Tampilkan postingan dengan label #Buku dan Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Buku dan Film. Tampilkan semua postingan

03/04/20

#AprilProduktifDay3 : "The Simple Guide to a Minimalist Life" by Leo Babauta



Kali ini saya ingin berbagi sedikit review buku The Simple Guide to a Minimalist Life karya Leo Babauta. Oleh karena buku ini tipis, hanya berhalaman 158 dan karena saya juga belum selesai membacanya (hahaha) serta saya baru menuliskan review ini pada pukul delapan malam ini (hahaha), maka review kali ini hanya singkat saja.

Jika buku The Life-Changing Magic of Tidying Up kaya Marie Kondo lebih menceritakan teknik beberes barang dan penghayatan renungan mengapa kita perlu menyingkirkan barang-barang kita, Leo Babauta dengan bukunya ini memberi panduan lebih dari sekedar beberes barang, tetapi juga bagaimana kita meminimalisir kegiatan dan tugas, guna menghindari hal-hal yang sebenarnya tak berguna dilakukan.

Halaman awal sebelum Leo benar-benar membahas soal panduan hidup minimalis, ia membuat sebuah bab yang amat “menyentil” di bab pertama dengan judul “Sebuah Ironi Kecil”. Ia menuliskan, “Ya, saya tahu, betul-betul ironis betapa sebuah buku yang membahas soal minimalisme memiliki lebih dari satu atau dua halaman. Isi buku tidak minimalis, dan itu kontradiktif, bukan?”

Leo sempat menyinggung soal komitmen dalam bagian awal-awal bukunya itu. Bagaimana di zaman sekarang ini, begitu banyak komitmen yang diupayakan oleh satu orang. Sebagai seseorang yang memiliki cukup banyak komitmen tentang berbagai hal, saya sempat tersinggung. Leo mengatakan bahwa kurangilah komitmen, cukup lakukan dua hal; apa-apa yang penting dan apa-apa yang disukai. Kemudian saya sadar bahwa apa yang dikatakan oleh Leo ada benarnya juga, bukankah memiliki banyak komitmen itu seringkali malah memusingkan diri sendiri?

02/04/19

Review Buku: Seni Bersikap Bodo Amat Karya Mark Manson #2


 Sumber gambar: http://news.unair.ac.id

Mulai masuk pada bab Berhati-hatilah Dengan Apa yang Anda Percayai, buku ini semakin menarik. Dengan maraknya berbagai fenomena yang disuguhkan melalui media informasi dimana siapapun dapat mengakses dan membaca berita tersebut, sayangnya sebagai masyarakat awam kita seringkali dibingungkan oleh kebenaran berita-berita tersebut.

“Pada 1988, ketika menjalani terapi, seorang jurnalis dan pengarang berhaluan feminis Meredith Maran mendapati sebuah pengalaman yang mengagetkan: ayahnya pernah melakukan kekerasan seksusal terhadapnya ketika ia masih kecil. Ini sangat mengempas, suatu ingatan yang berusaha ia lupakan sejak beranjak dewasa. Namun, di usia 37 tahun, dia memutuskan untuk menghadapi ayahnya, dan juga mengatakan kepada keluarganya apa yang telah terjadi.

Kabar ini membuat seluruh keluarganya ketakutan. Ayahnya langsung menyangkal. Beberapa anggota keluarga memihak Meredith. Yang lain memihak ayahnya. Pohon keluarganya terbelah menjadi dua. Dan luka yang mengempas hubungan Meredith dengan ayahnya telah berlangsung lama sebelum pengakuan tersebut, kini telah menyebar seperti jamur yag menyerang cabang-cabang pohon itu. Kabar itu telah menyayat hati semua orang.

