Tampilkan postingan dengan label Cerita Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Kita. Tampilkan semua postingan

30/12/22

08:11

Ia telah berpamitan sejak tadi, meninggalkan sisa sedikit teh hangat di gelasnya, juga pekat kecap di piringnya, juga basah kecup ungkapan terima kasih, juga pelukan yang bisa bersuara 'hati-hati di rumah'.

Tinggal perempuan itu, menata piring-piring kotor sisa sarapan, mendengar bunyi-bunyian mesin ajaib penyulap baju kembali bersih, bisingnya mesin air juga menghuni, belum lagi suara angin sepoi-sepoi yang muncul dari celah-celah mesin ajaib lainnya, tak ada suara manusia, tapi ada suara tangan-tangan yang bekerja.

Di atas ranjang kusut setiap pada pukul delapan pagi lebih sedikit, di sana ia kumpulkan matahari. Ia butuh panas menyala untuk membuat setiap anggota tubuh berdaya, 'nafas yang Tuhan beri tak boleh jadi sia-sia'

Jadi, hendak merapikan mulai dari mana?

 

Bogor, 21 Des '22 | 08.28

Ketika Telah Menggenap

Ternyata ketika sudah punya pasangan jadi berasa normal banget sebagai perempuan pada umumnya yang pengen dikabarin, pengen didengerin, pengen dibantuin.

Dulu, apa-apa dikerjakan sendiri seringnya. Ngeliat orang-orang yang bergantung pada pasangannya rasanya aneh banget, kenapa nuntut untuk selalu dikabarin, nuntut perhatian, dan lain-lain. Ternyata, oh, wajar ya.. (ketawa dalam hati)

Sudah gitu biasanya barengan terus, tiba-tiba ldr jadi kayak adfghjklm aneh banget. Keluar naik motor sendirian aja bisa bikin melow. Super aneh. Padahal dulu naik motor keluar kota sendirian juga biasa ajaaaa.

Hampir seharian nggak dikabarin masa ngerasanya kayak dilupain hahahahaha aneh banget. Itulah bun sebagai manusia harus punya kesibukan biar nggak suka meratapi nasib.

Tapi di balik perasaan-perasaan seperti ini, ada rasa syukur yang begitu besar karena bisa merasakan hal ini, perasaan ini; perasaan ingin bertemu yang berkecamuk, perasaan resah karena tak kunjung dikabari, perasaan sepi seperti menghadapi dunia hanya seorang diri. Sekaligus tersisipi sebuah pelajaran bagaimana menghargai kebersamaan, memahami keadaan bahwa dalam hidup kadang ada jarak-jarak yang tercipta demi kebaikan bersama, memahami bahwa pentingnya memahami keadaan satu sama lain, saling pengertian, saling berlomba memberi perhatian di tengah kesibukan.

Es Krim di Hari Tua

Beberapa hari yang lalu aku memasuki sebuah minimarket dekat tempat tinggalku. Menyusuri rak demi rak. Mencari apa yang kubutuhkan. Di sana aku berpapasan dengan seorang nenek. Tangannya sibuk memilih-milih es krim dalam lemari pendingin.

"Hmm nenek yang baik hati. Pasti hendak membelikan es krim sebagai oleh-oleh untuk cucunya di rumah!" Seruku dalam hati.

Aku masih mengelilingi satu-persatu rak. Sementara, nenek tersebut sudah tak terlihat lagi. Usai menemukan barang yang kucari, aku lekas membawanya ke kasir.

Langkahku baru saja tiba di hadapan suamiku yang menungguku di halaman minimarket, sepersekian detik aku terkesima. Bukan karena melihat suamiku, ececeh.. tapi ada sebuah pemandangan yang teramat manis disaksikan oleh kedua mataku.

"Kak, nengok belakang deh!" Suruhku padanya.

"Apa?" Suamiku menengok ke belakang.

Rupanya dugaanku tadi keliru. Es krim itu bukan untuk cucunya! Melainkan untuk diri nenek itu sendiri dan suaminya, seorang kakek yang telah menunggunya di dalam mobil jeep mereka.

