![]() |
| Source: Tumblr |
Langit sedang ramah. Sore cerah.
|
"Kena minyak panas lagi?" Bima
tiba-tiba datang. Mentari menatap nanar punggung tangan
kanannya. "Oh, nggak. Kegesrek waktu
ngangkat koper." Mentari jujur. "Sok kuat, sih." Canda Bima. "Emang udah biasa, kok." Mentari
jujur lagi. "Giliran ada Bang Harun mendadak nggak
biasa." Canda Bima lagi. "Heh! Waktu itu emang berat, tau! Satu
kardus besar isinya buku semua." Lagi-lagi Mentari memang jujur. Mentari dan Bima sedang menunggu teman
lainnya. Teman-teman komunitas. Hari itu mereka hendak melangsungkan rapat.
Mentari selayaknya matahari, selalu muncul terlebih dahulu. Tapi baginya, tidak apa-apa. Menunggu
berarti menjadi kesempatan untuknya. Kesempatan membaca tulisan-tulisan
lelaki anonim di sebuah blog yang teduh. "Mas Anon itu lagi." Bima
lagi-lagi ikut campur. Mentari memang pernah menceritakan padanya, perihal
tulisan-tulisan lelaki itu, lelaki yang dipanggilnya Mas Anon, a.k.a Anonim. "Iya, nih." "Ada tulisan terbaru?" "Iya." Mentari masih menatap layar laptopnya, layar
yang menampilkan tulisan lelaki itu. “Perempuan
baik itu, namanya tidak berkeliaran di tongkrongan anak laki-laki, Karena
perempuan baik itu namanya tidak sembarangan diucapkan oleh anak laki-laki.”
Mentari mengernyitkan dahi. Ah,
apa iya begitu?
|