Lalu pada 1996, Meredith menyadari sesuatu yang tidak kalah mengagetkan: ayahnya tidak pernah melecehkannya secara seksual! Dia, dengan bantuan seorang terapis, sebenarnya menciptakan sendiri memori tersebut. Dipenuhi dengan rasa bersalah, dia menghabiskan sisa waktu selagi ayahnya hidup untuk mencoba berdamai dengannya dan anggota keluarga lain lewat permintaan maaf dan penjelasan yang disampaikan berulang-ulang. Namun, itu semua terlambat. Ayahnya meninggal dunia dan keluarganya tidak akan pernah menjadi sama lagi.”

Kisah ini sangat menyedihkan bagi saya. Hal ini kemudian mengait pada persoalan kepercayaan saya terhadap berita pelecehan seksual yang sering mencuat beberapa bulan terakhir ini. Pada awalnya, semua artikel menyoal perempuan yang dilecehkan oleh atasannya, temannya, kekasihnya dan lain sebagainya sampai pada suatu kali menemukan sebuah akun anonim yang menceritakan kisah pilunya. Ia mengaku sabagai seorang pria yang keperjakaannya hilang direnggut sekelompok wanita yang lebih tua darinya, ia ingin menegaskan bahwa pelecehan seksual bukan hanya bisa terjadi pada perempuan, tetapi laki-laki juga bisa terkena pelecehan seksual. Sayangnya, menurutnya, bila hal itu dilaporkannya, hal ini hanya akan menjadi bahan cemoohan.

Kembali ke soal wanita yang merasa dilecehkan lalu melaporkan kasus mereka, semisal si pria tidak bersalah, bagaimana perasaan istri dan anak-anaknya di rumah saat melihat isu dan fitnah menghampiri suami dan bapak mereka? Toh jika terbukti akan menjadi luka tersendiri dalam perasaan keluarga tersebut, bagaimana kasus tersebut mampu merusak psikologis keluarga tersebut. Perempuan dilibatkan dalam “peran” dalam cara-cara untuk menjatuhkan seseorang dari jabatannya merupakan “lagu lama” yang dimana keberadaannya dalam kasus dikaitkan sebagai teman perempuan, simpanan, selingkuhan dan menjadi bahan untuk membangun fitnah di sana-sini. Media dan publik mungkin bisa menilai semaunya, tetapi orang-orang terdekat tersangka tidak akan percaya hal itu. Di mata keluarga dan kerabat, bapak dan suami mereka adalah korban dari keserakahan pihak lain, dari hukum yang berjalan tak memihak mereka, dari orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk membalas dendam atau memberi peringatan pada yang ingin bertindak adil dan ingin membuktikan kebenaran. Jangan dikira mereka yang dijebloskan ke penjara adalah orang yang bersalah, bahkan mereka juga sudah mengetahui siapa dalang-dalang yang membuat mereka jatuh ke penjara pada jauh-jauh hari sebelum mereka dijebloskan. Untuk kasus yang satu ini pernah saya tulis tetapi batal saya publikasikan karena satu dan lain hal, sebab menulis rupanya butuh keberanian yang tidak setengah-setengah.

Kisah Meredith sebelumnya, membuat saya menutup mata untuk percaya begitu saja pada pemberitaan. Bukannya saya tidak membela kaum saya sendiri, tetapi selalu saja ada perasaan muak tersendiri yang saya rasakan, terlebih lagi saya sebagai masyarakat awam yang tidak pandai menilai apakah suatu berita benar atau tidak inilah yang membuat saya akhirnya memilih berada di jalur netral setelah lelah membaca berita dan mendengar seluruh klarifikasi atas berita yang telah saya percayai sebelumnya.

Review Buku: Seni Bersikap Bodo Amat Karya Mark Manson #1

 Sumber gambar: http://news.unair.ac.id


Ingin berkata-kata amarah ke mas-mas penjual martabak yang mendahulukan pesanan orang lain karena ketika saya memesan saya bilang, “saya tinggal dulu bentar ya, Mas.” Pasalnya bukan karena didahulukan pesanan orang lain, tetapi karena dialog setelah itu.