Di halaman minimarket itu, tepatnya di dalam sebuah mobil jeep, di bawah gerimis siang hari, sepasang kakek dan nenek yang terlihat sudah sangat tua namun masih kuat tersebut tengah bersama menyantap es krim di tangan mereka. Hanya berdua saja. Aaaaaah manis sekali!!

Aku beralih memandangi suamiku seraya membatin, "Apakah usia kita bisa sama-sama akan sepanjang usia mereka? Lalu di hari tua nanti menikmati es krim di dalam mobil di bawah gerimis kota?"

Akan selalu ada banyak semoga yang kupinta pada-Nya untuk kita, Kak.

 

Yk, 11 Jun '22 | 19.02

Menyambut Takdir Terbaik

Pernikahan adalah sebuah momen yang amat sakral—menjadi salah satu dari tiga perjanjian dahsyat yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Mengapa demikian? Karena pernikahan merupakan perjanjian Allah dengan manusia. Dengan demikian, sepatutnya kita tidak menyepelekan pernikahan ini.

Banyak dari kita, termasuk mungkin saya sendiri, yang seringkali terpukau dengan apa-apa yang ditampilkan dalam pernak-pernik pernikahan seseorang. Khususnya era kini, postingan momen-momen tersebut sangat mudah ditemukan di laman sosmed kita.

Di balik penilaian kita soal pernak-pernik acara pernikahan seseorang, pernahkah kita memaknai lebih dalam, melihat dari sisi lain, tentang perjuangan di belakangnya?

Barangkali bagi sebagian pasangan, dekorasi dan segala tetek-bengeknya tidak begitu penting karena bagi mereka perjuangan hingga bisa memperoleh restu orang tua adalah yang terpenting. Juga, perjuangan-perjuangan lainnya seperti menyangkut materi, kemapanan, dan lain-lain.

Boleh jadi mereka memiliki wedding dream sendiri, tetapi saat waktunya tiba ada ujian-ujian tertentu yang membuat mereka melupakan hal itu dan hanya fokus pada bagaimana caranya agar mereka "sah".

Boleh jadi kita tidak tahu bahwa di balik sebuah akad yang khidmat, ada perjuangan yang begitu berat.

Memaafkan Diri

Source: Tumblr


Setelah beberapa bulan berjalan dalam rumah baru, rumah yang awalnya begitu asing, rumah yang tidak terpikirkan sekalipun, yang pada akhirnya menjadi tempat pulang untuk waktu-waktu sekarang ini.

Ada banyak hal yang terjadi. Ada banyak percakapan yang tercipta. Ada berbagai keresahan yang menenangkan, sebab tahu bahwa semuanya akan dipikirkan bersama-sama.

Satu pelajaran yang telah kupetik dari perjalanan rumah tangga yang baru sangat sebentar ini ialah; betapa pentingnya memaafkan diri sendiri, berdamai dengan diri sendiri, sebelum suatu hari nanti hidup bersama dengan seseorang yang dimana membuat kita terus berupaya merawat perasaan padanya, memaafkan setiap kesalahannya, menerima apa-apa yang masih berproses menuju baik dalam dirinya.

Dahulu, seringkali membaca catatan yang nadanya selalu berulang; "Sembuhkanlah terlebih dahulu lukamu, sebelum kau membersamai seseorang baru yang datang ke dalam hidupmu.." Kini, sedikit memahami bahwa luka mungkin tidak selalu berarti disebabkan orang lain, tetapi juga luka-luka akibat kebodohan diri sendiri.

Maafkanlah diri kita dengan maaf yang baik. Maaf yang membawa diri pada kebaikan yang bertumbuh, bukan maaf yang mewajarkan dan membiasakan setiap salah.

Maafkanlah diri kita sebelum bertemu seseorang yang nantinya dengannya kita juga perlu berupaya untuk memaafkan salahnya. Bagaimana mungkin akan mudah memaafkan yang lain, jika kita sendiri masih bersusah payah untuk memaafkan diri sendiri? Bagaimana mungkin ingin bersama dalam merajut sakinah, namun kita sendiri masih sering mengorek luka-luka lama tanpa berusaha sedikitpun menyembuhkannya?

