| Foto: 25 Agustus 2019 – Masa KKN di Dusun Kembaran, Magelang, Jawa tengah. |
Hari ini aku bertemu Rasya
dan Reynald untuk mengajar mereka. Rasya terlihat begitu banyak bicara walau ia
masih duduk di bangku TK, sementara Reynald yang sudah duduk di bangku SD kelas
satu terlihat aktif namun gugup ketika berbicara.
Bertemu anak-anak selalu
menyenangkan. Rasanya hidup menjadi lebih hidup ketika mendengar suara
anak-anak menggema di penjuru ruangan. Namun, sisi menarik lainnya adalah
anak-anak selalu membawa pelajaran baru bagi orang-orang dewasa yang masih
belajar bagaimana menjadi dewasa itu.
Ada saat dimana ketika
Rasya bertanya padaku dengan tiba-tiba.
"Kak, kalau sombong tuh
kayak gini bukan, 'eh eh aku punya sepeda bagus lho' itu sombong ya?"
Aku menjawab dengan caraku
sembari bertanya balik,
"Jadi sombong itu boleh
nggak?"
"Nggak."
Pinter!
Aku juga menjelaskan lawan
kata dari sombong itu apa dan bagaimana, agar ia lebih memahami sifat mana
kiranya yang baik untuk dimiliki.
Aku juga menambah
pertanyaanku padanya karena penasaran.
"Kenapa nanya itu,
Rasya?"
Rasya pun menjawab,
"Iya, soalnya aku belum
tahu sombong itu apa dan kayak gimana."
JLEB. Dari sini aku sadar
betapa pentingnya peran seorang Ibu (yang baik dan punya pemahaman yang cukup)
untuk menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya.
Anak-anak ini nampak polos
dan banyak belum memahami sesuatu.
Bayangkan jika mereka
tinggal di lingkungan yang mengajarkan hal-hal yang tidak benar? Yang justru
malah memberi jawaban tidak benar ketika mereka bertanya sesuatu.
Mereka belum tahu apakah
hal ini dan itu benar atau tidak karena mereka pun masih mencari tahu apa
maknanya ini dan itu, apa maksudnya begini dan begitu. Mereka belum tahu apakah
hal yang ini salah, atau hal yang itu benar. Mereka masih sangat butuh
pengarahan dan pengajaran yang baik.
Pada masa-masa ini, kita
perlu memberi pengajaran yang terbaik, pengajaran yang jujur. Bayangkan
bagaimana ini menjadi amalan tersendiri untuk kita ketika kita adalah orang
pertama yang mengajarkan mereka apa arti jujur, arti rendah hati, arti dermawan
dan lain sebagainya. Bayangkan ketika kita adalah orang pertama yang
mengajarkan huruf hijaiyah pada mereka. Bayangkan ketika kita adalah orang
pertama yang mengajarkan apa arti tauhid dan iman pada mereka. Bayangkan ketika
kita adalah orang pertama yang membacakan kisah para nabi untuk mereka. Bayangkan
ketika kita adalah orang pertama yang mengajarkan mereka tentang doa-doa.
Jadi, apakah kita masih
ragu untuk menjadi yang pertama bagi anak-anak kita kelak?
Catatan Bdg, 18 Nov 2020 |
20.10