“Mas, pesanan saya mana?”
“Bentar, ya, hampir jadi.”

Saya heran, hampir setengah jam saya tinggal, kok belum jadi? Rupanya dia mendahulukan pesanan orang lain. Jadilah saya menunggu sambil berdiri, diam saja karena memang sendirian, untung bawa ponsel, pura-pura chattingan padahal tidak ada yang nge-chat. Akhirnya serah terima martabak pun terjadi, tiba-tiba masnya bilang,

“Mbak ngambek, ya?”
“Enggak, Mas.”
“Kok dari tadi diam saja?”
“Saya emang pendiam mas.” kataku dengan kalem. Lagian saya datang cuma sendirian, Ya kali saya ngomong sendiri.
“Mbaknya yang dulu pernah beli ke sini juga terus bilang kuah martabaknya kurang, kan?”
Sial, Masnya ingat saja. Yang awalnya saya pasang muka datar, jadi senyum-senyum.
“Kok, masih ingat sih, Mas? Saya saja sudah lupa.”
“Coba sini, mana nomor WA-nya.”

Saat itulah perasaan ilfeel berkecamuk dan muka saya kembali datar. Kenapa ya saya sensitif banget dengan laki-laki yang dengan begitu mudahnya minta nomor WA seorang perempuan yang sebenarnya ia tidak punya urusan apapun dengan perempuan itu? Jengkel juga waktu dia nanya Mbak ngambek, ya? Pertanyaannya itu menurut saya terlalu pribadi, dan saya pikir dia tidak perlu tahu suasana hati saya saat itu sedang seperti apa, toh kalau saya sedang galau juga apa urusannya dengan anda, hei!

Cepat-cepat saya bayar martabak saya dan pura-pura budek waktu dia menanyakan nomor WA. Gelinya lagi matanya tetap tertuju pada saya, mulai dari saya pakai helm, naik di motor, mungkin juga sampai saya hilang di belokan gang. Sungguh, tidak semudah itu Ferguso!

Saya tidak bisa membayangkan dengan hari-harinya sahabat saya yang dikaruniai wajah cantik luarbiasa. Jangankan antre beli martabak, cuma lagi antre untuk ambil uang di ATM saja, ada saja yang ngajak kenalan dan minta nomornya. Saya cuma geleng-geleng kepala saja melihat semua itu dari kejauhan, si pria itu kira tidak ada yang memperhatikan tingkahnya itu apa, hah! Si pria itu jingkrak-jingkrak kesenangan, beberapa kali meninju bahu sobatnya karena berhasil mengajak teman saya kenalan. Dari atas motor, saya cuma membatin ‘Oh gitu toh reaksinya cowok kalau kesenangan nemu cewek cantik di jalan.’

Mungkin orang lain boleh berbeda pandangan dengan saya, cuma menurut saya agak aneh dan kurang elegant saja cara orang-orang yang jatuh cinta di jalan. Namanya juga jatuh cinta, emang kadang aneh! Pernah juga baca suatu kisah sepasang suami istri yang menikah, berawal dari sang suami yang jatuh cinta saat melihat wajah sang istri di spion motor sewaktu mereka lewat jalan yang sama, lalu pria itu mengikuti si wanita sampai rumahnya dan bertekad suatu hari akan datang ke rumah itu lagi untuk melamar. Sebatas itu saja sih kisahnya. Pesan dari saya, jatuh cintalah dengan cara yang terhormat! Bagaimana caranya? Dengan kamu menghargai dan menghormati orang yang kamu cintai itu! Jangan membuatnya tidak nyaman apa lagi sampai ia merasa harga dirinya tidak dihormati dengan perbuatanmu yang tidak baik kepadanya.