Untuk setiap hati yang baik, di sana hidup upaya untuk merawat kata maaf; untuk merawat cinta dalam rumah dimana tempat kita seharusnya pulang. ❤️


Yogyakarta, 21 Mei 2022 | 13.51

14/07/22

144 Hari

How’s life, Nin?

Akhirnya pulang ke rumah ini lagi. Sedikit jenuh dengan rutinitas, tidak bohong, sebab jenuh adalah hal yang manusiawi. Tetapi pada prinsipnya tetap meletakkan rasa syukur di antara segalanya. Utamanya untuk satu hal yang tak tertandingi; masih bernafas hingga detik ini. Artinya, masih punya banyak kesempatan untuk berbuat baik lagi. Dan kini, bertambah lagi seorang manusia yang ingin selalu saya bahagiakan, yang ingin selalu saya perlakukan dengan baik; seorang laki-laki yang kini keridhaannya menjadi yang utama bagi saya, selain ridha-Nya.

Akhirnya pulang ke rumah ini lagi. Jauh-jauh berkelana mencari kebahagiaan, lupa bahwa dahulu kala pulang ke sini menjadi salah satu yang menenangkan, membahagiakan. Masih diberi kemampuan untuk mengetik kata demi kata, mengetuk hati demi hati, semoga. Mengetuk dengan maksud memberi makna kebaikan yang semoga bisa diwujudkan, bukan membuat jatuh hati para pembaca. Walau pada akhirnya menikahi seorang pembaca, hehe. Tidak menyangka.

 

144 Hari Bersama, Hal-hal Apa yang Menjadi Pelajaran?

Ternyata baru 144 hari.

“Aduh, masih ada 50 tahun lagi. Kalau bosan gimana, ya?!!” tanya saya padanya. Sambil ketawa-ketawa.

“Belum ada setahun, tapi kenapa rasanya kayak sudah lama tinggal bareng kamu..” katanya.

Oleh karena itu, salut betul pada para bapak dan ibu yang berhasil mempertahankan pernikahan hingga berpuluh-puluh tahun. Bukan hal yang mudah, hidup seatap lalu berusaha menyambungkan segala obrolan, sifat, selera, toleransi, ekspektasi, dan lain-lain. Sebenarnya tidak harus menyambungkan segalanya, yang terpenting adalah ruang penerimaan itu dibuka seluas-luasnya, ego itu direndahkan serendah-rendahnya, maaf itu dihadirkan sebanyak-banyaknya.

144 hari pertama yang sangat berarti untuk kami. Hari-hari dimana terus saling belajar; belajar memahami satu sama lain, belajar menerima kekurangan pasangan, belajar merendahkan ego, belajar menghadirkan maaf yang banyak, belajar saling mengucap terima kasih untuk segala halnya, dan juga belajar bersyukur atas rezeki yang Allah berikan, sedikit maupun banyak.

 

Siap Menerima Segala Kritik dan Saran

Akhirnya pulang ke rumah ini lagi. Siang-siang hari, usai memasak semangkuk sayur terong balado dan ayam crispy. Syukur Alhamdulillah kuota dan wifi berlimpah, karenanya bisa memasak sembari melihat resep di channel youtube entah siapa, tidak kenal.

Siang ini mengirim banyak chat padanya, banyak emotnya juga.

“Sebelum kamu menjadi juri atas masakanku, aku akan menjadi juri terlebih dahulu untuk masakanku.”

“Aduh deg-degan..”

“Ntar malam masakanku dikomentarin apa ya.. (emot lesu, emot mulut terbuka lebar, emot mengeluh)

“Jangan sadis-sadis plissss.. (emot nangis yang banyak)

Jadi, dia ini pernah magang sebagai juri di master chef negeri antah berantah. Jadi lagi, setiap kali saya selesai memasak, setiap kali itu pula ruang hati saya meluas, juga kedua telinga saya bersiap untuk menerima segala kritik dan saran darinya. Awal-awal heran kenapa selalu deg-degan, oh yang ini bukan deg-degan karena cinta, tapi deg-degan karena seringnya tidak merasa siap untuk dikomentari. Padahal salah satu risiko pernikahan adalah harus selalu siap untuk dikomentari, lebih tepatnya untuk menerima segala kritik dan saran dalam hal apapun demi menjadi lebih baik, apalagi hal sesepele masakan yang sangat subjektif. Apalagi kita memasak memang untuk dia makan, memang untuk bikin dia senang dengan masakan kita. Dan perasaan bahagia di hati kita juga akan muncul begitu saja, ketika melihat seseorang yang kita sayangi berbahagia atas apa yang telah kita lakukan untuknya. Eciee.

22/04/22

#7 Salah Sangka

 Sedang antri bayar makan di warung soto betawi.

“Mba, bayarnya sendiri-sendiri?”

“Gimana, Mas? Oh nggak, sekalian aja semuanya.” Jawab saya sambil menahan tawa dalam hati.

Setelah itu, saya dan Kak Satriya menuju parkiran sambil kubisiki ia, “Kak, bahkan orang tidak berpikir bahwa kita pacaran. Masa dikiranya kita bayarnya sendiri-sendiri.”

‘Karena kita memang temenan ya, Kak? Teman hidup..’ batin saya sambil tersenyum.

Lalu kami tertawa bersama. Kudekap erat tubuhnya di atas motor.

#6 Emang Dibolehin?

 Percakapan seorang teman dengan ibunya lewat telepon.

“Aku mau mandi, nih.”

“Cie mandi, mau kemana? Ketemu sama siapa?”

“Mau main sama Rili dan Nina.”

“Nina? Emang Nina dibolehin main sama suaminya?”

“Ya bolehlah, emangnya Mama, suka nggak dibolehin sama suaminya Mama..”

Hahahahaha kalau kata Kak Satriya, “Aja-aja ada..”

25/03/22

#5 Perkara Membangunkan


Hari itu Kak Satriya ada pemotretan untuk buku tahunan sekolah. Awalnya mengira akan pulang siang, ternyata sore hari baru pulang.

“Kamu udah makan siang, belum? Sabar ya, nanti aku pulang bawa makanan.” Ujarnya lewat pesan WhatsApp. Siang itu saya menunggunya sambil nyemil, tetapi ternyata sore hari ia baru tiba dengan sekotak makanan berisi ayam bakar. Lezat.

Malam harinya tentu saja saya masih kenyang karena baru selesai makan sore tadi. Rencananya juga malam ini ia akan meeting sehingga kemungkinan besar ia akan makan di luar bersama rekannya. Saya ngantuk, sementara ia masih menunggu kabar dari rekannya.

Esok paginya saya baru menyadari bahwa semalam ia tidak jadi meeting yang artinya kemungkinan ia tidak makan malam. Saya mulai dihinggapi perasaan bersalah. Duh Nina, kenapa sih kamu nggak nunggu sampai Kak Satriya beneran berangkat meeting? Kenapa malah tidur..

“Kak, maaf ya semalam aku ngantuk banget, kenapa kamu nggak bangunin aku? Kamu lapar, ya?”

“Mendingan aku bangunin polisi tidur, Nin..”

“Hah? Hehehe.. Emang sesusah itu ya bangunin aku?!”

Atau di lain waktu, kalau mata saya sudah tidak kuat, ia akan menyuruh saya untuk tidur duluan. Padahal waktu itu saya sedang membantunya mengetik, tapi bahkan kepala saya sudah tidak bisa tegak lagi. Dengan berbekal yakin, saya berkata, “Aku tidur bentar, nanti aku bantuin lagi. Tolong bangunin, ya!”

#4 Rezeki Pertama


Pagi di hari ketiga kami di hotel, Kak Satriya mendapat kabar dari seorang teman yang menawarkan pekerjaan dokumentasi liputan. Tentu saja langsung diiyakan. Berbeda dari job-job sebelumnya, dimana biasanya Kak Satriya mengambil job sebagai fotografer dalam acara wedding, kali ini ia hendak dipekerjakan untuk peliputan suatu acara yang dilaksanakan oleh kementerian kehutanan dalam upaya edukasi kopi terhadap para petani di daerah Ciwidey, Jawa Barat.

Sementara saya menulis tulisan ini, Kak Satriya tengah berada di Ciwidey bersama tim yang diutus dari Yogyakarta. Tidak tanggung-tanggung, dalam tim ini ikutserta ahli kopi, pengusaha coffe shop, professor, juga orang-orang hebat lainnya. Beberapa kali sepulang dari meeting, diceritakan olehnya tentang hal-hal menarik seputaran kopi ini.

Dan tentu saja, saya tidak sabar menantinya pulang. Tidak sabar menunggu oleh-oleh segudang cerita dan ilmu baru dari sana. Juga, sekeranjang buah stroberi kesukaan saya yang semoga sempat ia belikan.

Teringat pesannya di teras coffe shop tempat saya mengantarnya sebelum ia pamit pergi, “Jaga diri, ya. Kamu nulis aja biar nggak bosan, biar produktif.”

Dan lihat, aku sungguh-sungguh berbakti, kan? Kembali ke ruang ini dan menulis lagi. Kamu, cepat pulang.. cepat kembali..

*backsound lagu Firasat punya Marcell

#3 Beda Pemikiran


Malam itu saya bercakap-cakap dengan seorang teman perempuan yang datang ke pernikahan saya.

“Nin, pasti di luar sana banyak laki-laki yang sedang bersiap menuju kamu, sedang mempersiapkan diri untuk melamarmu. Lalu, mereka terkejut karena tiba-tiba kamu menikah. Mereka gagal hanya karena mereka kurang sat-set-sat-set.”

Ia juga banyak mendengar obrolan para laki-laki yang hadir di pernikahan saya waktu itu.

“Nggak dapat kakaknya, adiknya juga boleh.” Mereka bercanda dan tertawa di sela-sela alunan yang mengalir memenuhi ruang pernikahan.

Saya tiba-tiba teringat apa yang Kak Satriya katakan pada saya tempo hari, “Lebih baik sudah mencoba meskipun jika pada akhirnya harus gagal. Mungkin aku akan menyesal seumur hidup jika aku tidak mencobanya. Kalau saja saat itu aku tidak berani, mungkin kita tidak akan pernah berada di tahap sejauh ini.”

Saya juga membuka topik obrolan ini dengan Kak Satriya yang kini telah sah menjadi suami saya. 

“Kak, mungkin di luar sana banyak laki-laki yang menyukaiku, tapi mereka tidak kunjung datang. Kalau kata temanku, kebanyakan dari laki-laki tersebut merasa nggak pantas bersamaku, mereka takut nggak bisa mengimbangiku. Jadi, kebanyakan dari mereka hanya ingin sekedar mengekspresikan perasaannya tanpa berharap terlalu jauh. Lalu kamu, setelah kuceritakan banyak hal tentangku padamu yang sebenarnya aku hendak membuat nyalimu ciut dan barangkali memutuskan mundur karena aku tidak membutuhkan laki-laki yang minder, tapi kenapa kamu tidak demikian seperti laki-laki yang lain?” tanya saya padanya, waktu itu di tengah sarapan soto kudus sebelum pemotretan buku tahunan sekolah.

#2 Dijodohkan atau Taaruf?

Dengan melihat karakter dan warna jiwa dalam diri saya, banyak orang yang memperkirakan bahwa kelak saya akan menikah melalui perjodohan atau jalur taaruf. Saya tidak menampik, tetapi tidak juga lantas mengiyakan atau mengatakan mungkin. Melalui kisah yang saya alami sendiri, bahwasannya jodoh adalah sebaik-baik rahasia milik-Nya. Jalur bertemu jodoh sangatlah luas, datang dari jalan yang tidak disangka-sangka, hati yang terbolak-balik atas izin-Nya.

Dalam pengharapan dan doa, saya seringkali memohon pada Allah bahwa seseorang ini haruslah seseorang yang telah saya kenal sebagai seorang teman atau sebatas saling tahu. Sebagai seorang perempuan, ada banyak ketakutan diri sebelum pernikahan terjadi. Takut pasangan gimana-gimana, termasuk khawatir nantinya tidak diterima seutuhnya.

