia dongeng pasti sudah kukatakan bahwa akulah jiwa yang terjebak dalam tubuh orang dewasa! Dan otakkulah yang paling kukasihani dari semua ini! Ia yang terus menerus kupaksa untuk mendewasa. Aku kehilangan pikiranku sendiri.

Maka sekarang mari berhenti membicarakan diri sendiri. Dalam cerita ini, tersebutlah dua orang laki-laki yang keduanya sama-sama teman sekelasku, sama-sama membuat bosan karena setiap hari kami bertemu. Dua orang pria yang sungguh menyajikan kepribadian bertolakbelakang bila benar-benar memahaminya. Tetapi, ada hal yang sama dalam diri mereka, keduanya sama-sama betul mengenal agama, mengingat Tuhan, ibadahnya taat, omongannya tidak kasar, dan sama-sama rajin berangkat kuliah juga!

Yang pertama namanya Bara, entah kenapa tahu-tahu saja aku tahu banyak tentang dirinya, tentang hobi naik gunungnya, tentang ia paling tidak suka makan ikan tetapi anehnya senang sekali pergi memancing, tentang ia menyimpan banyak persediaan tempe dan tahu juga cabai di kulkas rumahnya yang katanya untuk persediaan selama satu tahun yang kupikir itu tidak benar, tentang dia yang sering sekali belanja lewat aplikasi online karena ada promo utamanya pada peralatan mendaki gunung yang merupakan hobinya itu, tentang dia yang baik sekali rela naik gojek ke kampus karena motornya ia pinjami ke saudaranya, tetapi yang paling aku tahu betul tentang hobinya adalah ia senang untuk menyenangkan orang lain, salah satunya akulah korban dari hobi anehnya itu. Ia senang sekali membawakan aku jasuke alias jagung-susu-keju karena ia tahu aku suka sekali jasuke, maka dia sendiri yang pergi ke pasar untuk membeli bahan dan meracik sedemikian rupa hingga jasuke tersebut berhasil dibuatnya sendiri lalu diantarnya malam-malam ke tempatku. Kadang-kadang juga ia pada siang terik datang tergopoh-gopoh membawa sekeranjang macam-macaman; buah, biskuit, obat, vitamin, juga termos, ketika tahu aku terkena demam. Kupikir dia pandai sekali mencipta kenangan. Bagaimana bisa seseorang melupakan kebaikan yang pernah orang lain ukir dalam hidupnya?

10/10/18

[The End]: Keliru Hati


Beberapa bulan yang lalu, di sebuah kafe, tentu saja bukan Kafe The People, ketika aku tengah asyik dengan diriku sendiri, membelanjakan waktuku di dalam kafe ini bertemankan buku, earphone dan tentu saja kopi, aku tak percaya bahwa kehadiranku yang rutin ke kafe ini mengantarkan aku pada hari-hari yang membahagiakan.

Mbak Kinanti, bukan?” aku menoleh melihat siapa yang mengajakku berbicara sembari kulepas earphone di telingaku.

“Iya, ada apa, ya?”

Tanpa dipersilahkan, ia langsung duduk di hadapanku. Kuperhatikan dia, sepertinya ia lebih tua dariku. “Manggilnya Kinan saja.” Kataku. Ia tersenyum dan mengangguk.

Entah mengapa rasanya kami seperti sudah kenal bertahun-tahun, begitu banyak obrolan hari itu. Aku memang sering melihatnya di kafe itu. Tidak sering juga, sih. Mungkin akhir-akhir ini saja.

Namanya Kemal. Ada perasaan senang bukan main ketika ia mengaku sudah membaca beberapa buku karyaku. Bahkan ia selalu menanti tiap tulisan yang kuposting di website pribadiku. Ia tak menyangka bahwa akhirnya aku menulis about my daily di dalam website pribadiku. Katanya, aku biasanya hanya menulis baris-baris sajak, cerita pendek dan prosa, dan hal-hal lain yang berbau sastra. Maka dari itu ia tahu kalau aku sering nongkrong di tempat ini karena aku akhir-akhir ini sering menuliskan daily dan sempat membahas kafe ini di dalam postingan daily.

“Pada awalnya saya hanya berniat untuk memperhatikan kamu dari tempat duduk di pojok sana.” Katanya dengan senyum lebar tetapi ada rasa malu-malu di wajahnya.

“Iya, iya, saya tahu. Saya sering lihat kamu duduk di situ.” Ia tertawa mendengar kejujuranku.

“Tetapi, kamu pasti tidak tahu apa saja yang saya lakukan di pojokan sana.” Katanya masih dengan tersenyum. Aku hanya memasang wajah penasaran. “Saya mencoba membuat sketsa wajah kamu dari pojokan sana. Kamu harus terima karya saya ini, tidak mudah membuat sketsa wajah kamu dari pojokan sana.” Ia kembali tertawa, diiringi tawaku juga.

Ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya yang kuduga itu adalah sketsa wajahku. Tetapi, mataku malah mendapati sebuang bingkisan cantik berwarna merah muda yang dihiasi sebuah pita di pinggirnya.

“Selamat ulangtahun, Kinanti. Menulislah tentang hal-hal yang baik, maka kamu selamanya akan menjadi penulis kesukaan saya.” Ia tersenyum lebar, sementara mataku berbinar menerima kejutan kecil dari seseorang yang baru saja aku kenal sekitar satu jam yang lalu. “Saya tidak akan bertanya mengapa di hari ulangtahunmu ini kamu memilih untuk duduk sendirian di sini, karena bagi saya, kamu selalu memiliki cara yang berbeda dengan orang lain dalam memandang hidupmu. Sama seperti hal-hal yang kamu tuliskan, hal-hal yang tak terjamah oleh pikiran saya.”

[Chapter 2]: Keliru Hati


Selangkah dua langkah aku berusaha masuk tanpa ragu. Namun, tiba-tiba kuhentikan langkahku. Cepat sekali mataku ini menemukannya, menemukan pria itu, pria yang aku pikir kami sudah sama-sama saling menyentuh hati satu sama lain. Mungkin benar, hanya pikiranku saja. Hatinya tidak.

Aku berusaha mengatur degupan jantungku agar menjadi normal kembali. Aku tahu, degupan yang kali ini bukan degupan seperti biasanya, degupan yang gugup bila bertemu dengannya. Kali ini hanya degupan yang tak normal, mungkin karena ini menjadi pertemuan baru lagi untuk kami setelah beberapa bulan tidak pernah bertemu bahkan bertukar kabar. Soal menjadi teman dan berdiskusi bersama, ah, itu, hanya omong kosongnya saja. Atau memang aku yang menghindarinya? Sejak beberapa bulan yang lalu, aku tak pernah lagi membalas pesannya. Untuk apa ia masih mengirimiku pesan dan mengajakku berdiskusi, sementara dengan segala tingkah lakunya itu mampu menghadirkan perasaan-perasaan itu lagi di dalam hatiku? Perasaan yang kuakui bukan menjadi tanggungjawabnya meski awal perkenalan kami adalah ia sendiri yang mengajakku terbawa dalam obrolannya di suatu hari di dalam gerbong kereta.

Aku mencengkram erat tasku. Kembali mengatur nafas dan degupan jantungku. Di sini, di kafe ini, kebersamaan yang diperlihatkan oleh pengunjung di sini, aku rasa telah menciptakan kehangatan yang tak biasa. Rasanya ingin menjadi salah satu dari mereka yang menciptakan kehangatan itu. Apa boleh buat bila hadirku di sini untuk menyudahi sebuah cerita, sedihnya lagi mungkin ini menjadi kali terakhirku datang ke tempat ini, setelah begitu banyaknya pembicaraan kami yang terkenang di sini. Setelah ini, semua ini tak berarti apa-apa. Aku ingin membuatnya seperti itu saja, seperti aku tak pernah berkunjung ke sini bahkan tak pernah mencicipi seteguk kopi di sini.

Dia dan gadis itu sedang menikmati minuman mereka, menikmati waktu yang mereka punya untuk berdua, menikmati cerita yang meluncur dari bibir masing-masing. Aku melangkah menuju meja mereka. Ia terkejut dengan kedatanganku, tentu saja. Apa lagi gadis di hadapannya.

“Hai.” Aku mengulurkan tanganku dan mencoba tersenyum pada gadis itu. Gadis itu terlihat keheranan, tetapi aku tak peduli. Pria itu juga sama, wajahnya seolah ingin mengatakan mau apa lagi orang ini?

08/10/18

[Chapter 1]: Keliru Hati


“Halo?” aku menghela nafas setelah beberapa menit menyimak suara di ujung sana. “Jadi benar malam ini ia akan pergi ke kafe itu lagi?” tanyaku untuk meyakinkan diriku sendiri. Sejenak aku memijit-mijit dahiku dengan tangan yang masih menggenggam karcis. Kemudian kututup ponselku setelah pembicaraan kami selesai. Sekian detik kuperhatikan karcis dalam genggamanku dengan gelengan kepala. Tadi itu aku genggam atau aku remas, sih? Bentuk karcis tiba-tiba saja tak karuan begini, mengikuti hatiku yang tiba-tiba saja juga sulit kukendalikan. Detak jantungku makin cepat bersamaan dengan suara kereta yang melesat di hadapanku.

Aku kembali duduk menunggu. Kuperhatikan lagi karcis keretaku itu. Sudah lama rasanya tidak naik kereta. Ya, semenjak hari itu. Semenjak aku merasa kereta bukan satu-satunya transportasi di dunia ini. Semenjak aku merasa bahwa aku perlu menghindari kenangan yang mungkin akan mengendalikan diriku lagi bila aku kembali pada detik itu.

