22/01/14
11/01/14
3 Hati [Chapter 2]
Studio Foto, Pukul 17.15
Lucky
mulai membereskan studio fotonya. Studio itu bukan miliknya seorang diri,
tetapi ia membangunkannya bersama dengan 3 orang temannya yang lain. Ia
menghela nafas sejenak. Lagi-lagi teringat pada gadis itu. Gadis itu selalu
berhasil menyelinap ke dalam pikirannya, lalu merusak semua konsentrasi yang
dimilikinya.
Sudah
seminggu Maudy tak membalas pesan singkatnya. Begitu gelisahnya Lucky
sampai-sampai ia berniat untuk menemui gadis itu. Lucky tak pernah putus asa,
ia tetap mengirimkan pesan singkat-pesan singkat yang manis dan hangat kepada
gadis itu. Berkali-kali pula ia menelepon gadis itu, tetapi berkali-kali pula
nomornya tak aktif. Lucky gelisah bukan main, ada apa dengan gadis itu?
Terakhir mereka membuka conservation, mereka baik-baik saja.
Sampai
suatu ketika Lucky mengetahui penyebabnya. Ponsel milik gadis itu hilang. Tentu
saja hal itu membuat gadis itu tak mengetahui keberadaan pesan-pesan singkat
yang selalu Lucky kirim untuknya.
Meskipun
begitu, Lucky tak pernah berhenti mengirimi Maudy pesan singkat, meski ia tahu
ia tak akan mungkin mendapatkan balasan. Maudy tak membalas cintanya, dan kini
Maudy tak akan pernah lagi membalas pesan singkatnya. Pagi, siang, malam, ia
rutin mengirimi gadis itu pesan.
“Selamat pagi, Maudy..”
“Jangan lupa sarapan ya..”
“Selamat siang, Maudy..”
“Semoga hari ini menyenangkan
ya..”
“Selamat malam, Maudy..”
“Tidur yang nyenyak ya, sampai
ketemu besok..”
“Maudy, sebenarnya..”
“Maudy, ini pulsa terakhir,
jadi maaf kalau besok aku enggak bisa ngirim SMS..”
Lucky seperti tak waras. Bukan hanya sekedar mengatakan itu semua,
Lucky juga mencurahkan segala perasaannya lewat pesan singkat itu dengan amat
berani, karena ia tahu Maudy tak akan pernah menemukan pesan-pesannya apa lagi membacanya. Tak akan pernah. Lucky mengatakan
bagaimana menyesalnya ia dulu pernah meninggalkan Maudy, ia tak mengerti
bagaimana bisa dulu ia lebih memilih yang lain, sementara dulu Maudy begitu
mencintai dan mempercayainya. Bagaimana mungkin ia menukar itu semua dengan memilih
gadis yang lain. Ia tahu, penyesalannya amat terlambat. Semuanya sudah lama
sekali. Perasaan Maudy untuknya mungkin benar-benar sudah terkubur.
Langganan:
Postingan (Atom)