Beda cerita lagi waktu saya menahan emosi ketika lewat di pertigaan di daerah dekat Stadion Maguwoharjo. Kala itu di pertigaan ada sepetak tanah yang hendak dibangun, di sana ada tiga orang bapak-bapak dan seorang mas-mas, mereka dengan penuh semangat menata bebatuan besar di sana, begitulah saya melihat mereka dari kejauhan. Lalu, tepat saat mas-mas ini didukung oleh ketiga bapak-bapak ini, ia melempar batu besar ke arah selokan dekat sepetak tanah itu, tepat saat itu saya lewat, dan byur!! Saya kecipratan air dari selokan itu karena lemparan batu yang besar dari mas-mas itu. Keempat pria itu speechless, tiba-tiba suasana mendadak freezing, mata saya yang memang garang ini mendadak terlihat sangat garang. Waktu itu saya pakai masker jadi mereka hanya bisa melihat mimik wajah saya dari tatapan mata saya. Sejenak seperti ingin memaki dalam hati, tetapi kemudian memutuskan untuk diam saja dan melupakan kejadian tersebut. Firasat saya mengatakan orang-orang tadi sepertinya merasa bersalah, tetapi mau dikata apa lagi saya tidak mempermasalahkan dan melanjutkan perjalanan saya. Toh tidak ada gunanya memaki dalam hati pada mereka, dan lagi pula hanya air selokan yang cipratannya tidak seberapa meskipun memang kotor.

Esok harinya, saya kembali melewati jalan tersebut. Dan mas-mas itu kembali melihat ke arah saya, sepertinya dia masih ingat soal ‘masalah’ kemaren, sepertinya dia hafal motor dan helm yang saya gunakan. Asli deh, waktu itu kasihan lihat tatapan matanya yang seperti sangat merasa bersalah. Padahal dalam hati saya mengatakan tidak apa-apa kok, Mas, kan tidak sengaja.

02/01/19

Yang Tak Terbayangkan



“Terkadang orang yang tak terbayangkan adalah orang yang mampu melakukan hal yang tak terbayangkan.” – The Immitation Game

21/10/18

Cinta; Motivator Lebih Hebat



“Kau tidak membunuh empat orang hanya karena kau benci.
Kebencian itu melemahkan.
Cinta adalah motivator yang jauh lebih hebat.”
 – Sherlock Holmes


08/10/18

Apa yang Mau Kita Bilang Nanti di Hadapan-Nya?


Melalui cerita seorang Ustadz yang tempo hari kami bersilaturrahmi ke rumahnya, ia bercerita soal kunjungannya ke suatu rumah tahanan kelas satu di daerah Jawa Barat, yang dimana para tahanannya adalah para koruptor, elite, dan sebangsanya. Ditahan pula di sana seorang Ustadz yang terseret suatu kasus yang menjebaknya hingga ia ditahan di rumah tahanan tersebut.

“Ustadz, apa perlu kita bertindak juga terhadap orang yang telah sengaja menjebloskan Ustadz ke dalam penjara? Apa perlu kita menyeretnya juga?”  tanya seseorang pada Ustadz yang ditahan tersebut.

“Tidak perlu. Biar Allah saja yang membalasnya. Biar Allah yang buka aib-aibnya nanti pada hari kiamat.”

Orang yang menawarkan upaya tersebut juga bukan sembarangan orang. Beliau adalah orang yang memiliki “power” untuk menjebloskan orang-orang ke dalam penjara juga, apa lagi orang-orang yang telah memfitnah temannya sendiri. Beliau tahu siapa yang telah memfitnah dan menjebloskan Ustadz tersebut ke dalam penjara. Netizen tidak perlu risau atau bermain tebak-tebakan sendiri, para elite dengan segala kasusnya, mereka sendiri pun sudah mengetahui siapa yang membenci mereka, siapa nama-nama di balik kasus yang menyeret mereka ke penjara, siapa dalang dan kekuasaan siapa yang mampu melakukan itu semua, bahkan alasan-alasannya tentu saja mereka lebih paham dibandingkan kita-kita ini masyarakat yang hanya mampu melihat lewat kacamata media dan publik.