Aku sudah duduk di kereta dan mulai mengeluarkan seluruh perbekalanku. Mataku akan tetap mengawasi pemandangan di luar jendela sana, tetapi kubiarkan tanganku menggenggam buku, sementara telingaku pun mengerjakan perannya sendiri, mendengarkan alunan lagu dari earphone yang baru saja kupasang. Aku ingin berpura-pura sibuk sendiri.

Tetapi, ternyata peran hati dan memoriku lebih kuat dibanding usahaku yang lain untuk menyibukkan diriku.

Mbak, suka baca bukunya Leila S. Chudori juga?”

Aku menoleh. Seorang pria dengan wajah ramah di hadapanku tiba-tiba saja bertanya tentang buku yang tengah kubaca.

Aku hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Tak ada niat untuk mengobrol lebih jauh. Namun, ia bersuara lagi.

“Sudah baca semua bukunya Leila, Mbak?”

Aku diam memperhatikannya sekilas. Apa tadi dia bilang? Semua bukunya Leila? Apa mukaku ini muka kutu buku banget? Kugelengkan kepalaku sambil tersenyum untuk membalas pertanyaannya.

“Boleh pinjam sebentar nggak, Mbak? Saya belum baca bukunya Leila yang itu.” katanya sambil melirik buku yang tengah kubaca ini. “Oh iya, nama saya Seno.” Dia mengulurkan tangannya. Kusambut ulurannya dengan agak ragu, “Kinan.” Balasku dengen menyebut namaku.

Obrolan kami mendadak bukan lagi hanya tentang buku, tetapi juga tentang diri kami masing-masing. Ia bercerita tentang komunitasnya, pun aku. Ia bercerita tentang hobinya, pun aku. Kami memutuskan untuk bertukar kontak, berharap bisa bertemu kembali dan lebih banyak bercerita lagi.

Aku tersentak, tiba-tiba seseorang menyentuh pundakku.

Mbak, bisa tolong geser sedikit?” Seorang ibu-ibu memintaku bergeser sedikit. Ia hendak duduk di sampingku, tetapi karena tubuhnya yang besar, aku harus meniadakan sedikit space tempat dudukku dengan jendela agar si ibu bisa duduk.

Di sisi lain, aku berterimakasih di dalam hati karena ibu ini telah membuyarkan kenangan itu. Kenangan yang pada akhirnya mengembalikan aku pada detik itu.

Baru setengah jam berlalu, aku sudah menguap di kursiku. Kututup bukuku lalu melirik jam di pergelangan tanganku. Masih ada dua setengah jam lagi sebelum tiba. Kusimpan kembali bukuku di dalam tas. Kubiarkan alunan musik menemani tidurku di dalam perjalanan kali ini.

Meski dengan mata yang sudah terpejam, tetap saja bayangnya masih menari-nari di pikiranku. Aku masih merangkai kata untuk menjadi sebuah kalimat bahkan mungkin paragraf untuk membentuk sebuah cerita yang akan kuhadirkan malam ini. Dalam hati aku berdoa dan meyakinkan hatiku bahwa semua ini akan baik-baik saja, semuanya sudah normal kembali. Kau tak perlu lagi menyembunyikan luka, luka yang sudah terobati mana yang perlu kau sembunyikan, Kinanti? Luka itu sudah tidak mengangga lagi, perasaan itu juga telah berganti, kau siap menyambut bahagia di suatu hari yang telah kau rencanakan bersama seseorang nanti, Kinanti.

28/08/17

Dilema Nadhira



Apa kabar, nak? Sedang sibuk apa sekarang?
Besok kalo ada waktu main ke rumah ibu, ya. Ibu kangen.

Aku menghela nafas.

Menunduk.

Mengamati kedua kakiku yang terus melangkah.

Ingin mengeluh, tapi kemudian malu. Malu pada mereka yang hidup dalam kesusahan.

Masalah perasaan, hal yang dinamis.

Ah, selalu begitu kata hati. Menghibur diri sendiri.

Akhirnya kuputuskan mengangkat wajahku. Terik mentari menyilaukan. Kupasang kacamataku, membentengi diri. Manusia pandai membuat benteng bahkan meski di dalam diri telah hancur berkeping-keping. Kupercepat langkahku.

***

Ibu memelukku. Erat sekali. Berharap ia tak mendengar degup jantungku yang tak beraturan. Ah, kapan terakhir kali aku menginjakkan kaki di rumah ini?

Ia melepas pelukannya, meraih tanganku. Ia menggandengku masuk ke dalam rumahnya. Tak kusangka di sana bukan hanya ada kami.

“Kenalkan, kenalkan. Ini Nadhira, calon menantuku.” Aku hanya diam mendengar pengumumannya yang seolah diutarakan kepada seluruh penjuru dunia. Ada perasaan tersipu dan kegalauan yang menerjangku bersamaan.

