29/09/12

Sederetan Waktu




“Winda, buruan dong! Kebelet nih!” seruku pada Winda.
“Iya, tunggu..” Winda berlari ke arahku.
“Dasar lelet!” Winda memonyongkan bibirnya saat mendengar gerutuanku.
Seperti yang sudah kuduga , jam segini toilet ramai. Jam segini adalah puncaknya cewek kebelet, itu menurutku. Sial, antriannya cukup panjang. Semua jenis cewek ada di sini. Mulai dari yang berbehel, berkacamata, tomboi, sampai yang belahan roknya ‘nggak nahan’ ada semua di sini. Aku dan Winda hanya diam mengantri sambil memperhatikan cewek-cewek itu.
“Eh, nama twitternya si Dimas itu @DimasRH kan ?” Kata si cewek berbehel pink. Tetapi aku tidak terlalu mendengar ucapannya.
“Iya, itu nama twitternya.” Sahut si cewek berkacamata.
“Eh, katanya si Dimas itu suka sama anak kelas X.2.” Ucap si behel pink lagi. Hah ? Dimas ? aku jadi mulai berfikir. Ku senggol lengan Winda.
“Win, tadi lu dengar si behel pink bilang apa ? Dia ngomongin Dimas, kan Win ?” Tanyaku dengan yakin.
“Iya, kali. Nggak tau deh.”
“Ih, Win, dengerin deh.” Kataku membujuk.
“Emangnya kenapa sih Laras kalau mereka ngomongin Dimas ? “ Kata Winda dengan suara yang cukup keras.
“Ssstt.. lu rebut amat, sih.. Ntar mereka bisa dengar, tau! “ Winda menatapku dengan jengkel.
“Permisi, kalian teman sekelasnya Dimas, yah ?” Aku kaget mendengar suara Winda. Winda berbicara pada kedua orang tersebut.
“Iya, Dimas Ray Hardiansyah.”
“Ooh.. begitu.”
“Emangnya kenapa ? Lo tahu nggak yang namanya Laras anak X.2 ?” Aku terkejut begitu sadar bahwa si behel pink menyebut nama dan kelasku.
“Oh, Laras ? dia ada di kelas.” Sahutku tiba-tiba. Si behel pink itu menatapku.
Kini Winda yang menatapku lagi dengan heran. Semoga Winda mengerti mengapa aku tiba-tiba mengatakan begitu pada si behel pink.
Antrianku sudah mendekati pintu, tiba-tiba saat aku akan bergantian dengan seseorang yang baru saja keluar dari toilet tersebut, seorang cewek tomboi menyerobot masuk terlebih dahulu. Aku mengenalinya, dia Miranda teman SMPku dulu.
“Woy, Miranda, keluar lo! Apa-apaan nyerobot duluan kayak begitu!” Bentakku. Ia membuka pintu, kucengkram bajunya dan berusaha menariknya keluar. “Kurang ajar lo, Miran! Gue kebelet tahu! “ Miranda mengalah saat mendengar bentakanku.
Rasa lega menghampiriku.
“Laras! Cepetan dong!!“ Tiba-tiba terdengar suara Miranda. ‘Dasar nggak sabaran!’ Kataku dalam hati.
Baru saja aku ingin membuka pintu, terdengar suara si behel pink.
“Laras ? Laras siapa yang di dalam toilet, Miran ?”
“Laras anak X.2 yang mantannya Reza dan Dimas.”
‘Sialan. Ngapain sih si Miranda buka kartu gue di depan teman-temannya ? ember banget!’
Aku pun segera membuka pintu toilet dengan perasaan tidak enak. Sudah kuduga, semua mata memandangku, terutama si behel pink, tatapannya sangat jutek.
“Oh, pantasan.. ckck.” Aku tak mengerti ucapannya. Kutatap Miranda dengan kesal, kemudian segera menarik tangan Winda menjauh dari toilet.
***
“Yuk, Win..” ajakku pada Winda saat pulang sekolah. Hari ini adalah jadwal klub fotografi. Dari dulu aku sangat tertarik dengan dunia fotografi.