Mungkin kita geram, kita marah, dan lain sebagainya, tetapi rupanya begitu banyak hikmah di balik setiap kasus yang menerjang, kita saja yang tidak tahu dan tidak mengerti, mungkin lain kali akan saya ceritakan hikmah keberadaan Sang Ustadz di dalam jeruji kelas satu tersebut.

Ada banyak manusia yang justru saat ia terseret ke suatu kasus, hal itu dijadikannya sebagai awal mula yang baru, dijadikannya sebagai titik balik dalam hidupnya, dijadikannya sebagai jalan kembali menuju Tuhannya, lantas bagaimana mampunya orang-orang yang hidupnya lebih tenteram, lebih bahagia dari orang lain? Bukankah sepatutnya ia lebih mampu untuk berusaha lebih baik dalam hidupnya, dalam segala halnya, meski bila ada setitik kekecewaan, sadarilah kembali ada jalan yang Tuhan ciptakan yang tak kita ketahui ke depannya, jalan yang membawa kita pada apa yang mungkin selama ini kita cari, kita butuhkan, atau hal-hal yang kita pikir mustahil untuk bisa terjadi dalam hidup kita.

Teringat pula pada sebuah dialog dalam film Munafik 2. Dalam film ini, seorang ibu membunuh banyak orang secara membabi buta di depan putrinya demi menyelamatkan sang putri, namun respon sang putri tatkala melihat tindakan ibunya sungguh membuat hati terenyuh.

18/07/18

Keajaiban Perjalanan 6 Buku Favorit!


Fihi Ma Fihi

Sebuah buku tentang filsafat agama yang saya temui ketika saya pergi keluar kota untuk menikmati weekend bersama dokter kesayangan saya. Rencana keluar kota saat itu hampir-hampir gagal karena saya tidak berhasil menghubungi saudara saya yang saya pikir rumahnya bisa saya tinggali semalam saja. Sebelum weekend tiba, pada hari kamisnya saya tengah chat dengan sahabat saya. Kami baru saja berkenalan ketika saya tiba di Jogjakarta, tetapi saya merasa seperti sudah bersahabat lama dengannya. Meski ia hanya satu tahun di Jogja, banyak waktu yang telah kami habiskan bersama-sama, perjuangan keras untuk belajar demi masuk PTN kala itu.

Waktu chat kala itu saya benar-benar lupa rumahnya dimana. Tiba pada pertanyaan saya bertanya dia ada dimana sekarang, dia menjawab bahwa dia ada di rumahnya. Saya kembali bertanya dengan sangat bodohnya karena lupa rumahnya dimana, usai dia menjawab kota tempat tinggalnya, saya merasa ia adalah jawaban untuk keraguan saya untuk berakhir pekan di luar kota. Luar biasanya memang keluarganya sangat menyambut kami, bersama kedua orangtuanya, ia menjemput kami di pinggir jalan selepas kami turun dari bus, mengajak siang bersama, bahkan kedua orangtuanya berbaik hati mengantarkan kami kemanapun tempat wisata yang kami inginkan hingga larut malam.

Tiba saatnya kami beristirahat, tidur bertiga dalam kamar anak perempuan yang saya kenal sebagai sosok yang cuek, simple, easy going, tak banyak bicara, tidak moody, keren pokoknya! Di atas meja belajarnya kala itu, saya melihat buku berjudul Fihi Ma Fihi, buku itu pasti yang sedang dibacanya saat ini! Dan memang benar saja. Bacaan yang dibaca oleh sahabat saya ini memang selalu tidak bisa tertebak. Ia selalu membaca buku-buku yang berat, tidak biasa, tapi tentunya buku yang keren. Kebanyakan bacaannya adalah tulisan-tulisan penulis luar. Hampir-hampir setiap buku di tangannya adalah asing di mata saya. Kala itu Fihi Ma Fihi menarik saya untuk membacanya. Buku seorang filsuf, tentu tentang ketuhanan, sebuah buku karya Jalaluddin Rumi yang namanya sangat fenomenal. Buku ini sekaligus menjadi awal ketertarikan saya terhadap buku-buku berbau ketuhanan lainnya.

Kalau diantara pembaca ada yang tertarik, carilah buku Fihi Ma Fihi dengan cover putih, bukan hitam. Saya tidak tahu pasti apakah isinya berbeda, tetapi font dan peletakkan tulisan serta konsep buku bahkan kertas yang digunakan jauh berbeda dengan cover yang versi berwarna putih. Carilah buku yang bercover putih karena menurut saya buku tersebut lebih nyaman untuk dibaca. Jangan tertukar, sebab pada cover tidak saya temui pembeda diantara kedua buku tersebut.


Rectoverso

Rectoverso karangan Dee Lestari masuk ke dalam list buku favorit saya sejak dulu! Rectoverso memiliki konsep buku yang berbeda dengan kebanyakan buku lainnya. Covernya yang hardcover, font huruf yang tak biasa, disisipi gambar-gambar sunyi berwarna di setiap babnya dengan menghadirkan 11 cerita pendek sederhana yang menyentuh hati. Setiap ceritanya memiliki inspirasi yang berbeda-beda, tetapi selalu tentang hal yang sederhana. Buku ini juga berhasil difilmkan padahal setiap babnya memiiki cerita yang berbeda-beda. Karena saya sudah selesai membacanya atas pinjaman buku seorang teman, saya tidak bermaksud untuk membelinya meski saya jatuh hati pada buku yang satu ini.

Suatu hari saya datang ke sebuah acara amal. Di sana dibuka garage sale yang menjual berbagai macam buku-buku yang masih sangat bagus-bagus. Saya menemukan Rectoverso diantara buku-buku itu. Ah, sayang sekali, buku sebagus itu ditelantarkan di sana. Saya mengambilnya dan langsung membayarnya. Kini, buku itu ada di rak buku saya bersama dengan buku-buku kesayangan saya lainnya.

Terkadang, kita mampu untuk menahan untuk tak memiliki. Namun, ada kalanya waktu-waktu dimana kita bertemu dengannya lagi dan diberi kesempatan untuk bersamanya. Mungkin juga untuk selamanya.


Reclaim Your Heart

Buku yang satu ini pertama kali saya menemukannya saat tengah blogwalking ke blog seorang penulis yang cukup ternama di kalangan kami sendiri. Namun, saya menemukannya pada postingan-postingan lamanya, lama sekali. Saat itu ia bahkan menyisipkan link untuk mendownload versi PDF nya, rupanya berbahasa inggris, dan itu membuat saya cukup lama untuk membacanya terlebih saya tidak menyukai berlama-lama menatap layar gadget. Entah kenapa, kata hati bilang bahwa buku ini bagus karena juga direkomendasikan oleh seorang penulis yang bagus.

Lalu, lagi-lagi penulis lainnya merekomendasikan buku yang sama. Maka isenglah saya ke toko buku di dekat sini mencari buku tersebut. Di toko buku pertama bukunya telah habis, pada toko buku kedua, terkejutlah saya karena di sana masih ada hampir sepuluh buku. Saya tidak menyesal untuk buku yang satu ini. Tulisannya mencerahkan orang-orang yang mau membuka pikirannya untuk menerima wawasan-mencerahkan tentang cinta, duka, dan bahagia. Misal, mengapa orang-orang harus saling meninggalkan?


The Life-Changing, Magic of Tidying Up

Buku ini adalah buku yang direkomendasikan oleh ibu saya saat saya mengeluhkan bahwa betapa banyaknya barang saya dan betapa sulitnya saya untuk melepaskannya. Buku ini adalah buku karya Marie Kondo tentang seni dalam beres-beres. Unik, ya? Rupanya beres-beres pun ada seninya, ada tekniknya, ada cara yang jitu yang memudahkan kita dalam membereskan barang-barang di rumah kita.