“Oh, ini ya, yang katanya disebut-sebut sebagai menantunya Ibu Melly.” Ujar ibu-ibu yang menggunakan dress berwarna hijau menyala. Aku hanya merespon dengan menggelengkan kepala sambil tersenyum. Berharap mereka mengerti penolakan halusku.

“Memang cantik, ya.” Tambah ibu-ibu yang menggunakan kacamata sambil tangannya meraih toples berisi kue coklat. Sementara itu, ibu-ibu yang lainnya hanya tersenyum dengan memperhatikanku dari ujung kaki hingga kepala.

Aku tak tahu bahwa hari itu ada pertemuan arisan di rumahnya. Ibu mengajakku duduk dan bergabung dengan teman-teman arisannya. Tatapanku menyapu sekeliling.

Aku hanya duduk di sana dengan pikiran yang terbang ke masa lalu tiap melihat foto-foto di dinding rumah itu.

“Gila ya, mendaki itu nggak segampang yang aku pikir!” Ujar dia sambil memainkan tali sepatunya. Saat itu kami tengah duduk di teras rumahnya.
“Lagian bintang lapangan ngapain sok-sok ke gunung segala, sih.” Balasku sambil cengingiran.
“Iya yah, ngapain juga yah.” Dia balas kebingungan. “Nggak akan mau lagi deh, itu pertama dan terakhir kali.” Katanya.
“Awas, ya!” Aku mendorong bahunya. Tak siap kudorong, ia jatuh ke samping. Dan kami berdua tertawa. “Cemen ah, lo!” teriakku sambil masih tertawa.

Meskipun begitu ia berhasil mencapai puncak dan mengambil gambar di sana.

“Ayo, Nadhira, diminum tehnya. Kalau mau yag dingin di kulkas ada es batu, sudah tahu tempatnya, bukan? Ambil sendiri saja ya kalau mau.” Ujar Ibu membuyarkan lamunanku.

“Iya, Bu.” Jawabku pelan.

Tetapi, dasar masa lalu, ia masih menarik-narik pikiranku. Aku tak bisa beranjak.

31/07/17

#3 A Story From Jogja: Perempuan di Tenggara Tugu Yogyakarta



Iyus

Siapapun mungkin akan mengira bahwa kami anak-anak muda yang duduk-duduk di utara tugu Yogyakarta bukanlah asli warga Yogyakarta. Ya, kami sering menghabiskan malam di luar kamar kost kami yang mungkin pengap dan membosankan. Kami menghabiskan banyak waktu kami di luar tembok-tembok kost, menikmati suasana Yogyakarta dalam segala kondisi menurutku adalah pilihan terbaik.

Malam ini aku menjadwalkan diri untuk mampir ke suatu perpustakaan jalanan yang rutin diadakan oleh sebuah komunitas buku yang dilakukan oleh mahasiswa dari beragam universitas yang ada di Yogyakarta. Buku memang menjadi alasan kehadiranku, tetapi perempuan itu menjadi alasan lebih utama mengapa aku memilih malam ini untuk bertandang ke sini.

Dia, perempuan yang selalu mampu untuk kuajak berdiskusi tentang apapun, tentang alam, dunia, buku, pendidikan, politik, pariwisata, apapun itu. Perempuan yang tentu sulit kutemukan di lingkungan lain.

Aku melirik jam tanganku, ia belum juga tiba. Mungkin masih dalam perjalanan. Aku menyibukkan diri dengan melihat-lihat buku yang ditawarkan di perputakaan jalanan itu. Diam-diam kuperhatikan orang-orang di sana. Beberapa dari mereka membuka diskusi, beberapa lainnya tak tertarik dan memilih untuk mengobrol sendiri.

Sesaat lampu-lampu yang terpancar dari kendaraan yang lewat menyilaukan pandangan. Dari balik cahaya-cahaya itu aku menemukannya. Ia datang dengan senyuman di wajahnya. Ah, selalu begitu. Setiap kali kulihat kedatangannya. Tetapi, matanya tak menyorotiku. Ia menegur seseorang, seseorang yang lain, seorang pria berkulit terang dengan kacamata di wajahnya. Sesaat aku menyadari mungkin ia tak melihatku karena aku memakai jaket dan topi yang cukup menenggelamkan diriku.

Sebenarnya jarak dudukku dengannya cukup dekat tetapi ia terlihat tenggelam dalam obrolan bersama pria berkacamata itu. Mereka sepertinya sudah akrab sejak lama. Sesekali tawa menyelingi obrolan keduanya. Aku masih saja tenggelam ditikam pekatnya malam dan kebisingan jalan raya.

Segerombolan pengamen tambah meriuhkan suasana, aku masih berpura-pura sibuk dengan buku yang kubaca, sedang mungkin yang lain menolehkan pandangan pada gerombolan pengamen yang cukup menyita suasana. Oh, rupanya perempuan itu menoleh juga tepat saat kulayangkan pandanganku ke arahnya. Terimakasih dalam hati kuhaturkan pada gerombolan pengamen tadi, kedatangan mereka membuat perempuan itu menoleh ke sini.

“Hai! Apa kabar?” matanya berbinar. Pada akhirnya perempuan itu menemukanku, seorang mahasiswa yang senang mendaki gunung namun seringkali tersesat di hutan buku kemudian mengikhlaskan diri untuk terus tersesat demi selalu bertemu dengan perempuan yang memilih tenggelam diantara beribu buku.

29/12/16

Lee Dalam Catatan Harian Suzy





I might never be the hands you put your heart in
Or the arms that hold you any time you want them
But that don’t mean that we can’t live here in the moment
 ‘Cause I can be the one you love from time to time

And if you like midnight driving with the windows down
And if you like going places we can’t even pronounce
If you like to do whatever you've been dreaming about
Then baby, you're perfect
Baby, you're perfect
So let's start right now
[ One Direction - Perfect ]
Aku seorang penulis. Ya, penulis dalam diary-ku sendiri. Begitu yang Lee katakan padaku. Aku selalu ingin menjadi penulis. Kata dia, meski aku hanya menulis diary, aku sudah menjadi seorang penulis. Penulis yang menuliskan tentang dia dalam diary-nya. Lihat, betapa percaya dirinya dia. Tetapi, aku suka.

Aku senang mengingat-ingat kembali saat-saat bersamanya. Lee, dia tak suka ketinggian, tetapi hari itu di depanku dia mengiyakan pintaku untuk naik kora-kora di suatu pasar malam bersamaku. Aku menyesal tak merekam ekspresinya kala itu. Dalam hati, pasti ia jengkel setengah mati padaku. Di atas kora-kora yang melambung tinggi itu, aku cekikikan melihat kelakuannya. Wajahnya sudah tak karuan. Keringat dingin memenuhi dahinya. Tetapi, ia tetap bertahan mengiyakan pintaku naik kora-kora untuk kedua kalinya.

Lee adalah tipe orang yang sulit menghapal arah jalan. Berbeda denganku. Katanya dia mau terus bersamaku agar ia selalu berada di jalan yang benar. Kata dia aku adalah petanya. Peta petunjuk jalannya. Menurutku itu perkatan yang cukup romantis.

Aku pernah bercerita padanya. Aku iri pada teman-temanku, mereka bisa merasakan jatuh cinta, mereka bisa bercerita tentang orang-orang yang mereka suka. Tetapi, aku kacau dengan diriku. Aku sangat mudah jatuh kagum tetapi sulit untuk benar-benar mencintai. Kata dia saat itu, mengapa tak kucintai dia saja? Katanya aku boleh mencintainya agar aku punya bahan cerita di depan teman-temanku.

Aku bertanya padanya, lalu bagaimana dengan gadismu? Yang kau puja sebelum pertemuan kita kala itu? Kala dia memakai kaos bertuliskan sebuah nama teater. Katanya teater itu teater favoritnya, padahal itu juga teater favoritku. Akhirnya, teater-teater itu menciptakan pertemuan-pertemuan kami untuk yang kedua kalinya, ketiga kalinya, dan seterusnya.

Aku pernah berdiskusi dengan Lee. Aku tanya mengapa banyak lelaki yang tak juga menyerah dengan sikapku? Padahal aku sudah bersikap setengah mati tak memedulikan mereka agar mereka menyerah saja padaku, tetapi mereka tak kunjung menyerah. Aku bertanya pada Lee, apakah Tuhan memang menciptakan sosok lelaki seperti itu? Lee hanya tersenyum, manis sekali kala itu.

Aku bertanya lagi, tetapi mengapa setelah mereka mendapatkan yang  mereka iginkan seringkali mereka pergi dan menyia-nyiakan yang selama ini mereka perjuangkan? Aku mengambil contoh kecil dari kisah kedua orangtuaku. Jika saja kalian tahu, bahwa di kota-kota besar hal seperti itu seringkali terjadi. Saat aku duduk di bangku sekolah dulu, bisa dikatakan setengah dari jumlah siswa di kelas adalah anak-anak berlatar belakang broken home. Maka itulah aku bertanya pada Lee, mengapa pria-pria itu meninggalkan wanita mereka?

***

30/07/16

#3 A Story From Jogja: Cerita di Balik Angkringan Mas April





Mas April, penjaga angkringan di jalan Juwadi itu menyuguhkan kopi beserta asap-asap hangatnya. Pelanggan itu mengangguk-angguk sambil berdeham.

