Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

19/11/20

MADRASAH PERTAMA


Foto: 25 Agustus 2019 – Masa KKN di Dusun Kembaran, Magelang, Jawa tengah.


Hari ini aku bertemu Rasya dan Reynald untuk mengajar mereka. Rasya terlihat begitu banyak bicara walau ia masih duduk di bangku TK, sementara Reynald yang sudah duduk di bangku SD kelas satu terlihat aktif namun gugup ketika berbicara.

Bertemu anak-anak selalu menyenangkan. Rasanya hidup menjadi lebih hidup ketika mendengar suara anak-anak menggema di penjuru ruangan. Namun, sisi menarik lainnya adalah anak-anak selalu membawa pelajaran baru bagi orang-orang dewasa yang masih belajar bagaimana menjadi dewasa itu.

Ada saat dimana ketika Rasya bertanya padaku dengan tiba-tiba.

"Kak, kalau sombong tuh kayak gini bukan, 'eh eh aku punya sepeda bagus lho' itu sombong ya?"

Aku menjawab dengan caraku sembari bertanya balik,

"Jadi sombong itu boleh nggak?"

"Nggak."

Pinter!

Aku juga menjelaskan lawan kata dari sombong itu apa dan bagaimana, agar ia lebih memahami sifat mana kiranya yang baik untuk dimiliki.

Aku juga menambah pertanyaanku padanya karena penasaran.

"Kenapa nanya itu, Rasya?"

Rasya pun menjawab,

"Iya, soalnya aku belum tahu sombong itu apa dan kayak gimana."

JLEB. Dari sini aku sadar betapa pentingnya peran seorang Ibu (yang baik dan punya pemahaman yang cukup) untuk menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Anak-anak ini nampak polos dan banyak belum memahami sesuatu.

Bayangkan jika mereka tinggal di lingkungan yang mengajarkan hal-hal yang tidak benar? Yang justru malah memberi jawaban tidak benar ketika mereka bertanya sesuatu.

Mereka belum tahu apakah hal ini dan itu benar atau tidak karena mereka pun masih mencari tahu apa maknanya ini dan itu, apa maksudnya begini dan begitu. Mereka belum tahu apakah hal yang ini salah, atau hal yang itu benar. Mereka masih sangat butuh pengarahan dan pengajaran yang baik.

Pada masa-masa ini, kita perlu memberi pengajaran yang terbaik, pengajaran yang jujur. Bayangkan bagaimana ini menjadi amalan tersendiri untuk kita ketika kita adalah orang pertama yang mengajarkan mereka apa arti jujur, arti rendah hati, arti dermawan dan lain sebagainya. Bayangkan ketika kita adalah orang pertama yang mengajarkan huruf hijaiyah pada mereka. Bayangkan ketika kita adalah orang pertama yang mengajarkan apa arti tauhid dan iman pada mereka. Bayangkan ketika kita adalah orang pertama yang membacakan kisah para nabi untuk mereka. Bayangkan ketika kita adalah orang pertama yang mengajarkan mereka tentang doa-doa.

Jadi, apakah kita masih ragu untuk menjadi yang pertama bagi anak-anak kita kelak?

 

Catatan Bdg, 18 Nov 2020 | 20.10