Beberapa minggu yang lalu, aku baru saja tahu bahwa jadwal latihan basket Dimas sama jamnya dengan jadwal klub fotografiku. Ini merupakan suatu kesempatan, dimana aku bisa memperhatikan Dimas. Memperhatikan saat ia duduk menunggu teman tim basket lainnya datang, memperhatikan saat ia mendrible bola basket, sampai memperhatikan saat ia tertawa , ia menertawai tingkahnya sendiri, ia menertawai dirinya yang bodoh saat hendak memasukkan bola, sampai bola basket tersebut memantul kembali dan tidak berhasil mencetak skor. Sudah jarang aku melihatnya tertawa di hadapanku, hanya di saat-saat seperti ini saja aku bisa memperhatikannya.
Dimas masih seperti dulu, dia tertawa dengan memamerkan gigi-giginya yang kurang rapi, meski begitu ia tetap terlihat manis.
Sayangnya aku tak bisa melihatnya latihan sampai malam, karena aku harus tiba di rumah sebelum malam menjelang.
‘Dimas, aku pulang dulu yah. Teruslah bermain basket, jika dengan itu bisa membuatmu senang.’
***
“Winda ? Elo dimana ? gue udah di dekat pintu masuk, nih.” Kataku pada Winda melalui ponsel.
“Oke, dalam 5 menit gue sampai di sana.” Sahut suara di ujung telepon. Hari ini Winda berjanji akan menemaniku untuk membeli sebuah novel yang sudah kuincar sejak seminggu yang lalu.
“Sorry, telat..” aku menoleh, rupanya Winda sudah berada di sampingku. Kami melangkah masuk, tiba-tiba langkahku terhenti. Dari arah berlawanan aku melihat seorang pria. Aku mengenali sosok pria itu. Dengan kemeja coklat, ia sangat tampan.
“Dimas..” Ucapku pelan seraya menatap kedua bola mata yang dulu sering kutatap itu.
“Laras..” Kini gantian dia yang mengucapkan namaku. Kami sama-sama terkejut dan terdiam. Aku sangat merindukan suara itu. Sangat.
“Aku duluan, yah.” Ujarku tak tahu harus bagaimana. Aku melangkah pergi meninggalkannya. Dari jauh aku masih melihat sosoknya. Dia masih terpaku di tempat. ‘Apa yang kamu pikirkan sekarang, Dimas ?’
“Ngapain Dimas ada di sini ?” Tanya Winda.
“Hmm, nggak tahu deh. Cuci mata kali..” jawabku seadanya.
Tak peduli dengan pertanyaan Winda, aku terus menelusuri satu persatu rak buku di toko tersebut untuk mencari novel incaranku.
Mataku tertuju pada sebuah novel berjudul ‘comeback’. Novel itu menyimpan banyak kenangan antara aku dengan Dimas. Dimas pernah memberiku novel tersebut saat kami menyambung rajutan cinta kami yang sempat terputus. Dimas juga pernah memberiku liontin berbentuk hati.
“Ini untukmu..” kata Dimas saat itu.
“Untuk aku ?”
“Iya, ini pemberian mama aku. Mama ngasih ini ke aku, karena dia sayang sama aku. Sekarang, aku mau ngasih ini ke kamu, karena..aku sayang kamu..” aku tersenyum mengenang itu semua.
Pernah suatu malam, saat kami hendak pulang bersama, dia bertanya padaku,
“Pulang sekarang ?” aku mengangguk.
“Tapi kayaknya mau hujan deh.”
“Kok kamu bisa tahu ?” tanyaku heran.
“Iya. Soalnya nggak ada satupun bintang yang terlihat di langit.” Aku memandang langit mencari bintang, benar saja apa yang dikatakan Dimas, tak ada satupun bintang yang terlihat. Namun aku tetap memaksa untuk pulang.
Di tengah perjalanan pulang, hujan mulai turun membasahi tubuhku dan tubuh Dimas. Dimas menepi, memarkir motornya. Kami menghentikan perjalanan pulang kami. Di bawah derai air hujan, kami bercakap-cakap cukup lama. Aku sangat merindukan masa-masa itu.
‘Dimas, lihat aku. Aku masih seperti dulu, aku masih menjadi salah satu fansmu, aku masih Laras yang dulu, Laras yang selalu ingin menjadi alasan mengapa kamu tersenyum.’
‘Dimas, aku masih menjadi fansmu. Apa kamu juga masih menjadi fansku ?’

26/09/2012  13.40
Kelas Bahasa Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar