“Mbakmu penghafal Al-Quran, ya? Kok jilbabnya kecil?” tanya seorang
bocah SMP pada temannya yang memiliki kakak perempuan seorang hafidhoh yang kebetulan adalah teman
saya.
“Benar-benar ya anak SMP tuh suka ngejudge. Omaygat. Style kan nggak menjamin
semuanya. Anak-anak SMP yang sangat menggemaskan.” Ujar teman saya
menanggapi celotehan dari teman-teman adiknya itu.
Kisah tersebut merupakan curhatan
hati seorang teman yang sedang dalam proses menghafal Al-Qur’an meskipun ia
telah selesai menyetorkan 30 juz. Mengapa saya menyebutnya masih sedang dalam
proses? Karena sampai kapanpun kita tidak akan pernah berhenti untuk
menghafalkan Al-Qur’an, untuk membacanya, mengkajinya, mengajarkannya, juga
mengamalkannya. Apakah kiranya jika telah selesai menghafal 30 juz itu artinya
sudah selesai perjuangannya? Justru di saat telah selesai itulah perjuangan
yang lebih berat menanti para penghafal Al-Qur’an, perjuangan untuk tetap
menjaga hafalan dalam hati dan ingatan mereka di tengah akhir zaman yang serba-serbi
penuh finah, maksiat, dan hal-hal dosa dianggap biasa.
Begini, menanggapi penilaian
bocah SMP tersebut, lalu bolehkah saya bertanya, apakah mereka-mereka yang
jilbabnya besar adalah pejuang Al-Qur’an? Apakah mereka penghafal Al-Qur’an?
Apakah benar mereka merutinitaskan Al-Qur’an dalam sehari-hari mereka? Apakah
mereka memasang target bersama Al-Qur’an dalam hari-hari mereka? Mungkin memang
benar mereka telah berhasil mengamalkan perintah dalam Al-Qur’an soal memakai
jilbab lebar yang menutupi dada, tetapi soal hati dan pikiran, tidak ada
satupun manusia yang mengetahuinya.
Jika pikiran semua orang
sebagaimana pemikiran bocah SMP dalam cerita di atas, lantas bagaimana jika
orang yang berjilbab kecil mendengar hal itu lalu mereka jadi berkecil hati untuk
menghafal dan mendekatkan diri pada Al-Qur’an tatkala ada ocehan di antara kita
yang seperti itu?
Di lain hal juga saya berterima
kasih untuk segala pendapat yang datang. Hal ini mungkin bisa menjadi salah
satu koreksi diri bagi para penghafal Al-Qur’an sendiri.