“Winda,
buruan dong! Kebelet nih!” seruku pada Winda.
“Iya,
tunggu..” Winda berlari ke arahku.
“Dasar
lelet!” Winda memonyongkan bibirnya saat mendengar gerutuanku.
Seperti
yang sudah kuduga , jam segini toilet ramai. Jam segini adalah puncaknya cewek
kebelet, itu menurutku. Sial, antriannya cukup panjang. Semua jenis cewek ada
di sini. Mulai dari yang berbehel, berkacamata, tomboi, sampai yang belahan
roknya ‘nggak nahan’ ada semua di sini. Aku dan Winda hanya diam mengantri
sambil memperhatikan cewek-cewek itu.
“Eh,
nama twitternya si Dimas itu @DimasRH kan ?” Kata si cewek berbehel pink.
Tetapi aku tidak terlalu mendengar ucapannya.
“Iya,
itu nama twitternya.” Sahut si cewek berkacamata.
“Eh,
katanya si Dimas itu suka sama anak kelas X.2.” Ucap si behel pink lagi. Hah ?
Dimas ? aku jadi mulai berfikir. Ku senggol lengan Winda.
“Win,
tadi lu dengar si behel pink bilang apa ? Dia ngomongin Dimas, kan Win ?” Tanyaku
dengan yakin.
“Iya,
kali. Nggak tau deh.”
“Ih,
Win, dengerin deh.” Kataku membujuk.
“Emangnya
kenapa sih Laras kalau mereka ngomongin Dimas ? “ Kata Winda dengan suara yang
cukup keras.
“Ssstt..
lu rebut amat, sih.. Ntar mereka bisa dengar, tau! “ Winda menatapku dengan
jengkel.
“Permisi,
kalian teman sekelasnya Dimas, yah ?” Aku kaget mendengar suara Winda. Winda
berbicara pada kedua orang tersebut.
“Iya,
Dimas Ray Hardiansyah.”
“Ooh..
begitu.”
“Emangnya
kenapa ? Lo tahu nggak yang namanya Laras anak X.2 ?” Aku terkejut begitu sadar
bahwa si behel pink menyebut nama dan kelasku.
“Oh,
Laras ? dia ada di kelas.” Sahutku tiba-tiba. Si behel pink itu menatapku.
Kini
Winda yang menatapku lagi dengan heran. Semoga Winda mengerti mengapa aku
tiba-tiba mengatakan begitu pada si behel pink.
Antrianku
sudah mendekati pintu, tiba-tiba saat aku akan bergantian dengan seseorang yang
baru saja keluar dari toilet tersebut, seorang cewek tomboi menyerobot masuk
terlebih dahulu. Aku mengenalinya, dia Miranda teman SMPku dulu.
“Woy,
Miranda, keluar lo! Apa-apaan nyerobot duluan kayak begitu!” Bentakku. Ia
membuka pintu, kucengkram bajunya dan berusaha menariknya keluar. “Kurang ajar
lo, Miran! Gue kebelet tahu! “ Miranda mengalah saat mendengar bentakanku.
Rasa
lega menghampiriku.
“Laras!
Cepetan dong!!“ Tiba-tiba terdengar suara Miranda. ‘Dasar nggak sabaran!’ Kataku dalam hati.
Baru
saja aku ingin membuka pintu, terdengar suara si behel pink.
“Laras
? Laras siapa yang di dalam toilet, Miran ?”
“Laras
anak X.2 yang mantannya Reza dan Dimas.”
‘Sialan. Ngapain sih si Miranda buka kartu
gue di depan teman-temannya ? ember banget!’
Aku
pun segera membuka pintu toilet dengan perasaan tidak enak. Sudah kuduga, semua
mata memandangku, terutama si behel pink, tatapannya sangat jutek.
“Oh,
pantasan.. ckck.” Aku tak mengerti ucapannya. Kutatap Miranda dengan kesal,
kemudian segera menarik tangan Winda menjauh dari toilet.
***
“Yuk,
Win..” ajakku pada Winda saat pulang sekolah. Hari ini adalah jadwal klub
fotografi. Dari dulu aku sangat tertarik dengan dunia fotografi.
Beberapa
minggu yang lalu, aku baru saja tahu bahwa jadwal latihan basket Dimas sama
jamnya dengan jadwal klub fotografiku. Ini merupakan suatu kesempatan, dimana
aku bisa memperhatikan Dimas. Memperhatikan saat ia duduk menunggu teman tim
basket lainnya datang, memperhatikan saat ia mendrible bola basket, sampai
memperhatikan saat ia tertawa , ia menertawai tingkahnya sendiri, ia menertawai
dirinya yang bodoh saat hendak memasukkan bola, sampai bola basket tersebut
memantul kembali dan tidak berhasil mencetak skor. Sudah jarang aku melihatnya
tertawa di hadapanku, hanya di saat-saat seperti ini saja aku bisa
memperhatikannya.
Dimas
masih seperti dulu, dia tertawa dengan memamerkan gigi-giginya yang kurang
rapi, meski begitu ia tetap terlihat manis.
Sayangnya
aku tak bisa melihatnya latihan sampai malam, karena aku harus tiba di rumah
sebelum malam menjelang.
‘Dimas, aku pulang dulu yah. Teruslah
bermain basket, jika dengan itu bisa membuatmu senang.’
***
“Winda
? Elo dimana ? gue udah di dekat pintu masuk, nih.” Kataku pada Winda melalui
ponsel.
“Oke,
dalam 5 menit gue sampai di sana.” Sahut suara di ujung telepon. Hari ini Winda
berjanji akan menemaniku untuk membeli sebuah novel yang sudah kuincar sejak
seminggu yang lalu.
“Sorry,
telat..” aku menoleh, rupanya Winda sudah berada di sampingku. Kami melangkah
masuk, tiba-tiba langkahku terhenti. Dari arah berlawanan aku melihat seorang
pria. Aku mengenali sosok pria itu. Dengan kemeja coklat, ia sangat tampan.
“Dimas..”
Ucapku pelan seraya menatap kedua bola mata yang dulu sering kutatap itu.
“Laras..”
Kini gantian dia yang mengucapkan namaku. Kami sama-sama terkejut dan terdiam.
Aku sangat merindukan suara itu. Sangat.
“Aku
duluan, yah.” Ujarku tak tahu harus bagaimana. Aku melangkah pergi
meninggalkannya. Dari jauh aku masih melihat sosoknya. Dia masih terpaku di
tempat. ‘Apa yang kamu pikirkan sekarang,
Dimas ?’
“Ngapain
Dimas ada di sini ?” Tanya Winda.
“Hmm,
nggak tahu deh. Cuci mata kali..” jawabku seadanya.
Tak
peduli dengan pertanyaan Winda, aku terus menelusuri satu persatu rak buku di
toko tersebut untuk mencari novel incaranku.
Mataku
tertuju pada sebuah novel berjudul ‘comeback’.
Novel itu menyimpan banyak kenangan antara aku dengan Dimas. Dimas pernah
memberiku novel tersebut saat kami menyambung rajutan cinta kami yang sempat
terputus. Dimas juga pernah memberiku liontin berbentuk hati.
“Ini
untukmu..” kata Dimas saat itu.
“Untuk
aku ?”
“Iya,
ini pemberian mama aku. Mama ngasih ini ke aku, karena dia sayang sama aku.
Sekarang, aku mau ngasih ini ke kamu, karena..aku sayang kamu..” aku tersenyum
mengenang itu semua.
Pernah
suatu malam, saat kami hendak pulang bersama, dia bertanya padaku,
“Pulang
sekarang ?” aku mengangguk.
“Tapi
kayaknya mau hujan deh.”
“Kok
kamu bisa tahu ?” tanyaku heran.
“Iya.
Soalnya nggak ada satupun bintang yang terlihat di langit.” Aku memandang
langit mencari bintang, benar saja apa yang dikatakan Dimas, tak ada satupun
bintang yang terlihat. Namun aku tetap memaksa untuk pulang.
Di
tengah perjalanan pulang, hujan mulai turun membasahi tubuhku dan tubuh Dimas.
Dimas menepi, memarkir motornya. Kami menghentikan perjalanan pulang kami. Di
bawah derai air hujan, kami bercakap-cakap cukup lama. Aku sangat merindukan
masa-masa itu.
‘Dimas, lihat aku. Aku masih seperti dulu,
aku masih menjadi salah satu fansmu, aku masih Laras yang dulu, Laras yang
selalu ingin menjadi alasan mengapa kamu tersenyum.’
‘Dimas, aku masih menjadi fansmu. Apa kamu
juga masih menjadi fansku ?’
26/09/2012 13.40
Kelas Bahasa Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar