Sumber gambar: http://news.unair.ac.id
Ingin berkata-kata amarah ke mas-mas penjual martabak yang
mendahulukan pesanan orang lain karena ketika saya memesan saya bilang, “saya
tinggal dulu bentar ya, Mas.” Pasalnya bukan karena didahulukan pesanan orang
lain, tetapi karena dialog setelah itu.
“Mas, pesanan saya mana?”
“Bentar, ya, hampir jadi.”
Saya heran, hampir setengah jam saya tinggal, kok belum jadi? Rupanya
dia mendahulukan pesanan orang lain. Jadilah saya menunggu sambil berdiri, diam
saja karena memang sendirian, untung bawa ponsel, pura-pura chattingan padahal tidak
ada yang nge-chat. Akhirnya serah terima martabak pun terjadi, tiba-tiba masnya
bilang,
“Mbak ngambek, ya?”
“Enggak, Mas.”
“Kok dari tadi diam saja?”
“Saya emang pendiam mas.” kataku dengan kalem. Lagian saya datang
cuma sendirian, Ya kali saya ngomong sendiri.
“Mbaknya yang dulu pernah beli ke sini juga terus bilang kuah
martabaknya kurang, kan?”
Sial, Masnya ingat saja. Yang awalnya saya pasang muka datar, jadi
senyum-senyum.
“Kok, masih ingat sih, Mas? Saya saja sudah lupa.”
“Coba sini, mana nomor WA-nya.”
Saat itulah perasaan ilfeel berkecamuk dan muka saya kembali datar.
Kenapa ya saya sensitif banget dengan laki-laki yang dengan begitu mudahnya
minta nomor WA seorang perempuan yang sebenarnya ia tidak punya urusan apapun
dengan perempuan itu? Jengkel juga waktu dia nanya Mbak ngambek, ya? Pertanyaannya itu menurut saya terlalu pribadi,
dan saya pikir dia tidak perlu tahu suasana hati saya saat itu sedang seperti
apa, toh kalau saya sedang galau juga apa urusannya dengan anda, hei!
Cepat-cepat saya bayar martabak saya dan pura-pura budek waktu dia
menanyakan nomor WA. Gelinya lagi matanya tetap tertuju pada saya, mulai dari
saya pakai helm, naik di motor, mungkin juga sampai saya hilang di belokan
gang. Sungguh, tidak semudah itu Ferguso!
Saya tidak bisa membayangkan dengan hari-harinya sahabat saya yang
dikaruniai wajah cantik luarbiasa. Jangankan antre beli martabak, cuma lagi
antre untuk ambil uang di ATM saja, ada saja yang ngajak kenalan dan minta nomornya.
Saya cuma geleng-geleng kepala saja melihat semua itu dari kejauhan, si pria
itu kira tidak ada yang memperhatikan tingkahnya itu apa, hah! Si pria itu
jingkrak-jingkrak kesenangan, beberapa kali meninju bahu sobatnya karena
berhasil mengajak teman saya kenalan. Dari atas motor, saya cuma membatin ‘Oh gitu toh reaksinya cowok kalau
kesenangan nemu cewek cantik di jalan.’
Mungkin orang lain boleh berbeda pandangan dengan saya, cuma menurut
saya agak aneh dan kurang elegant
saja cara orang-orang yang jatuh cinta di jalan. Namanya juga jatuh cinta,
emang kadang aneh! Pernah juga baca suatu kisah sepasang suami istri yang
menikah, berawal dari sang suami yang jatuh cinta saat melihat wajah sang istri
di spion motor sewaktu mereka lewat jalan yang sama, lalu pria itu mengikuti si
wanita sampai rumahnya dan bertekad suatu hari akan datang ke rumah itu lagi
untuk melamar. Sebatas itu saja sih kisahnya. Pesan dari saya, jatuh cintalah
dengan cara yang terhormat! Bagaimana caranya? Dengan kamu menghargai dan
menghormati orang yang kamu cintai itu! Jangan membuatnya tidak nyaman apa lagi
sampai ia merasa harga dirinya tidak dihormati dengan perbuatanmu yang tidak
baik kepadanya.
Beda cerita lagi waktu saya menahan emosi ketika lewat di pertigaan
di daerah dekat Stadion Maguwoharjo. Kala itu di pertigaan ada sepetak tanah
yang hendak dibangun, di sana ada tiga orang bapak-bapak dan seorang mas-mas,
mereka dengan penuh semangat menata bebatuan besar di sana, begitulah saya
melihat mereka dari kejauhan. Lalu, tepat saat mas-mas ini didukung oleh ketiga
bapak-bapak ini, ia melempar batu besar ke arah selokan dekat sepetak tanah
itu, tepat saat itu saya lewat, dan byur!!
Saya kecipratan air dari selokan itu karena lemparan batu yang besar dari
mas-mas itu. Keempat pria itu speechless,
tiba-tiba suasana mendadak freezing,
mata saya yang memang garang ini mendadak terlihat sangat garang. Waktu itu
saya pakai masker jadi mereka hanya bisa melihat mimik wajah saya dari tatapan mata
saya. Sejenak seperti ingin memaki dalam hati, tetapi kemudian memutuskan untuk
diam saja dan melupakan kejadian tersebut. Firasat saya mengatakan orang-orang
tadi sepertinya merasa bersalah, tetapi mau dikata apa lagi saya tidak
mempermasalahkan dan melanjutkan perjalanan saya. Toh tidak ada gunanya memaki
dalam hati pada mereka, dan lagi pula hanya air selokan yang cipratannya tidak
seberapa meskipun memang kotor.
Esok harinya, saya kembali melewati jalan tersebut. Dan mas-mas itu
kembali melihat ke arah saya, sepertinya dia masih ingat soal ‘masalah’
kemaren, sepertinya dia hafal motor dan helm yang saya gunakan. Asli deh, waktu
itu kasihan lihat tatapan matanya yang seperti sangat merasa bersalah. Padahal
dalam hati saya mengatakan tidak apa-apa
kok, Mas, kan tidak sengaja.