Mas April melirikku sambil tersenyum. Sebantar lagi ia pasti akan bertanya, “mau pesan apa, Neng?”
iya, Mas April tahu bahwa aku bukan asli Yogyakarta. Ini kali keenam aku duduk-duduk di angkringannya. Jangan tanya mengapa aku tahu ini kali keenam, ya, aku menghitungnya. Dengan mata seperti ditempati rembulan, bibir yang terus-menerus memamerkan senyuman dan tentunya tak lupa aku memesan secangkir kopi.

“Mas, kenapa namanya April? Kayak nama perempuan?” jujurku dengan polos tanpa bermaksud menyinggungnya pada saat pertama kali aku berkunjung ke angkringannya dan mendengar namanya.
“Mau gimana lagi, sudah pemberian dari orangtua. Lagi pula April itu nama bulan.” balas Mas April dengan logat Jawanya yang kalem sambil tersenyum malu-malu.
Aku hanya manggut-manggut. Percakapan terhenti pada saat mataku menemukan pria itu. Ia duduk di bangku paling ujung sisi kiri, sementara aku duduk di bangku paling ujung sisi kanan. Angkringan biasanya memang hanya memuat 2 bangku panjang, satu bangku untuk pelanggan dan satunya lagi bangku untuk si penjual. Tiap kali aku datang ke sini, memang selalu mengharap hadirnya.

Memoriku menyimpan keteduhan yang terpancar dari kedua matanya. Kala itu, ia memesan segelas kopi seduh, sama sepertiku.
“Ini kopinya, Mas Raka.” Rupanya pria itu bernama Raka. Sepertinya ia sering bertandang ke sini, tak heran Mas April mengetahui namanya.

Jarum di arlojiku bergerak dengan cepat, orang-orang silih berganti datang dan pergi dari angkringan. Tetapi, aku memaku dan Raka masih di sana dengan kopinya yang hampir habis.
Aku selalu berharap Raka yang duduk di ujung sana adalah Rakaku yang menghilang puluhan tahun lalu. Hatiku bahkan selalu berteriak meyakinkanku bahwa Raka si pelanggan angkringan Mas April itu adalah Rakaku. Tetapi, aku mengabaikan kata hatiku. Tak masuk akal bahwa kenyatannya hingga detik ini pria tersebut tak kungjung menyapaku. Aku mengkhianati kata hatiku sendiri. Aku tahu itu Raka, meski ia tak kungjung mengenali sosokku atau orang itu mungkin bukan Raka? Ah tidak, orang itu benar Raka. Hampir tiap malam aku datang ke sini, berharap pria itu memang Raka. Berharap ia menyapaku dan berharap angkringan ini menjadi sungguh manis dibanjiri cerita nostalgia kami.
Sampai detik ini, entah sudah berapa kali aku menatapnya. Sementara itu, ia hanya sesekali saja menatap ke arahku.
Desiran darahku, detakan jantungku, semuanya masih terkendali aman, meski di dalam sudut kebimbangan. Kopiku masih sisa banyak, padahal asapnya sudah pergi. Sedangkan, kopi Raka tinggal tegukan terakhir. Sekali lagi, jangan tanya mengapa aku tahu, aku menghitung berapa teguk setiap kali ia menghabiskan kopinya.

****

15/05/16

#2 A Story From Jogja: Vinsyandana



Restoran-restoran yang berdiri megah di sepanjang jalan dengan berbagai macam menu yang disediakan dan dengan berbagai macam harga pula, mulai dari harga rendahan hingga menjulang, sukses membuat perutku bunyi.

Aku mulai memasuki gang demi gang yang sepanjang jalannya adalah bangunan sekolah yang sudah tua dan membuatku membuatku bergidik dengan reaksi pepohonan rindangnya yang dimainkan oleh sang angin. Kueratkan tasku dan kurapatkan jaketku. Suara sepatuku memenuhi jalanan yang hanya diterangi beberapa lampu yang berjarak begitu jauh antara satu dengan yang lainnya, itupun cahayanya cukup remang-remang.

Mungkin beberapa orang menilai aku beraura kelaki-lakian alias tomboi, tetapi itu tak menghadangku untuk memiliki rasa takut apalagi dalam kondisi seperti sekarang ini. Aku mulai membiasakan diriku pulang semalam ini karena tuntutan tugas yang tak bisa aku selesaikan bila hanya dikerjakan di dalam kost saja.

Rasa lega meliputiku saat pintu gerbang rumah megah nan tua sudah di depan mata. Tentu saja bukan rumahku, aku hanya menyewa satu kamar kost di salah satu sisi rumah ini, rumah Ibu Nurmala. Beliau memang hidup sendiri, untung saja Pak Parminto dan istrinya, Bu Laksmi, bersedia tinggal di sini menemani beliau. Entahlah, mereka bersedia atau karena mereka tidak punya pilihan tempat tinggal lainnya. Selain itu, Pak Parminto dan Bu Laksmi memiliki empat orang anak, maka bertambahlah ramai rumah besar itu.

Aku menggertakan gigiku, suara gerbang yang berisik memecah malam. Mau bagaimana lagi, dari awal aku datang ke kost ini, pintu gerbangnya berisik apabila dibuka atau ditutup. Pelan-pelan aku membuka pintu samping, pintu yang menghubungkan halaman depan dengan ruang tamu untuk penghuni kost. Aku menghembuskan nafas lega saat mendapati Arum tengah nangkring di kursi sambil memainkan ponselnya. Anak itu tak bergeming dengan kedatanganku. Dasar Arum, mendadak jadi autis saat ponsel berada di tangannya. Sementara itu, terlihat mie instant yang berada dalam bentuk cup mengepulkan asapnya bertanda Arum baru saja menyeduhnya.

Aku menerjunkan tubuhku di kursi tepat di samping Arum. Kuraih mie instant itu dan siap kutelan, mendadak keautisan Arum hilang.
"Enak aja! Bikin sendiri, dong!" aku menatapnya kesal. Aku memang hanya bercanda, sih, tetapi perutku sejak tadi lapar, itu seriusan.
Arum dengan lahapnya menghabiskan mie instant itu. Aku hanya diam sambil melirik-liriknya. Merasa dilirik, Arum melirik balik. Setelah itu, ia bangkit meninggalkanku. Aku bertambah kesal, dasar pelit!
Tak sampai lima menit, Arum kembali lagi dengan sendok dan garpu di tangannya.
"Ayo kita makan berdua." kata Arum, mataku tiba-tiba saja berbinar. Cukup terharu, sih. Aku tahu, Arum memang anak yang baik, kok.
"Gue tahu, seorang Arum nggak mungkin membiarkan gue kelaperan." ujarku.
"Lebay." gerutu Arum. Kuraih sendok dan garpu itu dari tangan Arum.
"Gimana, Mbak? Udah kerasan kan tinggal di sini?" tanya Arum. Aku hanys bisa mengangguk-anggukkan kepala, sementara mulutku dipenuhi mie. Arum ini sudah seperti ibu kost kedua, selain karena dia penghuni paling lama di kost ini alias penghuni senior, ia juga cukup bawel tentang kebersihan di sekitar kost.

Tiba-tiba suasana yang tadinya hening, pecah oleh suara nyanyian dari ruangan lain di rumah ini. Suara laki-laki. Aku berhenti mengunyah. Kulirik Arum yang kelihatan biasa-biasa saja. Aku menyenggol lengannya. Arum menatapku.
"Kenapa?" tanyanya dengan raut wajah biasa saja.
"Yang nyanyi tadi siapa, sih?" ujarku setengah bergidik.
"Emang kenapa? Takut, ya? HEHEHE." wajah Arum mendadak menjadi menyebalkan, dia pikir aku ketakutan, ditambah pula volume ketawanya diperbesar.
"Enggak, penasaran aja." kilahku.
"Pak Parmintolah, siapa lagi." jawab Arum dengan yakin.

26/04/16

#1 A Story From Jogja: Vinsyandana Kost



 Vinsyandana, sebuah nama yang terlalu cantik untuk sebuah bangunan kost yang sudah berumur di Jalan Sajiono, Yogyakarta. Menurut tuan rumah atau lebih tepatnya keturunan tuan rumah, kost ini sudah berdiri sejak 20 tahun yang lalu, atau kurang lebih sama seperti usiaku saat ini.

Aku sudah cukup lama menempati salah satu kamar kost di sini. Perasaanku selalu saja menghadirkan perasaan yang lain ketika kedua kakiku melangkah di sekitar sini. Meskipun selama setahun terakhir ini aku tak mengalami suatu keanehan yang berarti.

Jadi, kujalani saja hari-hariku di sini seperti biasanya. Beberapa hari ini tugas kuliahku cukup longgar, bukan berarti aku bisa seenaknya jalan-jalan mengingat kondisi dompetku yang mengenaskan. Kubiarkan saja waktuku habis di dalam kost. Terkadang jika aku mulai bosan, kuputuskan untuk bermain-main bersama keponakan-keponakan ibu kost yang menggemaskan itu.

Biar kuceritakan lebih lanjut tentang kost-ku. Rumah megah yang kutaksir membutuhkan biaya yang cukup besar untuk perawatannya itu kini terlihat seperti ingin runtuh. Beberapa bagian disangga dengan kayu seadanya, beberapa lantai yang keramiknya sudah rusak tak kunjung diperbaiki. Namun, dua jempol kuacungkan untuk Bu Laksmi. Beliau bukan tukang bersih-bersih di rumah ini, Bu Laksmi adalah ibu dari keponakan-keponakan ibu kost, dengan demikian ibu kost adalah kakak Bu Laksmi, atau lebih tepatnya lagi kakak iparnya. Pak Parminto, suami Bu Laksmi, beliau adalah adik dari ibu kost. Jika diperhatikan, usia antara Bu Laksmi dan Pak Parminto sepertinya cukup berbeda jauh, Bu Laksmi yang terlihat masih berkepala tiga, sementara Pak Parminto berkacamata dengan pitak di kepalanya serta uban menghiasi rambutnya yang tipis itu.

Ibu kostku bernama Ibu Nurmala, biasanya kami menyapa beliau dengan cukup memanggilnya Bu Mala. Umurnya bisa diperkirakan sudah mencapai 65 tahun. Suaminya meninggal 8 tahun yang lalu karena stroke dan sakit jantung. Sayangnya, Bu Mala tidak memiliki anak, sehingga kepergian suaminya membuat hari-harinya menjadi kesepian.

Bu Mala menempati ruangan-ruangan utama di rumah megah tersebut, sedangkan Pak Parminto, Bu Laksmi dan anak-anak mereka menempati beberapa kamar lainnya di bagian belakang. Kost kami sendiri berjejer-jejer di samping kanan rumah megah itu. Ada 10 kamar kost, 6 terisi dan sisanya kosong. Sekedar informasi, kamar mandi yang kami gunakan sehari-hari ada di luar kamar, hanya ada 3 kamar mandi, jika full kami harus antri.

Kuperhatikan jarum jam yang tinggal dengan kokoh di sebuah jam raksasa di ruang tamu Bu Mala. Ruang tamu penghuni kost dengan rumang tamu rumah bu Mala memang berbeda. Tetapi, aku lebih suka di sini, sebab ruang tamu untuk penghuni kost menjadi tempat orang wara-wiri. Di ruangtamu bu Mala ini udaranya berbeda dengan ruang tamu penghuni kost, suasananya pun lebih nyaman dan sepi, lagipula bu Mala tidak melarang penghuni kost untuk duduk-duduk atau tidur-tiduran di sini. Dari dalam sini aku bisa melihat aktifitas penghuni kost yang lain melalui kaca besar yang bergorden putih itu. Tetapi, orang-orang di luar sana tidak akan mengetahui keberadaanku di dalam sini karena kacanya yang gelap jika dilihat dari luar.

Seperti kebanyakan rumah-rumah megah nan tua lainnya, dinding-dinding ruang tamunya dipenuhi dengan figura-figura nenek buyut mereka dan keturunan-keturunannya. Aku tak penasaran dengan orang-orang yang terkurung dalam bingkai foto di dinding rumah tua tersebut. Tetapi, selalu ada satu pertanyaan yang menggangguku sejak awal aku menyatakan diri untuk menjadi penghuni kost ini. Yang manakah diantara orang-orang dalam foto itu yang bernama Vinsyandana? Sepertinya ia anak kesayangan sampai-sampai namanya diabadikan menjadi nama kost di rumah megah ini. Tetapi, selalu kuurungkan niatku untuk bertanya, entah mengapa.

Aku sibuk dengan ponselku, kustalk beberapa artis ibukota yang kelihatannya kehidupannya asyik untuk aku soroti.  Aktivitasku pagi ini tidak begitu penting, kalau begitu mari kuceritakan satu-persatu penghuni kost Vinsyandana ini.

Namaku Arum, sebelum tinggal di sini, aku tinggal di Bogor bersama kedua adikku serta kedua orangtuaku. Ayah dan ibuku termasuk orangtua yang sibuk, sehingga meskipun kini aku merantau di daerah orang, suasana rumah tak akan menunjukkan perbedaan yang berarti. Topan, adikku, lagi sibuk-sibuknya berlatih basket demi memenangkan pertandingan basket antarkota, dan Mela, adik perempuanku, lagi sibuk-sibuknya latihan menari untuk ajang bergengsi di tahun depan. aku sendiri, hari-hariku disibuki dengan berkutat dengan tugas-tugas kuliah.

Selain aku, ada pula Mbak Pia. Kadang aku geli sendiri jika ingin memanggil namanya karena yang terbayang di benakku adalah bakpia, makanan oleh-oleh khas Jogja yang memiliki beraneka rasa. Mbak Pia ini dari Jakarta, beraura tomboi namun kecantikannya tidak bisa ditutupi. Matanya tajam, rambutnya bergelombang sebahu, ia lebih suka menguncirnya. Satu hal yang paling kuingat tentangnya adalah ia tak pernah memakai rok, mungkin suatu hari nanti akan kuajak dia ke kondangan, aku ingin melihatnya saat menggunakan rok, hihi. Mengenai kost ini, mbak Pia sering bercerita padaku bahwa perasaannya selalu tidak enak saat pulang ke kost, aku hanya menggapinya dengan santai aja, aku tak mau dia pindah kost jika aku juga menyetujui perasaannya itu.