Namun, saya berpikiran bahwa jika seseorang ini adalah teman saya, insyaaAllah ia telah menerima saya secara luaran. Maksud saya, saya yakin ia telah menerima saya berupa penampilan, cara bergaul, cara berbicara dan hal-hal lain yang saya miliki sehingga saya tak perlu berubah terlalu banyak untuknya atau diatur-atur sedemikian rupa sehingga saya kesulitan menjadi diri saya sendiri. Begitu pula saya terhadapnya, saya telah menerima kehadirannya secara utuh. Dan kami akan terus belajar untuk saling mengerti satu sama lain, saling berupaya memperbaiki diri, saling berlomba dalam meraih ridho Illahi.

Jalan takdir yang telah Allah rencanakan ternyata berkisah bahwa saya menikah dengan seorang laki-laki yang tak lain adalah kakak tingkat di jurusan kampus, seseorang yang dulu sempat menjadi tempat bagi saya dalam bertanya banyak hal. Ia selalu punya jawaban atas setiap pertanyaan yang saya ajukan, bahkan rupanya ia jugalah yang Allah takdirkan menjadi jawaban atas doa dan pengharapan saya.

#1 Tasyakur Binni’mah


Bismillahirrohmanirrohim. Tiada pernah bermaksud meninggalkan ruang kecil ini. Ruang tempat dimana saya menghabiskan hari-hari saya untuk mengembangkan produktivitas, jam terbang, juga ruang dimana saya mencurahkan banyak hal di dalamnya bersama para pembaca yang mungkin tiada pernah saya mengenalnya. 

Setahun ke belakang, saya melewati banyak hal yang tidak biasa dalam hidup saya, mengguncang batin saya sekaligus membuat saya teramat bersyukur karena Allah beri kemampuan bagi saya untuk memetik hikmah yang amat dalam ini. Perjalanan hidup yang mempertemukan saya dengan berbagai rasa, salah satunya hingga membuat batin saya terluka dan bertanya-tanya pada Allah, “Mengapa seperti ini?”

Namun, di lubuk hati terdalam saya selalu menyadari bahwa apapun yang terjadi dalam hidup seorang manusia, ada rahasia dari-Nya yang belum sampai pada kita. Kala itu, saya berpikir bahwa jawaban pertanyaan dari batin saya mungkin akan begitu lama saya temukan, mungkin akan begitu panjang jalan yang harus saya tempuh. Saya menerima yang terjadi, tidak memaksakan keinginan, walau untuk pertama kalinya dalam hidup saya terluka sebegitunya.

Kini saya datang kembali berkunjung ke ruang ini dengan maksud untuk tasyakur binni’mah. Saya hendak kembali menuliskan perjalanan hidup saya sebagai upaya saya dalam mensyukuri nikmat dari Allah yang semoga ada satu-dua hal yang bisa diambil menjadi pelajaran maupun hikmah. Entah apa maksud Allah telah memberikan takdir seindah ini untuk hidup saya, tetapi perjalanan hidup saya menjadi sebuah perjalanan yang layak dituliskan, diabadikan, menurut sudut pandang saya. Mungkin seluruhnya tak bisa saya abadikan di ruang ini, sebab hanya kilasan-kilasan perjalanan saja yang hendak coba saya tuliskan.

Tulisan-tulisan yang kelak hadir juga sebagai upaya perwujudan cinta saya terhadap laki-laki yang telah berani-beraninya meminang seorang perempuan seperti saya yang keras kepala untuk tidak jatuh cinta sebelum waktunya, perempuan yang berdoa pada Allah bahwa apabila kelak suatu saat saya harus jatuh cinta maka tolong jatuhkanlah perasaan saya ini pada seseorang yang memang akan membersamai saya pada sepanjang hidup saya. Sebab, saya seorang perempuan yang tidak ingin perasaan saya menjadi kesia-siaan, tidak bertemu ujung titik yang pasti, atau harus selalu menebak-nebak apa yang akan terjadi.